About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Program Hujan BuatanHujan Buatan Untuk Operasi Militer 1966

Rusman

Rusman·13 July 2025·3 min read

Share
Program Hujan Buatan Untuk Operasi Militer 1966

Beberapa kawan saya kalau ketemu dalam bulan-bulan ini pada nanya “lho sekarang kan sudah Juni masuk ke Juli, kok masih sering hujan sih, kenapa ya? Apa salah musim gitu?” Tentu saja saya tidak tertarik urusan salah musim ini.

Namun saya malah teringat hal lai tentang apa yang kelak disebut Proyek Popeye pada 1966. Sebuah proyek yang diprakarsai komplek industri militer Amerika yang gagasan utamanya adalah bagaimana memperpanjang musim hujan di Asia Tenggara. Lho kenapa harus Asia Tenggara?

Pada 1966 masih gencar-gencarnya Perang Saudara antara Vietnam Selatan versus Vietnam Utara. Seperti kita tahu AS berada di belakang Vietnam Selatan. Rupanya usaha memperpanjang musim hujan di Asia Tenggara untuk memperlambat lalu-lintas di Jalur Ho Chi Minh Trail melalui penyemaian awan di atasnya sehingga terbentuk hujan dengan harapan memproduksi lumpur pada jalur tersebut.

Nah Proyek Popeye yang mengambil nama tokoh kartun Popeye the Sailor Man itu, merupakan program percontohan. Proyek Popeye ini beranjak dari gagasan yang berkembang di benak para pakar di komplek industri militer Amerika betapa pentingnya cuaca sebagai senjata nonkonvensional.

Inilah yang krusial di balik Program Hujan buatan ini. Penyemaian awan telah dijadikan senjata di Vietnam dalam Proyek Popeye.

Selama berlangsungnya program tersebut, iodida perak disebar dengan menggunakan C-130, F4 Phantom (jet tempur) dan Douglas A-1E Skyraider (pesawat mesin tunggal dengan pendorong fighter bomber) ke dalam awan di atas posisi jalan berkelok-kelok dari Vietnam Utara melalui Laos dan Kamboja ke Vietnam Selatan.

Hasil positif dari tes awal menyebabkan dilakukannya operasi lanjutan dari tahun 1967 sampai 1972.

Meskipun efektivitas program tersebut masih diperdebatkan, namun beberapa ilmuwan yang terlibat dalam proyek tersebut percaya bahwa proyek ini mampu menghambat operasi militer orang-orang Vietnam Utara.

Maka itu menarik analisa dan prediksi yang dilakukan oleh Air University milik Angkatan Udara AS, yang memiliki divisi khusus peningkatan Counterforce Weather Control, SPACECAST2020:

“Para ilmuwan atmosfer telah melakukan pencarian secara sungguh-sungguh terhadap modifikasi cuaca terestrial sejak 1940an, tetapi hanya mengalami sedikit kemajuan karena masalah keilmuan, hukum, dan kepedulian sosial, serta kontrol tertentu di berbagai tingkat pemerintahan.

Menggunakan teknik modifikasi lingkungan untuk menghancurkan, merusak atau melukai negara lain merupakan tindakan yang dilarang. Namun, ruang angkasa menyajikan arena baru, teknologi memberikan peluang baru, dan konsepsi tentang kemampuan masa depan memaksa untuk dilakukannya peninjauan kembali terhadap topik sensitif dan beresiko ini.”

Demikian analisis dan prediksi SPACECAST 2020. Air Force 2025 juga mengeluarkan poin yang sama. Intinya kendali cuaca dapat memiliki dampak yang besar terhadap hasil operasi militer.

Untungya berbagai elemen masyarakat Amerika, meskipun didominasi media-media arus utama, masih banyak juga tidak mau begitu saja percaya apa yang disebut teori konspirasi hanya gegara belum terbukti.

Salah satu wartawan Amerika yang jeli dan peka menangkap gelagat adanya Proyek Popeye itu adalah kolumnis Jack Anderson, yang dalam tulisannya mengungkap proyek ini di bawah kode Intermediary -Compatriot dalam kolomnya di Washington Post 18 Maret 1972.

Akibat publikasi tulisan Anderson, sontak Menteri Pertahanan AS Melvin Laird dipaksa untuk bersaksi di hadapan kongres ihwal hal itu pada 1972, Di depan Senat AS Laird membantah kalau cerita liar Anderson itu tidak benar bahwa AS pernah menyemai awan di Asia Tenggara.

Namun malang bagi Laird. Surat pribadi dari Laird bocor ke pers pada 1974. Dalam surat itu dia secara pribadi mengakui bahwa kesaksiannya pada 1972 adalah bohong dan bahwa AS sebenarnya menggunakan modifikasi cuaca di Vietnam Utara pada 1967-1968.

Bagaimana? Apakah konspirasi semacam ini masih tetap dipandang sekadar sebagai sebuah teori?

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousKhawatir Dengan Supremasi Cina di Asia Selatan dan Samudra Hindia, India Bergabung Dalam Persekutuan Militer Asia Pasifik (QUAD)NextBuku Visual yang Kreatif dalam Menggambarkan Isu-Isu Global

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents