About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Media

Kepercayaan Publik Terhadap MediaMedia Indonesia Turun

Rusman

Rusman·28 September 2026·6 min read

Share
Kepercayaan Publik Terhadap Media Indonesia Turun

Penulis: Satrio Arismunandar

Ada paradoks menarik dalam wajah media Indonesia pada 2026. Di satu sisi, kepercayaan masyarakat terhadap berita secara umum terus menurun. Namun di sisi lain, sejumlah merek media justru masih memiliki tingkat kepercayaan yang relatif tinggi di mata publik.

Data terbaru Reuters Institute for the Study of Journalism melalui Digital News Report 2026 menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan di Indonesia turun menjadi 32 persen. Setahun sebelumnya angkanya masih 36 persen. Dengan demikian, hanya sekitar sepertiga responden Indonesia yang mengatakan mereka mempercayai berita secara umum.

Namun ketika pertanyaannya digeser dari “apakah Anda percaya berita?” menjadi “seberapa dapat dipercaya berita dari merek media tertentu?”, gambarnya berubah cukup drastis.

Dalam data yang dirangkum Statista berdasarkan survei Reuters Institute dan YouGov, CNN Indonesia dan Kompas sama-sama memperoleh angka trust sebesar 61 persen. Berikutnya SCTV/Liputan6 sebesar 59 persen, TVOne dan TVRI masing-masing 58 persen, Detik.com 57 persen, RCTI 56 persen, dan Tempo 53 persen.

Di bawahnya terdapat berita televisi lokal dengan 52 persen, Tribunnews 50 persen, Merdeka.com 49 persen, Sindonews.com 48 persen, Jawa Pos dan Kumparan.com masing-masing 47 persen, serta Suara.com 46 persen.

Sekilas, angka-angka tersebut seperti menunjukkan sebuah perlombaan: siapa yang menjadi media paling dipercaya masyarakat Indonesia? Tetapi sebenarnya bukan itu cara yang tepat membaca data Reuters Institute.

Kepercayaan terhadap berita tidak sama dengan kepercayaan terhadap merek media

Reuters Institute memberikan catatan penting mengenai metodologi pengukuran ini. Responden diminta memberikan skor 0 sampai 10 mengenai seberapa dapat dipercaya berita dari sejumlah merek media yang mereka kenal. Skor 6–10 kemudian dikategorikan sebagai trust, sedangkan skor 0–4 sebagai don’t trust. Skor 5 masuk kategori netral.

Dengan demikian, angka 61 persen untuk CNN Indonesia dan Kompas berarti 61 persen responden yang menilai merek tersebut memberikan skor dalam rentang 6–10.

Itu bukan berarti 61 persen seluruh penduduk Indonesia menyatakan CNN Indonesia atau Kompas sebagai media yang paling mereka percaya. Ini juga bukan penilaian objektif mengenai kualitas jurnalistik masing-masing media.

Reuters Institute secara eksplisit mengingatkan bahwa skor tersebut merupakan penilaian subjektif responden, bukan pengukuran objektif mengenai tingkat keterpercayaan suatu media. Selain itu, merek yang ditanyakan dalam survei hanyalah sekitar 15 merek yang dipilih secara strategis, bukan seluruh media yang ada di Indonesia.

Karena itu, data tersebut lebih tepat dibaca sebagai peta persepsi kepercayaan terhadap sejumlah merek media yang banyak digunakan, bukan sebagai daftar definitif media paling kredibel di Indonesia.

CNN Indonesia dan Kompas masih memiliki modal kepercayaan

Meski demikian, angka 61 persen tetap menarik. CNN Indonesia dan Kompas berada pada angka yang sama. Di belakangnya terdapat SCTV/Liputan6 dengan 59 persen, TVOne dan TVRI dengan 58 persen, serta Detik.com dengan 57 persen.

Yang menarik, sejumlah merek di papan atas itu berasal dari media televisi atau memiliki akar kuat dalam ekosistem media tradisional. Ini menunjukkan bahwa di tengah ledakan media sosial, televisi dan media arus utama belum kehilangan seluruh modal kepercayaannya.

Bahkan TVRI, sebagai lembaga penyiaran publik yang telah berusia puluhan tahun, masih mencatat angka 58 persen. SCTV/Liputan6 mencapai 59 persen, sementara RCTI 56 persen. Fenomena ini penting karena cara masyarakat memperoleh berita telah berubah sangat cepat.

Reuters Institute mencatat bahwa 64 persen responden Indonesia mendapatkan berita melalui media sosial, sementara WhatsApp digunakan untuk mendapatkan berita oleh 56 persen responden. Indonesia termasuk pasar yang sangat kuat dalam penggunaan platform digital untuk mengakses informasi.

Dengan kata lain, orang Indonesia semakin sering menemukan berita di platform, tetapi ketika diminta menilai merek media tertentu, merek-merek yang telah lama dikenal masih memiliki posisi yang cukup kuat.

Dari televisi ke platform: tempat berita ditemukan berubah

Di sinilah persoalan media Indonesia menjadi lebih kompleks. Dulu, orang memilih saluran berita. Sekarang, semakin banyak orang memilih platform.

Seseorang mungkin tidak sengaja membuka situs sebuah media untuk mencari berita. Ia menemukan potongan berita tersebut di WhatsApp, TikTok, YouTube, Facebook, Instagram, atau platform lainnya. Berita kemudian dikonsumsi dalam bentuk video pendek, tautan, potongan pernyataan, komentar, atau konten yang sudah diberi interpretasi oleh pengguna lain.

Reuters Institute menyebut perubahan ini sebagai bagian dari proses platformisation konsumsi berita. Secara global pada 2026, media sosial dan jaringan video untuk pertama kalinya lebih populer sebagai sumber berita dibanding televisi serta situs dan aplikasi berita milik organisasi media.

Indonesia berada cukup jauh di depan dalam perubahan tersebut. Reuters Institute mencatat bahwa penggunaan media sosial dan jaringan video sebagai sumber utama berita meningkat delapan poin persentase di Indonesia menjadi 48 persen pada 2026.

Namun perpindahan tempat konsumsi berita itu tidak otomatis berarti hilangnya kepercayaan kepada media lama. Justru muncul semacam pemisahan: platform menjadi tempat orang menemukan berita, sementara merek media menjadi salah satu penanda bagi publik untuk menilai dari mana berita itu berasal.

Mengapa kepercayaan secara umum justru turun?

Pertanyaan yang lebih besar kemudian muncul: kalau beberapa merek media masih dipercaya lebih dari 50 persen, mengapa kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan justru jatuh dari 36 persen menjadi 32 persen?

Reuters Institute memberikan satu petunjuk penting: kepercayaan terhadap merek individual relatif lebih bertahan dibandingkan kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan. Artinya, publik mungkin tidak sepenuhnya kehilangan kepercayaan kepada semua organisasi media. Yang melemah adalah kepercayaan terhadap lingkungan informasi secara lebih luas.

Lingkungan tersebut kini jauh lebih berisik. Berita profesional bercampur dengan komentar pribadi, konten influencer, potongan video, propaganda, konten partisan, informasi yang belum diverifikasi, hingga materi yang diproduksi atau dimodifikasi menggunakan kecerdasan buatan.

Reuters Institute juga mencatat persoalan “homeless media” di Indonesia, yakni situs atau akun baru di media sosial yang mengambil, menyalin, atau mengubah berita dari media lain, terkadang sampai membuat isinya menjadi sensasional dan tidak lagi akurat. Bagi pembaca, situasi semacam ini dapat membuat batas antara media jurnalistik yang sah dan sumber informasi yang tidak jelas semakin kabur.

Maka tidak mengherankan jika orang dapat mengatakan, “Saya tidak terlalu percaya berita,” tetapi pada saat yang sama tetap mengatakan, “Saya percaya Kompas,” atau “Saya percaya CNN Indonesia.” Keduanya bukan pernyataan yang bertentangan.

Media tidak cukup hanya memproduksi lebih banyak berita

Ada pelajaran penting bagi industri media dari angka-angka tersebut. Masalah media hari ini bukan semata-mata bagaimana menghasilkan lebih banyak konten. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan identitas, kredibilitas, transparansi, dan hubungan kepercayaan dengan audiens di tengah banjir informasi.

Reuters Institute mencatat bahwa secara global kepercayaan terhadap berita turun pada 29 dari 48 pasar yang diteliti pada 2026. Tingkat kepercayaan global turun menjadi 37 persen, angka terendah sejak pengukuran tersebut dimulai pada 2015. Pada saat yang sama, kepercayaan terhadap sejumlah merek berita yang banyak digunakan relatif lebih bertahan.

Indonesia bahkan berada di bawah rata-rata global tersebut, dengan tingkat kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan sebesar 32 persen.

Namun angka CNN Indonesia dan Kompas sebesar 61 persen memperlihatkan bahwa modal kepercayaan belum hilang. Justru modal itulah yang menjadi aset paling penting bagi organisasi media ketika publik semakin sulit membedakan antara berita, opini, propaganda, konten influencer, dan informasi buatan AI.

Pada akhirnya, persoalan media Indonesia pada 2026 bukan sekadar siapa yang berada di urutan pertama atau terakhir dalam grafik kepercayaan. Persoalan yang jauh lebih besar adalah bagaimana media mempertahankan kepercayaan publik ketika masyarakat tidak lagi hidup dalam satu ekosistem berita yang sama.

Dulu, publik memilih koran atau televisi. Sekarang publik hidup dalam arus informasi yang tidak pernah berhenti. Mereka bisa menerima berita dari televisi pagi hari, WhatsApp siang hari, TikTok sore hari, YouTube malam hari, dan bertanya kepada AI sebelum tidur. Dalam dunia seperti itu, kepercayaan terhadap sebuah merek media menjadi semakin berharga—sekaligus semakin mudah hilang.

Angka 61 persen yang diperoleh CNN Indonesia dan Kompas karena itu bukan sekadar angka dalam grafik. Ia adalah gambaran bahwa di tengah menurunnya kepercayaan terhadap berita secara umum, masih ada organisasi media yang memiliki modal kepercayaan cukup kuat.

Tantangannya sekarang bukan hanya bagaimana memperoleh kepercayaan tersebut. Melainkan bagaimana mempertahankannya.

Depok, 27 September 2026
Satrio Arismunandar, jurnalis di Harian Pelita (1986-1988), Harian Kompas (1988-1995), Majalah D&R (1997-2000), Harian Media Indonesia (2000-2001), Executive Producer di Divisi News Trans TV (2002-2012), dan beberapa media lain. WA

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

NextMedia Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?

More in Media

View all
Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
Media

Media Takut PenguasaTakut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?

1 September 2026 · 8 min read

Chatbot AI Dapat Mempengaruhi Hasil Pemilihan Umum
Culture

Chatbot AIChatbot AI Dapat Mempengaruhi Hasil Pemilihan Umum

15 July 2026 · 6 min read

Berita Penjelasan Di Balik Bocoran Dokumen Soros: False Flag Operation atau Covert Reconnaissance Operation?
Analysis

Berita Penjelasan Di Balik Bocoran Dokumen Soros: False Flag OperationFalse Flag Operation atau Covert Reconnaissance Operation?

24 March 2026 · 8 min read

Most Read

  1. 01Kepercayaan Publik Terhadap Media Indonesia Turun
  2. 02Kolonialisme, Kapitalisme dan Rasisme
  3. 03Di Bawah Asuhan Gontor
  4. 04G30S/CIA!?
  5. 05Menyoal Rencana Pembentukan BLU Sektor Energi (1)

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents