About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Membaca Pilpres 2024 Dari Perspektif VUCAVUCA – BANI

Rusman

Rusman·9 October 2023·3 min read

Share
Membaca Pilpres 2024 Dari Perspektif VUCA – BANI
Memperkirakan dinamika politik jelang Pemilu 2024 khusus tahapan pemilihan presiden (pilpres), entah melalui pilihan diksi, frasa, ataupun narasi, terutama terkait kondisi koalisi antarpartai; friksi di internal partai politik masing-masing; atau saling hujat di antara pendukung bakal capres dst, betapa semakin terasa ‘keterpecahan’ dan keterbelahan (social enclave) anak bangsa ini. Mungkin pilihan diksi yang agak tepat menggambarkan perkiraan pilpres dimaksud, antara lain: Jalan buntu? Mati pikir? Deadlock? Amburadul? Dikocok-kocok? Entah apalagi dan kemana pilpres 2024 akan berujung. Di satu sisi, kajian para kritikus serta pengamat politik dalam menggambarkan kondisi ini kerap melenceng. Ngglewar. Kebanyakan hanya sok tahu. Padahal sebenarnya tidak memahami hakiki situasi. Publik disodori opini yang berbasis persepsi (bila tak boleh disebut fiksi alias mengarang bebas). Ibarat tiga orang buta menjelaskan bentuk gajah. Yang kebagian pegang telinga tentu menerangkan lain dengan pemegang ekor gajah. Demikian pula yang pegang perut si gajah. Berbeda-beda. Sebenarnya sich tidak keliru, karena yang diterangkan masih bagian dari gajah. Namun, hanya sepenggal-sepenggal. Jika terkait ujud utuh (narasi) gajah, maka kurang akurat. Yang dominan justru persepsi. Ini sekedar prolog kecil dari judul di atas. Kita masuk ke perspektif alias sudut pandang. Masih ingat tentang VUCA? Kurun waktu sebelum Covid-19 melanda populer istilah VUCA. Itulah era, dimana keadaan ditandai dengan: 1. Bergejolak (volatility). Perubahan sangat cepat tanpa ada pola konsisten guna membantu proses (berpikir) baik beradaptasi maupun cara antisipasi. 2. Ketidakpastian (uncertainty). Adanya konflik di pelbagai belahan bumi, bencana alam, kekurangan pangan, climate change, dan seterusnya menimbulkan ketidakpastian baik pertumbuhan ekonomi, hubungan antarnegara dan lain-lain. 3. Rumit (complexity). Kenapa? Bahwa antara penyebab masalah dan akibatnya saling terkait sehingga membentuk interkoneksi dari beberapa faktor serta variabel, sehingga tantangan kedepan sulit diprakirakan. 4. Membingungkan (ambiguity). Ketika sebuah entitas mengalami kesulitan mengambil keputusan atau bingung mengembangkan pola dan model solusi akibat terlalu banyak penafsiran, persepsi dan seterusnya, itulah ambiguitas. Nah, keempat variabel tadi (VUCA) menjadi faktor yang mutlak kudu dicermati setiap entitas atau organisme dalam dinamika apapun terutama di dunia bisnis dan (geo) politik. Mundur sejenak. VUCA kali pertama dikenal pada 1987-an dalam ‘Teori Kepemimpinan’-nya Warren Bennis dan Burt Nanus. Dekade 1990-an silam, banyak pihak mengadopsi konsep VUCA guna menggambarkan situasi dan kondisi apapun khususnya atmosfer politik, bisnis, keamanan global dan lain-lain dalam rangka menggambarkan fluktuatif kondisi serta unpredictable. VUCA dinilai sebagai transformasi yang tidak bisa diduga, sangat cepat, membingungkan, dan rumit. Namun, merebaknya Covid-19 membuat istilah VUCA tidak lagi relevan. Kenapa begitu? Menurut Jamais Cascio, Antropolog asal Amerika, bahwa VUCA hanya bisa menggambarkan kondisi sebelum pandemi Covid-19, contohnya, disrupsi teknologi, atau ketidakstabilan (geo) politik global, dan lain-lain. Apa boleh buat, pandemi Covid-19 menuntut adanya pemahaman baru yang lebih tajam memotret situasi dan konsep tersebut kemudian disebut dengan istilah “BANI”. Jadi, ketika usai pandemi kita masih memakai istilah VUCA, memang tak keliru. Tetapi, konsep tersebut sudah mulai menggelincir ke masa lalu. Bukan tidak akurat, hanya out of date bila digunakan dalam kondisi pasca-pandemi Covid. Lantas, apakah BANI itu? Ya. Ia kepanjangan dari Brittle (rapuh), Anxiety (kekhawatiran), Non-Linier (tak linier), dan incomprehensible (sulit dipahami). Secara konsepsi, bergesernya Era VUCA ke BANI, maka istilahnya pun berubah. Volatility misalnya, kini berganti brittle. Hal ini untuk mendiskripsi kondisi yang tampak stabil di atas permukaan, tetapi rapuh lagi mudah hancur di bawah permukaan, tanpa bisa diantisipasi. Kemudian anxiety dianggap cerminan uncertainty. Timbulnya rasa kekhawatiran, takut, kecemasan dan seterusnya terhadap sesuatu yang sifatnya tidak pasti. Orang dan/atau entitas, organisme lainnya cenderung lari dari masalah. Dan tatkala harus mengambil keputusan cenderung subjektif, bahkan irrasional. Dan dalam kondisi yang kompleks lagi rumit, kerap kali pengambilan keputusan bersifat non-linier. Terlepas hasil akhirnya bagaimana. Bukan tidak fokus, namun situasi yang memaksanya demikian. Konsekuensi dari ketiga kondisi di atas (brittle, anxiety, non linier)_ ialah ketidakpahaman (incomprehensif). Sesuai judul di atas, bagaimana kondisi pilpres 2024 nanti ditinjau dari sudut BANI? Bersambung .. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousPeluang dan Risiko Chatbot AI untuk Anak-AnakNextIndonesia Diserbu Dari Pelbagai Sisi dan Anasir – Bagian 2/Habis

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents