About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

People PowerPeople Power dan Wal Ashri

Rusman

Rusman·14 April 2024·4 min read

Share
People Power dan Wal Ashri
Kilas Balik Gerakan Kembali ke UUD 1945 Setiap revolusi, reformasi, people power, atau apapun istilah, harus ada ide atau gagasan. Selain merupakan ‘ruh gerakan’, adanya ide guna memelihara komitmen dan konsistensi perjuangan, nilai-nilai, terutama tujuan perjuangan. Lazim bila orang-orangnya disebut ‘pejuang’. Revolusi tanpa ide niscaya berbuah anarki tak bertepi. Ya. Tanpa tujuan pasti, revolusi cuma sekadar (‘pesta’) huru-hara. Ini yang mutlak dihindari. Contoh ide revolusi seperti apa? Pertama, ide pada Revolusi Belanda tahun 1566 ialah merebut kedaulatan dari tangan raja ke lembaga perwakilan rakyat; Kedua, gagasan dalam Revolusi Amerika tahun 1776 memperjuangkan hak asasi manusia (HAM), bahwa semua manusia diciptakan setara dan memiliki hak-hak mendasar yang tak bisa dipisahkan dari manusia itu sendiri; Ketiga, ide atau gagasan pada Revolusi Perancis tahun 1789 ialah memperjuangkan kesetaraan, terbebas dari kasta-kasta lagi setara di hadapan hukum dan negara; Keempat, ide pada Revolusi Rusia 1917 memperjuangkan keadilan sosial; dan Kelima, ide dalam Revolusi Indonesia 1945 silam bukan sekadar memperjuangkan hak-hak kebebasan mendasar, tetapi juga kebebasan menyatakan pendapat, berekspresi, berserikat, kebebasan berkumpul, dan lain-lain. Ide alias gagasan dalam people power atau revolusi harus dinarasikan. Ini yang kerap disebut dengan istilah skenario atau planning (plan). Entah plan A, B, C, plan D, dan lainnya. Tergantung si narator. Atau, tanpa skenario tiba-tiba njebluk? Wah, yang ini di luar area kaum intelektual. Tak masuk dalam logika namun terjadi. Itu wilayahNya. Maka para pendiri bangsa (the Founding Fathers) mengakomodir areaNya serta membunyikan dalam Pembukaan UUD 1945: “.. Atas berkat rahmat Allah, Tuhan Yang Mahakuasa.. “ Jadi, tidak ada kesombongan intelektual sama sekali di benak the Founding Fathers waktu itu. Tidak ada klaim bahwa kemerdekaan itu karya mereka. Bahwa semua atas petunjuk dan kehendakNya. The Founding Fathers hanya meng-klaim atas nama niat dan ikhtiar: “.. dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur ..” Masya Allah! Setelah tahap perumusan ide dan narasi, langkah selanjutnya ialah eksekusi. Pada tahap ini, ada yang berjalan senyap (silent) tanpa asap mesiu, tetapi kerap kali revolusi penuh kegaduhan bahkan berdarah-darah menelan banyak korban jiwa. Mengapa? Sebab, hakiki revolusi itu menjebol tatanan lama, lalu mengganti dengan tatanan baru. Sudah barang tentu, kelompok atau golongan yang merasa nyaman dengan tatanan lama, pasti menolak serta melawan dengan segala kekuatannya. Maka benturan niscaya berlangsung sangat keras lagi dahsyat antara para pihak. Kronologisnya, kendati pihak yang nyaman hanya segelintir orang, namun nyaris memiliki segalanya baik uang, power, jaringan, strategi dan lain-lain, mereka akan melawan secara optimal. Dalam catatan khusus, ada tiga clue pada tahap eksekusi ini, antara lain yaitu: 1. Kodrat. Mungkin ini yang dinamai wal ashri. “Demi Masa”. Tuhan bersumpah pada waktu-waktu atau masa tertentu. Kun. Maka jadilah! Namun, wal ashri itu ranahNya, bukan wilayah makhluk. Kita hanya menduga-duga kecuali orang “pilih tanding” mengetahui kapan wal ashri tiba; 2. Permintaan. Ini bisa dilakukan secara paksa melalui kekerasan atau nonkekerasan. Namun, setiap permintaan ada risiko, atau minimal punya konsekuensi. Risk appetite. Nah, ‘ekor permintaan’ sebelum wal ashri ini yang mutlak diwaspadai dan diantisipasi; 3. Hadiah. Entah hadiah dari pihak lama (penjajah) sebagaimana terjadi di jajaran negara dominion, protektorat, atau commonwealt. Tetapi, sebaik-baiknya hadiah ialah hadiah dari Tuhannya atas nama lelaku yang selama ini diupayakan (ikhtiar)/diperjuangkan. Nah, perjuangan beberapa kelompok warga agar bangsa ini memberlakukan kembali UUD 1945 sesuai naskah asli dengan penguatan dan penyempurnaan melalui teknik adendum merupakan ide perjuangan supaya rakyat bisa menikmati hak-haknya terutama implementasi Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Hari ini, apabila di-breakdown, bahwa ide revolusi itu sudah ada yakni: ‘kembali ke UUD 1945 sesuai naskah asli melalui teknik adendum’. Itu singkatnya. Sedang narasi pun juga telah ada meski unsur-unsurnya relatif. Narasi bergerak sesuai eskalatif dan fluktuatif kondisi. Secara realitas atas nama ‘babat alas’, sudah ada orang-orangnya, misalnya, atau ada lembaganya baik formal maupun nonformal, terdapat jaringan, agenda, kronologis, dan lain-lain. Di tahap eksekusi nanti, mau tidak mau, suka atau tidak suka — para pihak terkait menunggu apa yang disebut wal ashri. Atau, melalui permintaan dengan segala risk appetite. Ataupun menunggu hadiah atas nama kesabaran serta upaya yang telah diperjuangkan selama ini. Tuhan beserta orang-orang yang sabar. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousPrabowo Harus Belajar Dari Iran Bermain Di Antara Dua KarangNextGejolak Pasca Pemilu 2024

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents