About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Kepemimpinan di Era FluxEra Flux: Ketika Peta Tak Menjamin Arah

Rusman

Rusman·14 December 2025·3 min read

Share
Kepemimpinan di Era Flux: Ketika Peta Tak Menjamin Arah

“Ibarat VUCA itu gelombang di lautan, maka FLUX adalah ilustrasi VUCA yang sewaktu-waktu berubah menjadi badai yang meluluhlantakkan; atau VUCA terlihat seperti ombak yang landai di permukaan tetapi menyimpan arus dahsyat di bawah permukaan. Istilahnya, badai yang tersembunyi. Itulah FLUX, gelombang baru pasca VUCA”

Selama bertahun-tahun, dunia kepemimpinan dijejali narasi VUCA — Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Para pemimpin dilatih bersikap gesit, adaptif, dan tangguh menghadapi perubahan (baca: Kepemimpinan Adaptif di Era VUCA di global-review, Jakarta). Namun, hari ini tak sedikit pemimpin menyadari satu hal penting: VUCA tidak lagi cukup menjelaskan realitas yang dihadapi.

Kita memasuki era FLUX. Kependekan dari Fasting (cepat), Liquid (cair), Unchartered (belum terpetakan alias merambah kemana-mana) dan Experimental (uji – pembelajaran, inovasi, percobaan).

Ya, FLUX adalah kondisi di mana perubahan bukan hanya cepat dan tidak pasti, tetapi terus berubah bentuk, bergeser arah, dan multi-dampak. Sesuatu yang hari ini tampak stabil, misalnya, ia bisa berubah krisis pada esok hari. Dan ancaman besar bisa datang tanpa tanda-tanda yang jelas.

Dari Navigasi ke Ketangguhan

Di era VUCA, kepemimpinan berfokus pada kemampuan membaca peta: analisis data, perencanaan skenario, dan mitigasi risiko. Tetapi, di era FLUX, peta kerap menjadi usang bahkan sebelum digunakan. Oleh karena itu, kualitas utama pemimpin bukan lagi sekadar kecerdasan strategis, melainkan ketangguhan mental dan emosional.

Pemimpin FLUX adalah mereka yang mampu tetap berdiri tegak saat arah berubah mendadak, dan tetap mengambil keputusan meski informasi tidak benar-benar lengkap. Dalam FLUX, intuisi menjadi hal penting.

Waspada terhadap Stabilitas Semu

FLUX mengajarkan bahwa bahaya terbesar sering tersembunyi di balik ketenangan. Permukaan organisasi mungkin terlihat baik-baik saja, atau kinerja stabil, nyaris tak ada konflik, pertumbuhan terjaga — namun di bawahnya bisa tersimpan arus ketidakpuasan, disrupsi teknologi, atau perubahan perilaku pasar yang belum terbaca.

Pemimpin di era ini dituntut memiliki kepekaan terhadap sinyal lemah (weak signals): indikasi kecil yang sering diabaikan, tetapi dapat berkembang menjadi krisis besar. Keberanian untuk bertanya “apa yang tidak kita lihat” menjadi kompetensi kunci.

Pemimpin sebagai Pemberi Makna

Dalam kondisi FLUX, pemimpin tidak dituntut untuk selalu memiliki jawaban. Justru peran terpentingnya ialah menjadi sense-maker — memberi makna di tengah kebingungan. Ketika arah tidak jelas dan kepastian runtuh, tim membutuhkan pemimpin yang:

1. Jujur mengakui ketidakpastian

2. Mampu menenangkan tanpa menipu

3. Menjaga arah nilai, meski strategi harus berubah

Ya. Kepercayaan lahir bukan dari kepastian palsu, tetapi dari kehadiran yang autentik dan konsistensi sikap dan perilaku.

Adaptif, Bukan Hanya Reaktif

FLUX menuntut organisasi untuk bergerak cepat, namun bukan panik. Kepemimpinan adaptif berarti:

1. Berani bereksperimen dalam skala kecil;

2. Cepat belajar dari kegagalan;

3. Tidak terikat pada rencana hanya karena rencana itu pernah berhasil.

Memang ego atas masa lalu sering kali menjadi penghambat terbesar dalam menghadapi masa depan.

Penutup: Kedewasaan dalam Kepemimpinan

Jika VUCA menuntut agility, maka FLUX menuntut kedewasaan kepemimpinan. Kedewasaan untuk menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Kedewasaan untuk tetap melangkah meski rasa aman hilang. Dan kedewasaan untuk memimpin manusia —bukan sekadar sistem— di tengah ketidakpastian yang terus berubah.

Di era FLUX, pemimpin sejati bukan mereka yang menjanjikan cuaca cerah, tetapi mereka yang mampu mengajak tim terus berlayar bersama, bahkan saat badai tak terhindarkan.

Demikianlah adanya, demikian sebaiknya.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousData Terbakar: Pola Lama Penghilangan Jejak KejahatanNextTitik Kritis Bangsa: Antara Sistem Penjajahan dan Enjoy The Power

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents