About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Culture

C A N T I N G “Syukur ada sastra dan sejarahsastra dan sejarah…!”

Rusman

Rusman·20 July 2024·3 min read

Share
C A N T I N G “Syukur ada sastra dan sejarah…!”

Konon, Aristoteles pernah mengatakan seorang penyair atau sastrawan lebih agung dari seorang ilmuwan, termasuk sejarawan. Sebab ilmuwan harus membatasi diri pada data-data faktual. Sebaliknya sastrawan mampu menciptakan dunia yang lebih lengkap, mampu mengungkapkan unsur-unsur eksistensi manusia yang hakiki dan universal.

Dan pakar sekaligus kritikus sastra Indonesia terkemuka dari Belanda, Prof. Dr. A. Teeuw mengulang pendapat itu ketika dia mengulas novel karya Arswendo Atmowiloto.

Teeuw mengutip David Daiches tentang seorang sastrawan: “…he create a self-sufficient world of his own, with its own compelling kind of probability, its own inevitability, and what happens in the poet’s story is both “probable” in terms of that world and, because the world is itself a formal construction based on elements in the real world, an illumination of an aspect of the world as it really is..” (dalam CRITICAL APPROACHES TO LITERATURE, 1956).

Pendapat Daiches ini dikutip Prof. Teeuw ketika dia membuat ulasan menarik yang “membandingkan” buku ilmiah karya begawan sejarah Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo dkk dengan sebuah novel sastra karya Arswendo Atmowiloto.

Buku karya Prof. Sartono dkk, PERKEMBANGAN PERADABAN PRIYAYI (1986) adalah suatu karya ilmiah yang juga memanfaatkan roman-roman Jawa sebagai sumber penting untuk menjelaskan persepsi orang Jawa sendiri sebagaimana terungkap dalam sastranya tentang peradaban priyayi Jawa.

Buku sejarah ini oleh Prof. Teeuw “dibandingkan” dengan CANTING (1986) novel Arswendo Atmowiloto, yang mengisahkan kehidupan keluarga priyayi Jawa pada masa yang lebih baru, yakni awal hingga pertengahan 1960-an. Sosok sang priyayi yang sentral dalam novel ini adalah Raden Ngabehi Sestrokusuma, biasa disapa Pak Bei dan istrinya Bu Bei.

Menurut Teeuw, kedua buku ini punya kekuatan dalam bidang masing-masing –sebagai karya ilmiah dan sebagai karya sastra- yang melukiskan potret kehidupan priyayi Jawa pada zaman yang telah berubah.

Prof. Teeuw menutup uraiannya dengan menyatakan barang siapa ingin mendapat informasi yang “tepat” mengenai institusi kepriyayian Jawa, sebaiknya membaca buku Prof. Sartono. Yang ingin membaca hasil rekaan mengenai manusia dalam latar yang dapat dihayatinya sebagai dunia Jawa, mungkin akan merasa puas dengan CANTING.

Maka itu, kata Teeuw: “…..syukurlah ada sastra serta ilmu sejarah sebagai dua ragam pengungkapan persepsi manusia tentang dirinya……!”.

Namun ketika membaca kembali dua buku itu, bagi saya novel sastra karya Arswendo terasa lebih mampu menangkap nuansa dan mengungkap suasana konflik batin, pergumulan, dan benturan nilai-nilai priyayi Jawa. Misalnya, dalam kajian ilmiah tentang priyayi dan dunia batin orang Jawa, mungkin akan sulit menemukan tafsir tentang makna “pasrah” atau “sumangga” semacam ini (dalam CANTING):

“…Bu Bei hanya bisa menunggu. Menunggu adalah pasrah. Menunggu adalah menerima nasib, menerima takdir, menjalani kehidupan. Bukan menyerah, bukan kalah, bukan sikap pandir. Pasrah ialah mengalir, bersiap menerima yang terburuk ketika mengharap yang terbaik.”
“…pasrah bukanlah kalah atau mengalah, tetapi menerima dengan damai….:

Demikian pula tentang “sumangga” atau “terserah”. Sumangga adalah sikap pasrah membahagiakan lahir maupun batin. “Semua berjalan sendiri, mengalir begitu saja seperti kesetiaan air sungai, yang walau menjauhi sumbernya, kesetiaan ketika mengalir ke muara……”.

“Tafsir” ala Arswendo dalam novelnya ini mampu mengungkap nuansa dan makna yang justru sulit ditemui dalam kajian ilmiah tentang dunia priyayi Jawa. Tafsir macam ini tentu saja tidak hanya ada dalam karya sastra Arswendo saja. Tafsir ini juga ada dalam novel Linus Suryadi, PENGAKUAN PARIYEM (1981), atau dalam novel Umar Kayam, SRI SUMARAH (1980), dan yang lain.

Apakah dengan begitu apakah karya sastra lebih baik dari karya ilmiah dalam mengungkap dunia batin priyayi Jawa?

Tentu tidak ! Yang ingin dikatakan hanyalah bahwa sering suatu karya sastra di samping kemampuan estetika naratifnya, bisa pula menyodorkan nuansa yang memungkinkan pembacanya lebih mampu memahami dan menghayati konteks suatu realitas dan historis tertentu secara lebih bermakna.

Dan itu bisa kita rasakan ketika membaca karya-karya sastra Arswendo Atmowiloto yang begitu banyak, termasuk CANTING.

Selamat jalan Mas Wendo…..Request in Peace

Manuel Kaisepo, Pengamat Politik dan Mantan eeditor Jurnal Prisma-LP3ES

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousBelajar Dari Cina dan India Memanfaatkan Senjata Nonmiliter Menghadapi Perang Nirmiliter AsingNextDisruption (Efek Riak) Bisa Mengubah Konstelasi Dunia Internasional

More in Culture

View all
Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
Culture

Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi DerridaDekonstruksi Derrida

6 September 2026 · 1 min read

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI
Culture

Pascakongres 2026: SATUPENA dan Masa DepanMasa Depan Profesi Penulis di Era AI

14 August 2026 · 9 min read

Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Society

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 August 2026 · 1 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents