About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Pemakzulan Versus Dekrit PresidenDekrit Presiden

Rusman

Rusman·17 January 2024·3 min read

Share
Pemakzulan Versus Dekrit Presiden
Jelang hari H coblosan (14 Februari 2024), suhu dan dinamika copras-capres semakin panas. Dan tampaknya, menguat pula isu-isu lain yang tidak kalah seru. Diduga kuat, ‘isu lain’ dimaksud bakal mewarnai Pemilu 2024, terutama di tahapan Pilpres. Adapun isu-isu lain tersebut antara lain sebagai berikut: Pertama, arus pemakzulan terhadap Jokowi oleh beberapa entitas di publik dengan muatan isu hentikan cawe-cawe, atau Pemilu tanpa Jokowi, dan lain-lain; Kedua, menguatnya gerakan perubahan rezim (sistem dan aturan) alias kembali ke UUD 1945 Naskah Asli sesuai rumusan the Founding Fathers. Apa hendak dikata. Meski terdapat isu (perubahan) lain yang hampir mirip dengan poin kedua soal perubahan UUD, namun perubahan dimaksud melalui amandemen ke-5 (bukan kembali ke Naskah Asli). Isu ini kurang mendapat respon publik, sebab sama saja/identik setuju dengan penggantian atau liberalisasi UUD 1945 via empat kali amandemen pada kurun 1999-2002. Beberapa kalangan akademis/intelektual maupun kelompok spiritual meramal, bahwa nantinya bakal timbul ‘konflik’ dalam Pemilu. Ada tiga skenario konflik. Misalnya, 1) konflik sebelum Pilpres; 2) konflik saat hari H coblosan; dan 3) konflik usai coblosan. Atau, mungkin cuma dua skenario saja yaitu konflik sebelum Pilpres, atau konflik setelah Pilpres. Silakan deskripsikan sendiri. Pertanyaannya, “Apakah yang menjadi password (pintu masuk) kelak dalam konflik baik sebelum Pilpres maupun konflik saat dan/atau usai Pilpres?” Secara teori, eskalasi konflik bemula dari social distrust alias ketidakpercayaan publik kepada pemerintah, terutama kiprahnya di penghujung kekuasaan; kemudian social distrust berubah menjadi social disorder (ketidaktertiban sosial); social disorder meningkat jadi social disobedience (pembangkangan sosial); dan social disobedience berubah jadi political disobedience alias pembangkangan politik; dan muara akhir ialah political riots (kerusuhan politik). Dalam tahapan/eskalasi konflik, ia dapat berubah sangat cepat menuju political riots pada satu sisi, namun di sisi lain — eskalasi konflik bisa dihentikan di tengah jalan sepanjang solusi dan cara bertindaknya tepat, cerdas, strategik dan komprehensif integral. Ya. Solusi yang membuat nyaman semua pihak terutama rakyat. Bukan cara bertindak yang memperkeruh keadaan. Kedua isu di atas, baik arus pemakzulan maupun gerakan kembali ke UUD 1945 sejatinya merupakan cermin dari social distrust dan social disorder. Bedanya ada di proses. Bila isu pemakzulan menyorot kiprah dan perilaku sosok dan/atau kinerja pemerintah, sedangkan isu kembali ke UUD 1945 mengkritisi rezim (sistem dan aturan). Bukan sosok, tak pula mengkritisi kinerja pemerintah. Namun, menyikapi Sistem dan Asas Negara. Jadi, kedua isu tersebut beda target, berbeda cara. Modus isu pemakzulan, cenderung mengarah pada people power atau revolusi sosial. Tak pelak, modus ini bakal berhadapan dengan alat perlengkapan negara (TNI-Polri), sedangkan isu kembali ke UUD 1945 memilih jalan damai dan beradab lewat sidang umum MPR dengan agenda tunggal: “Kembali ke UUD 1945 Naskah Asli melalui teknik adendum”. Secara taktis, isu kembali ke UUD 1945 lebih sexy. Selain lebih soft, juga meredam atau menarik konflik dari akar rumput ke gedung MPR di Senayan. Melokalisir konflik. Cara perubahan melalui people power bisa kebablas menjadi kerusuhan massal sebagaimana Mei 1998 yang menelan banyak korban dan kerugian material. Bahkan diprakirakan eskalasi konflik nantinya lebih parah daripada Mei 1998 karena faktor internal —balas dendam politik— dan faktor eksternal, yaitu masuknya anasir dari luar alias ditunggangi oleh kepentingan asing. Tak pelak memang, secara peperangan asimetris (nirmiliter) bahwa Indonesia kini merupakan buffer zone, atau vulgarnya ialah medan tempur (proxy war) bagi kepentingan adidaya Barat dan Timur. Ini keniscayaan geopolitik, geostrategi dan geoekonomi. Jika inside (slulup) lebih dalam lagi, posisi medan tempur sejatinya diakibatkan oleh rezim UUD NRI 1945 itu sendiri —hasil empat kali amandemen— terutama ayat tambahan (hasil amandemen) di ayat (4) Pasal 33 yang justru menganulir ayat-ayat di atasnya. Kembali ke laptop. Sesuai judul telaah kecil ini, jika nanti timbul konflik dalam Pilpres, jawabannya adalah Dekrit Presiden. Kenapa? Tak lain, dalam rangka mencegah chaos yang lebih besar serta meluas, dan menganulir Balkanisasi Nusantara. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousMencari Satria Piningit Dalam Tumpukan JeramiNextSaatnya Indonesia dan Global South Harus Memprakarsai Pembentukan Sistem Keamanan dan Ekonomi Mandiri Bebas dari Hegemoni AS dan Barat

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents