» Saatnya Indonesia Bangun Kerjasama Strategis Dengan Uni Ekonomi Euroasia (UEE) Di Luar Skema TPP Amerika Serikat maupun RCEP Cina » Presiden Jokowi Perlu Menyadari Betapa Berbahayanya Indonesia Bergabung Dalam Perjanjian Trans-Pacific Partnership (TPP) » Menelaah Kembali Kepentingan Rusia Bidang Energi di Kawasan Asia Tenggara » Menelisik Sejarah Kebijakan Maritim Rusia (Menyongsong ASEAN-Russia Summit, di Sochi, Rusia, 18-20 Mei 2016) » Asia Tenggara Sebagai Kawasan Bebas Nuklir Sesuai dengan Semangat KAA Bandung 1955 dan ZOPFAN ASEAN


Hankam
19-09-2012
Krisis Laut China Selatan
Laut China Selatan Memanas, RI Harus Tambah Armada

Indonesia memang bukan salah satu negara pengklaim wilayah kaya minyak di Laut China Selatan. Namun, bukan berarti Indonesia bisa santai saja dalam mengamankan wilayah di perairan paling bermasalah di dunia tersebut.


Apalagi beberapa tahun belakangan situasi di perairan ini semakin memanas. Terlebih setelah Presiden Amerika Serikat Barack Obama awal tahun ini mengumumkan fokus militer mereka tidak lagi ke Timur Tengah, melainkan di kawasan Asia, terutama wilayah perairan.

Menanggapi hal ini, Direktur Institute of Defense and Security Studies (IODAS) Connie Rahakundini Bakrie menegaskan bahwa Indonesia harus bergerak cepat dalam meningkatkan kemampuan angkatan lautnya. "Kita harus membangun kapabilitas angkatan laut yang besar untuk melindungi kepentingan kita di Laut China Selatan," kata Connie di Jakarta, 19 September 2012.

Masalah energi menurut Connie menjadi penyulut sengketa antara China dan lima negara ASEAN. Dalam riset pemerintah China, sembilan titik yang dipersengketakan memiliki cadangan minyak mentah hingga 17,7 miliar ton.

Indonesia sendiri punya cadangan minyak tidak sedikit di blok Natuna yang terletak di perairan ini. Tercatat, terdapat cadangan minyak 14 juta barel dan gas bumi yang diperkirakan mencapai 1,3 miliar kubik.

Cadangan energi inilah yang menurut Connie menjadi kepentingan Indonesia di Laut China Selatan. "Setiap tahunnya, kebutuhan energi bertambah dua persen. Jika ini terus terjadi, bukan tidak mungkin terjadi konstelasi militer," kata dia.

RI tercatat memiliki dua armada Angkatan Laut, yaitu Komando RI Kawasan Barat (Koarmabar) dan Komando RI Kawasan Timur (Koarmatim). Connie menganggap ini masih kurang, apalagi jika kekuatan-kekuatan besar dunia, seperti China dan AS, mulai adu kepentingan di perairan ini. 

Jika sudah begini, Indonesia harus berperan sebagai penyeimbang. Jika tidak mampu menambah armada, maka Indonesia harus bergabung dan mengoperasikan kapal-kapal milik China dan AS. "Kita punya dua armada, satu di Pasifik dan satu di Samudera. Ini dibagi, satu dengan AS dan satu lagi dengan China," kata Connie.

Cadangan Minyak ASEAN

Selain menambah armada, untuk mengantisipasi situasi darurat yang mungkin saja terjadi di tengah memanasnya suasana, Connie menghimbau Indonesia dan negara-negara ASEAN mengamankan cadangan minyaknya. Hal ini, menurutnya, telah dilakukan di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa. "Waktunya ASEAN membangun Strategic Petroleum Reserve (SPR). Jika terjadi sesuatu di Laut China Selatan, ASEAN akan selamat," kata Connie.

SPR AS diperkirakan adalah cadangan darurat terbesar di seluruh dunia dengan kapasitas penampungan hingga 727 juta barel. Per Agustus 2012, AS telah menyimpan cadangan minyak 695,9 juta barel, setara dengan 36 hari konsumsi minyak di AS. 


Sumber :news.viva.co.id
Artikel Terkait
» Awas, Kapal Perang AS Berlabuh di Bali!
» Harus Cukup Jeli Melihat Ada Indikasi Kekuatan Asing Di Papua
» Deptan Filipina Sedang Pelajari Kesepakatan Militer Dengan Singapura
» AS Berjanji Bantu Militer Filipina Menghadapi Cina
» China Peringatkan AS Soal Laut China Selatan
» Pulau Nipah, Armada Amerika, dan Armada China
» Australia Siap Hadapi Cina di Asia Pasifik



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Presiden Jokowi Perlu Menyadari Betapa Berbahayanya Indonesia Bergabung Dalam Perjanjian Trans-Pacific Partnership (TPP)
Dalam kancah persaingan global di ranah ekonomi di kawasan Asia Pasifik dewasa ini, praktis dikuasai oleh tiga negara adikuasa di bidang ekonomi: Amerika Serikat, Republik Rakyat ...

Simpul-Simpul Pemikiran dan Gagasan Penting dari Seminar Bertema “Dialog Kemitraan ASEAN, Momentum Bangun Strategi Keseimbangan di Asia Tenggara.

Datanglah Ke Rusia Sebagai Pemimpin ASEAN dan Kawan Lama Rusia

Geopolitik dan Peta Kekuatan di Kawasan

Meskipun Tidak Sebanyak Cina dan Jepang, Investasi Rusia di Indonesia dan ASEAN Sudah Cukup Besar

Kerjasama ASEAN dengan Mitra Dialog (Amerika Serikat, Cina, Rusia dan Jepang) Merupakan Upaya ASEAN untuk Membangun Strategi Perimbangan Kekuatan di Asia Tenggara

Lihat lainya »
   Arsip
PPP: Tak Ada Partai yang Tak Komit Berantas Korupsi, tetapi....

TNI-AL Kembali Tangkap Kapal Tiongkok di Natuna

Mempertimbangkan Sejarah (Bagian 2)

Renungan Jelang Sahur

Bakr al-Baghdadi Tewas, ISIS Tamat ?

Membela BARA NKRI di Papua

UEA Umumkan Berhenti Berperang di Yaman

Saatnya Indonesia Bangun Kerjasama Strategis Dengan Uni Ekonomi Euroasia (UEE) Di Luar Skema TPP Amerika Serikat maupun RCEP Cina

Presiden Jokowi Perlu Menyadari Betapa Berbahayanya Indonesia Bergabung Dalam Perjanjian Trans-Pacific Partnership (TPP)

Ada Orang Berkepentingan dengan Semakin Maraknya Kasus Terorisme di Indonesia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Menggugah Nasionalisme Keindonesiaan Aktivis Papua Saat Ini

Resensi Buku

-------------------------------------------------------------------------

Judul Buku : Kembali ke Indonesia : Langkah, Pemikiran dan Keinginan

Penulis : Nicolaas Jouwe

Cetakan Pertama : Agustus 2013

Kata Pengantar : Drs. Sidarto Danusubroto, SH (Ketua MPR RI)

Penerbit : PT Pustaka Sinar Harapan dan Verbum Publishing

Tebal Buku : 116 halaman termasuk biodata penulis

Peresensi : Otjih Sewandarijatun 

-------------------------------------------------------------------------

Lihat Lainnya »