About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Culture

Moloku Kie Raha Primadona Dunia: Dari Jalur Rempah ke Jalur Energi yang Menentukan Masa DepanMasa Depan Dunia

Rusman

Rusman·17 April 2026·2 min read

Share
Moloku Kie Raha Primadona Dunia: Dari Jalur Rempah ke Jalur Energi yang Menentukan Masa Depan Dunia

Sejarah telah mencatat bahwa tanah Moloku Kie Raha bukan sekadar gugusan pulau di timur Nusantara, melainkan pusat peradaban dunia yang pernah menggetarkan peta geopolitik global. Dalam lintasan sejarah, nama Maluku harum sebagai penghasil rempah-rempah yang menjadi komoditas paling berharga di muka bumi. Cengkih dan pala bukan hanya soal rasa, tetapi simbol kekuasaan, pemicu ekspedisi besar bangsa Eropa, dan alasan lahirnya kolonialisme di Nusantara.

Pada masa itu, jalur rempah menjadikan Moloku Kie Raha sebagai episentrum ekonomi dunia. Bangsa-bangsa besar berlayar melintasi samudra, mempertaruhkan nyawa dan logistik, hanya untuk menguasai sumber daya alam yang tumbuh dari tanah-tanah vulkanik Maluku. Dari Kesultanan Ternate, Tidore, Bacan, hingga Jailolo, terbentuk peradaban politik yang kuat dan berdaulat, yang memainkan peran strategis dalam percaturan global.

Namun hari ini, sejarah seakan berulang dalam wajah yang berbeda. Jika dahulu rempah menjadi magnet dunia, kini energi dan sumber daya mineral mengambil alih peran tersebut. Maluku Utara, sebagai bagian integral dari Moloku Kie Raha, menjelma menjadi kawasan strategis baru dalam peta energi global. Kandungan nikel yang melimpah, potensi gas alam, hingga kekayaan laut yang tak ternilai, menjadikan wilayah ini sebagai “jalur energi” masa depan.

Dunia kini sedang bergerak menuju transisi energi. Kendaraan listrik, teknologi baterai, dan industri hijau membutuhkan pasokan nikel dalam jumlah besar. Dalam konteks ini, Maluku Utara bukan lagi daerah pinggiran, melainkan pusat perhatian global. Investasi besar-besaran mengalir, kawasan industri tumbuh pesat, dan arus tenaga kerja meningkat drastis.

Namun, pertanyaannya sederhana sekaligus mendasar: apakah masyarakat lokal menjadi tuan di negeri sendiri, atau justru hanya menjadi penonton di tengah gemerlap eksploitasi sumber daya?

Sejarah kolonialisme seharusnya menjadi cermin. Jangan sampai jalur energi hari ini hanya menjadi versi modern dari jalur rempah masa lalu, di mana kekayaan alam diangkut keluar, sementara masyarakat lokal tertinggal dalam kemiskinan struktural. Pembangunan yang tidak berkeadilan hanya akan melahirkan konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan ekonomi yang akut.

Moloku Kie Raha memiliki peluang emas untuk bangkit sebagai primadona dunia, bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah, tetapi sebagai pusat peradaban baru yang berdaulat secara ekonomi dan politik. Kuncinya terletak pada keberanian pemerintah daerah dan pusat untuk memastikan hilirisasi industri, pemberdayaan masyarakat lokal, serta perlindungan lingkungan yang berkelanjutan.

Lebih dari itu, identitas sejarah sebagai bangsa rempah harus dihidupkan kembali dalam semangat kedaulatan. Nilai-nilai kearifan lokal, budaya gotong royong, dan sistem sosial yang kuat harus menjadi fondasi dalam menghadapi arus globalisasi yang tak terelakkan.

Moloku Kie Raha bukan sekadar wilayah geografis. Ia adalah simbol kejayaan masa lalu dan harapan masa depan. Dari jalur rempah hingga jalur energi, tanah ini selalu menjadi rebutan dunia. Kini saatnya menentukan arah: apakah akan kembali menjadi objek eksploitasi, atau bangkit sebagai subjek utama yang menentukan masa depan dunia.

Pilihan itu ada di tangan kita.

Nimrod Lasa May, aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia(GMNI)

 

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousKartun Opini Khas Sudi PurwonoNextLaporan Hazeu

More in Culture

View all
Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
Culture

Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi DerridaDekonstruksi Derrida

6 September 2026 · 1 min read

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Culture

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 August 2026 · 9 min read

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Society

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 August 2026 · 1 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents