About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Program Politik Mendukung Hak Kekayaan Intelektual, Keir Starmer Tetap Dalam Skema NeokolonialismeSkema Neokolonialisme Inggris

Hendrajit

Hendrajit·25 August 2024·4 min read

Share
Program Politik Mendukung Hak Kekayaan Intelektual, Keir Starmer Tetap Dalam Skema Neokolonialisme Inggris

Setelah tenggelam dari pentas kepemimpinan politik nasional  Inggris  selama 14 tahun, Partai Buruh sekarang kembali menguasai mayoritas kursi di parlemen. Dari total 650 kursi  yang tersedia di Majelis Rendah ((House of Commons) Inggris), Partai Buruh meraih 393 kursi. sedangkan Partai Konservatif meraih 103 kursi. Dengan begitu, Partai Buruh menguasai 170 mayoritas terhadap Partai konservatif. Hal itu berarti, Keir Starmer, pemimpin Partai Buruh Inggris, terpilih sebagai Perdana Menteri dengan dukungan suara mutlak di parlemen.

Baca: Siapa Sir Keir Starmer, perdana menteri baru Inggris setelah Partai Buruh menang Pemilu 2024?

Namun, benarkah memang bakal ada perubahan substansial dalam orientasi kebijakan luar negeri Inggris?  Kalau dari jargon yang ia kumandangkan yaitu Memimpin Partai Buruh ke Era Baru dengan Keyakinan dan Harapan, sepertinya masih belum jelas untuk membaca orientasi politik luarnegeri Inggris di bawah kepemimpinannya. Apalagi dalam jargon yang dikumandangkan dalam frase kata “Change” sepertinya tidak memberi isyarat yang jelas ihwal agenda strategisnya. Apalagi dalam platform dan program politiknya hanya mengetengahkan beberapa isu seperti: ekonomi, Layanan Kesehatan, Imigrasi, Perumahan, Pendidikan. Isu-isu ini memang yang menjadi kekhawatiran utama para pemilih Inggris saat ini.

Namun menelisik fakta mengenai profilnya yang paradoks, rasanya sulit membaca langkah politiknya. Dalam reputasinya, Starmer memang termasuk politis sayap kiri-tengah Partai Buruh, pernah  menjadi seorang editor majalah Trotsky di masa mudanya yang berarti jelas haluan politiknya adalah sayap kiri, namun paradoksnya, dalam platform politik partainya, ia mendukungi kepentingan kaum kapitalis/pelaku ekonomi kuat dengan mendukung  Intelectual Property Right  atau undang-undang perlindungan paten dalam aturan Hak Kekayaan Intelektual. Ia merupakan anti-monarkis/kerajaan  namun kemudian bersedia diberi gelar kebangsawanan sebagai “Sir Keir.”

Baca: Profil Keir Starmer, PM Inggris Baru Pengganti Rishi Sunak yang Punya Gelar ‘Sir’

Adapun terkait dukungan partainya terhadap Hak Kekayaan Intelektual,  justru penerapan standar perlindungan paten dalam aturan Hak Kekayaan Intelektual sejatinya tetap melayani skema Neokolonialisme dan kapitalisme berbasis korporasi multinasional yang hingga kini masih dianut Inggris maupun Amerika Serikat. Apalagi jika platform politik Starmer tersebut ditujukan kepada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, maka cukup beralasan jika pemerintahan Inggris di bawah kepemimpinan Starmer masih tetap dalam bingkai skema Neokolonialisme.

US President Joe Biden meets British PM Keir Starmer at White House Betapa tidak. Dalam perspektif Indonesia, utamanya para stakeholders atau pemangku kepentingan sektor kesehatan, penerapan Hak Kekayaan Intelektual kiranya cukup beralasan untuk khawatir. Sebab jika skema HKI diterapkan di Indonesia di sektor kesehatan maka akan menghilangkan akses masyarakat untuk membeli obat-obatan dengan murah dan terjangkau.

Sebab penerapan Hak Kekayaan Intelektual yang oleh AS dan negara-negara blok Barat coba diupayakan dan dipaksakan kepada Indonesia dan negara-negara di Asia lewat Skema Trans Pacific Partnership (TPP) atau Kerja Sama Lintas Pacifik sejak 2007, TPP berhak menghapus ketentuan fleksibilitas The Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Right (TRIPS) dalam World Trade Organization (WTO).

Sebab malalui skema TRIPS inilah, banyak negara-negara berkembang dimungkinkan untuk membuat obat generik dari obat-obatan yang dipatenkan oleh Perusahaan Farmasi Amerika demi kepentingan publik. Maka dengan penghapusan ketentuan fleksibilitas TRIPS dalam TPP bisa berakibat terciptanya monopoli obat-obatan yang dilakukan oleh korporasi asing dengan harga yang cukup mahal.

Maka dengan penghapusan ketentuan fleksibilitas TRIPS dalam TPP bisa berakibat terciptanya monopoli obat-obatan yang dilakukan oleh korporasi asing dengan harga yang cukup mahal.

Lantas, bagaimana halnya di sektor pertanian khususnya di sektor pangan? Ternyata juga sama mengkhawatirkannya seperti juga di sektor farmasi dan obat-obatan.   Selama ini, perusahaan benih dan pestisida asing, seperti Bayer, Monsanto, maupun DuPont, telah memonopoli benih-benih ciptaannya. Karenanya, tidak memungkinkan petani kecil membudidayakan. Dengan jaminan perlindungan paten yang tinggi dalam skema TPP yang juga didukung AS dan Inggris, korban-korban kasus kriminalisasi benih akan meningkat akibat diberlakukannya TPP. Skema TPP memang sudah berubah seiring beralihnya pemerintahan dari Presiden Obama ke Presiden Donald Trump. Namun meski sejak 2017 TPP berubah jadi Strategi Indo-Pasifik AS, namun sejatinya skema TPP masih tetap tidak berubah. Bedanya, Strategi Indo-Pasifik AS diperluas lingkup kerja sama-nya, yaitu di bidang militer. Selain Kerja Sama di bidang Ekonomi dan Perdagangan.

Melalui konstruksi profil dan program politik Starmer, nampak jelas bahwa Inggris dalam kebijakan luarnegerinya masih menggunakan pendekatan Neokolonialisme terhadap negara-negara berkembang (Global South Countries). Jelasnya, meskipun Starmer dan Partai Buruh menggunakan jargon “liberal riset” dalam program politik partainya, kebijakan luarnegeri Inggris melalui Starmer, masih tetap bersikap eksploitatif terhadap negara-negara berkembang baik di kawassan Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Dan seperti juga AS, berupaya memaksakan agenda dan kepentingan-kepentingan pelaku ekonomi dan pelaku usaha berskala besar dari korporasi multinanasional, kepada negara-negara berkembang (Global South Countries).

Baca: No Easy Decisions: Foreign and Defence Policy Under the UK’s New Government

Apalagi dengan adanya fakta bahwa pemerintahan baru Keir Starmer didesak untuk meningkatkan alokasi anggaran militer/pertahanannya di atas 2,5 persen dari total Gross Domestic Product-nya, untuk menutup adanya kesenjangan keuangan dalam program militer Inggris.

Sepertinya, skema Neokolonialisme Inggris tetap dipertahankan antara lain dipicu oleh krisis investasi dan keuangan yang melanda Inggris saat ini. Saat dorongan dan ambisi geopolitik dan kolonialisme suatu negara begitu kuat untuk melanggengkan ekspansi ekonomi ke negara-negara lain, maka kapitalisme monopoli bukan saja masih tetap dibutuhkan, meski dengan menggunakan retorika Skema Pasar Bebas. Bahkan lebih dari itu, perlu semakin memperkuat postur pertahanannya yang lebih agresif untuk mengamankan skema Pasar Bebas di perlbagai belahan dunia.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousMembaca Modus Asing Merebut Jakarta dari Perspektif Perang AsimetrisNextMewaspadai dan Menyikapi Titik Kritis Bangsa

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents