About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Bergabungnya Indonesia Dalam BRICS Sejalan Dengan Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif

Hendrajit

Hendrajit·24 February 2024·3 min read

Share
Bergabungnya Indonesia Dalam BRICS Sejalan Dengan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

(Presentasi Di depan Focus Group Discussion membahas tentang Bergabungnya Indonesia Dalam BRICS: Peluang dan Tantangan). Diselengarakan oleh Indonesia Consulting Group (ICG), di Jakarta, Februari 2024.

Saya sepakat dengan para narasumber maupun panel para pakar dalam forum ini. Bahwa meski BRICS merupakan blok kerja sama ekonomi dan perdagangan, namun BRICS juga punya potensi menjadi aliansi politik dan militer juga. Mengingat fakta semakin memanasnya konflik global dua adikuasa AS vs Cina.

Maka itu untuk menjadi dasar pertimbangan Indonesia gabung BRICS, para pengambil keputusan dan para pemangku kepentingan kebijakan luar neger perlu mensyaratkan dua hal :

1. Mengaktualisasikan dan Merevitalisasikan Politik Luar Negeri Bebas Aktif secara imajinatif merespons tantangan dan pergeseran tren global yang berlangsung saat ini.

2. Menjadikan Geopolitik sebagai input proses pengambilan keputusan strategis bidang kebijakan luar negeri. Sehingga kebijakan luar negeri RI benar benar bertumpu pada pengenalan secara komprehensif dan mendalam atas kondisi dan kekuatan geografis negeri kita sendiri. Baik lokasi geografisnya, kondisi fisik lingkungannya mana yang daerah-daerah berbasis pertanian, mana yang daerah pesisir lepas pantai, dan pegunungan. Lalu mampu mengenali keunggulan sumberdaya alam apa saja di masing-masing daerah. Dan yang tak kurang penting, mampu mengenali peta kekuatan sumberdaya manusianya.

Karena setiap daerah berbeda-beda sesuai karakter kolektif masyarakatnya yang dibentuk oleh kondisi fisik lingkungannya itu. Selain mengenali kondisi dan kekuatan geografi kita, komponen lain dari geopolitik adalah mengetahui dan memahami secara strategis konstelasi geografi dunia internasional tidak saja dalam politik dan ekonomi global, melainkan juga tren perubahan perkembangan sosial budaya.

Bahkan kerap tren inilah yang menyebabkan peristiwa tak terduga dan tak bisa diprediksi sebelumnya.

Jadi menurut hemat saya, pentingnya telaah geopolitik sebagai input untuk memutuskan bergabungnya Indonesia dengan otomatis akan sejalan dengan Politik Luar Negeri Bebas Aktif. Yang berarti mengutamakan Kepentingan Nasional RI.

Succes Story para founding fathers pencetus solidaritas Asia-Afrika yang menjelma menjadi Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955 dan Gerakan Nonblok Beograd 1961 hendaknya menjadi sumber inspirasi sekaligus pedoman dalam merespons tantangan global dewasa ini.

Sehingga bergabungnya Indonesia ke BRICS benar benar akan menjadi momentum Indonesia kembali jadi pemain sentral di arena global maupun regional.

Dengan demikian bergabungnya Indonesia sebagai anggota baru BRICS justru akan semakin meningkatkan pamornya di kalangan negara-negara ASEAN yang notabene merupakan negara-negara yang sekawasan dengan Indonesia, Asia Tenggara.

Bahkan dengan bergabungnya Indonesia pada 2024 sebagai negara pertama di ASEAN, Indonesia berpotensi memainkan kekuatan penyeimbang di tengah menajamnya konflik global di pelbagai kawasan antara AS dan Uni Eropa vs Cina dan Rusia.

Bukankah India yang notabene merupakan anggota Common Wealth negara-negara eks koloni Inggris dan bergabung dalam persekutuan militer empat negara/QUAD juga bergabung dalam Shanghai Cooperation Organization (SCO) dan BRICS yang diprakarsai Cina dan Rusia?

Pada intinya, Politik Luar Negeri Bebas-Aktif itu bukan neither nor. Bukan tidak ke sini atau ke sana. Bebas Aktif itu either or artinya bisa ke sini juga bisa ke sana namun atas dasar skema dan strategi nasional kita sendiri.

Maka itu politik luar negeri Bebas-Aktif itu sebagai gerakan ia pro aktif. Sebagai kebijakan ia konstruktif. Sebagai gerakan ia tahu apa kondisi dan konstelasi global yang dihadapi saat ini sehingga punya visi dan misi. Sebagai kebijakan strategis bidang luar negeri yang konstruktif berarti akan dengan sendirinya mampu menggambarkan secara imajinatif seperti apa peran unik dan khas Indonesia di arena global maupun regiona sesuai kekuatan geografi kita baik kondisi geografis sosialnya maupun kondisi geografis alamiahnya. Tak terkecuali dalam menetapkan peran aktif kita dalam BRICS pada 2024 mendatang.

Disusun oleh Tim Redaksi The Global Review

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousDari FGD Indonesia Consulting Group (ICG): Sepakat BRICS Subjek Kajian Strategis Untuk Terus Ditelaah Secara Lebih Luas Dari Segi Politik, Ekonomi dan MiliterNextBergabungnya Indonesia Dalam BRICS, Perlu Telaah Geopolitik Yang Komprehensif dan Mendalam

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents