About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Pemilu Usai, DistrustDistrust Dimulai

Rusman

Rusman·20 January 2026·3 min read

Share
Pemilu Usai, Distrust Dimulai

Catatan Kecil Awal Sya’ban 1447 tentang Distrust dan Arah Perubahan

Dalam konteks politik mutakhir, ketidakpercayaan publik (public distrust) tidak lagi berdiri sebagai gejala pinggiran. Ia telah menjelma menjadi arus bawah yang tampak landai, namun sebenarnya menyimpan gelombang badai. Bukan publik kekurangan informasi, melainkan justru karena terlalu banyak informasi saling menyangkal — antara narasi resmi, pengalaman empirik, dan kenyataan sosial yang dirasakan sehari-hari.

Hari ini, politik tak lagi dipahami sebagai arena gagasan semata, tapi sebagai pertunjukan stabilitas. Kecenderungan yang muncul stabilitas dijadikan mantra, namun ia kerap tampil sebagai stabilitas prosedural — hanya rapi di atas kertas dan pidato, tetapi rapuh di tingkat rasa keadilan publik. Di sinilah, distrust menemukan momentum.

Pemilu telah berlalu, kekuasaan telah terkonsolidasi, dan oposisi —baik dilemahkan, dikooptasi, atau dilebur— tak lagi berfungsi sebagai mekanisme korektif yang efektif. Pada situasi semacam ini, kepercayaan (trust) tidak tumbuh, tetapi dituntut. “Dipaksa”. Padahal, kepercayaan yang dipaksakan justru mempercepat peluruhannya.

Demokrasi Prosedural, Defisit Substantif

Secara formal, demokrasi berjalan. Pemilihan umum terlaksana, lembaga negara berfungsi, dan hukum ditegakkan secara administratif. Tapi, saat yang sama, publik merasakan adanya defisit demokrasi substantif. Logika publik terusik ketika hukum terasa tajam ke bawah — tumpul ke atas, etika politik diperlakukan lentur, dan kekuasaan tampak lebih sibuk mengamankan kelangsungan diri daripada memperbaiki mutu keadilan.

Hati publik pun terganggu ketika meritokrasi digeser oleh patronase, dan kepantasan dikalahkan oleh kepentingan. Pada titik ini, trust tidak runtuh karena propaganda lawan, tetapi karena inkonsistensi internal dari sistem itu sendiri. Inilah yang oleh Weber disebut sebagai erosi legitimasi rasional legal. Kekuasaan tetap sah secara prosedural, namun mulai dipertanyakan secara moral.

Oligarki, Kooptasi, dan Matinya Keteladanan

Dalam beberapa diskursus mutakhir, publik semakin akrab dengan istilah oligarki. Bukan sekadar sebagai konsep akademik, namun sebagai pengalaman politik nyata. Manakala kebijakan terasa jauh dari aspirasi rakyat, namun dekat dengan kepentingan segelintir elite ekonomi dan politik (oligaki). Di sini, Antonio Gramsci memberi kunci penting. Ia menyebut bahwa kekuasaan yang sehat bukan cuma memerintah, tetapi memimpin secara moral dan intelektual. Tatkala keteladanan menghilang, ketika kompromi politik mengorbankan prinsip, maka hegemoni runtuh — meski kekuasaan masih utuh secara struktural.

Di fase inilah publik tidak selalu turun ke jalan. Sebaliknya, mereka menarik diri. Apatis. Sinis. Tidak percaya. Bahwa sesungguhnya inilah fase paling berbahaya bagi sebuah sistem, karena distrust telah menjadi kesadaran meski diam-diam.

Media Sosial dan Konsolidasi Kegelisahan

Jika di masa lalu kegelisahan publik terfragmentasi, terpecah belah, ini hari media sosial justru menyatukan. Ia berfungsi sebagai ruang artikulasi alternatif — meski sangat berisik, emosional, dan tak selalu akurat. Satu hal yang pasti, media sosial mempercepat kristalisasi ketidakpercayaan kolektif.

Narasi resmi negara tidak lagi diterima secara taken for granted. Ia ditimbang, dibandingkan, bahkan dicurigai. Dalam konteks ini, buzzer dan propaganda justru kontraproduktif. Bukannya memulihkan kepercayaan, malah menegaskan kesan manipulatif.

Mau Ke Mana?

Pertanyaan selidiknya, “Apakah situasi ini akan bermuara pada perubahan radikal?”

Belum tentu. Sejarah mengajarkan, bahwa distrust tidak selalu berujung revolusi terbuka. Namun ia hampir selalu menghasilkan (minimal) pergeseran kesadaran politik. Bisa jadi, perubahan itu lahir dalam bentuk redefinisi identitas kolektif, contoh, atau tuntutan moral yang keras, ataupun munculnya figur dan gagasan alternatif di luar struktur lama dan lain-lain.

Dalam bahasa spiritual, dinamika tersebut kelak bergerak menurut pola hukum keseimbangan:

“Yang tinggi akan direndahkan, yang rendah ditinggikan, yang lama mapan akan diuji, dan yang terpinggirkan akan mencari ruang sendiri.”

Penutup: Alarm Kekuasaan

Konteks politik mutakhir memberi satu alarm, bahwa kepercayaan tidak lagi bisa direkayasa, ia hanya bisa dipelihara dengan kinerja. Statistik elektoral, stabilitas semu, dan dukungan elite tidak pernah cukup untuk menggantikan legitimasi moral di mata publik.

Perubahan sejarah memang tak selalu berubah cepat, namun bergerak pasti. Dan hampir selalu, ia berbelok arah ketika kepercayaan runtuh secara kolektif. Minimal di benak publik, tapi juga berpotensi tumpah di jalanan atas nama api dalam sekam. Entah kapan.

Demikian adanya. Terima kasih.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousAmerika: Raksasa yang Sekarat dan Posisi IndonesiaNextHukum: Penjaga Keadilan atau Pelayan Kekuasaan?

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents