About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Membaca Second Home VisaSecond Home Visa dari Perspektif Kuda Troya

Rusman

Rusman·5 January 2023·2 min read

Share
Membaca Second Home Visa dari Perspektif Kuda Troya

Telaah Kecil Geopolitik

Dari perspektif geopolitik, kebijakan second home visa (visa rumah kedua) bagi WNA kelas menengah ke atas sebenarnya mengandung kerawanan-kerawanan baik dalam jangka pendek terutama jangka panjang.
Bila NKRI diibaratkan kolam ikan, kebijakan tersebut seperti mengundang predator, bahkan mempersilahkan penjajah masuk secara legal di rumah sendiri. Ada endapan bahaya berjangka baik dari aspek kedaulatan maupun sisi kekuasaan.

Pada jangka pendek misalnya, Pemilu 2024 tak lama lagi. Jika tanpa dibarengi pengawasan superketat, keberadaan mereka —pemegang second home visa— dapat dimobilisir untuk memilih kandidat tertentu. Lumayan. ‘Suara’-nya tentu tidak sedikit. Itu singkatnya. Sedang dalam jangka panjang, justru lebih gawat lagi. Mereka akan membentuk koloni-koloni.

Isu pengungsi Ukraina di Tabanan, Bali, misalnya, baru satu koloni saja sudah mampu ‘membeli’ 200 hektar tanah. Dan pada tanah tersebut dibangun sekolah, helipad, persawahan serta ladang untuk keperluan sehari-hari dan lain-lain. Luar biasa. Koloni pengungsi Ukraina membantu (ekonomi) desa-desa di sekitarnya, menjalin serta mencari simpati lingkungan agar mereka dapat hidup aman dan nyaman di daerah baru.

Ya, baru satu koloni saja sudah mampu menguasai 200 hektar, bagaimana kalau mencapai puluhan, dan ratusan koloni nantinya. Atau mencapai ribuan koloni. Bisa tak terbendung, karena pemerintah menggelar karpet merah terhadap WNA untuk menetap antara 5 – 10 tahun cukup dengan membayar dua miliar rupiah. Silakan mau kegiatan apa, atau berinvestasi.

Ya. Visa second home memang mengisi pundi-pundi negara di satu sisi, namun pada sisi lain, ada endapan bahaya menganga cukup lebar, khususnya terciptanya frontier dalam negara.

Geopolitik menjelaskan, frontier merupakan fenomena bernegara karena melemahnya pengaruh pusat di daerah akibat pengaruh asing. Itu singkatnya. Dan ruang pengaruh asing itu berawal dari budaya dan ekonomi.

Isu di Tabanan adalah realitas frontier, karena faktor ekonomi membuat warga sekitarnya welcome. Dan bila dibiarkan, pengaruh tersebut bisa menjalar ke aspek politik, dan aspek lainnya. Kelak, mampu memisahkan diri dari negara induk. Lepasnya Timor Timur dan Sipadan Ligitan adalah contoh frontier di pinggiran NKRI, dibiarkan menebal, dan —di luar dampak geopolitik global— akhirnya lepas dari bingkai NKRI. Sayonara.

Dari perspektif perang konvensional, dikhawatirkan isu second home visa seperti taktik ‘Kuda Troya’ yang dahulu sukses digunakan oleh Yunani menipu Troya sehingga tentara Yunani justru memasuki Troya lewat kuda kayu (di dalamnya ada pasukan Yunani) yang justru ditarik ke dalam kota. Akhirnya, Troya dapat dihancurkan oleh Yunani dari sisi internal.

Retorika selidik pun muncul, “Siapa berani menjamin, bahwa para pemegang visa tersebut bukan militer yang sengaja disusupkan oleh negaranya?”

Ya. Meski belum A1, ada isu bahwa warga Cina yang sudah keluar dari negaranya akan dihapus data kependudukannya. Artinya, warga dimaksud akan berupaya dengan segala cara untuk menjadi warga negara di wilayah yang didatangi. Entah A1, A2, atau desas-desus belaka, namun isu tadi sudah menyebar. Jangan-jangan hal tersebut ialah strategi Xi Jinping selain dalam rangka mengurangi beban pemerintahan akibat ledakan penduduk, juga ada hidden agenda lain terkait program One Belt One Road (OBOR) serta ekspansi senyap Cina di pelbagai belahan dunia.

Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousWilliam Blum Menyingkap Agenda Tersembunyi Marshall Plan ASNextPrakiraan Kondisi Politik 2023 (2/Habis)

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents