About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Memukul Metode, Mengguncang Puncak KekuasaanPuncak Kekuasaan

Rusman

Rusman·23 December 2025·3 min read

Share
Memukul Metode, Mengguncang Puncak Kekuasaan

Ngobrol Filososi dengan Ichsanuddin Noorsy tentang Pelajaran Sistemik Struktural dari Galodo

Galodo —banjir bandang disertai material ikutan— di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan sekadar bencana alam. Secara filosofi, ia merupakan pembelajaran sistemik struktural (salah hulu, amburadul hilir) yang membuka mata kita tentang bagaimana sebuah sistem —termasuk sistem ekstraksi dan eksploitasi sumber daya alam— mengguncang bahkan melumpuhkan kehidupan manusia. Bukan dengan serangan langsung ke puncak kekuasaan (top management), melainkan dengan memukul metode yang menopangnya.

Selain korban jiwa, luka-luka, dan kerugian material maupun immaterial, secara business as usual — galodo justru merugikan pihak-pihak yang selama ini diuntungkan, seperti korporasi raksasa sawit, perusahaan tambang, hingga praktik illegal mining dan lainnya.

Mengapa demikian?

Karena metode produksi mereka —yang bersifat eksploitatif dan ekstraktif— mendadak lumpuh total. Tidak ada produktivitas, tidak ada kepastian waktu pemulihan, bahkan untuk sekadar memanfaatkan kayu gelondongan pun (korve) harus berhadapan dengan kemarahan rakyat yang terluka oleh penanganan bencana yang terasa “sudah tapi belum”.

Pada titik ini, galodo bekerja seperti serangan (yang dilakukan oleh alam) terhadap metode dalam sebuah sistem. Ketika metode lumpuh, lapisan dan struktur lain mulai terbuka. Siapa aktor di balik kerusakan alam, bagaimana izin diberikan, siapa dibeking oleh siapa, dan bagaimana struktur di atas metode tersebut mengelola.

Ya. Tanpa perlu agitasi gegap gempita, sistem itu sendiri mulai membuka kedoknya. Dan dampaknya tidak berhenti di level teknis operasional saja. Bisa menyeluruh. Tatkala metode lumpuh, manajemen terguncang. Ketika manajemen terguncang, kepemimpinan terdesak. Dan ketika kepemimpinan terdesak, keputusan politik menjadi sangat defensif. Salah satu indikasinya terlihat dari keengganan rezim mengubah status galodo menjadi bencana nasional berdalih “harga diri dan martabat bangsa”. Padahal dalam soal investasi, mereka nyaris melepas daulat dan martabat. Itu karena “nabi”-nya adalah pertumbuhan ekonomi.

Lalu menggema narasi “Indonesia mampu”.

Terdengarnya heroik. Namun sulit dilepaskan dari konsekuensi politik dan ekonomi yang mengintai di baliknya. Status bencana nasional bukan hanya soal bantuan pangan, pengobatan dan rehabilitasi, tetapi juga pertanggungjawaban kemanusiaan. Implikasinya, pencabutan izin, misalnya, atau ganti rugi, terutama terkuaknya aib para perusak lingkungan di hadapan publik nasional dan internasional. Dalam kondisi itu, sistem bisa mati kutu.

Ada sebuah kredo yang dikenal di Garba Wiyata Luhur Bhayangkara (PTIK/STIK), Jakarta Selatan. Begini bunyinya:

“Inti administrasi adalah manajemen; inti manajemen ialah kepemimpinan; dan inti kepemimpinan adalah pengambilan keputusan”.

Secara akademik, tesis ini masih relevan hingga hari ini, setidaknya dalam kerangka struktural fungsional.

Galodo membuktikan bahwa ketika metode sebagai fondasi kerja sistem menjadi runtuh, maka seluruh rantai sistem itu nyaris dan ikut bergetar.

Pelajaran terpenting dari galodo ialah bahwa perubahan (struktural) fundamental tidak selalu dimulai dari puncak. Ia bisa dimulai dari membongkar model investasi yang keliru, tidak adil, dan merusak (eksploitatif dan ekstratif). Ketika metode dihantam, sistem akan terpaksa memperlihatkan wajah aslinya. Dan dari sanalah, (insya Allah) perubahan sejati terbuka dan dimulai.

Maka galodo secara sistemik struktural menggugat petinggi, teknokrat, birokat, politisi, pebisnis, media massa dan tokoh masyarakat menyadari bahwa ada yang salah dengan paradigma, kebijakan dan strategi pembangunan. Tuntutannya, perbaiki hal tersebut termasuk para pelakunya. Atau bencana (sosial, politik, ekonomi, atau alam) besar datang lagi.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousPerang Tanpa Peluru di Balik OTTNextICC Cenderung Memihak Kepentingan Geopolitik Negara-Negara Yang Selaras Dengan AS dan Uni Eropa

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents