About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

International

Amerika Memoles Paras IsraelIsrael Sebagai Negara Demokratis

Rusman

Rusman·9 June 2025·3 min read

Share
Amerika Memoles Paras Israel Sebagai Negara Demokratis

Untuk kaum Zionis, agar adil, dan agar sadar spektrum rakyat Palestina–yang melawan [baik di kota-kota yang diduduki Israel maupun yang di luar negerinya (dispora)]; yang mengungsi ke negeri-negeri lain; dan yang tetap di negeri-nya tapi tak melawan karena takut atau oportunis:

“Pada tahun 2006, Leila mengatakan bahwa hasil dari proses perdamaian Oslo sepanjang 1990-an adalah: ‘Kita lihat bagaimana Arafat disingkirkan… kendati ialah yang menandatangani perjanjian tersebut… Amerika ingin memoles paras Israel sebagai negara demokratis, dan menunjukkan bahwa Israel cinta damai. Tapi apa yang tealah kitasaksikan selama sepuluh tahun ini, Israel kembali menduduki kota-kota dan dalam prosesnya, mereka telah melanggar perjanjian Oslo.”

“Beberapa hari sebelum jadwal perjalanannya, seorang juru bicara militer Israel mengumumkan bahwa Leila tidak akan diizinkan masuk kecuali dia menandatangani dokume berisi pernyataan kutukan terhadap terorisme sekaligus dukungan terhadap proses perdamaian. …’Aku tidak akan menandatangani apapun,’ katanya pada mereka. ‘Ini bukan proses perdamaian, inihanya proses.’ …’Aku menunggu dan menunggu, lalu seorang agen Shin Bet (intel Israel) memanggilku’…”

Penolakan Israel bukan hanya menjadi tantangan bagi dirinya pribadi, tapi kontradiktif terhadap kesepakatan antara Yasser Arafat dan Shimon Peres…”

“…Saat ditanya namanya, dia hanya menjawab, karena mereka mengundangnya, mereka pasti tahu siapa dirinya. Dia tidak mau menjawab pertanyaan apapun dari agen Shin Bet, dan ketika menantangnya dengan mengatakan bahwa dia menolak perdamaian, Leila merespons: ‘Perdamaian yang mana? Kedamaian adalah saat aku tidak melihatmu, saat aku datang ke tanah airku tanpa diinterogasi. Kalian tidak punya hak menginterogasiku.

‘Ia tidak menanggapi gugatan ini,’ kata Leila, ‘Ia hanya bilang, jadi kau berpijak pada terorisme! Kubilang padanya, apakah aku orang yang pertama kali mengangkat senjata? Pendudukan, penjajahan itulah terorisme…

Lelaki yang satu lagi, kurasa ia ingin membunuhku. Ia mulai bertanya-tanya, ‘Apa kau berniat menghapus bagian dari konstitusi yang menyebutkan penghancuran Israel?’ Dalam konstitusi, tak disebutkan hal itu, karena PLO didirikan pada 1964, konstitusi berisi tentang pembebasan Palestina. GAza dan Tepi Barat belum diduduki, dan konstitusi dibuat untuk rakyat Palestina baik di dalam wilayah Palestina maupun yang berdiaspora, tak sekalipun tertulis ‘penghancuran Israel’. Tapi kujawab, ‘Ini bukan urusanmu. Ini urusan kami.’ Ia balas, ‘Baiklah, apa kamu punya kerabat di Israel?’ Kubilang, ‘Maksudmu area 1948?’ ‘Tentu saja,’ ia bertanya lagi, ‘ bisa kau sebut siapa saja?’ Kubalas, ‘Kau mau menyebutkan nama 850.000 orang?’ Ia menyanggah, ‘tapi ada 950.000 orang di sana.’ Kujawab lagi, ‘Ya, tapi yang seratus ribu itu agen-agenmu, dan mereka tak ada urusannya denganku.’ ‘…Kau pergi lah ke pemerintah kalau mau bertanya tentang itu, jangan padaku.’ KAdang ia hanya mengulur-ulur, menanyakan hal-hal seperti, ‘Apa hal terbaik yang pernah kau lakukan dalam hidupmu?’ Kubilang, ‘Kau ini apa, sih? Wartawan? Begini, ya, hal terbaik yang pernah aku lakukan adalah mengangkat senjata melawanmu.’…”

“Berhasil melalui intel Israel bukan akhir dari rintangan dalam memasuki Palestina. Baru saja Leila melewati perbatasan, ‘seorang polisi perempuan menghampiriku dan berteriak, ‘Tidakkah kau memiliki keyakinan akan perdamaian, Leila?’ Aku memalingkan muka. Dia datang lagi dan berkata, ‘Tidakkah kau punya keyakinan akan perdamaian?’ Kujawab, ‘Kalau aku tidak melihatmu di daerah ini, akan kubilang di sini sudah damai.’

[Sarah Irving, “Leila Khaled, Kisah Pejuang Palestina”. Buku bagus, terjemahannya pun mengalir (flowing), bagus untuk aktivis perempuan dan pejuang kemerdekaan.]

Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousFPN Kutuk Serangan Israel ke IranNextAS Berencana Menghidupkan Kembali Program Militerisasi Ruang Angkasa ala Strategic Defence Initiative (SDI)

More in International

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analysis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 August 2026 · 6 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents