About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Laporan DNI AS Mengonfirmasi Aktivitas LaboratoriumAktivitas Laboratorium Bio-Militer di 30 Negara

Hendrajit

Hendrajit·21 June 2026·5 min read

Share
Laporan DNI AS Mengonfirmasi Aktivitas Laboratorium Bio-Militer di 30 Negara

Menarik ini. Pada 12 Juni 2026, Direktur Intelijen Nasional AS (DNI) telah merilis bukti berdasarkan riset yang dilakukan lembaga yang ia pimpin, menunjukkan pendanaan pemerintah Amerika Serikat yang “berlangsung lama” untuk lebih dari 120 laboratorium biologi di lebih dari 30 negara tempat penelitian tentang patogen biologis, beberapa di antaranya dipandang cukup berbahaya.

Lebih mengagetkan lagi, dalam pernyataan DNI tersebut laboratorium itu termasuk laboratorium yang ada di Ukraina.  “Sebagai contoh, Komunitas Intelijen sebelumnya telah memperingatkan bahwa laboratorium biologi yang didanai AS di Ukraina kemungkinan menyimpan patogen berbahaya dan tetap rentan terhadap ancaman serangan, penyitaan, atau kerusakan yang telah lama ada dari Rusia,” begitu menurut pernyataan Kantor DNI.

Pernyataan Direktur DNI ini menurut saya cukup mengejutkan mengingat fakta bahwa Tulsi Gabbard, melepaskan jabatannya sebagai pemimpin tertinggi lembaga intelijen AS tersebut pada 30 Juni 2026,. Jadi, Tutsi Gabbard meriliis pernyataan DNI tersebut 18 hari sebelum mengundurkan diri.

Baca:

US Releases Information On Biolabs In Over 30 Countries, Including Ukraine

Namun yang jelas, fakta bahwa salah satu tugas pokok dan fungsi dari Direktur DNI adalah mengawasi dan antar instansi pemerintah yang menangani bidang intelijen untuk mengordinasikan pertukaran informasi di antara komunitas intelijen AS dalam skala yang lebih luas, maka rilis DNI yang pastinya atas persetujuan Tulsi Gabbard, tidak bisa dipandang sepele atau sekadar mengada-ada.

Setidaknya melalui informasi DNI tersebut telah mengungkap adanya Program Pengurangan Ancaman Kooperatif atau the Cooperative Threat Reduction Program, atau Program Pengurangan Ancaman Kooperatif. Program tersebut kerap disebut juga Program Nunn Lugar. Program Inisiatif Kementerian Pertahanan AS/Pentagon.  Program ini dirancang pada tahun 1991 oleh Senator Sam Nunn dan Richard Lugar.

Dengan begitu, rilis dari DNI yang dilansir Radio Free Europe itu, telah mengonfirmasi sebuah artikel beberapa waktu lalu ihwal aktivitas laboratorium bio-militer (bio-military lab) di pelbagai negara di luar AS itu sendiri.  Beberapa waktu lalu adalah aktivitas beberapa laboratorium riset kesehatan seperti di Mesir, Kenya, Indonesia, Thailand, Brazil, Peru, dan Jerman. Semua aktivitas tersebut berada dalam kerangka arahan dari Pentagon. Dalih yang digunakan sebagai alasan adanya beberapa laboratorium biologi-militer tersebut adalah untuk penelitian penyakit menular.

Amerika Serikat dilaporkan memiliki 336 laboratorium biologi di 30 negara, termasuk 26 di Ukraina. Laporan media juga menyebutkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh laboratorium biologi yang didanai dan dikendalikan oleh AS di Ukraina dapat menjadi penyebab peningkatan jumlah kasus difteri, rubela, tuberkulosis, dan campak di negara tersebut sejak 2014.

Lebih mengerikannya lagi, laboratorium biologi di Ukraina, menurut beberapa laporan, telah berupaya mengembangkan komponen senjata biologis, seperti yang dilakukan Unit 731 Jepang sebelum dan selama Perang Dunia II. Penggunaan senjata kimia dan biologi oleh Jepang di Tiongkok menyebabkan kematian sekitar 1,2 juta orang Tiongkok antara tahun 1932 dan 1945.

Adapun menurut rilis DNI 12 Juni 2026, ternyata bukan hanya di Ukraina saja. Melainkan juga ada beberapa fasilitas peninggalan Soviet terletak di Kyiv, Tbilisi, dan tempat-tempat lain di sekitar bekas Uni Soviet. Bahkan yang ada di Georgia, Tblisi, terungkap adanya cerita yang cukup mengejutkan.

Sebuah fasilitas riset milik AS bernama The Richard Lugar Center for Public Health Research laboratory, yang beroperasi di Tblisi, Georgia, disinyalir juga merupakan laboratorium bertujuan ganda ala NAMRU-2. Yang berada dalam kendali kekuasaan militer dan kementerian pertahanan AS/Pentagon. Laboratorium ini mulai berdiri semasa pemerintahan Presiden Georgia Mikheil Saakashvili. Bahkan laboratorium ini dikabarkan pernah menggunakan manusia untuk percobaan senjata biologis.

Dengan demikian, laporan DNI yang dirilis kepada pers pada 12 Juni 2026, telah mengonfirmasi secara faktual kajian-kajian para ahli maupun jurnalis sebelumnya, ihwal aktivita laboratorium bio-militer AS di pelbagai kawasan dunia. Bahwa berbagai cabang pemerintahan AS, seperti Departemen Pertahanan, telah lama mendanai laboratorium di luar negeri dengan dalih untuk  melakukan penelitian tentang penyakit. Namun seperti terbukti dengan terbongkarnya keberadaan NAMRU-2 AS di Indonesia pada 2008 yang ternyata merupakan sarang operasi intelijen Angkatan Laut AS terselubung alih-alih untuk penelitian penyakit endemik dan pandemic. Alhasil, pada 2009 Laboratorium bio-lab NAMRU-2 AS ditutup oleh menteri kesehatan kala itu, Ibu Fadilah Supari.

Apa yang terjadi di Georgia, negara lepasan Uni Soviet, juga tidak kalah mengerikan. Seperti halnya juga dengan NAMRU-2 AS di Jakarta yang sempat beroperasi antara tahun 1970 hingga 2009, The Richard Lugar Centre for Public Health Research laboratory pun tertutup rapat-rapat. Hanya personil Amerika dengan security clearance yang bisa mengakses laboratorium tersebut.

Baca kembali artikel saya terdahulu:

Aktivitas Laboratorium Biologi Militer AS di Luar Negeri Harus Segera Dihentikan

Lebih mencurigakan lagi, seperti halnya NAMRU-2 AS di Indonesia, para staf laboratorium yang berkewarganegaraan AS, mendapatkan kekebalan diplomatik (diplomatic impunity) berdasarkan perjanjian AS-Georgia yaitu The 2002 US-Georgia Agre Di Kazakhstan, Asia Tengah, yang dulunya tergabung dalam Uni Soviet, pihak militer AS sempat mendirikan laboratorium yang sejenis the Richard Lugar Center di Georgia. Namanya the Central Reference Laboratory. Dan sempat mengundang protes dari warga masyarakat Kazakhstan. ement on defence cooperation.

Berarti masuk akal seperti  berita yang dilansir radio Free Europe, bahwa Pemerintahan Presiden Donald Trump telah meninjau kepemilikan dan berkas AS tentang laboratorium biologi yang didanai oleh Washington setelah melarang semua pendanaan federal untuk penelitian peningkatan fungsi (gain-of-function) — yang melibatkan modifikasi organisme untuk meningkatkan fungsi biologisnya.

Seiring memburuknya hubungan Rusia dengan Barat, Moskow semakin sering menuding AS mendanai “laboratorium biologi” yang bertujuan mengembangkan potensi senjata biologis. Washington sendiri merupakan penandatangan Konvensi Senjata Biologis tahun 1975.

Meskipun Washington mencoba membantah tudingan Moskow dengan menyebut itu cuma sekadar teori konspirasi. Malah berbalik menuding Moskow. Pada 2003, saat dalam keadaan konflik bersenjata kian menajam di Ukraina,  Departemen Luar Negeri AS menuduh Moskow “meningkatkan volume dan intensitas disinformasi tentang senjata biologis dalam upaya yang gagal untuk mengalihkan perhatian dari invasinya ke Ukraina, untuk mengurangi dukungan internasional bagi Ukraina, dan untuk membenarkan perang yang tidak dapat dibenarkan.

Namun seturut kembali berkuasa di Gedung Putih pada 2025, Trump  telah mengambil pendekatan yang lebih tegas terhadap masalah patogen biologis, khususnya terkait pandemi COVID-19 yang asal-usulnya di China masih menjadi subjek perdebatan sengit dan kontroversial.

Bahkan Pemerintahan Trump mengatakan bahwa banyak laboratorium biologi yang didanai Washington telah melakukan penelitian menggunakan “patogen berbahaya dan sangat menular,” dan bahwa tindakan tersebut tidak dapat dibiarkan “tanpa adanya pembatasan.”

Maka dengan tak ayal, pada Mei 2025, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengakhiri pendanaan federal untuk penelitian peningkatan fungsi di seluruh dunia.

Kalau merunut alur cerita yang saya sampaikan tadi, maka rilis yang disampaikan oleh DNI dan dilansir oleh media massa atas persetujuan Direktur DNI Tulsi Gabbard, merupakan konsekwensi strategis dari perintah eksekutif Presiden Trump.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI) 

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousAliansi Militer NATO Semakin Agresif di Wilayah ArktikNextPusat Data Menjamur, Masyarakat AS Resah

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents