» Indonesia: Tujuan Imperialisme dan Kolonialisme Global » Skema TPP dan TiSA Daya Rusaknya Melebihi WTO dan NAFTA » Indonesia dalam Perspektif Geopolitik Global » Mengantisipasi The Yunani Effect di Indonesia » Pemerintahan Jokowi-JK Harus Secerdas Perdana Menteri Alexis Tsipras


Militer
11-10-2012
Perkembangan Persenjataan di Kawasan Asia Tenggara
Asia Tenggara Mulai Agresif Beli Senjata

 

"Anggaran militer Singapura hampir dua kali lipat dari para tetangganya."
 
Tidak hanya Indonesia yang tengah giat memperkuat alat utama sistem persenjataan. Tetangga-tetangganya di Asia Tenggara pun belakangan ini mempercanggih persenjataan mereka. 

 

Menurut kantor berita Reuters, dengan bersumber dari sejumlah lembaga pengamat, setidaknya ada tiga negara ASEAN yang tengah memperkuat Alutsista. Indonesia sedang membeli sejumlah unit kapal selam dari Korea Selatan dan sistem radar maritim dari China dan AS. Vietnam pun menambah kapal selam dan jet tempur Rusia. 
 
Singapura tak ketinggalan. Negeri mungil itu berstatus importir senjata terbesar kelima di dunia dan terus menambah persenjataan yang canggih. Mengantisipasi pengembangan kekuatan militer China dan juga didukung pertumbuhan ekonomi yang sedang pesat, negara-negara Asia Tenggara lagi jor-joran membelanjakan anggaran militer demi memperkuat jalur pelayaran, pelabuhan, dan batas-batas maritim yang vital bagi aliran ekspor dan energi. 
 
Menurut kalangan pengamat, sengketa wilayah di Laut China Selatan - yang mengandung sumber minyak dan gas alam melimpah - membuat Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Brunei harus antisipasi atas pengembangan kapabilitas militer China, yang turut berkepentingan atas perairan itu. 
 
Bahkan negara-negara yang jauh dari pertikaian itu, seperti Indonesia, Thailand, dan Singapura, turut merasa perlu memperkuat keamanan maritim masing-masing dengan menambah kemampuan alutsista. 
 
"Pembangunan ekonomi telah mendorong mereka menyisihkan sebagian anggaran untuk pertahanan demi melindungi investasi, jalur laut, dan zona ekonomi eksklusif," kata James Hardy, editor IHS Jane's Defence Weekly untuk kawasan Asia Pasifik. "Tren terbesar adalah penguatan di kawasan pantai dan pemantauan serta patroli maritim," lanjut Hardy. 
 
Data dari lembaga Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa, saat ekonomi mereka meningkat pesat, belanja pertahanan negara-negara Asia Tenggara rata-rata naik 42 persen dari 2002 hingga 2011. 
 
Singapura Terkaya
 
Sebagian besar alutsista yang mereka beli adalah kapal perang, kapal patroli, sistem radar, dan pesawat tempur. Mereka juga membeli kapal selam dan rudal anti kapal, yang efektif dalam melindungi jalur laut. 
 
Selama berpuluh-puluh tahun, terutama selama Perang Dingin, banyak negara di Asia Tenggara sedikit yang berbelanja alutsista, dan rata-rata hanya membeli meriam dan tank kecil. Sebagian besar ancaman mereka saat itu bersifat internal, lagipula AS bertindak sebagai payung keamanan dari ancaman pihak luar.
 
Namun, seiring perkembangan situasi, orientasi belanja militer di kawasan ini pun berubah. Mereka kini membeli persenjataan canggih. Mengingat mereka adalah negara pesisir, pembelian lebih ditekankan pada pertahanan laut dan udara. 
 
Itulah sebabnya Malaysia belakangan ini punya dua kapal selam canggih Scorpene dan Vietnam membeli enam kapal selam kelas Kilo dari Rusia. Thailand pun berencana membeli sejumlah kapal selam dan pesawat militer Gripen dari perusahaan Swedia, Saab AB. Pesawat tempur ini akan dipersenjatai rudal anti kapal RBS-15F buatan Saab, ungkap lembaga International Institute for Strategic Studies (IISS).
 
Singapura telah memesan jet tempur F-15SG dari Boeing Co. di AS dan dua kapal selam kelas Archer dari Swedia untuk menambah armada mereka. Sebelumnya, negara-kota itu sudah punya empat unit kapal selam Challenger. 
 
Walau negerinya kecil, Singapura punya kocek melimpah untuk membeli alutsista canggih. Menurut IISS, Singapura pada 2011 memiliki anggaran pertahanan sebesar US$9,66 miliar. Jumlahnya hampir dua kali lipat dari tetangga-tetangganya, yaitu Thailand (US$5,52 miliar), Indonesia (US$5,42 miliar), Malaysia (US$4,54 miliar), dan Vietnam (US$2,66 miliar), ungkap IISS. 
 
Sebagai negara kepulauan yang bergaris pantai sepanjang 54.700 km, Indonesia baru punya dua kapal selam. Kini Indonesia sudah pesan tiga unit baru dari Korea Selatan. Negara ini juga bekerjasama dengan China untuk memproduksi rudal anti kapal C-705 dan C-802 setelah menggelar ujicoba penembakan rudal Yakhont buatan Rusia pada 2011. 

Sumber :viva.co.id

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. II)
Pemerintah Harus Punya Ocean Policy Di abad 21 ini, negara-negara di dunia yang saling berlomba dalam meningkatkan kekuatan maritimnya masing-masing harus punya Ocean Policy atau Kebijakan strategis ...

Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

Permainan Intelijen Asing di Tolikara, Papua

Anthrax, Proyek Militer AS Berkedok Proyek Riset Kesehatan (Bag I)

Nilai Strategis Kerjasama Indonesia-Rusia bidang Energi Dari Perspektif Kepentingan Nasional

Lihat lainya »
   Arsip
Perkuat Kewenangan Wakil Presiden

Memupuk Semangat Kebangsaan Indonesia

Hak Kekayaan Intelektual: Instrumen Hukum Untuk Layani Kepentingan Uni Polar AS dan Uni Eropa?

Demokrasi Jalan Politik Bangsa

Bank Benih Lokal Satu Jalan Kedaulatan Pangan

PM Jepang Surati Jokowi Soal Proyek Kereta Cepat

Meneropong Kekuatan TNI Kita Sekarang

Proyek Kereta Cepat, Utusan Khusus PM Jepang Temui Rizal Ramli

Belajar dari Insiden Trigana Air

Perketat Pemekaran Daerah Otonomi Baru

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »