» Dunia Tiga Sisi » Pemerintah Jokowi-JK Harus Segera Cabut UU No 7/2004 Tentang Sumber Daya Air » Amerika Serikat Dukung Bangkitnya Kembali Kekuatan Militer Jepang » Menyorot Politik HAM Belanda di Indonesia » Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya


Pertambangan
18-10-2012
Indonesia-Afrika Selatan
RI-Afrika Selatan Optimalkan Kerja Sama Sektor Pertambangan

Di tengah krisis ekonomi global dan melambatnya pertumbuhan ekonomi global, termasuk di negara-negara maju, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) aktif memperkuat koordinasi dengan stakeholders Indonesia untuk meningkatkan kemitraan dengan negara-negara Afrika.


Sejalan dengan penguatan orientasi diplomasi ekonomi, Indonesia menempatkan Afrika sebagai pasar non-tradisional yang penting sehingga memerlukan penanganan yang khusus. Kemlu berkomitmen menggalang, mendorong, dan memfasilitasi pelaku usaha nasional dengan menyediakan informasi faktual dan koordinasi penjajakan peluang bisnis di negara-negara Afrika, termasuk Afrika Selatan.

Hal tersebut terungkap dalam acara focus group discussion (FGD) bertema “Mining and Local Economic Development: Benefiting People toward Welfare”, berlangsung di hotel Aston Pangkal Pinang, Bangka Belitung pada 15 Oktober 2012.

Forum yang diselenggarakan atas prakarsa Direktorat Afrika ini dihadiri oleh Walikota Pangkal Pinang, Wakil Walikota Rustenburg-Afrika Selatan, pengusaha Rustenburg, jajaran pejabat Pangkal Pinang, KADIN Pangkal Pinang, pejabat senior PT Timah, wakil KBRI di Pretoria, pelaku usaha di bidang pertanian, akademisi dan media massa.

Forum yang secara resmi dibuka Direktur Afrika, Kemlu menghadirkan pembicara Drs. H. Zulkarnain Karim, MM, Walikota Pangkal Pinang; Mr. Tshepo Hope Maifala, Wakil Walikota Rustenburg, Afsel; dan Purwijayanto, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha PT Timah.

Dalam sambutan pembukaaan, Direktur Afrika Kemlu Drs. Lasro Simbolon, MA menegaskan bahwa Afrika Selatan merupakan negara mitra strategis Indonesia, sekaligus mitra dagang utama di kawasan Afrika. Sejumlah area kerja sama di berbagai bidang antar kedua negara terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Total nilai perdagangan kedua negara tahun 2011 mencapai US$. 2.1 milyar, tercatat naik sebesar 23% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini merefleksikan seperempat bagian dari total nilai perdagangan RI dengan seluruh negara di kawasan Afrika Sub-Sahara, mencapai US$. 9,5 milyar.

Kedepan, Direktur Afrika optimis potensi kerja sama dua negara dapat lebih dioptimalkan dengan meningkatkan interaksi pelaku usaha khususnya bidang ekonomi, perdagangan, dan investasi.

Digarisbawahinya bahwa saat ini Indonesia tengah melakukan revitalisasi hubungan dengan negara-negara Afrika, termasuk dengan Afrika Selatan melalui multi-layered diplomacy, khususnya di tataran bilateral.

Afrika memiliki potensi ekonomi yang besar dan secara umum negara-negara Afrika menghormati peran sejarah dan kepemimpinan Indonesia melalui prakarsa penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika yang menginspirasi kemerdekaan negara-negara Afrika.

“Sudah saatnya political attachment yang kuat antara Indonesia dengan negara-negara Afrika ditransformasikan menjadi hubungan kerja sama ekonomi yang produktif dan saling menguntungkan” tandasnya.

Walikota Pangkal Pinang, Drs. H. Zulkarnain Karim, MM, mengapresiasi prakarsa Kemlu untuk menggelar forum ini dengan memilih kota Pangkal Pinang sebagai tempat penyelenggaraan acara dan tempat kunjungan lapangan delegasi Rustenburg.

Walikota dalam paparan berjudul “Pengelolaan Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Terbuka Hijau Pasca Penambangan di Kota Pangkal Pinang” menggarisbawahi bahwa diperlukan upaya terencana dan aksi kongkrit guna meningkatkan kualitas lingkungan paska penambangan, antara lain melalui revegetasi dan penetapan kebijakan pengembangan ruang terbuka hijau publik.

Menurutnya, salah satu yang telah berhasil dari program ini adalah penerapan industri modern terpadu yang memadukan sektor perikanan, perkebunan, dan peternakan dengan sistem zero waste. Pangkal Pinang memiliki kesamaan dengan Rustenburg sebagai kota tambang, termasuk tantangan-tantangan di kedua kota ini seperti migrasi yang tinggi dan lingkungan hidup.

Sementara itu, Wakil Walikota Rustenburg, Afrika Selatan Mr. Tshepo Hope Maifala, memuji keberhasilan Indonesia menjadi salah satu kekuatan baru ekonomi dunia. “Indonesia dan Afrika Selatan telah menandatangani sejumlah perjanjian kerja sama di berbagai bidang, dan oleh karena itu ia membawa serta pelaku bisnis setempat ke Pangkal Pinang.

Kota Rustenburg yang memiliki visi “a world class city with a high quality life for all communities” mengundang investor Bangka Belitung untuk menjajagi sektor pertambangan, properti-kontruksi, pertanian dan pariwisata.

Lebih lanjut wakil kota Rustenburg menyampaikan harapan kunjungan ini membuahkan kerja sama yang kongkrit antar pelaku usaha kedua negara, misalnya pembuatan Letter of Intent antar kedua kota untuk mengembangkan sektor-sektor ekonomi yang telah diidentifikasikan.

Sementara itu, Direktur PT Timbang menggarisbawahi kesiapan perusahaan ini untuk go international termasuk kawasan Afrika. Kunjungan kota Rustenburg ini juga dimanfaatkan untuk mempelajari pengalaman Pemda Pangkal Pinang dan PT. Timah dalam tata kelola kota pertambangan yang dapat bersinergi dengan pembangunan sektor lainnya.

Dalam sesi diskusi, para peserta tertarik untuk memperdalam informasi mengenai upaya-upaya pemerintah kota dalam menangani aktifitas ekonomi sektor-sektor non-tambang dapat berkembang dengan baik di daerah ini.

Hal lain yang mengemukakan adalah pertanyaan mengenai teknologi yang tepat untuk mengatasi sumber daya air bersih yang terbatas disebabkan bekas penambangan, serta isu mengenai penerapan aturan dan ketentuan dalam alokasi lahan bagi sektor-sektor lain di kota tambang.

Pangkal Pinang sejak tahun 2000 menjadi ibukota Bangka Belitung sebagai hasil pemekaran Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Bangka Belitung. Kota ini giat berbenah melakukan pembangunan di segala bidang merespon upaya peningkatan kesejahterahan rakyat dan pembangunan ekonomi daerah. Pangkal Pinang, kota berpenduduk 213 ribu jiwa dengan luas 118 km persegi mengandalkan sektor perdagangan dan jasa dalam menopang pembangunan ekonomi.

Rustenburg, termasuk bagian Provinsi North West merupakan daerah penghasil tambang platinum dan chrome. Kota tambang ini memasok sekitar 60 persen kebutuhan platinum dunia dan daerah ini akan menjadi daerah yang cepat berkembang di Afsel berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan penyerapan tenaga kerja.

Kunjungan delegasi kota Rustenburg ke Indonesia merupakan bagian dari kunjungan delegasi Afrika Selatan berpartisipasi pada Trade Expo Indonesia 2012.

Selama di Pangkal Pinang delegasi Rustenburg melakukan serangkaian pertemuan dan kunjungan lapangan, antara lain kunjungan kehormatan kepada Gubernur Bangka Belitung, pertemuan dengan Kadin Pangkal Pinang, dan pertemuan dengan Direksi PT Timah.

Selain itu, delegasi juga melakukan kunjungan lapangan ke Pabrik Pengolahan Karet, Bangka Botanical Garden dan Pabrik Peleburan PT. Timah. (Sumber: Dit. Afrika-kemlu RI)



Artikel Terkait
» Pemerintah Harus Wujudkan Tata Kelola Tambang Yang Baik Untuk Berantas Pengemplang Royalti dan Birokrat Korup
» PT Freeport : Kerugian Negara & Kemiskinan Masyarakat Papua



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Mengingatkan Kembali Tiga Kejahatan Perang Jepang di Indonesia
Kejahatan perang tentara Jepang di Indonesia antara 1942-1945 merupakan sejarah hitam  yang tidak boleh kita lupakan. Adanya kebijakan pemerintahan fasisme Jepang di Indonesia yang secara sistematis ...

SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN JOKOWI DAN IBU MEGAWATI SUKARNOPUTRI

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Lihat lainya »
   Arsip
Dunia Tiga Sisi

Freeport Makin Bikin Repot

Sarpin Efek : Merekonstruksi Payung Keadilan dalam Era Baru Rechstaat

Apa yang Dilakukan AS di Yaman?

Ingin menjadi Orang Barat tapi Kok Palsu

Satgas Pamtas RI-PNG bantu SD Inpres di Papua

Pembantaian Westerling dan Puputan Margarana, Bali: Australia Dan Inggris Ikut Bertanggungjawab

China-AS Ribut Soal Wilayah yang Disengketakan

Jepang Akui Niue Sebagai Negara

Hampir 40.000 Warga Burundi Mengungsi

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »