About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Culture

Keberanian Sejati

Rusman

Rusman·22 March 2024·3 min read

Share
Keberanian Sejati

Sebuah surat pendek dilayangkan Suwardi Suryaningrat kepada H.J. Abendanon, dari Denhaag, tertanggal 13 Oktober 1913. Beberapa paragrafnya berbunyi begini:

“…. Apabila saya mengerti maksud Anda dengan baik, maksud Anda ialah untuk menyokong studi saya di Belanda tetapi dengan syarat: saya harus mengundurkan diri dari pergerakan yang tidak (atau tidak pantas menerima) simpati Anda.

Apa yang tidak terlalu jelas bagi saya ialah apakah Anda menginginkan saya untuk tidak bergabung dengan gerakan ini selama saya berkuliah, atau apakah Anda ingin mengembalikan saya kepada ‘jalan evolusioner’ seperti yang Anda maksud pada pembicaraan kita”.

Ketika itu baru sebulan Suwardi tiba di Belanda, bersama dua tokoh Indisch Partij lainnya—Ernest Douwess Dekker dan Tijipto Mangunkusumo. “Tiga serangkai” ini tiba di negeri penjajah itu sebagai “orang buangan” dikarenakan aktivitas politik mereka yang menentang secara terbuka pemerintah kolonial-Belanda.

Sebagai “orang buangan”, kehidupan Suwardi di negeri Belanda tentunya menderita. Ia yang datang ke Belanda bersama istrinya, Sutartinah– dan kemudian lahir anak-anaknya—kerap mengalami kesulitan keuangan. Suwardi hanya mengandalkan honorarium sebagai penulis—yang tidak cukup besar– untuk menafkahi keluarganya.

Ditengah keprihatinan itulah datang tawaran Abendanon untuk melanjutkan studi dengan bea-siswa dari pemerintah Belanda. Tapi dengan syarat seperti yang dikemukakan Suwardi dalam suratnya itu. Tawaran Abendanon (mantan Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda) itu tidak membuat Suwardi tergiur. Ia lebih memilih tetap menderita daripada harus mengorbankan prinsip perjuangannya.

Bagi saya, sikap yang ditunjukkan Suwardi Suryaningrat (kelak ia lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara) merupakan sebuah bentuk keberanian sejati. Keberanian seperti ini dianggap sebagai salah-satu keutamaan dalam politik. “Seseorang tidak menjadi negarawan besar hanya karena ia kebetulan memegang jabatan yang besar. Ia harus menunjukkan bukti-bukti lain tentang kebesarannya, dan diantara bukti kebesaran itu adalah keberanian….,” kata John Bright, (1811-1899), negarawan Inggris yang juga orator politik termasyur di zamannya.

Para founding fathers negara-bangsa Indonesia telah memberikan teladan yang gamblang tentang keberanian dalam menentukan sikap politik. Sejak masa awal kolonialisme, sejumlah kaum bangsawan di seantero Nusan¬tara telah berani mengangkat senjata melawan pasukan VOC Belanda. Yang pantas dicatat, antara lain: Sultan Iskandar Muda, Sisingamangaraja XII, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Pangeran Nuku, Sultan Hasanuddin, dan lain-lain.

Selain “tiga serangkai”, generasi perintis pergerakan nasional— seperti HOS Tjokroaminoto, Tirto Adisoerjo, Wahidin Sudirohusodo, Sam Ratulangi, Roestam Effendi, Haji Agus Salim, MH Thamrin—juga menunjukkan keberanian luar biasa dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia yang masih terjajah. Teladan ini dilanjutkan oleh generasi selanjutnya– Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Amir Sjarifuddin Harahap, Sutan Sjahrir, dan lain-lain– yang mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.

Semua itu dilakukan dengan keberanian mempertaruhkan kebebasan pribadi, meski harus mendekam di penjara atau mengalami represi. Karena itulah, John Fitzgerald Kennedy, salah satu Presiden Amerika Serikat yang paling terkenal, sangat mengagumi keberanian (courage) dalam dunia politik. Kekaguman itu tercermin dari sebuah kitab yang ditulisnya di tahun 1954, berjudul Profile in Courage, yang berisikan kisah-kisah keberanian dalam menetapkan sikap politik dari sejumlah Senator Amerika Serikat.

“Tak ada pekerjaan lain, kecuali di lapangan politik, seseorang dihadapkan mengorbankan kehormatan, gengsi, dan karirnya. Para ahli hukum, pengusaha, guru, dokter, semuanya menghadapi keputusan-keputusan pri¬badi yang sukar berkenaan dengan integritas mereka, tapi hanya sedikit diantara mereka yang menghadapinya di tengah-tengah sorotan publik sebagaimana yang harus dihadapi para politisi yang berkecimpung dalam jabatan kemasyarakatan,” tegas John F. Kennedy.

Orang-orang yang memiliki keberanian sejati seperti inilah yang layak disebut sebagai pahlawan—dari kalangan manapun mereka berasal. Karakter seperti inilah yang membuat kehidupan, terutama dunia politik, menjadi beradab.

Imran Hasibuan

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousPentingnya Menyusun Strategi Kebudayaan Berdasarkan Input GeopolitikNextKiai Imad dan Gus Rumail Sepakat Tidak Ada Kitab Nyatakan Ahmad bin Isa Hijarh Ke Yaman

More in Culture

View all
Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
Culture

Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi DerridaDekonstruksi Derrida

6 September 2026 · 1 min read

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Culture

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 August 2026 · 9 min read

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Society

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 August 2026 · 1 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents