» Perpecahan di G8 Jangan Sampai Merusak Kekompakan Negara-Negara Forum G20 » Gagasan Mengisolasi Rusia dari G20, Lumpuhkan Skema Kerjasama Ekonomi ala BRICS bagi Negara-Negara Berkembang » Ironi Geopolitik (3) » Geopolitik Antara Dua Karang (2) » Membaca Perilaku Geopolitik (1)


Militer
25-10-2012
Perkembangan Persenjataan Indonesia
Helicopter Mi-35 Hind E : Heli Serang Andalan TNI AD

Tahun 2010 yang lalu, tanpa banyak publikasi yang berlebihan, Dinas Penerbang Angkatan Darat (Penerbad) TNI AD menerima 3 unit Mi-35 P, melengkapi 2 unit Mi-35 Hind E yang sudah dibeli sebelumnya. Helikopter ini dibeli Indonesia dari Rusia bersamaan dengan pembelian Mi-17 v5 yang merupakan Heli Serbu. Pembelian helikopter tersebut merupakan realisasi perjanjian pemerintah RI dan Rusia pada September 2007 menggunakan fasilitas kredit pembelian luar negeri dari pemerintahan Rusia sebesar 56,1 juta dolar AS atau setara dengan 64,5 miliar rupiah. Harga itu termasuk pencakupan persenjataan dan amunisi serta pelatihan bagi para calon awak pesawat.


 

Mi-35 Hind E : Heli Serang Atau Heli Serbu?
 
Secara umum terdapat dua kategori Helikopter (CMIIW) yang dikelompokkan berdasarkan fungsi dan tugasnya dalam menjalankan sautu operasi militer. Kategori yang pertama adalah kategori Heli Serbu (assault heli) dan yang kedua adalah Heli Serang (attack Heli). Heli Serbu biasanya digunakan untuk mengangkut pasukan kedaerah operasi. Hali jenis ini biasanya hanya memiliki senjata ‘seadanya’ untuk melindungi heli tersebut dari serangan musuh. Di Indonesia, Heli jenis ini cukup banyak, diantaranya adalah Heli NBell-412 dan Mi-17 yang keduanya merupakan milik TNI AD. Pada kategori ini, fungsi heli lebih ditekankan kepada kemampuan membawa pasukan dalam jumlah yang banyak.
 
Sedangkan Heli Serang adalah heli yang dikhususkan untuk menyerang musuh dengan senjata yang mematikan, sehingga heli ini lebih mementingkan kemampuan membawa senjata yang banyak di bandingkan membawa pasukan. Di Indonesia, Heli jenis ini tidak sebanyak Heli Serbu, dimana Heli Serang paling hebat yang dimiliki TNI AD saat ini adalah 5 unit Mi-35 Hind E. Namun seperti saya katakana sebelumnya bahwa Mi-35 Hind E bukanlan Heli Serang Murni, karena selain bisa memiliki senjata yang mematikan, Heli ini juga bisa mengangkut pasukan bersenjata lengkap (walaupun jumlah pasukan yang bisa dibawa lebih sedikit dari Mi-17 v5).
 
Mi-35 Hind E milik TNI AD
 
Heli serang Murni saat ini cukup banyak jenisnya. Sebut saja AH-64 D Apache dari Amerika, Mi-28N Havoc dari Rusia, WZ-10 dari China, dan lainnya. AH-64D Apache Longbow disebut-sebut memiliki potensi untuk diakuisisi oleh Indonesia. Namun sampai saat ini kebenaran berita ini masih sebatas rumor, karena belum ada kontrak yang jelas antara Indonesia dan Amerika.
 
Senjata yang dimiliki Heli Mi-35 Hind E TNI AD
Helikopter Serang tentunya harus memiliki persenjataan yang cukup gahar mengingat fungsinya memang adalah untuk melakukan serangan ke lokasi musuh. TNI AD sebagai pengguna Helikopter ini tentunya juga sudah memikirkan hal ini. Untuk itu bersamaan dengan kedatangan armada helikopter tempur Mi-35P dari Rusia yang melengkapi Skadron 31/Serbu Penerbad pada tahun 2010, juga menyertakan paket senjata rudal anti tank. Mi-35P yang juga dikenal sebagai APC terbang yang dikarena kemampuan Mi-35 Hind E ini membawa 8 pasukan bersenjata lengkap. Mi-35 Hind E hadir melengkapi Skadron 31 dengan persenjataan yang cukup garang, seperti roket S-8 kaliber 80mm, pelontar chaff/flare, kanon standar GSh-30-2 kaliber 30mm dan rudal anti tank AT-9 Spiral-2.
 
Rudal AT-9 di Mi-35 Hind E milik TNI AD
 
Senjata yang dimiliki Mi-35 Hind E milik TNI AD cukup gahar, terutama rudal Anti Tank AT-9 Spiral-2 yang akan menjadi senjata menakutkan bagi musuh yang dilengkapi Tank sekalipun. Sama seperti penamaan rudal anti tank AT-5, nama rudal AT-9 juga merupakan nama yang diberikan oleh pihak NATO. Rudal ini cukup unik, karena fungsinya sebagai rudal anti tank yang biasanya diluncurkan dari darat, namun AT-9 Sprial-2 ini adalah rudal anti Tank yang sengaja dirancang untuk platform peluncuran dari udara.
 
Rudal anti tank AT-9 bisa dikatakan merupakan rudal anti tank yang masih gress, karena negara produsennya Rusia sendiri baru mulai mengoperasikan rudal ini pada tahun 1990-an. Rudal AT-9 ini didesign dengan melakukan pengembangan dari versi sebelumnya, AT-6 Spiral, dengan penyempurnaan pada sisi akurasi, kecepatan, dan jangkauan. Sistem pemandu rudal AT-9 Spiral-2 ini adalah SACLOS (Semi Automatic Command to Line of Sight), dimana operator harus membidik target sampai rudal berhasil mengenai target, jalur kendalinya berupa sinyal radio. Dalam pola pengoperasiannya, pilot dan juru tembak harus sama-sama mengarahkan helikopter ke arah target hingga rudal tepat tiba di sasaran. Namun versi terbaru dari rudal ini sudah bisa melakukan tembakan fire and forget.
 
Rudal Anti Tank AT-9 Spiral-2 ini sebenarnya memiliki beberapa versi yang berbeda sesuai dengan fungsi dan kegunaannya dalam operasi militer. Masing-masing versi memiliki keunggulan masing-masing. Diantaranya adalah jenis Anti Tank dengan tandem HEAT ( High Explosive Anti Tank ), yakni AT-9 yang dilengkapi proyektil peledak dengan dua tahap peledakan. Rudal AT-9 versi Tandem HEAT ini memang dikhususkan untuk menghancurkan kendaraan berlapis baja, termasuk MBT ( main battle tank ). Kemungkinan AT-9 yang dimiliki TNI AD adalah versi ini, namun kebenarannya belum bisa di konfirmasi.
 
Jenis kedua dari Rudal ini adalah AT-9 versi 9M120F yang dilengkapi dengan hulu ledak thermobaric. Pada rudal dengan thermobaric ini, peledak akan menghasilkan gelombang ledakan dengan durasi yang lebih lama, yang biasanya dengan sebutan "airfuel bomb". Efek ledakan yang lama ini dimaksudkan untuk melibas pasukan infantri, sehingga dapat mengakibatkan korban jiwa dalam jumlah besar. Thermobaric memanfaatkan oksigen dan udara dalam peledakannya sehingga sangat pas untuk menghajar target infantri yang bersembunyi di dalam terowongan, gua, atau bunker. Rudal jenis ini sepertinya memang dikhususkan sebagai rudal anti infantry. Namun tidak ada kejelasan apakah TNI AD juga memiliki rudal jenis ini.
 
Jenis ketiga dari rudal AT-9 ini adalah AT-9 versi 9A220O yang dilengkapi dengan hulu ledak expanding rod yang merupakan sebuah amunisi khusus yang menggunakan pola fragmentasi ledakan annular. Jenis ketiga ini dikhususkan sebagai rudal untuk menghancurkan target berupa helicopter lain. Rudal ini dilengkapi system laser sebagai penentu keauratan termbakannya. Namun, rudal jenis ini juga belum jelas apakah dimiliki TNI AD atau tidak.
 
Mi-35 Hind E dan Pesaingnya di ASEAN
 
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa Mi-35 Hind E adalah Heli Serang (walaupun tidak murni) yang dimiliki TNI AD. Negara-negara di ASEAN juga melihat bahwa Helikopter Serang sejenis ini merupakan asset yang harus mereka miliki untuk menambah efek gentar yang dimiliki militer negara tersebut. Itulah sebabnya tidak hanya Indonesia saja yang memiliki jenis Heli Serang ini di ASEAN.
 
Di kawasan Asia Tenggara, ada beberapa negara yang memiliki helikopter serang. Thailand memiliki 4 unit helikopter AH-1 Cobra bekas dari AS yang diretrofit. Helikopter ini sejatinya sudah cukup ketinggalan jaman, namun dengan dilakukannya retrofit maka Helikopter mili Thailand ini juga harus diperhitungkan. Singapura tercatat memiliki armada Heli Serang paling gahar di ASEAN dengan memiliki heli AH-64 D Apache semenjak tahun 2002 dalam program Peace Vanguard sebanyak 20 unit. Separuh dari heli serang itu bermarkas di Amerika Serikat. Pada tahun 1997 sebelum Krisis Ekonomi, Malaysia mencoba mengakuisisi Heli Serang CSH-2 Rooivalk buatan Denel Afrika Selatan. Namun rencana ini gagal hingga saat ini. Indonesia yang telah memiliki 5 unit Mi-35 Hind E juga berencana menambah kekuatan dengan akuisisi heli serang murni dengan candidate AH-64 D Apache atau jenis lainnya. Namun ini masih dalam tahap penjajakan.
 
Dilihat dari daftar Heli Serang yang ada di ASEAN, rasanya 5 unit Mi-35 Hind E dengan rudal anti tank AT-9 Spiral 2 akan membuat kekuatan Indonesia semakin diperhitungkan. Tercatat hanya Singapura yang memiliki kekuatan Heli Serang yang jauh lebih gahar dari Indonesia. Dibandingkan Thailand dan Malaysia, saya rasa heli serang Indonesia masih lebih baik. Namun ada baiknya juga Indonesia tidak hanya dilengkapi dengan Mi-35, tetapi juga dilengkapi heli serang yang memang benar-benar heli serang murni di masa yang akan datang. Semuanya itu untuk memastikan setiap jengkal wilayang kedaulatan Indonesia terlindungi.

Sumber :Info Dunia Militer
Artikel Terkait
» Hawk 200 Jadi Perhatian Khusus !!
» Kekuatan TNI AU Antara Tahun 2005 Sampai 2014
» Secara Keseluruhan Kekuatan Superhawk TNI AU Tinggal 32 Unit
» Kopaskhas Proses Pembelian Rudal Penangkis Serangan Udara



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Drone, Pelanggaran Hukum Kemanusiaan Internasional?
Selain membahas secara umum terkait perlunya memberi makna baru tentang konsepsi Ketahanan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Global Future Institute (GFI) secara khusus menyorot pesawat ...

Meluruskan Konsepsi Ketahanan Nasional NKRI

Pembelian 3 Unit Pesawat Drone Tidak Sesuai Dengan Anatomi dan Kebutuhan Nyata Pertahanan Nasional RI

Presiden Terpilih Jokowi Harus Jelaskan Apa Pentingnya Penggunaan Drone Bagi Pertahanan Nasional RI

Media Mainstream Nasional Pendukung Capres pada Pilpres 2014

Reputasi Buruk Drone UAV Sebagai Mesin Pembunuh

Lihat lainya »
   Arsip
Cegah Penyeludupan Senjata, Rumah Diperbatasan Mesir-Gaza Dihancurkan

Pesan Menlu Kepada Pelajar: Harus Bangga Menjadi Orang Indonesia, Berani, dan Percaya Diri

Angkatan Udara Korsel Luncurkan Pesawat Tempur FA-50

Kualitas Rakyat adalah Cerminan Batin Pemimpinnya

Gagasan Mengisolasi Rusia dari G20, Lumpuhkan Skema Kerjasama Ekonomi ala BRICS bagi Negara-Negara Berkembang

Satelit Maritim Tiongkok di atas NKRI

Jokowi dan Facebook

Roket Amerika Serikat Meledak Saat Diluncurkan

Dilma Rousseff Sang Petarung

Ketua BPK: Saya Ini Doktor Amerika!

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »