Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Pustaka GFI
    • Podcast
    • Galeri
Logo Global Future Institute

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Antara Indonesia EmasIndonesia Emas, Takdir, dan Nekolim

Rusman

Rusman·13 Agustus 2024·2 menit baca

Bagikan
Antara Indonesia Emas, Takdir, dan Nekolim
Kontemplasi Kecil tentang Konstitusi dari Perspektif Religi Secara hakiki, filosofi UUD 1945 Naskah Asli dan Pembukaan (preambule) adalah pernyataan perang terhadap neokolonialisme dan imperialisme (selanjutnya ditulis: nekolim) di muka bumi, khususnya di Bumi Pertiwi ini. Akan tetapi, kekuasaan di dua periode Jokowi (2014-2019 dan 2019-2024) justru menciptakan nekolim gaya baru. Kenapa? Sebab, selain kepemimpinannya cenderung hipokrit, juga faktor utamanya karena UUD NRI 1945 Produk Amandemen (1999-2002), atau istilah pegiat konstitusi disebut UUD2002. Tak bisa dipungkiri, UUD baru tersebut telah mengubah wajah dan sistem negara menjadi individualis, liberal dan kapitalistik. Justru bergandengtangan serta merangkul nekolim itu sendiri. Ya, UUD2002 menggusur filosofi UUD 1945. Dan tak pelak, UUD hasil amandemen tersebut membidani apa yang dapat dinamai sebagai Jokowisme, sampai-sampai para die hard-nya seperti Frans Magis Suseno, Todung Mulya Lubis, Butet, Goenawan Mohamad dan banyak tokoh serta profesor lainnya kini berbalik arah justru menyerang serta membuli sang junjungan. UUD2002 menciptakan partai politik (parpol) menjadi satu-satunya entitas pemegang saham kekuasaan di republik tercinta ini vide Pasal 6A Ayat (2) UUD NRI 1945, dan parpol merebut kedaulatan dari tangan rakyat via penurunan status MPR dari Lembaga Tertinggi Negara menjadi Lembaga Tinggi Negara selevel DPR, MA, BPK, Presiden dan lainnya. Salah satu ciri menonjol pada Rezim UUD2002 ini adalah menggelar karpet merah kepada nekolim atas nama investasi, kemitraan dan lain-lain, kenapa? Karena Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 Naskah Asli justru diabaikan akibat penambahan Ayat (4) dan (5) pada pasal yang sama saat amandemen silam (1999-2002). Inilah yang kini terjadi. Maka, tanpa program kembali ke UUD sesuai Naskah Asli dengan penyempurnaan (akibat perubahan zaman) melalui teknik adendum, pertanyaannya adalah, “Apakah takdir Indonesia Emas 2045 dapat tercapai secara maksimal?” Kenapa begitu .. Rumusan takdir itu qodo’ ala qodar = takdir. Qodo’ artinya ikhtiar/upaya; ala itu bisa plus, kwadrat, kali, minus, bagi dst; qodar artinya ukuran, kadar dan lain-lain. Jadi, seandainya rumus takdir baik Indonesia Emas itu 2 + 2 = 4. Namun, jika bangsa ini menjalankan melalui rumus 5 – 1 = 4, atau 3 + 1, ataupun 2 X 2, dll maka itulah takdir buruk. Indonesia Emas memang tetap tercapai karena sudah takdirNya, namun tidak optimal. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Editor

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaMewaspadai dan Menyikapi Titik Kritis BangsaSelanjutnyaAS dan Negara-Negara Barat Mengendalikan Aktivitas Olahraga Internasional lewat IOC dan WADA

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Polarisasi Blok Indo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN
Analisis

Polarisasi Blok Indo-PasifikIndo-Pasifik, Membahayakan Kedaulatan Nasional ASEAN

30 Agustus 2026 · 3 menit baca

Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analisis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 Agustus 2026 · 10 menit baca

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analisis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 Agustus 2026 · 2 menit baca

Terpopuler

  1. 01Rencana Merger Elnusa dan PDSI: Menguji Pidato Pasal 33 UUD 1945 Presiden Prabowo
  2. 02Redefinisi Paradoks untuk Dekonstruksi Derrida
  3. 03Ekonomi Politik NU dan Pesantren (Catatan Pasca Muktamar)
  4. 04Media Takut Penguasa atau Takut Kehilangan Bisnis?
  5. 05Menelisik Sindikat “Protection Racket” di Jantung Republik

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents