About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewYour Guide to World Affairs
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • GFI Library
    • Podcast
    • Gallery
Logo Global Future Institute

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Ambisi Ukraina Untuk Memiliki Senjata Nuklir Berpotensi Memicu Proliferasi Senjata NuklirProliferasi Senjata Nuklir di Eropa

Hendrajit

Hendrajit·25 March 2026·3 min read

Share
Ambisi Ukraina Untuk Memiliki Senjata Nuklir Berpotensi Memicu Proliferasi Senjata Nuklir di Eropa

Salah satu aspek yang mengkhawatirkan seiring meletusnya perang terbuka AS-Israel versus Iran sejak akhir Februari lalu adalah semakin meningkatnya proliferasi persenjataan nuklir bukan saja di pelbagai kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah, melainkan di kawasan Eropa itu sendiri. Sebuah laporan baru mengungkapkan bahwa Ukraina memiliki cukup plutonium untuk membangun ratusan hulu ledak nuklir untuk bom-bom sederhana yang mirip dengan senjata atom pertama yang dijatuhkan AS di Jepang pada tahun 1945. Mengerikan bukan?

Baca:

Zelensky’s doomsday nuke option: How Ukraine could go nuclear on Putin and has enough plutonium to make HUNDREDS of nuclear warheads powerful enough to destroy Russian military bases

 

Lebih mengejutkannya lagi, dengan mengutip sebuah dokumen yang hasil investigasi The Times, sebuah lembaga pemikir non-pemerintah yang merupakan mitra kementerian pertahanan Ukraina, telah menguraikan bagaimana Kiev dapat mengembangkan bom atom sederhana jika AS menarik bantuan militernya.

 

Zelensky, the Budapest Memorandum and the Ukrainian Atomic Bomb: 5 Things to Know

Foto: Zelenskiy / Resmi

 

Meskipun kemudian Kiev membantah adanya rencana untuk membangun bom nuklir, dan tetap berkomitmen pada Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir), namun berkembangnya informasi sepeti itu tetap saja kemungkinan semacam itu cukup mengkhawatirkan, bahkan bagi negara yang termasuk adikuasa seperti Rusia sekalipun. Sebab jika benar Ukraina saat ini memiliki persediaan  plutonium yang cukup memadai untuk membuat ratusan hulu ledak nuklir yang cukup kuat, meskipun hal ini masih perlu verifikasi, kiranya  untuk menghancurkan pangkalan militer Rusia.

Namun terlepas bantahan dari pihak Ukraina, jika menelisik gambaran sekilas kondisi Ukraina saat memisahkan diri dari Uni Soviet pada 1991 lalu, Ukraina tercatat memiliki persenjataan nuklir terbesar ketiga di dunia, termasuk sekitar 1.900 hulu ledak strategis, 176 rudal balistik antarbenua (ICBM), dan 44 pesawat pembom strategis.

Pada tahun 1996, Ukraina telah mengembalikan semua hulu ledak nuklirnya ke Rusia sebagai imbalan atas bantuan ekonomi dan jaminan keamanan, dan pada Desember 1994, Ukraina menjadi negara non-senjata nuklir yang terikat pada Perjanjian Nonproliferasi Nuklir ( NPT ) tahun 1968. Akan tetapi mengingat situasi genting sejak 2022 ketika meletus konflik militer Rusia-Ukraina, spekulasi ihwal kemampuan membangun dan mengembangkan senjata nuklir, kembali mengundang kekhawatiran menguatnya kembali proliferasi nuklir di kawasan Eropa Barat maupun Eropa Timur.

Sebuah artikel yang ditulis oleh Daryl G. Kimball, dari Arms Control Association, Ukraina menandatangani Protokol Lisbon pada 23 Mei 1992. Protokol tersebut bertujuan untuk mengembalikan senjata nuklir di Belarus, Kazakhstan, dan Ukraina ke Rusia. Semua negara harus bergabung dengan START dan NPT.

Namun, di dalam Ukraina, tidak ada tanda-tanda kalau Ukraina berkomitmen meratifikasi START, bergabung dengan NPT, maupun program denuklirisasi secara keseluruhan. Protokol tersebut mensyaratkan Ukraina untuk mematuhi NPT secepat mungkin, tetapi memberi negara itu waktu hingga tujuh tahun untuk melaksanakannya.

 

Baca juga:

Ukraine, Nuclear Weapons, and Security Assurances at a Glance

 

Pengamatan Daryl G. Kimball memang cukup beralasan untuk bersikap skeptis terhadap itikad baik Ukraina. Sebab dalam lanskap politik nasional Ukraina pada 1992, dalam parlemen Ukraina ada arus kuat yang menginginkan negara yang baru memisahkan diri dari Uni Soviet setahun sebelumnya itu, mempunyai senjata nuklir. Dan berhak berstatus negara pemilik senjata nuklir.

Bahkan pada 1993, ambisi Ukraina untuk memiliki senjata nuklir semakin menguat ketika  162 politisi Ukraina menandatangani pernyataan untuk menambahkan 13 prasyarat untuk ratifikasi START, yang menghambat proses ratifikasi. Prasyarat tersebut mensyaratkan jaminan keamanan dari Rusia dan Amerika Serikat, bantuan luar negeri untuk pembongkaran, dan kompensasi untuk material nuklir. Selain itu, mereka menyatakan bahwa Ukraina hanya akan membongkar 36 persen dari kendaraan pengirimannya dan 42 persen dari hulu ledaknya, sisanya tetap berada di bawah kendali Ukraina.

Jadi kalau mencermati kesejarahannya, sangat masuk akal jika muncul pandangan bahwa Ukraina saat ini sedang mengembangkan senjata nuklirnya. Dan bukan omong kosong jika saat ini Ukraina dengan plutonium dan menggunakan teknologi serupa, akan mampu membuat bom nuklir seperti yang pernah dijatuhkan tentara Amerika Serikat  di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.

Dengan demikian, dunia internasioal tetap menaruh kekhawatiran terhadap kemampuan nuklir Ukraina. Sebab meskipun negara pecahan Uni Soviet tersebut telah   melepaskan persenjataan nuklirnya pada tahun 1996, namun Kiev masih    masih mengendalikan sembilan reaktor operasional dan memiliki keahlian yang cukup diandalkan tentang cara membangun senjata tersebut.

Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute

 

 

 

Hendrajit

Editor

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousAmbisi Ukraina untuk Memiliki Senjata Nuklir Berpotensi Memicu Proliferasi Senjata Nuklir di EropaNextIndonesia: Belajar dari Selat Hormuz

More in Analysis

View all
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analysis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 August 2026 · 3 min read

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Most Read

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents