About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Kombinasi BRICS dan CBDC Mengancam Dominasi DolarDominasi Dolar AS

Hendrajit

Hendrajit·15 May 2026·6 min read

Share
Kombinasi BRICS dan CBDC Mengancam Dominasi Dolar AS

Adanya blok ekonomi-perdagangan yang dimotori oleh Cina dan Rusia sejak tahun 2005 lalu, saat ini sudah berkembang dan meluas bukan sekadar sekadar forum pertemuan geopolitik antar-negara. Namun secara aktif berhasil mengembangkan Insfrastruktur Keuangan Internasional Alternatif yang tidak lagi bergantung pada dua badan keuangan dunia; International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia. Lebih spesifik lagi, keberhasilan BRICS mengembangkan Infrastruktur Keuangan Internasional Alternaatif berhasil mengurangi ketergantungan dunia internasional terhadap mata uang dolar AS.

Baca:

Implications of a U.S. CBDC for International Payments and the Role of the Dollar

Gagasan utamanya adalah pembentukan mata uang internasional alternatif sebagai bagian dari strategi de-dolarisasi yang lebih luas. Langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan kepada mata uang dolar AS semakin menguat seiring dengan langkah-langkah yang ditempuh Cina, Rusia dan India menempuh jalur baru bukan hanya dengan mengurangi ketergantungan mereka pada dolar AS, melainkan juga dengan meningkatkan investasi dalam mata uang lokal dan teknologi digital.

Ini merupakan tantangan secara langsung terhadap hegemoni mata uang dolar yang ditetapkan melalui apa yang disebut SIstem Bretton Wood pada tahun 1944. Dalam sistem ini, semua mata uang nasional diharuskan untuk dipatok terhadap dolar. Sehingga dolar AS digunakan baik untuk transaksi perdagangan internasional, transaksi keuangan internasional maupun sebagai tolok ukur devisa negara. Bukankah hal ini merupakan salah satu bentuk kolonialisme gaya baru Pasca Perang Dunia II?

Yang lebih parah lagi, melalui mata uang dolar AS digunakan sebagai Pemberlakuan Sanksi oleh Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT). Inilah yang kemudian memotivasi munculnya gagasan alternatif supaya tidak tergantung pada dolar AS.

Dalam hal ini, BRICS berada dalam posisi yang tepat untuk mendorong inovasi negara-negara anggotanya untuk mengimbangi dominasi dolar AS. Maka itu BRICS perlu untuk mengembangkan sistem penyelesaian transaksi sendiri dalam mata uang nasional untuk mengimbangi SWIFT. Langkah seperti itu dapat menghemat jutaan biaya pertukaran bagi anggota BRICS dan memperkuat perekonomian mereka masing-masing.

 

Rupiah Senin pagi melemah menjadi Rp16.186 per dolar AS

 

Beberapa eksperimen mungkin bisa jadi sumber inspirasi. Cina, misalnya, telah memperkenalkan Sistem Pembayaran Antar Bank Lintas Batas (CIPS) untuk memfasilitasi transaksi internasional dalam RMB. CIPS telah berkembang hingga mencakup lebih dari 1500 peserta secara global, memajukan tren menjauh dari sistem SWIFT yang dikendalikan AS.

 

Rusia menerima sanksi berat berupa pemblokiran sistem keuangan dunia Society Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT). Berikut ulasannya.

Rusia menerima sanksi berat berupa pemblokiran sistem keuangan dunia Society Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT). Ilustrasi. (REUTERS/ANTON VAGANOV).

 

Selain itu, Cina telah meluncurkan mata uang digital bank sentralnya di Guangdong, yang bertujuan untuk mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan efisiensi lintas batas, yang sangat penting untuk perdagangan BRICS di masa depan.

Menariknya, dengan adanya tekanan dan pemberlakuan sanksi ekonomi AS maupun Eropa Barat yang tergabung dalam G-7, pada perkembangannya justru memicu BRICS untuk mengadvokasi sistem multilateral yang bertumpu pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menandingi SWIFT dan dominasi dolar AS.

Pada tahun 2022, sanksi AS terhadap Rusia, termasuk pengucilan dari SWIFT dan pembekuan cadangan devisanya, menyoroti kebutuhan akan sistem keuangan alternatif, yang menghidupkan kembali upaya BRICS. Menariknya, pada saat kritis tersebut Rusia justru menemukan cara untuk menghindarinya, seperti kemitraannya dengan India.

Perjanjian baru-baru ini antara Rusia dan India memungkinkan transaksi langsung tanpa bergantung pada dolar AS, yang menandai pergeseran besar menuju perdagangan mata uang lokal. Setelah kunjungan Perdana Menteri Modi ke Moskow, perdagangan bilateral antara India dan Rusia melonjak menjadi $65 miliar tahun lalu, peningkatan sebesar 33%, menjadikan India sebagai pembeli minyak Rusia terbesar.

Selama 50 tahun terakhir ini, Dolar AS  telah menjadi mata uang cadangan utama dunia selama lebih dari 50 tahun, mengendalikan perdagangan internasional, harga komoditas, dan cadangan devisa. Mata uang ini memberikan stabilitas, likuiditas di seluruh dunia, dan kepercayaan dalam keuangan global. Namun saat ini ketergantungan pada dolar semakin menghadapi kritik dan kecaman meluas dalam lanskap geopolitik dan ekonomi yang berubah dengan cepat saat ini.

 

Baca juga makalah yang bertajuk: From globalization to deglobalization:
Zooming into trade

 

Salah satu tantangan paling signifikan berasal dari Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC), yang secara revolusioner menjadi alat strategis yang dapat membantu negara-negara memodernisasi ekosistem keuangan mereka, mempromosikan kedaulatan moneter, dan mengurangi ketergantungan mereka pada dolar.

Namun seiring dengan terobosan digital dalam mentransformasi industri keuangan, benarkah  CBDC memang efektif untuk melakukan de-dolarisasi dan kemerdekaan keuangan global? CBDC bersifat terpusat dan sepenuhnya didukung oleh pemerintah, menjamin stabilitas dan pengawasan regulasi, berbeda dengan mata uang kripto yang terdesentralisasi seperti Bitcoin.

Adapun negara-negara yang saat ini sedang menciptakan CBDC antara lain:

  • e-CNY, atau Yuan Digital Cina, adalah yang paling banyak diadopsi.
  • e-Krona Swedia: Berupaya mencapai tujuan masyarakat tanpa uang tunai.
  • Rupee Digital India: Saat ini masih dalam tahap uji coba, mata uang ini bertujuan untuk meningkatkan integrasi ekonomi digital dan efisiensi pembayaran.

Sekadar informasi, CBDC menyediakan standar baru untuk pembayaran digital yang cepat, murah, dan aman baik di dalam maupun antar negara.

Berbicara tentang tren menurunnya ketergantungan dunia internasional terhadap dolar AS, apa penyebab utama percepatan De-Dolarisasi?

Pertama, munculnya dorongan yang semakin kuat untuk menghindari  kendala berbasis dolar, sehingga negara-negara yang dikenai sanksi AS—seperti Rusia dan Iran—berupaya secara aktif mencari alternatif.

Kedua,  adanya dorongan kuat untuk menghilangkan In-efisiensi  dan Biaya Transaksi yang Sangat Mahal. Menghapus  ketergantungan mereka pada banyak perantara. Sistem pembayaran lintas batas tradisional membuat transaksi menjadi mahal dan memakan waktu (terkadang berhari-hari).

Ketiga, selaras dengan aspirasi sebagian besar megara-negara berkembang. Sehingga percepatan De-Dolarisasi bertujuan untuk mengurangi dampak buruk terhadap ketidakstabilitan dan ketidakpastian mata uang dolar. Dengan itu De-Dolarisasi akan meningkatkan pengaruh negara-negara berkembang terhadap kebijakan moneter.

Keempat, kemajuan teknologi, mendorong adanya solusi pembayaran lintas batas yang efektif dan transparan kini dimungkinkan berkat perkembangan teknologi blockchain dan distributed ledger. Distributed Ledger atau Teknologi Buku Besar Terdistribusi adalah sistem digital (database) yang mencatat, berbagi, dan menyinkronkan transaksi di berbagai lokasi, institusi, atau geografis secara bersamaan. Tidak ada otoritas pusat; semua node (komputer) dalam jaringan menyimpan salinan yang sama.

Ironisnya, dominasi keuangan global AS melalui mata uang dolar sekarang malah semakin terancam justru oleh ulah AS dan negara-negara Eropa Barat itu sendiri. Misalnya, Sanksi Geopolitik AS-Uni Eropa terhadap Rusia dan Cina, atau belakangan ini Iran, , negara-negara yang dikenai sanksi AS malah semakin termotivasi untuk mencari alternatif untuk menghindari pembatasan berbasis dolar.

Maka peran CBDC menjadi sangat strategis untuk mengurangi dominasi dolar AS. Misalnya, dengan Penyelesaian Transaksi dalam Mata Uang Lokal untuk Perdagangan. Pembayaran lintas batas dalam mata uang digital lokal kini dapat dilakukan secara langsung tanpa terlebih dahulu mengonversi ke dolar AS berkat CBDC. Misalnya, India dan Rusia secara aktif menyelidiki penyelesaian perdagangan yang menghindari perantara USD dengan memanfaatkan Rupee Digital dan Rubel Digital.

 

Perbankan Digital dan Konsep Teknologi Keuangan. Orang yang menggunakan laptop dengan ikon yang mewakili perbankan, inovasi fintech, pertukaran mata uang, pembayaran aman, jasa keuangan online, transaksi seluler

 

Selain itu, dengan  memungkinkan bank sentral untuk melakukan pembayaran terprogram, memantau aliran modal, dan menerapkan kontrol yang lebih ketat terhadap jumlah uang beredar, CBDC meningkatkan efektivitas kebijakan.

Dan yang paling penting dari semua itu, mendorong aliansi Perdagangan Regional seperti BRICS, sehingga semakin meningkatkan kerja sama ekonomi regional negara-negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.  Dengan demikian semakin merasakan pentingya membuat kerangka mata uang digital regional yang tidak bergantung pada sistem dolar AS.

Dengan itu, kombinasi antara Prakarsa Negara-Negara yang tergabung dalam BRICS dan pengembangan CBDC, pada perkembangannya akan menciptakan ancaman yang cukup serius terhadap dominasi mata uang dolar AS. Sehingga bukan saja terjadi percepatan De-Dolarisas sebagai mata uang cadangan utama dunia, melainkan juga menciptakan tren De-Globalisasi.

Sepertinya dampak berantai akibat serangan AS dan Israel ke Iran akhir Februari 2026 lalu, bukan saja menciptakan krisis pasar energi global, melainkan juga menciptakan krisis keuangan internasional, yang itu berarti mengguncang fondasi keuangan global, yaitu terguncangnya dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia. Ketika De-Dolarisasi dan De-Globalisasi terjadi, maka Tatanan Dunia Internasional Pasca Perang Dunia II menuntut adanya Tata Ulang.

Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute

 

 

 

 

 

 

 

 

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousStrategi Pertahanan AS 2026: Berfokus di Asia Pasifik Mengimbangi CinaNextRelasi Vatikan-Tel Aviv: Ketika Perang Israel Membelah Barat dari Sisi Dalam

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents