About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Ironi Geopolitik dan Persepsi Konflik Antara Cina Versus AmerikaCina Versus Amerika di Abad 21

Rusman

Rusman·20 April 2023·3 min read

Share
Ironi Geopolitik dan Persepsi Konflik Antara Cina Versus Amerika di Abad 21
Telaah Kecil Filsafat Geopolitik Terkait Isu Pendirian Pabrik (Baterai) Tesla di Cina Bahwa perseteruan geopolitik di muka bumi, hampir semuanya berlabuh alias bermuara pada perebutan atau peraihan geoekonomi di suatu negara dan/atau kawasan tertentu. Begitu filosofinya. Jadi, konflik apapun baik di level lokal maupun pada skala global hanyalah agenda (tema) semata. Perang itu hanyalah salah satu (geo) strategi, dan sudah tentu terdapat cara lain selain daripadanya. Tak melulu lewat perang. Kerap, konflik lokal merupakan bagian dari konflik global. Itu sudah jamak di dunia geopolitik. Sesungguhnya tidak ada perang ideologi, tidak ada konflik agama, tak pula pertikaian antarmazhab, antarsuku, ras dan lainnya melainkan karena faktor geoekonomi. Sekali lagi, perang cuma agenda, bukan hal (skema) utama. Tujuan perang dimana pun adalah meraih geoekonomi yang dimanipulatif melalui slogan-slogan guna memompa spirit prajurit, seperti slogan gold, glory and gospel misalnya, atau national interest, dan lain-lain. Semakin ke sini ternyata kian terkuak ‘substansi’ dari tiap-tiap slogan dimaksud. Jika di abad ke-19 esensi slogan adalah rempah-rempah; pada abad ke-20 bergeser menjadi minyak, emas dan gas bumi; dan pada abad berikutnya substansi slogan mungkin tentang nikel, rare earth dan lainnya sesuai kebutuhan industri unggulan pada masanya. Pertanyaan filosofi muncul, “Bagaimana mungkin akan terjadi head to head secara militer antara Cina versus Amerika Serikat (AS) yang hari ini dipersepsikan semakin memanas, sedangkan Tesla mau membangun pabriknya di Cina?” Memang. Untuk menaklukkan serta memperbudak sebuah bangsa, kata John Adams, bisa melalui pedang (militer), bisa lewat utang. Dan keduanya, cuma sekadar metode dalam suatu penaklukkan sebuah bangsa. Sudah barang tentu terdapat opsi lainnya semacam politik misalnya, atau silent invasion, dan lain-lain. Penaklukkan geoekonomi Afrika oleh kelompok negara Barat di masa lalu pada abad 19 hingga ke-20, banyak dilakukan lewat jalur dan power militer. Ya. Kekuatan bersenjata berada terdepan. Sementara pendudukan Afrika oleh Cina pada abad ke-21 tidak melalui power militer, namun lewat jalur ekonomi cq turnkey project management cq (jebakan) utang atas nama investasi. Maka muncul dua asumsi dalam dunia geopolitik akibat konstelasi di atas, antara lain: Pertama, bahwa pola kolonialisme Barat cenderung menekankan wajah militer di bagian depan namun di belakangnya didukung kaum pemodal alias oligarki ekonomi; Kedua, sementara pola kolonialis Cina justru kebalikan daripada Barat, yakni kaum pemodal sebagai tampak muka, tetapi diback up oleh negara/militer di belakangnya. Sekali lagi, bagaimana mungkin terjadi peperangan militer antara Cina versus AS, sedang Tesla akan membangun pabrik di Cina? Tak pelak, secara sistem — Tesla itu geoekonomi. Tujuan dari semua modus kolonialisme. Ya. Pada Tesla, ada penanaman modal, misalnya, atau terdapat lapangan kerja, devisa, terselip pola dan metode teknologi, juga ada transfer teknologi industri masa depan, dan lain-lain. Jika rencana pendirian pabrik Tesla terealisir di Cina, ia merupakan target geoekonomi yang diperoleh oleh Cina tanpa letusan peluru. Juga, bagi AS sendiri, merupakan pencaplokan geoekonomi tanpa perlu pengerahan militer di negeri target. Itulah sekilas pandangan filsafat dalam mencermati tren aktual pada dinamika geopolitik yang kini tengah berlangsung di panggung global. Dan catatan khusus pada isu-isu di atas, ada hal yang miris lagi mengenaskan bagi implementasi geopolitik di tanah air, yakni bahwa hampir seluruh bahan baku (industri masa depan) dikeruk dari bumi Indonesia, namun penikmatnya justru Cina, termasuk pabrik (Tesla)-nya didirikan di sana. Inilah yang disebut dengan istilah ironi geopolitik Jujur, filsafat geopolitik selain ‘menggugat’ kondisi ironi (geopolitik) di atas, juga mempertanyakan fakta atas pertikaian antara Cina dan AS. Itu realitas ketegangan geopolitik, atau hanya ethok-ethok? Tamat M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousMemprovokasi Ukraina Masuk Blok Barat, AS dan NATO Salah Membaca SituasiNextKoalisi Jumbo, Koalisi Galau?

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents