About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Saatnya Indonesia Menaruh Perhatian Pada Skema Arctic RoadArctic Road Sebagai Rute Alternatif Perdagangan Global

Hendrajit

Hendrajit·8 April 2024·4 min read

Share
Saatnya Indonesia Menaruh Perhatian Pada Skema Arctic Road Sebagai Rute Alternatif Perdagangan Global

Rangkaian perkembangan global beberapa tahun belakangan ini, yang semula hanya bertumpu pada kerja sama internasional berbasis unipolar yang didominasi oleh Amerika Serikat dan blok Barat, sekarang Cina dan Rusia muncul sebagai kutub alternatif. Baru-baru ini India dan Rusia mulai membahas…

Vostok

Construction began at Vostok Oil during the summer of 2022. (Source: Rosneft)

Rangkaian perkembangan global beberapa tahun belakangan ini, yang semula hanya bertumpu pada kerja sama internasional berbasis unipolar yang didominasi oleh Amerika Serikat dan blok Barat, sekarang Cina dan Rusia muncul sebagai kutub alternatif. Baru-baru ini India dan Rusia mulai membahas dan  mengeksplorasi kemungkinan Koridor Transportasi Baru seperti Rute Laut Utara atau The Northern Sea Route (NSR) dan Koridor Maritim Timur atau Eastern Maritime  Corridor (EMC). Yang menghubungkan Vladivostok ke Chennai, di India.

Jika proyek tersebut bisa terwujud, maka kiranya cukup beralasan bagi Amerika Serikat dan negara-negara sekutu strategisnya merasa khawatir. Sebab ini berarti, kerja sama strategis antara India dan Rusia akan semakin erat dan solid. Apalagi pada September 2019 lalu India dan Rusia telah menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) kebangkitan proyek Koridor Maritim Chennai-Vladivostok atau Chennai-Vladivostok Maritime Corridor (CVMC).

Baca:

India, Russia and the Northern Sea Route

CVMC memiliki panjang 10.500 km dan akan mempersingkat waktu transportasi menjadi 12 hari, hampir sepertiga dari waktu yang ditempuh pada rute St. Petersburg-Mumbai yang berjumlah 16.000 km.

Kerja sama ekonomi dan perdagangan yang terkait dengan konektivitas geografis ala One Belt One Road (OBOR) seperti diprakarsai Cina, nampaknya memang cukup mengundang kekhwatiran Amerika maupun negara-negara blok Barat yang tergabung dalam Uni Eropa. Adanya kerja sama India-Rusia berdasarkan skema CVMC yang mengaitkan konektivitas georafis antara Rusia dan India berdasarkan The Northern Sea Route tentunya semakin mengkhawatirkan bagi AS dan Uni Eropa yang tidak bersahabat dengan Rusia dan Cina seperti Inggris.

Baca: CO23125 | India, Russia, and the Northern Sea Route: Navigating a Shifting Strategic Environment

Apalagi penelitian yang dilakukan oleh Chennai Port Trust menyingkap bahwa batu bara kokas, minyak mentah, LNG dan pupuk adalah beberapa kargo yang dapat diimpor dari Rusia melalui rute ini. Keterlibatan India yang semakin meningkat di Arktik, yang ditandai dengan peran signifikannya dalam lalu lintas kargo NSR, merupakan bukti nyata adanya upaya strategis untuk mendiversifikasi sumber daya energi dan koridor perdagangan. Sehingga peran strategis India dalam membentuk masa depan perdagangan Arktik bisa semakin ditingkatkan dalam dekade-dekade mendatang.

pibgovru.jpg

Arktik memang saat ini menjadi wilayah yang punya nilai strategis dari sudut pandang geopolitik, bukan saja Rusia dan Uni Eropa, bahkan juga Cina. Mengingat besarnya cadangan kekayaan alam dan Air Tawar di kawasan Arktik.

Selain daripada itu, Rute Laut Utara atau The Northern Sea Route memiliki prospek yang cukup menjanjikan di tengah semakin memanasnya ketegangan geopolitik dan geostrategic yang berakibat terjadinya kelangkaan pangan dan keamanan energi. Sebab Rute Laut Utara bebas dari pasang naik maupun pasang surut dinamika hubungan internasional. Jadi, The Northern Sea Route punya nilai strategis sebagai rute perdagangan bahan-bahan kebutuhan pokok/critical goods alternatif selain skema One Belt One Road atau Belt Road Initiatives yang diprakarsai pemerintah Cina.

Kenyataan bahwa lokasi geografis kawasan Arktik terletak di luar zona yang saat ini dalam keadaan yang tidak stabil dan mengandung resiko tingtkat tinggi seperti Laut Cina Selatan atau Semenanjung Korea, maka The Northern Sea Route merupakan rute atau koridor alternatif dalam kerja sama perdagangan antar-bangsa.

Bahkan bukan itu saja. Rute baru perdagangan yang berbasis The Northern Sea Route itu, juga sesuai dengan ketentuan internasional untuk melestarikan keaneka-ragaman hayati di kawasan Arktik. Selain itu denan mengimplementasikan Rute Laut Utara lewat skema Arctic Road, pada perkembangannya akan meminimalisasikan kerusakan lingkungan. Seraya menghidupkan sistem pengawasan lingkungan hidup secara otomatis di kawasan Arktik.

Dengan begitu, AS dan blok Barat tidak lagi punya alasan kuat untuk memojokkan Rusia dengan mempolitisasikan isu lingkungan hidup, bahwa Rusia telah melakukan pelanggaran serius terhadap norma-norma lingkungan hidup.

Sebab selama ini, AS dan Barat senantiasai menggunakan isu lingkungan hidup sebagai “senjata politik” untuk memojokkan Rusia. Padahal agenda strategis AS-blok Barat adalah untuk mempertahankan hegemoni global-nya dalam rute-rute global sebagai rute pemasok barang-barang kebutuhan pokok seperti misalnya di sektor pangan.

Maka itu bagi Indonesia, kerja sama yang dirintis India dan Rusia terkait NSR dan EMC bisa menjadi gagasan alternatif yang cukup menginspirasi. Tidak adanya rute alternatif untuk jalur pemasokan bahan-bahan pokok yang cukup vital seperti pangan bagi Indonesia, seperti Arctic Road,  menyebabkan Indonesia semakin tergantung pada AS dan negara-negara Barat. Padahal AS dan Barat selalu menerapkan prasyarat-prasyarat, standar dan aturan main yang bersifat politis terhadap negara-negara berkembang, meskipun kerja sama tersebut sebatas dalam bidang ekonomi dan perdagangan.

Maka adanya Artic Road, bagi Indonesia bisa   alternatif yang patut dipertimbangkan oleh para stakeholders kebijakan luar negeri baik dari kementerian luar negeri, kementerian perdagangan maupun kementerian pertahanan.

Bahkan dengan ikut serta semakin intensif dalam Russian Arctic Project, Indonesia akan mampu memainkan peran kepemimpinannya dalam skema Poros Maritim Dunia (Global Maritime Fulcrum). Apalagi dengan semakin memanasnya ketegangan di rute Laut Merah atau Red Sea Route, kiranya Indonesia semakin beralasan untuk lebih menaruh perhatian terhadap Skema Arctic Road yang dirintis oleh India dan Rusia.

Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousGejolak Pasca Pemilu 2024NextYaman dan Dinamika Blokade Laut Merah (Bagian 2-Tamat)

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents