About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Lingkaran Setan: “Siapa ‘Pemenang’ Dalam Konflik UkrainaKonflik Ukraina?”

Rusman

Rusman·9 March 2023·3 min read

Share
Lingkaran Setan: “Siapa ‘Pemenang’ Dalam Konflik Ukraina?”
Cerpen Kecil Geopolitik Dalam geopolitik, apapun model peperangan alias konflik, itu hanya agenda. Sedangkan skema atau tujuannya ialah mencaplok geoekonomi. Nah, arti geoekonomi ini mengalami pergeseran makna dari waktu ke waktu. Pada abad ke-19, misalnya, geoekonomi diartikan sebagai rempah-rempah; lalu di abad ke-20, geoekonomi bergeser menjadi emas, minyak dan gas bumi; mungkin abad ke-21 dan seterusnya, makna geoekonomi bisa berubah menjadi rare earth, misalnya, atau nikel, dan lainnya — tergantung komoditas favorit serta konteks kebutuhan industri pada masanya. Ini sekadar prolog cerita pendek (cerpen) kecil bernapas geopolitik. Kembali ke topik. Ada hal unik akibat imbas konflik Ukraina versus Rusia. Bahwa Singapura yang mendukung sanksi Barat pada satu sisi, namun sekarang justru menjadi salah satu pembeli terbesar minyak Rusia di sisi lain. Realitas tersebut, ibarat dua sisi pada sekeping mata uang, bertolak-belakang namun bertautan. Singapura mendadak muncul sebagai salah satu importir minyak Rusia. Padahal, ia pendukung sanksi Barat terhadap Rusia. Apakah ini merupakan sinyal atas sikap oportunis Singapura; ataukah, ia cuma disuruh oleh Barat? Kenapa demikian, agar impor minyak Rusia tidak terlalu kentara sebab dilakukan pihak ketiga. Hal ini ditengarai, konon kilang-kilang minyak di Singapura tidak kompatibel dengan jenis minyak mentah Rusia. Selain itu, ada empat negara/teritori UE yang masih mengimpor minyak Rusia seperti Gibraltar misalnya —ini teritori Inggris— atau Malta, Yunani dan Spanyol. Tanpa rasa malu, keempat negara itu masih mengimpor langsung minyak dari Rusia. Padahal, mereka mendukung sanksi terhadap Rusia. Unik. Sekali lagi, apakah ini ujud sikap oportunis; atau, negara-negara dimaksud sudah kepepet energi? Retorika selidik pun muncul, “Apakah hal tersebut merupakan isyarat bahwa Eropa sebenarnya terbelah alias berbeda diametral melalui gaung palsu yang diteriakkan melalui tagar: “UE bersatu melawan Rusia?” Fakta lain yang muncul, mirip impor Belgia dan Grace, konon kilang Singapura kurang cocok dengan jenis minyak mentah Rusia. Mungkin, inilah alasan kenapa Indonesia tidak mengimpor minyak murah dari Rusia, karena nyaris semua pengilangan minyak Indonesia di kilang milik Singapura. Atau, karena ‘takut’ dengan Amerika Serikat (AS)? Dari perspektif geopolitik, Singapura merupakan ‘pintu masuk’ menuju Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, AS, dan Taiwan — ya, semua negara tadi masih membeli minyak Rusia melalui Singapura. Bahkan negara-negara UE termasuk Netherlands kini membeli minyak via Singapura. Sepertinya, Singapura dipakai Barat sebagai perantara akibat fakta pahit: ‘negara-negara tersebut butuh minyak Rusia’. Tetapi, jajaran Barat malu kalau mengimpor terang-terangan. Secara geopolitik, pelabuhan Singapura merupakan pintu masuk wilayah Asia Pasifik. Jadi, tujuan impor minyak Rusia via Singapura semata-mata untuk melayani kelompok negara aliansi Barat seperti Selandia Baru contohnya, atau Australia, Korea Selatan, bahkan AS dan Belanda. Secara geostrategi, kelak bila Perang Dunia III meletus di abad ini, kemungkinan besar yang menjadi sasaran nuklirnya Putin kali pertama ialah Singapura, kenapa? Tak lain, guna menyabot aliran minyak serta melumpuhkan energy security negara-negara musuhnya. Namun, ini sebatas asumsi penulis. Dan seandainya asumsi ini benar, Indonesia nantinya pun bakal tersendat pasokan minyaknya bila Singapura menjadi target (pertama) serangan Putin. Dari data dan berita industri minyak, Polandia kini mulai mengimpor minyak Kazakhstan melalui pipa. Dan pipa minyak Kazakhstan melewati Rusia. Pantas saja Polandia kini ‘merapat’ ke Rusia, karena jika konflik memuncak, perang dunia misalnya, jalur pipa minyak Kazakhstan – Polandia bisa ‘dihentikan’ oleh Putin dengan mudah karena melewati wilayah Rusia. Data per Januari 2022 —sebelum operasi militer khusus Rusia— Netherlands adalah pembeli terbesar minyak Rusia. Pada Februari 2023 setelah negara-negara UE menjatuhkan sanksi kepada Rusia, ternyata masih ada empat negara sebagaimana di atas (Yunani, Malta, Gibraltar dan Spanyol) membeli minyak Rusia secara langsung. Nah, sesuai judul cerpen ini, siapakah ‘pemenang sementara’ dalam konflk Ukraina? Jawabannya adalah: “Singapura”. Sebab, hampir semua negara-negara musuh Rusia mengimpor minyak dari Singapura, sedangkan Red Dot —julukan lain untuk Singapura— justru membeli minyak dari Rusia. Inilah lingkaran setan dalam dinamika geopolitik global. If you would understand world geopolitics today, follow the oil, kata Deep Stoat, pakar strategi AS. Tamat M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

Previous“Balada Kodok Gendut”NextMembaca Isu Penundaan Pemilu dan Gerilya 2024

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents