About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Drama Satu Babak di Venezuela: Perulangan Perampokan InternasionalPerampokan Internasional Ala Amerika

Rusman

Rusman·4 January 2026·3 min read

Share
Drama Satu Babak di Venezuela: Perulangan Perampokan Internasional Ala Amerika

Catatan Kecil Geopolitik

Jika pada era George W. Bush publik global disuguhi pagelaran War on Terror (WoT), maka di era Donald Trump dunia kembali dipertontonkan narasi serupa — hanya berbeda kemasan. Bila invasi Afghanistan (2001) dibungkus isu terorisme al-Qaeda, maka Venezuela (2025) dikemas dalam jargon “perang melawan narkoba”.

Nicolas Maduro —Presiden Venezuela— dituduh memimpin jaringan narkoba internasional dan telah lama didakwa oleh Departemen Kehakiman AS. Tuduhan ini diperkuat dua isu ikutan. Pertama, rezim Maduro dianggap mengancam stabilitas kawasan Amerika (terkait Trump Corollary); kedua, tudingan pemilu curang yang hasilnya tidak diakui oleh Washington. (Sebelumnya, silakan membaca: 1) Trump Corollary: Di antara Upaya Amerika Mempertahankan Hegemoninya dan Indonesia Corollary; 2) Ke mana Trump Corollary Melaut dan Berlabuh?).

Baik di Afghanistan maupun di Venezuela, tema utamanya tidak berubah yakni penyerbuan militer Amerika Serikat secara terbuka ke negara berdaulat tanpa mandat Dewan Keamanan (DK) PBB. Cukup dengan isu dan stigma yang difabrikasi sendiri, AS merasa memiliki legitimasi moral untuk menginvasi negara lain tanpa rasa bersalah.

Lantas, apa skema dan tujuannya?

Jawabannya klise namun konsisten: minyak, minyak, dan minyak. Venezuela memiliki cadangan minyak lebih dari 300 miliar barel, terbesar di dunia. Penguasaan atas cadangan ini memberikan leverage strategis terhadap pasar energi global hari ini dan di masa depan.

Sebelum melanjutkan, mari beretorika sejenak. Retorika ini berupa pertanyaan yang tak perlu dijawab:

1. Seandainya Afghanistan hanya penghasil kurma, mungkinkah isu terorisme menjadi justifikasi invasi?

2. Andaikan Venezuela hanya produsen sandal jepit, akankah Trump Corollary diterapkan di negeri tersebut?

Pada titik ini, hukum internasional tampak mandul. Yang berlaku adalah survival of the fittest — hukum rimba dalam versi modern. Ironisnya, anarkisme global justru dipertontonkan oleh negara adidaya di panggung geopolitik kontemporer.

Penyerbuan terbuka AS ke Venezuela mengingatkan pada praktik geopolitik kuno ala Adolf Hitler yang berdogma bahwa “hanya bangsa unggul berhak bertahan hidup dan melegitimasi hukum ekspansi.” Ini adalah tata cara biadab yang dibungkus dengan bahasa seolah-olah beradab — mengabaikan kebenaran, hak hidup, dan rasa keadilan publik. Peradaban dunia, tampaknya, mundur seratus tahun ke belakang.

Merujuk pola sebelumnya, langkah lanjutan dapat ditebak yaitu penyitaan dan pembekuan aset negara Venezuela di bank-bank internasional. Ini adalah pengulangan modus perampokan internasional sebagaimana pernah dilakukan AS dan sekutunya pasca-tumbangnya Saddam Hussein (2003) dan Muammar Gaddafi (2011). Semua itu dianggap lumrah dalam praktik geopolitik global, karena dunia memilih diam. PBB mengecam, negara-negara lain mengutuk, lalu berhenti di sana.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan, “Tindakan militer sepihak ini adalah preseden berbahaya bagi hubungan internasional.” Rusia dan Iran mengecam keras, menyebutnya agresi militer ilegal. Cina menolak tegas, menyebutnya intervensi unilateral berbahaya. Uni Eropa menyerukan de-eskalasi dan perlindungan sipil. Brasil dan Kolombia mencemaskan krisis pengungsi. Bolivia dan sekutu kiri mengecamnya sebagai kolonialisme modern. Lalu Indonesia Menyatakan sikap netral dan waspada -‘ serta menegaskan keselamatan WNI.

Ya. Meski Rusia dan sejumlah negara Amerika Latin meminta sidang darurat DK PBB dengan tudingan pelanggaran Piagam PBB Pasal 2 Ayat (4) tentang larangan penggunaan kekuatan terhadap kedaulatan negara lain, hampir dapat dipastikan hak veto AS akan menganulir resolusi apa pun.

Pertanyaan paling cerdas bukanlah bagaimana nasib Venezuela atau Maduro pascainvasi, melainkan negara mana yang akan menjadi giliran berikutnya?

Trump menyatakan AS akan membentuk pemerintahan sementara di Caracas guna menjamin stabilitas dan transisi politik. Namun banyak analis menilai operasi ini sebagai kombinasi dari pergantian rezim (regime change), pengamanan —atau perampokan— sumber daya strategis, serta upaya memutus pengaruh Rusia, Cina dan Iran di Amerika Latin. Ini sejalan dengan derap Trump Corollary.

Cepatnya penangkapan presiden sebuah negara berdaulat memunculkan spekulasi, “Apakah ini sekadar sandiwara karena adanya deal sebelumnya antara Maduro dan Trump, atau hasil pengkhianatan internal dalam tubuh militer dan intelijen Venezuela?”

Semua kemungkinan sah untuk dibahas. Ini hanyalah drama satu babak di permukaan geopolitik. Bukan hal pokok. Catatan geopolitik hanya mencermati bahwa negara, layaknya organisme — ia lahir, tumbuh, berkembang, menyusut, dan punah. Dan penyerbuan terbuka AS ke Venezuela adalah alarm keras bagi negara-negara BRICS, “Bersiaplah — giliranmu mungkin tak lama lagi!”

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousDoktrin MonroeNextBab El-Mandeb dan Ambisi Israel: Mengapa Somaliland menjadi Penting

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents