» Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya » Membaca Krisis Yaman dari Perspektif Geopolitik dan Kawasan » Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya (3/Habis) » Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya (2) » Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya (1)


Hankam
19-09-2012
Krisis Laut China Selatan
Laut China Selatan Memanas, RI Harus Tambah Armada

Indonesia memang bukan salah satu negara pengklaim wilayah kaya minyak di Laut China Selatan. Namun, bukan berarti Indonesia bisa santai saja dalam mengamankan wilayah di perairan paling bermasalah di dunia tersebut.


Apalagi beberapa tahun belakangan situasi di perairan ini semakin memanas. Terlebih setelah Presiden Amerika Serikat Barack Obama awal tahun ini mengumumkan fokus militer mereka tidak lagi ke Timur Tengah, melainkan di kawasan Asia, terutama wilayah perairan.

Menanggapi hal ini, Direktur Institute of Defense and Security Studies (IODAS) Connie Rahakundini Bakrie menegaskan bahwa Indonesia harus bergerak cepat dalam meningkatkan kemampuan angkatan lautnya. "Kita harus membangun kapabilitas angkatan laut yang besar untuk melindungi kepentingan kita di Laut China Selatan," kata Connie di Jakarta, 19 September 2012.

Masalah energi menurut Connie menjadi penyulut sengketa antara China dan lima negara ASEAN. Dalam riset pemerintah China, sembilan titik yang dipersengketakan memiliki cadangan minyak mentah hingga 17,7 miliar ton.

Indonesia sendiri punya cadangan minyak tidak sedikit di blok Natuna yang terletak di perairan ini. Tercatat, terdapat cadangan minyak 14 juta barel dan gas bumi yang diperkirakan mencapai 1,3 miliar kubik.

Cadangan energi inilah yang menurut Connie menjadi kepentingan Indonesia di Laut China Selatan. "Setiap tahunnya, kebutuhan energi bertambah dua persen. Jika ini terus terjadi, bukan tidak mungkin terjadi konstelasi militer," kata dia.

RI tercatat memiliki dua armada Angkatan Laut, yaitu Komando RI Kawasan Barat (Koarmabar) dan Komando RI Kawasan Timur (Koarmatim). Connie menganggap ini masih kurang, apalagi jika kekuatan-kekuatan besar dunia, seperti China dan AS, mulai adu kepentingan di perairan ini. 

Jika sudah begini, Indonesia harus berperan sebagai penyeimbang. Jika tidak mampu menambah armada, maka Indonesia harus bergabung dan mengoperasikan kapal-kapal milik China dan AS. "Kita punya dua armada, satu di Pasifik dan satu di Samudera. Ini dibagi, satu dengan AS dan satu lagi dengan China," kata Connie.

Cadangan Minyak ASEAN

Selain menambah armada, untuk mengantisipasi situasi darurat yang mungkin saja terjadi di tengah memanasnya suasana, Connie menghimbau Indonesia dan negara-negara ASEAN mengamankan cadangan minyaknya. Hal ini, menurutnya, telah dilakukan di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa. "Waktunya ASEAN membangun Strategic Petroleum Reserve (SPR). Jika terjadi sesuatu di Laut China Selatan, ASEAN akan selamat," kata Connie.

SPR AS diperkirakan adalah cadangan darurat terbesar di seluruh dunia dengan kapasitas penampungan hingga 727 juta barel. Per Agustus 2012, AS telah menyimpan cadangan minyak 695,9 juta barel, setara dengan 36 hari konsumsi minyak di AS. 


Sumber :news.viva.co.id
Artikel Terkait
» Awas, Kapal Perang AS Berlabuh di Bali!
» Harus Cukup Jeli Melihat Ada Indikasi Kekuatan Asing Di Papua
» Deptan Filipina Sedang Pelajari Kesepakatan Militer Dengan Singapura
» AS Berjanji Bantu Militer Filipina Menghadapi Cina
» China Peringatkan AS Soal Laut China Selatan
» Pulau Nipah, Armada Amerika, dan Armada China
» Australia Siap Hadapi Cina di Asia Pasifik



 

Advance Search

   Isu Hangat »
SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN JOKOWI DAN IBU MEGAWATI SUKARNOPUTRI
Kepada Yang Terhormat Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) Di Tempat   Kepada Yang Terhormat Ketua Umum PDIP Perjuangan Ibu Megwati Sukarnoputri ...

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Lihat lainya »
   Arsip
RI dan OKI Dukung Kemerdekaan Negara Palestina

Cina Bangun 24 Pelabuhan, 15 Bandara, dan 8.700 Km Jalur Kereta di Indonesia

Jokowi Intruksikan Menteri ESDM Bahas Kerjasama dengan Iran

TNI dan Tentara Perancis Latihan Bersama di Lebanon

Menelisik Pidato Presiden Iran di KAA

AS Tumpuk Sembilan Kapal Perang di Laut Yaman

Dies Natalis dan Wisuda ke-54 UPDM (B) Diwarnai Dengan Seminar Sehari

GFI Mengapresiasi Pidato Presiden Jokowi di KAA ke-60

Ini Pidato Lengkap Jokowi di KAA: Ungkit Kemerdekaan Palestina Hingga Kritik Bank Dunia

Dasa Sila Bandung 1955 Bersenyawa dengan Mukadimah UUD 18 Agustus 1955 dan Falsafah Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »