Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Balada Orang-Orang Yang LengahOrang-Orang Yang Lengah

Rusman

Rusman·4 Maret 2025·2 menit baca

Bagikan
Balada Orang-Orang Yang Lengah
Kajian Kecil Filsafat Kepemimpinan Minggu ke dua di bulan Februari lalu, terdapat dua narasi kontroversi lagi mengagetkan publik, khususnya di kalangan dan/atau kelompok pergerakan (aktifis). Singkatnya begini, ada pernyataan Prabowo Subianto (PS) —Presiden RI ke-8— yang ‘mematahkan semangat’ beberapa kelompok pergerakan, sedang mereka mendukung program dan kebijakan PS pada satu sisi, terutama program pemberantasan korupsi. Namun, di sisi lain (mereka) juga mendukung gerakan “Adili Jokowi”. Nah, substansi atas fakta-fakta ini saling bertabrakan. Lantas, mana narasi kontroversinya? Antara lain: 1. ” .. ada yang ingin memisah-misahkan saya dengan Jokowi ..,” kata PS dalam Kongres Muslimat NU XVIII di Surabaya (10/ 2/25); 2. Teriakan “Hidup Jokowi!” lantang diteriakkan oleh PS dalam sambutan pada HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Sabtu (15/2) kemarin. Tak pelak, pro kontra pun kian menyeruak atas dua pernyataan PS tersebut, dan sudah barang tentu semakin menambah kegaduhan jagat opini, diskusi publik, aneka perdebatan baik online maupun offline, dan lain-lain. Kenapa? Faktanya, berbagai mural alias coretan di dinding soal “Adili Jokowi” merebak dimana-mana, termasuk di Solo, kota pensiun Presiden RI ke-7; kemudian isu finalis OCCRP; belum lagi maraknya unjuk rasa dari beragam elemen masyarakat dengan topik sama. Ya, meski hal-hal dimuka sebenarnya hanya masalah hilir, tapi inilah aspirasi yang tengah deras di publik. Apa poinnya? Usai 100 hari program PS, justru disambut dengan unjuk rasa serentak kelompok mahasiswa bertema: “Indonesia Gelap”. Sekarang membahas kepemimpinan sebagai clue catatan kecil ini. Tidak dapat dipungkiri, kepemimpinan sebagai ilmu, seni dan filsafat memang bertujuan sama. Apapun jenis kepemimpinan, intinya ialah: “Menggerakkan orang untuk mencapai tujuan”. Bila pada mekanisme terlihat tidak sama, misalnya, maka itu cuma faktor proses dalam koridor baik ilmu, seni maupun filsafat yang membedakan. Sebagai ilmu, contohnya, maka kepemimpinan berbasis teori-teori lazimnya; atau, sebagai seni, akan terlihat seperti tak berdasar teori namun mampu mencapai tujuan secara cemerlang (out of the box); dan kepemimpinan filsafat lebih menggunakan mata (untuk melihat), telinga (untuk mendengar aspirasi), dan hati guna memahami konteks dan substansi persoalan, bahkan secara komprehensif integral. Lalu, diambil keputusan! Secara seni dan filsafat, kepemimpinan PS dianggap tengah memainkan “teori dipangku mati”-nya orang Jawa. Pada satu sisi, ia meneriakkan “Hidup Jokowi” di publik, sedang di sisi lain pencalonannya sebagai Capres 2029 dalam Kongres Luar Biasa Gerindra di Hambalang telah menutup pintu bagi Gibran Rakabuming —Wapres— maju menjadi Capres 2029. Kedua narasi inilah yang tengah liar berputar-putar di langit Jakarta. Mana yang benar dan apa yang bakal terjadi kelak? Tiba-tiba saya teringat QS Al A’raf Ayat 179 yang bunyinya: “Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” Demikian adanya. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaInvestigasi The Telegraph: AS dan Inggris Sejak Awal Secara Terselubung Membantu HTS Gulingkan Bashar al-AssadSelanjutnyaMenghadapi Gaya Kepemimpinan Donald Trump Yang Tak Terduga, ASEAN Harus Kompak dan Solid

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents