About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Ke Mana Trump CorollaryTrump Corollary Melaut dan Berlabuh?

Rusman

Rusman·25 December 2025·3 min read

Share
Ke Mana Trump Corollary Melaut dan Berlabuh?

Obrolan Kecil tentang Geopolitik Kontemporer Menjelang Akhir 2025 Bersama Ichsanuddin Noorsy di Tebb-Six Coffee, Jak-Sel

Dalam lanskap perang asimetris (asymmetrical war) ataupun perang konvensional lazimnya, terdapat modus ajeg yang berpola: “Isu – Tema/Agenda – Skema” (ITS). Penjelasan singkatnya begini. Isu dilepas ke publik oleh subjek untuk mengawali operasi. Ini semacam pintu pembuka. Kemudian agenda digelindingkan. Selain untuk menguatkan isu, juga untuk melegitimasi operasi (militer dan non militer) nantinya. Setelah legitimasi operasi, skema ditancapkan. Tujuannya untuk mencaplok geoekonomi negara objek alias target. Itu poin-poin pokok ITS. Pola dimaksud, sebenarnya terjadi juga dalam peperangan konvensional. Misalnya, bombardir pesawat tempur di awal pertempuran guna mengacaukan situasi musuh (ini identik dengan isu dalam ITS). Selanjutnya serangan kavaleri — penebalan dari bombardir (ini agenda); dan terakhir pendudukan oleh infanteri (ini skema). Bahwa antara perang asimetris alias non militer dengan peperangan militer, secara hakiki polanya tidak berbeda yaitu: “Isu – Tema/Agenda – Skema,” hanya bentuknya tak sama.

Dalam konteks Trump Corollary, tuduhan imigran gelap dan narkoba oleh Amerika (AS) kepada Venezuela, kalau ditilik dari pola ITS tadi — ia sebatas isu semata. Itu pintu masuk. Hal ini mirip (bahkan perulangan) isu-isu terorisme dan ISIS yang dahulu pernah ditebar oleh AS di Afghanistan, Irak, Libya, Suriah, bahkan di pelbagai belahan bumi lain. Artinya, setelah isu disebar, selanjutnya akan ada “agenda” yang diluncurkan. Merujuk peristiwa di Afghanistan, Irak, Libya dan seterusnya, agenda lazim yang digunakan ialah serbuan militer serta pendudukan militer di (negara) target. Dan ujungnya —boleh ditebak— ialah penancapan “skema” kolonialisme. Yakni, mencaplok geoekonomi Venezuela yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

Tak boleh dipungkiri, the Power of Oil adalah doktrin (siapapun) Presiden AS. Entah Partai Demokrat, apalagi dari Partai Republik yang didukung banyak industri strategis. “Itu doktrin tersirat”. Tidak ada kawan dan lawan abadi melainkan kepentingan yang abadi. Kredo ini sudah banal di dunia (geo) politik. Dan makna kepentingan pada kredo ini, poin intinya ialah minyak, emas, dan gas bumi. Tapi tidak menutup kemungkinan mengincar komoditas dan tambang lainnya terutama mineral tanah jarang (rare eart). Misalnya, atau kobalt, nikel dan seterusnya —bahan baku industri masa depan— akibat faktor isu EBT (energi baru terbarukan) bergelora di panggung geopolitik global.

Dengan demikian, titik tuju Trump Corollary dipastikan akan fokus ke Venzuela karena faktor deposit minyak yang besar. (Silakan baca: Trump Corollary: Upaya Amerika Mempertahankan Hegemoni dan Indonesia Corollary). Lantas, agendanya pun bisa ditebak, selain pengerahan kekuatan militer, memanfaatkan geopolitical chokepoints, juga memainkan weaponization geography di selat-selat dan perairan sekitarnya. Dua taktis terakhir —chokepoints dan weaponization geography— merupakan core business (strategi unggulan) dalam doktrin Trump Corollary.

Nah, dari prakiraan di atas dapat dibaca, bahwa skenario kanalisasi terusan, razia, dan pencegatan-pencegatan oleh (militer) AS terhadap kapal-kapal tanker minyak milik Venezuela yang hilir mudik melalui perairan ke pelbagai negara adalah keniscayaan. Ini terutama pada domain area yang diklaim oleh Trump Corollary. Begitu skenario besar yang sebagian tertulis di Strategi Keamanan Nasional AS, November 2025.

Skenario lanjutan yang bisa ditebak. Nantinya akan ada false flag operation (operasi bendara palsu) melalui sosok yang memerankan seolah-olah musuh. Padahal kawan sendiri yang tengah memainkan peran agar AS memiliki legitimasi serta dalih —tanpa resolusi PBB— menyerbu secara militer dan terbuka ke Venezuela sebaimana ia dulu menyerang Irak (melalui isu senjata pemusnah massal) dan menyerbu Suriah (lewat isu ISIS) tanpa restu tertulis dari PBB.

Dulu, sosok itu diperankan oleh Osama bin Laden sebagai raja teroris global, atau semacam al Badagdi selaku tokoh sentral ISIS. Padahal, keduanya tengah memainkan “bendera palsu.” Berpura-pura sebagai lawan, padahal mereka adalah kawan yang ditanam. Ini sudah jamak di dunia intelijen. Bahkan sudah menjadi rahasia umum, bahwa terorisme dan ISIS adalah ciptaan AS. Dan nantinya, di Venezuela — proxy agents dimaksud bekerja dalam koridor isu, baik isu selaku gembong imigran gelap misalnya, ataupun isu sebagai bandar kakap narkoba, dan lain-lain.

Inilah bacaan sekilas langkah Trump Corollary di panggung global dan ke mana ia melaut dan berlabuh. Tak ada maksud menggurui siapapun terutama para pihak yang berkompeten. Hanya sekadar sharing pemikiran tentang geopolitik kontemporer. Kritik dan saran kami terbuka guna memperbaiki catatan ini.

Terima kasih.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousKebenaran Tak Bisa DikalahkanNextPerang Tanpa Peluru di Balik OTT

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents