About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

“Diplomasi MabukDiplomasi Mabuk”

Rusman

Rusman·23 July 2025·3 min read

Share
“Diplomasi Mabuk”
Catatan Kecil Ngaji (Tauhid) Filsafat Jangankan pejabat, setiap individu, person, diri, orang seorang pun — secara hakiki bergelar pemimpin. Paling rendah pemimpin keluarga. Minimal pemimpin bagi dirinya sendiri. Apalagi level pejabat yang mendapat amanah dari rakyatnya. Mereka ialah pemimpin/pejabat publik. Falsafah kepemimpinan menurut Ki Hajar Dewantara yang terkenal ialah: “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani“. Dalam (kajian) Islam, filsafat berasal dari dua kata. Fi il artinya prinsip; dan sauwfata’ lamuun yang artinya ilmu, atau observasi, aliran, ideologi dan lainnya. Kalau Filsafat Barat, berasal dari bahasa Yunani, philos dan sophia. “Cinta kebenaran”. Sedang tasawuf diambil dari diksi ta’, artinya perintah/ajakan. Sama dengan filsafat, sauf berasal dari kata sauwfata’ lamuun. Orang tasawuf akan menghasilkan faham, aliran, ideologi dll yang didasarkan ilmu, penjabaran, penelitian dst oleh individu-individu dalam menafsirkannya. Berbeda dengan tasawuf yang menghasilkan faham, aliran, ideologi dan lainnya, filsafat menghasilkan prinsip-prinsip. Nah, prinsip yang dilahirkan filsafat dalam model kepemimpinan Ki Hajar Dewantara, misalnya: 1. keteladanan (bila di depan); 2. menyemangati (ketika berada di tengah-tengah); 3. mendorong (apabila di belakang). Itulah sekilas makna kepemimpinan ala Ki Hajar dari perspektif (ngaji) filsafat. Sedangkan “lawan” dari kepemimpinan adalah penguasa. Ciri khas pejabat yang bermental penguasa, biasanya cenderung takhluk alias ‘menghamba’ kepada penguasa lain yang lebih powerful, atau lebih hebat daripadanya. Contohnya, ki lurah akan tunduk pada bupati, gubernur dst terus berjenjang hingga ke puncak piramida. Atau, preman kecil takut kepada preman besar dan lain-lain. Hal itu, selain dipersepsikan memenuhi standar (lazim) etika baik etika publik maupun organisasi, juga sudah jamak di dunia politik (praktis). Jadi, harap maklum. Pun demikian pola di level global. (Presiden) negara yang belum maju, ia cenderung menjadi ‘satelit’ bagi (presiden) negara maju dengan beragam pola, modus dan motivasi. Ini sekadar contoh. Maka ada istilah negara protektorat, misalnya, atau commonwealth, ataupun ANZUS, FPDA dan lain-lain. Kembali ke topik. Berbicara mental penguasa dan mental pemimpin di republik tercinta ini. Bahwa dampak operasional UUD NRI 1945 atau sering disebut UUD 2002 —ini UUD produk amandemen— salah satunya ialah memunculkan virus “miskin mental” di kalangan para pejabat dan/atau pengambil kebijakan (silahkan baca opini: Muncul Tiga Kemiskinan Akibat Operasional UUD 2002 di Web theglobal-review.com) Apa indikasinya? Kita nyaris tidak memiliki pemimpin, yang ada hanya penguasa. Maka Kecenderungannya, ia akan takhluk terhadap penguasa yang lebih powerful daripada membela kebenaran dan/atau kepentingan rakyat. Padahal, amanah untuk menjadi pemimpin berasal dari rakyat selaku pemilik kedaulatan tertinggi. Tak pelak, inilah salah satu ujud pengkhianatan amanah rakyat. Dititipi amanah bukan untuk kemaslahatan umat, namun justru ‘disimpangkan’. Maka jangan heran ketika terjadi perang diplomasi melawan negara besar, misalnya, hasil keputusannya kerap kali justru menguntungkan negara lain yang lebih maju. “Harap maklum”. Itulah dampak miskin mental di republik ini akibat UUD 2002. Sekali lagi, apabila mengulik dari mana sumber ‘miskin mental’ dimaksud, tak lain adalah konstitusi baru pasca UUD 1945 warisan Pendiri Bangsa yang diubah empat kali pada 1999-2002 oleh kelompok reformis gadungan. Jadi, selama Indonesia masih menganut konstitusi produk amandemen empat kali, niscaya model diplomasi akan senantiasa dicemari oleh virus dan fenonena miskin mental. Saya rindu semangat Bung Karno, “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika!” Bukan untuk permusuhan, namun berdiri tegak dan merdeka di hadapan siapapun. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousJelang AIPA Summit September 2025, ASEAN Harus Tetap Netral dan Independen Dalam Persaingan Pengaruh AS versus Cina di Asia PasifikNextKemitraan Strategis Indonesia-Inggris Tidak Boleh Menjadi Agenda Tersembunyi Strategi Global AS-Inggris

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents