About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

BRICS Sport Games 2024, Memperkuat Kerja Sama Strategis Indonesia-RusiaStrategis Indonesia-Rusia di Berbagai Bidang

Hendrajit

Hendrajit·23 April 2024·4 min read

Share
BRICS Sport Games 2024, Memperkuat Kerja Sama Strategis Indonesia-Rusia di Berbagai Bidang

Dalam kunjugan Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia, Dito Ariotejo, ke Rusia pada 21 Februari 2024, telah berlangsung pertemuan antara Menteri Olahraga Rusia, Oleg Matytsin di Kazan, Rusia. Pertemuan kedua menteri olahraga telah membangun suatu fondasi yang cukup kuat untuk kerja sama bilateral RI-Rusia kini dan mendatang. Dan uniknya, pondasi kerja sama bilateral kedua negara tersebut justru dirajut lewat bidang diplomasi olahraga.

Upaya meningkatkan kerja sama bilateral antar negara lewat diplomasi olahraga, rasanya bukan suatu harapan yang terlalu berlebihan atau mengada-ada. Sejarah membuktikan lewat olahraga hubungan baik antarnegara bisa semakin erat dan solid. Ketika hubungan bilateral Amerika Serikat-Republik Rakyat Cina sangat memburuk antara 1949-1972, kedua negara adikuasa tersebut mengadakan diplomasi tenis meja. Sehingga pada 1972, Presiden Nixon dan Pemimpin Partai Komunis Cina Mao Zhe Dong, menandatangani perjanjian Shangai atau Shanghai Agreement.

Sepertinya, melalui diplomasi olahraga ini pula hubungan yang semakin erat dan saling pengertian antara Indonesia dan Rusia ini pula, akan menjadi suatu langkah terobosan yang cukup strategis. Setidaknya ada dua momen penting yang perlu disorot dalam kunjungan Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotejo ke Rusia pada Februari lalu.

 

Menpora Dito Temui Menpora Rusia, Serahkan Surat Titipan dari Prabowo untuk Putin

Di sela-sela pertemuan bilateral antara menteri olahraga, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Dito Ariotedjo sempat menyerahkan surat dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kepada Menteri Olahraga Oleg Matytsin untuk diserahkan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin di Kazan, Rusia, pada Rabu (21/2). (foto:istimewa)

Pertama, ketika dalam kunjungan tersebut Menteri Olahraga Oleg Matytsin secara resmu mengundang Indonesia untuk ikut serta dalam BRICS Sports Games 2024  yang akan diselenggarakan di Rusia pada Juni 2024 mendatang. Seturut dengan itu Menteri Pemuda dan Olahraga Ariotejo menyambut baik undangan Rusia tersebut.

Bagi Indonesia, olimpiade yang diberi nama BRICS Sports Games 2024 tersebut memang unik. Pertama, olimpiade berskala internasional tersebut bebas dari politisasi negara-negara besar seperti AS dan Barat yang selalu menetapkan kriteria-kriteria politis seperti isu demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Misalnya mengenakan sanksi atau boikot terhadap negara-negara yang dipandang AS dan Barat merugikan kepentingan global mereka. Seperti menerapkan sanksi boikot terhadap Rusia karena dituding telah melakukan aksi militer terhadap Ukraina yang sebenarnya di balik Ukraina ada dukungan militer baik berupa pasokan senjata maupun bantuan dana.

Baca juga: Menpora Dito Ajak Indonesia Ambil Bagian dalam BRICS Sports Games 2024 di Rusia

Begitu pula terhadap Cina, atas pengaruh dan arahan dari AS maupun Barat, panitia Olimpiade kerap mengenakan sanksi boikot melarang pemerintah Cina mengirim para olahragawannya ikut serta dalam olimpiade dengan dalih telah melakukan pelanggaran HAM di dalam negeri.

Dengan begitu, BRICS Sports Games pada perkembangannya jika bisa berjalan secara berkesinambungan dan kontinyu, kiranya dapat menjadi olimpiade alternatif yang bebas dari pengaruh politik terhadap olahraga. Olaraga dan politik tidak bersinggungan dan terpisah satu sama lain.

Kedua, Menteri Pemuda dan Olahraga Ariotejo juga berkesempatan menghadiri pembukaan Games of the Future di Rusia. Bagi Dito Ariotejo maupun delegasi pemerintah Indonesia, kiranya ini juga suatu even yang cukup menginspirasi. Games of the Future sejatinya mengangkat konsep phygital, yaitu kombinasi antara olahrga fisik dan digital. Dan Menpora Ariotejo sepertinya dengan cepat mampu menangkap intisari gagasan Games of the Future itu. Bahwa Games of the Future bukan saja tentang inovasi melainkan juga mengandung gagasan untuk mengakomodasi keinginan keinginan berbagai kalangan masyarakat untuk memadukan olahraga fisik dan digital.

Baca juga:

BRICS GAMES Juni 2024, Pilot Project Terciptanya Independensi Olah Raga Dari Campur-Tangan Politik

Penegasan Menpora Dito Ariotejo bahwa Indonesia ke depan tidak hanya fokus pada peningkatan prestasi atletik tetapi juga siap mengikuti perkembangan tren global dalam olahrga. Dan Indonesia juga berkomitmen untuk secara proaktif terlibat dalam inovasi dan perkembangan olahraga berskala internasional. Bahkan bukan itu saja. Pun juga, mempertunjukkan kesiapan untuk terlibat secara aktif dalam era baru olahraga yang semakin terhubung dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dari waktu ke waktu.

Terkait kunjungan Menpora Ariotejo ke Rusia, bagi para pejabat tinggi Republik Federasi Rusia, sepertinya merupakan momen yang cukup istimewa meski hanya di lingkup diplomasi olahraga. Betapa tidak. Dalam pertemuan antara menteri olahraga Dito Ariotejo dan menteri olahraga Rusia Oleg Matytsin, ternyata juga turut hadir Wakil Perdana Menteri Rusia, Dmitry Chernyshenko, juga turut mendampingi Ariotejo, Duta Besar RI untuk Rusia, Jose Tavares, dan Tenaga Ahli Menteri Pemuda dan Olahraga, Hamdan Hamedan.

Maka sangat logis jika berkembang harapan bahwa pertemuan Ariotejo-Matytsin bukan sekadar momentum untuk membahas kerja sama di bidang olahrga, melainkan juga menjadi fondasi untuk membangun kerja sama strategis dan saling menguntungkan antara Indonesia dan Rusia.

Dengan begitu, melalui diplomasi olahrga, pada perkembangannya menjadi sarana yang efektif bukan saja untuk memper-erat hubungan bilateral Indonesia-Rusia, tapi juga membuka peluang kerja sama  di berbagai sektor lainnya seperti ekonomi, perdagangan, ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun sosial-budaya.

Hal itu juga sejalan dengan BRICS yang sejak didirikan pada 2009 lalu, merupakan blok kerja sama ekonomi dan perdagangan yang semula dirintis oleh Brazil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan. Dan sekarang keanggotaannya sudah bertamba dengan bergabungnya Mesir, Iran, Arab Saudi, Etiopoa dan Uni Emirat Arab. Maka keikutsertaan Indonesia dalam BRICS Sports Games 2024 tidak saja membawa manfaat dalam bidang olahraga semata. Bahkan diharapkan dapat digunakan sebagai sarana untuk memperluas jejaring diplomasi di pelbagai forum internasional.

Hendrajit, Pengkaji geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousBanjul OIC Summit Mei 2024, Harus Menolak Status Ukraina Sebagai Peninjau Maupun AnggotaNextMembaca Ketegangan Yordania Versus Iran

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents