About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Muncul Tiga Kemiskinan Akibat Operasional UUDUUD 2002

Rusman

Rusman·21 July 2025·4 min read

Share
Muncul Tiga Kemiskinan Akibat Operasional UUD 2002
Tak boleh dipungkiri, situasi perpolitikan di Tanah Air hari ini “koyo beras diinteri”. Seperti beras yang sedang diayak, atau bagaikan gabah yang tengah ditampi. Itu perumpamaannya. Secara kias, ungkapan ini menggambarkan keadaan dan/atau kondisi negara dan bangsa yang tengah mengalami proses pembersihan, penyaringan, pemilahan dan seterusnya, di mana yang baik akan dipisahkan (dari yang buruk). Ditampi agar setiap sesuatu berkumpul berdasarkan jenis, misalnya, kerikil dengan kerikil, dedak kumpul dedak, kulit beras dengan kulit beras dll sehingga akhirnya diperoleh beras yang baik untuk dimasak. Atau, ada perumpamaan lain yang agak identik, contoh: 1) kolamnya dikeringkan, ikannya melompat-lompat. Jadi, tampak semua isi kolam. Tinggal ketok; 2) Babat Alas. Ungkapan ini tegas dan apa adanya. Tanpa tedeng aling-aling. Membabat hal-hal (negatif) yang merintangi untuk menuju titik yang diharapkan guna bersama-sama melompat ke masa depan; 3) dan lain-lain. Dengan demikian, jangan harap kegaduhan politik di publik akan mereda tanpa sebuah keputusan yang benar, jujur, berani, creative destruction namun bijaksana. Gak bakalan. Keputusan benar saja tidak cukup, karenanya kudu jujur dan berani. Berani saja masih kurang, tapi harus bijak dan lain-lain. Indonesia hari ini, butuh keputusan politik yang bersifat creative destruction berbasis nilai dan prinsip saling terkait di atas. Kenapa? Bahwa isu-isu yang digaduhkan selama ini hanya hal-hal hilir, atau residu dari isu hulu yang tetap dan tetap bercokol nyaris tanpa antisipasi konseptual. Isu hulu apa itu? Isu hulu dimaksud, tak lain ialah amandemen empat kali (1999-2002) terhadap UUD 1945 warisan Pendiri Bangsa. Ya. Para pegiat konstitusi menamai amandemen (yang brutal) tersebut dengan istilah Kudeta Konstitusi. Bahkan SBY, Presiden RI ke-6, dalam Pidato Kenegaraan di Senayan, Jakarta, (16/08/2010) menyebut amandemen empat kali terhadap UUD karya Pendiri Bangsa sebagai quite revolution. “Revolusi Senyap.” Sekali lagi, itulah hulu persoalan bangsa. Tatkala Pak Try Soetrisno, Wapres RI ke-6, dalam Simposium Memperingati Dekrit Presiden 5 Juli 1959 di Universitas Jayabaya tanggal 15 Juli 2025 lalu menyatakan, bahwa UUD NRI 1945 —ini UUD hasil amandemen— yang kerap disebut UUD 2002 mengakibatkan rusaknya modal sosial, modal ekonomi, modal politik dan modal kultural; ketika Dr Mulyadi, dosen politik di Universitas Indonesia mengatakan bahwa UUD 2002 membidani ‘Oligarki Kembar Tiga’ yang terdiri atas Bandar Politik (oligarki ekonomi), Bandit Politik (oligarki politik) dan Badut Politik (oligarki sosial). Nah, cermatan saya atas praktik operasional UUD 2002 menghasilkan sesuatu yang agak unik dan berbeda sebagai dampaknya. Bahwa amandemen empat kali terhadap UUD 1945, selain menimbulkan deformasi (bukan reformasi), kerusakan pada tatanan negara, juga menimbulkan ‘Tiga Kemiskinan’ secara simultan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Inilah topik yang akan dibahas pada tulisan ini. Adapun ‘Tiga Kemiskinan’ dimaksud, antara lain ialah sebagai berikut: Pertama: Miskin Mental Hal ini ditandai dengan banyaknya amanah yang dikhianati. Dampaknya, kita nyaris tidak memiliki pemimpin, yang ada hanya penguasa. Diberi jabatan bukan untuk kemaslahatan umat, tetapi untuk kepentingan diri dan kroninya. Makanya korupsi sangat marak lagi berjamaah di sana-sini. Password mereka adalah: “Karaoke”. Keruk sana, keruk sini OK. Kedua: Miskin Moral Di berbagai lini dan sektor, sudah jarang dijumpai lagi tokoh, yang banyak muncul justru ‘toko’. Toko itu tempat jual beli serta pajangan komoditas yang hendak diperdagangkan. Kecenderungan yang muncul, bening sedikit saja langsung ditawar-tawarkan ke publik. “Dijual”. Inilah ujud miskin moral. Selain ‘tokoh’ kini bersifat pramatis, tak tahu malu, juga transaksional. Ya, kini banyak dealer tetapi miskin leader. Ketiga: Miskin Iman Kita nyaris tak ada lagi pemuda, yang ada ‘pemudi’. Inilah metafora miskin iman di mana maknanya ialah tidak punya pendirian, tidak paham jati diri, gilirannya tak punya harga diri. Tak kenal diri. Dulu, pemuda itu identik dengan gagah perkasa. Sehingga Bung Karno, sang proklamator menyatakan, “Beri aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia!”. Akan tetapi, apa yang terjadi kini? Pemuda tak lagi gagah, tetapi ‘megagah’, yaitu rela menjadi kuli, budak dan antek. Bukan lagi perkasa, namun justru minta dirudapaksa. Diperkosa harkat dan martabatnya. Inikah yang terjadi di Bumi Pertiwi? Lalu, bagaimana dengan bonus demografi yang tengah melingkupi negeri ini menuju Indonesia Emas 2045? Bonus demografi adalah berkah. Namun, jika tanpa upaya sungguh-sungguh dari segenap anak bangsa khususnya kaum mudanya dalam memerangi ‘Tiga Kemiskinan’ tadi, jangan-jangan bonus demografi dapat berubah menjadi musibah. Inilah sepintas soal ‘Tiga Kemiskinan’ akibat praktik konstitusi hasil amandemen empat kali UUD 1945 (1999-2002), yang kini hidup dan berkembang di era reformasi, atau lebih tepat disebut era deformasi. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousMelihat Permasalahan Bangsa Dari Butir-Butir Jayabaya dan Upaya SolusiNextKhawatir Dengan Supremasi Cina di Asia Selatan dan Samudra Hindia, India Bergabung Dalam Persekutuan Militer Asia Pasifik (QUAD)

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents