English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
No data yet
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Analisis
28-11-2009
Sikap AS Terhadap Muslim AS
Obama Lumpuhkan Program Pemberdayaan Masyarakat Muslim Miskin Amerika
Penulis : Hendrajit

Apapun alasannya, fakta yang berbicara. Empat masjid disita pemerintah federal Amerika.  Meski dengan dalih karena adanya peran terselubung Iran sebagai donator keempat masjid tersebut, namun sikap Obama yang semula memberi kesan akan menjalin hubungan yang lebih bersahabat dengan negara-negara Islam, nampaknya sekarang menjadi tanda-tanya besar. Kalau tidak mau dikatakan telah bertindak jauh lebih brutal dibandingkan pendahulunya mantan Presiden George W. Bush.


Dari sudut pandang negara-negara Islam, tindakan pemerintahan federal Amerika menyita gedung pencakar langit di fift Avenue tak pelak lagi merupakan kebijakan pemerintahan Amerika yang jauh lebih drastic dibandingkan pendahulunya mantan Presiden George W Bush.

Memang benar bahwa Iran merupakan donator alias penyandang dana  bantuan bagi pengembangan pusat-pusat Islam  yang terdiri dari sekolah, maupun beberapa masjid yang berlokasi di New York City, Maryland, California dan Huston. Namun apa yang salah dengan kenyataan tersebut. Bukankah Amerika pun memiliki beberapa international funding seperti Ford Foundation, Asia Foundation, Asia Society, USAID?

Lalu apa salahnya kalau Iran melalui Alavi Foundation mengelola gedung Fifth Avenue atas nama pemerintah Iran dengan bekerjasama dengan perusahaan yang dikenal sebagai Assa Corp. Apa cukup kuat bagi Amerika untuk menggunakan fakta-fakta tersebut sebagai indikasi bahwa Iran sedang melakukan gerakan terorisme di Amerika? Rasa-rasanya sungguh tidak masuk akal.

Apalagi ketika pemerintah federal Amerika mengklaim bahwa Bank Melli, milik pemerintah Iran, telah memberikan dukungan pada program nuklir Iran. Suatu tudingan yang terlalu dini dan bertumpu pada sumber-sumber informasi yang masih sumir.

Memang benar, sebagaimana diberitakan berbagai media massa di Amerika, selama dua dekade urusan-urusan Alavi Foundation telah diatur oleh para pejabat Iran, termasuk Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tapi, apa yang aneh dengan fakta ini ketika sistem politik Iran yang menempatkan negara sebagai aktor sentral dalam setiap pengambilan keputusan strategis baik di dalam maupun luar negeri.

Dengan demikian, adanya indikasi besarnya peran para pejabat pemerintahan Iran tiada lain akibat sistem politik dan ekonomi yang memang menempatkan peran negara sedemikian besar, dan sangat menentang sistem dan kebijakan politik-ekonomi yang berhaluan liberal dan sepenuhnya menyerahkan dinamika politik dan ekonomi pada kekuatan pasar.

Karena itu, sangatlah wajar jika Iran, melalui Alavi Foundation dan Bank Melli milik pemerintah Iran, memberi dukungan intensif bagi pengembangan pusat-pusat pengembangan Islam di Amerika sebagaimana terlihat melalui bantuan Alavi Foundation dalam mengelola gedung Fith Avenue.

Maka, kami dari Global Future Institute, berpandangan bahwa ini merupakan aksi destabilisasi Amerika terhadap Iran. Betapa tidak. Momentum penyitaan empat masjid sebagai bagian dari program bantuan Pemerintah Iran melalui Alavi Foundation dan Bank Melli, terjadi ketika hubungan Amerika-Iran semakin memanas akibat isu program nuklir Iran.

Apalagi ketika pemerintah Iran menangkap tiga warga Amerika atas tuduhan spionase. Sulit untuk dibantah bahwa tindakan Amerika dengan dalih sebagai bagian dari tindakan kontra-terorisme, tiada lain merupakan suatu aksi destabilisasi untuk memukul Iran di fron lain di luar isu nuklir yang mana Amerika sepertinya menghadapi jalan  buntu.

Ini selain memukul secara bisnis pihak pemerintah Iran, namun warga masyarakat Muslim Amerika yang bersekolah di salah satu masjid tersebut, merasa dirugikan dan dikecewakan. Padahal mereka semata untuk bersekolah dan menuntut ilmu. Dan dalam rangka melestarikan dan memelihara nilai-nilai Islam itu sendiri. Tak ada yang salah sama sekali dalam soal ini.

Lebih dari itu, peran Alavi Foundation sebagai donatur, pada perkembangannya telah membantu banyak elemen masyarakat Muslim di Amerika untuk menempuh pendidikan secara gratis. Gerakan amal atau charity yang dilakukan oleh pemerintah Iran melalui Alavi Foundation, didasari oleh gagasan untuk menggalang dukungan keuangan dari orang-orang kaya di Iran agar bisa menjadi sumber pendanaan bagi pengembangan pendidikan bagi warga Muslim di Amerika.

Maka, tindakan pemerintah Amerika dengan dalih kontra terorisme tersebut, hakekatnya merupakan aksi destabilisasi terhadap Pemerintah Iran yang sedang dijadikan target operasi, dan pada saat yang sama pemerintah federal Amerika telah melumpuhkan gerakan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Iran.

Betapa tidak. Menurut keterangan Ahmed Shabazz, pengelola pelayanan public Islamic Center of Houston, masjidnya telah menampung 300 keluarga mengelola sekolah bagi gelandangan.

Ini jelas bukti untuk kali kesekian bahwa Amerika menerapkan standar ganda. Amerika sendiri sangatlah membangga-banggakan dirinya sebagai negara yang terdepan dalam menyeponsori bantuan terhadap program pemberdayaan masyarakat organisasi-organisasi non-profit mereka yang dikoordinir oleh Ford Foundation, Asia Foundation, maupun USAID.

Global Future Institute, dengan ini mengajak keikutsertaan berbagai elemen masyarakat untuk mengutuk tindakan tidak berperikemanusiaan yang dilakukan pemerintah Obama. Karena dengan jelas telah melecehkan salah-satu aspek dari hak-hak Ekonomi-Sosial warga masyarakat miskin di Amerika yaitu: Dalam memperoleh akses di bidang pelayanan pendidikan.

Hanya karena gara-gara pemerintah Amerika dan Iran sedang bersitegang dalam isu persenjataan nuklir.

Penulis merupakan Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI).





 



Artikel Terkait
» Sebuah Kata Pamit yang Radikal
» Surat Terbuka Kepada Presiden SBY
» Rencana Kedatangan Presiden AS Ke Indonesia
» Polisi, Politik dan Publik
» “Globalisasi ..., Jangan Rampas Hak Kami ...”
» Saatnya Indonesia dan Dunia Islam Membentuk Sada Cumber Watch
» Mewaspadai Modus Operandi Amerika Rekayasa Hasil Pemilihan Presiden Indonesia
» Barrack Obama dan Watak Dasar Politik Luar Negeri Amerika
» Memahami Recana Besar Obama 2012



Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Invasi Berakhir, Stimulus Bergulir

Risiko Bayangi Pelonggaran Kredit di AS

Obama Hadapi Tantangan Terberat Mereformasi Perbankan

Alunan Angklung di Kampus Lebanon

60 Tewas Akibat Demam Berdarah di Honduras

Mahmoud Abbas : Israel Harus Bekukan Pemukiman Yahudi

Korut Berusaha Tingkatkan Hubungan Militer dengan China

Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

Perang Gaza, Perang Gas

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved