About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Krisis KepemimpinanKrisis Kepemimpinan: Di Antara Swing Voters, Golput, dan Dejavu Dalam Kontestasi 2024 (1)

Rusman

Rusman·21 June 2023·4 min read

Share
Krisis Kepemimpinan: Di Antara Swing Voters, Golput, dan Dejavu Dalam Kontestasi 2024 (1)
“Filosofi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara: Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi teladan); Ing Madyo Mbangun Karso (di tengah memberi semangat); Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan moral/semangat)” Beberapa pendapat menyatakan bahwa pemilihan umum/pemilu kali ini (2024), bakal banjir swing voters, golongan putih (golput) dan undecided voters. Tak pelak, ketiganya merupakan ceruk yang akan diperebutkan oleh siapapun pasangan calon —di level manapun— karena jumlahnya signifikan. Swing voter itu kelompok pemilih yang pada pemilu sebelumnya mendukung partai politik (parpol) A, atau memilih kandidat B, tetapi di pemilu berikutnya ia beralih ke parpol X dan kandidat Y. Kalau undecided voters adalah kelompok orang yang belum menentukan pilihan hingga di bilik TPS. Sedangkan golput merupakan bentuk perlawanan sekelompok warga terhadap praktik penyelenggaraan negara karena kecewa terhadap jalannya kekuasaan. Perlawanan mereka diekspresikan lewat cara tidak memilih —golput— baik parpol, legislator, maupun tidak mendukung sama sekali, entah cabub/wako, cagub, atau capres/cawapres. Ada beberapa alasan kenapa segolongan orang memilih golput, atau menjadi swing voters dan undecided voters. Alasan umum ialah, selain belum ada pilihan, atau sudah punya pilihan namun ragu-ragu/penuh pertimbangan, dulu pernah dikecewakan, juga kerap karena faktor teknis administratif lain. Jumlah mereka —terutama swing voters— menurut Ketua Umum Perkumpulan Swing Voters (PSV), Adhie Massardi, antara 30 – 40% di setiap pemilu. Lumayan banyak; sedang undecided voters, menurut Lingkar Survei Indonesia (LSI) sekitar 16,2% serta terus mengecil bilangannya jelang coblosan; dan jumlah golput hampir sama dengan swing voters berkisar 30 hingga 40%. Sekali lagi, terbilang signifikan kalau digabungkan. Pada catatan ini, ceruk undecided voters abaikan dulu, karena jumlah kian mengecil jelang Hari H coblosan. Tidak signifikan. Kita diskusikan dua hal besar, yakni swing voters dan golput. Menurut hemat penulis, besarnya ceruk swing voters dan golput di setiap pemilu, selain diakibatkan oleh hal-hal yang diurai sepintas tadi, juga akibat perilaku buruk politikus seperti korupsi, misalnya, atau tersumbatnya saluran aspirasi, wakil rakyat terkesan cuma perpanjangan oligarki, sekadar ‘stempel’ kekuasaan, dan lain-lain. Ini terlihat dari beberapa RUU yang ditolak publik, tetapi justru lolos di parlemen. Geblek. Akan tetapi, selain daripada itu, faktor utama merebaknya golput dan swing voters, menurut penulis, sebenarnya akibat (krisis) kepemimpinan. Kenapa kepemimpinan justru sebagai faktor utama melebarnya kedua ceruk di atas? Memang belum ada penelitian spesifik tentang itu. Ilustrasi tadi cuma asumsi penulis berbasis filosofi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Selanjutnya, untuk menguak lanjut, mari kita breakdown asumsi dimaksud. Ya, apabila di masa Orde Lama (Orla), sosok pemimpin itu dilahirkan oleh (gejolak) situasi dan kondisi negara usai pergolakan merebut kemerdekaan, maka di era Bung Karno sering membidani sosok pimpinan yang pilih tanding, ‘dugdeng’ di depan pasukan, serta mumpuni; Konsepsi kepemimpinan Orde Baru (Orba) lain lagi, yakni melalui penyaringan serta monitor super ketat oleh fungsi intelijen, sehingga siapapun sosok yang muncul berasal dari sumber kredibel, selektif, memiliki integritas, serta profesional pada bidangnya; Namun, di era reformasi kini konsep kepemimpinan justru ‘antitesis’ daripada kedua orde (Orla dan Orba). Poin intinya, entah ujug-ujug, entah faktor dinasti politik, longgar, dan tidak sedikit pemimpin di era sekarang dibidani oleh lembaga survei (berbayar). Tidak masalah. Sah-sah saja. Setiap masa ada mekanismenya, setiap mekanisme ada masa dan latar belakangnya, kata sebuah quote usang. Publik sepertinya menikmati model kepemimpinan yang terbidani melalui tata cara ini, dan nyaris tidak ada penolakan. Dinilai wajar-wajar saja. Maka konsekuensi di publik ialah munculnya perilaku massa yang cenderung membenarkan kebiasaan (viral, populer) ketimbang membiasakan kebenaran. Filosofi leluhur misalnya, sepi ing pamrih rame ing gawe, tetapi praktiknya kini malah terbalik: ‘Sepi ing gawe rame ing pamrih‘. Semua yang dilakukan bukan kerja ikhlas, bukan kerja cerdas, namun hanya untuk viral, mengejar popularitas serta membangun citra diri. Pencitraan belaka. Bukankah citra itu realitas semu? Hyper – reality. Maka dampak dari pola itu ada pergeseran perilaku kepemimpinan, bahwa pimpinan-lah yang kerap kali malah membuat malu bawahan. “Ing ngarso ngisin-ngisini” (di depan justru memalukan), bukannya ing ngarso sung tulodo, memberi contoh teladan kepada anak buah. Efek lanjutan dari pola tersebut muncul dua hal tak elok di publik, antara lain: Pertama, Ing Madyo Podho Ngapusi. Pemimpin bukannya memberi semangat atau membangun komitmen, tetapi menjalin konspirasi. Dua hal yang jelas berbeda. Komitmen itu keterikatan terhadap tindak kebenaran dalam menggapai tujuan, sedang konspirasi malah kebalikannya, yakni persekongkolan (jahat) demi kepentingan diri dan kelompok. Itu tadi, ujung-ujungnya ngapusi; Kedua, Tut Wuri Meden-Medeni. Tak pelak, jika kelak konspirasinya terkuak, maka kecenderungannya ialah menumbalkan alias mengorbankan bawahan. Atau, si bawahan disuruh ‘menghilang’ supaya rantai kejahatannya putus, tak terlacak, dan lain-lain. Pertanyaan gelisahnya ialah, “Bagaimana clue dan format yang cocok agar tidak muncul krisis kepemimpinan?” Bersambung bagian 2 M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousIsu Al Zaytun: Kemana Akan Berlabuh?NextBocoran Vault 7 dan Temuan CVERC Menyingkap Hegemoni Global AS di Bidang Cyber Melalui Aksi Spionase

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents