About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Membuat Batu Bata Untuk Mengambil Batu GiokBatu Giok

Rusman

Rusman·4 July 2023·4 min read

Share
Membuat Batu Bata Untuk Mengambil Batu Giok
Catatan Kecil Geopolitik Jelang Pilpres 2024 di Rusia Berita tentang pemberontakan Wagner (selanjutnya ditulis: isu Wagner) di Rusia semakin berkembang dan terus update. Narasinya sekarang bukan lagi perihal: 1) apakah peristiwa itu riil pemberontakan; 2) apakah AS cq CIA telah menyuap/menggalang Prigozhin, sehingga Wagner Group membelot alias memberontak terhadap Moskow; 3) apakah isu Wagner hanya ‘healing‘ —istilah milenial— antara Putin – Prigozhin bermodus false flag operation (operasi bendera palsu) di tengah kegaduhan serta kejenuhan konflik Ukraina? Jawaban atas ketiga pertanyaan di atas ialah, “Bukan!” Dan agaknya, isu Wagner lebih ‘dalam’ daripada sekadar hal-hal yang dipertanyakan tadi. Catatan penulis terdahulu (baca: “Pemberontakan Wagner 1 dan Pemberontak Wagner 2“) mungkin hanya kilasan-kilasan, kendati pada poin recipe for disaster mendekati A1, dimana oligarki ikut berperan pada industri strategis di Rusia. Memang. Bahwa ada hal-hal lebih urgen lagi besar ketimbang sekadar itu. Kita meloncat ke Turki, flash back sejenak atas ‘bersih-bersih internal’ yang pernah dilakukan oleh Presiden Recep Tayib Erdogan pada inner circle kekuasaannya, beberapa tahun lalu.

Masih ingatkah dengan gelegar isu ‘Kudeta Lima Jam’ di Turki tempo lalu? Silahkan baca ulasan saya: ‘Membaca Isu dan Operasi Bendera Palsu‘

sebagai referensi pelengkap.

Peristiwa di Turki dulu, selain bisa dijadikan preseden, sekilas referensi, namun ‘pola isu’-nya juga dapat dipakai sebagai pisau bedah guna membuka tabir isu (pemberontakan) Wagner. Atau, istilah kerennya, menguak hal tersirat dari apa yang tersurat (di atas permukaan), dan frase historinya ialah: ‘History repeats itself‘. Sejarah berulang dengan pola-pola sama, hanya aktor, waktu dan modus yang berbeda. Katakanlah, ‘Kudeta Lima Jam’ di Turki merupakan modus false flag operation ala Erdogan yang tergolong sukses. Dimana ia mampu meringkus ratusan jenderal yang terlibat konspirasi dalam hitungan jam (lima jam) saja. Hal ini jelas merupakan hasil mapping, profiling bahkan identifikasi cerdas dari intelijen Erdogan atas munculnya intrik-intrik di lingkar kekuasaannya. Apa pasal? Tak lain, Erdogan tidak ingin ada ‘matahari kembar’ dalam kepemimpinannya. Dalam kasus ini, sosok Fethulah Gulen —target operasi— sebenarnya ialah kawan dekat Erdogan, bahkan pernah berkoalisi untuk memenangkan Erdogan pada pemilu 2002, termasuk membendung kudeta kelompok sekuler tahun 2004. Tak ada kawan dan lawan abadi melainkan kepentingan. Dulu, Erdogan memakai jaringan dan pengaruh para gulenis di lembaga kejaksaan dan intelijen kepolisian untuk mengungkap rencana kudeta kelompok sekuler. Tetapi, semakin kemari jaringan dan pengaruh Gulen bertambah kuat lagi mengakar di berbagai lini seperti militer, contohnya, atau di kepolisian, di kejaksaan, birokrasi dan lain-lain, bahkan lebih luas lagi hingga ke luar negeri yang mana kader-kadernya —para gulenis— hanya tunduk pada satu komando (Gulen). Di mata Erdogan, geliat gulenis dianggap sudah tidak bisa lagi bekerja sama dengannya selaku pemegang tampuk kekuasaan tertinggi di Turki. Timbul persepsi ancaman. Erdogan merasa terganggu dengan keberadaan Gulen. Karenanya, diciptakan false flag operation berjudul ‘Kudeta Lima Jam’ yang agenda utamanya adalah menyingkirkan Gulen dan para loyalis dari pemerintahan Turki. Akhirnya, dalam waktu relatif singkat —hanya lima jam— Erdogan mampu menangkap 124 jenderal. Jumlah ini sekitar 35% dari 358 jenderal militer di Turki, dan 83-nya berpangkat Brigadir Jenderal dan Laksamana Muda. Berkaca pada isu Kudeta Lima Jam di Turki, ada empat learning points yang bisa dipetik, antara lain: (1) tidak boleh ada matahari kembar di suatu kekuasaan/kepemimpinan nasional dimanapun, kapanpun; (2) isu yang ditabur ialah ‘gerakan Gulenis sudah membahayakan negara’; (3) false flag operation yang digelar berjudul: ‘Kudeta atau pemberontakan’, dan (4) Gulen beserta loyalisnya adalah entitas yang dikorbankan. Bercermin dari isu di Turki tadi, narasi yang diasumsikan muncul di Rusia menjelang pemilihan presiden (pilpres) bulan Maret 2024 di Rusia adalah: Pertama, tidak boleh ada pergantian tampuk kekuasaan di Rusia karena negara tengah berperang melawan 23 negara NATO pimpinan AS. Kenapa demikian, bahwa pergantian presiden, bisa dianggap big blunder, apalagi jika presiden baru justru pro-Barat; oleh karena itu, Kedua, diciptakan ‘Pemberontakan Wagner’ sebagai false flag operation alias pintu pembuka untuk bersih-bersih internal di inner circle Putin jelang pilpres 2024. Kalau perlu, atas nama kegentingan memaksa (negara dalam keadaan perang) ditiadakan pemilu, ataupun perpanjangan waktu, meskipun berdasar perubahan konstitusi di Rusia, Putin masih bisa mencalonkan kembali sebagai presiden. Namun, apakah tidak riskan menggelar pilpres di tengah peperangan? Ketiga, sekali lagi, isu Wagner memang cuma pintu pembuka. Kemudian Prigozhin beserta pasukannya diisolasi di Belarus dimana presidennya ialah sekutu tradisional Putin. Ya. Setiap tujuan niscaya membawa korban. Itu sudah jamak di dunia geopolitik. Maka, selain Wagner Group dijadikan ‘korban’ (diisolasi); juga Keempat, beberapa jenderal senior di Rusia dijadikan korban, namun sejatinya para jenderal dimaksud justru target utama dari langkah catur Putin. “Bersih-bersih internal” di lingkaran puncak piramida di Negeri Beruang Merah jelang pilpres 2024. Retorika menggelitik, “Apakah nantinya akan digelar pilpres 2024, atau Putin diperpanjang masa jabatannya akibat negara dalam keadaan perang, atau ada opsi lain?” Wait and see! M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousNeocortex WarNext“Pemberontakan Wagner” (Bagian2/Habis)

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents