» Geopolitik Antara Dua Karang (2) » Membaca Perilaku Geopolitik (1) » Manuver AS-Uni Eropa Singkirkan Rusia dari G-20 Berakibat Buruk Bagi Perekonomian Eropa dan Negara-Negara Berkembang » Bagaimana Kabarmu, Kim Jong-un? » Dukung Koalisi Merah Putih Tinjau Ulang UU Pro Asing


Politik
08-08-2012
Intervensi Amerika dalam Pergolakan Politik di Indonesia

Ada pertanyaan kenapa sipil selalu 'dikerjai' militer dalam setiap pergolakan sosial politik. Sebenarnya anggapan atau penilaian tentang sipil yang selalu 'dikerjai' militer itu kurang tepat.. ada sesuatu atau latar belakangnya.


Sesuatu atau latar belakang itu, kita sering sebut dengan "intervensi" barat atau AS yang merupakan sebuah kekuatan politik dominan di dunia. Intervensi barat/AS itu bisa dalam bentuk intervensi langsung yaitu AS secara aktif dan terbuka memainkan peranannya dalam sebuah negara. Bisa juga AS memainkan perannya melalui lembaga internasional seperti PBB. Atau AS memainkan peran sebagai dalang dibelakang layar. Peran AS yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga negara lain ini merupakan "kebiasaan" atau tradisi yang selalu diperankan oleh AS. AS "selalu merasa terpanggil" jika ada situasi politik suatu negara yang khaos/chaos, terjadi pergolakan, pergantian /transisi regim secara inkonstitusional, kudeta, perang saudara, konflik militer, pelanggaran HAM masif dan massal dan seterusnya disuatu negara. Konstitusi AS "mewajibkan" pemerintahnya untuk menjadi polisi dunia dan penegak keadilan, HAM dan demokrasi di seluruh dunia. "Kewajiban" dan tanggungjawab itu akan semakin besar jika AS menilai ada kepentingan AS dan sekutu-sekutunya yang terganggu atau terancam.

Berdasarkan konstitusi dan kepentingannya itulah (sosial, politik, ekonomi dan militer), AS akan melakukan intervensi terhadap suatu negara Standard operating procedure (SOP) intervensi AS sesuai mandat konstitusi sudah baku. Ada kriteria-kriteria dan prasyarat-prasyarat tertentu untuk masing-masing jenis atau tingkatan intervensi. SOP pertama tentu saja melalui mekanisme PBB. Modus ini dipakai utamanya jika negara yang sedang bergolak merupakan negara yang memiliki aliansi atau afiliasi politik atau militer dengan kekuatan politik lain selain AS. Misalnya negara tersebut merupakan anggota NATO, MEE, commonwealth, Liga Arab, uni afrika, dst. AS tidak bisa langsung masuk intervensi ke negara tersebeut untuk beraksi. Hal ini selain disebabkan khawatir intervensinya akan menyebabkan "kemarahan" pihak lain, mencegah eskalasi konflik yang meluas, juga menghindarkan AS dari kecaman dari pihak-pihK lain yANg tidak suka dengan intervensi AS itu. Juga terkait dengan biaya "perang/intervensi" yang akan ditanggung. AS tentu saja tidak mampu untuk menanggung beban biaya sendiri dalam menyelesaikan setiap konflik/pergolakan politik.

Sejarah membuktikan bahwa AS menglami kebangkrutan ekonomi dan utang yang luar biasa besar agar "intervensi militer" secara langsung ke Irak  dan Afghanistan. Oleh sebab itu, intervensi AS ke negara-negara bergolak, harus dilakukan secara cerdas dan disesuaikan dengan banyak faktor. Analisanya komprehensif.

Khusus untuk RI, AS sudah punya pola atau modus yang teruji keberhasilannya. Untuk RI, AS pasti menggunakan strategi intervensi tak langsung. Strategi intervensi tak langsung atau dikenal dengan nama Asymetric Warfare strategy. Operasi ini bukan dikomandoi oleh pentagon tetapi CIA atau Central Intellegent Agency adalah salah satu badan intelejen AS yang boleh beroperasi di seluruh dunia di luar AS.

Satu lagi badan intelelejen AS yang sangat besar dan berkuasa adalan NSA atau National Security Agency. NSA lebih besar dari CIA tapi fokusnya untuk menjaga keamanan negara AS dari ancaman musuh atau kekuatan asing. Beda dengan CIA yang fokusnya untuk menjalankan kepentingan AS diluar. Kembali ke Asymetric Warfare Strategy (AWS) yang dijalankan CIA. Modus AWS ini telah terbukti berhasil di RI saat G30S dan reformasi 98.

Saat itu, AS melihat bahwa di RI sedang terjadi pergolakan politik yang berpotensi menjatuhkan regim yang berkuasa dan munculnya regim baru. Sebelum AS intervensi, akan ada analisa dulu terkait degan posisi regim berkuasa dan posisi regim yang berpotensi untuk menggantikannya. Tentu saja semua terkait dengan kepentingan AS. Mana yang lebih menguntungkan AS. Ikut membantu jatuhkan regim atau mempertahankannya.

Jika regim yang akan tumbang adalah sekutu AS, maka regim yang menggantikannya harus juga merupakan sekutu AS. Jika regim pengganti tidak sejalan dengan kepentingan AS, maka operasi AWS akan diperluas dgn membelokan "regim" yang akan berkuasa. AS akan mencari "tokoh" lain didalam pihak oposisi yang bisa "diorbitkan" untuk menyaingi "tokoh" oposisi terkuat yang dinilai tidak sejalan. Tokoh terkuat itu nantinya perlahan-lahan akan "dihabisi" baik secara langsung (dibunuh/ terbunuh) atau secara tidak langsung dengan menggerogoti legitimasi moral dan politiknya.

Hal ini terjadi pada di RI saat reformasi 98. Suharto yang merupakan sekutu terdekat AS di Asia Tenggara dinilai bakal jatuh. Sebenarnya AS punya kemampuan untuk mempertahankan Suharto. Tetapi, AS menilai Suharto bukan lagi "asset" yang layak dipertahankan. Suharto saat itu sudah terlalu dekat dengan kelompok Islam. AS menilai kedekatan dan hubungan Suharto dengan Islam sudah sangat dalam dan dapat membahayakan. Maka AS mengambil sikap untuk menyingkirkan Suharto dan mempercepat kejatuhannya. AS sangat paham bahwa kekuatan utama Suharto adalah ABRI. Menjatuhkan Suharto harus terlebih dahulu menghancurkan ABRI utamanya TNI AD. AS juga paham bahwa kekuatan inti TNI AD ada pada Kopassus.

Kopassus yang pada saat itu dikuasai oleh Prabowo Subianto yang juga menantu Suharto. Sebab itu AS pertama-tama melalui AWS akan hancurkan kopassus. Kesempatan AS menghancurkan Suharto qq. TNI AD qq Kopassus mendapatkan momentum yang tepat karena isu HAM terkait penculikan aktivis-aktivis kiri.

Saat itu tokoh-tokoh reformasi juga mengusung isu penegakan HAM melalui tuntutan proses hukum dan keadilan terhadap para pelakunya. Kita mengetahui bahwa yang menjadi sasaran tuntutan publik pada saat itu adalah Suharto cq. Kopassus cq. Prabowo cq. Ti, mawar sebagai pelaku. Meskipun faktanya adalah penculikan dan pembunuhan para aktivis radikal kiri itu sebenarnya policy tak resmi regim Suharto. TNI terlibat.

Namun, kepentingan AS dan operasi AWS CIA di RI tidak semata-mata hanya hancurkan Suharto tetapi juga TNI dan Prabowo. CIA tidak menghendaki Prabowo muncul ke permukaan dan menggantikan kedudukan Suharto. AS dan CIA sudah mengetahui persis orientasi politik Prabowo. Kedekatan dan hubungan mesra Islam dengan Suharto sejak era awal 90an dirintis dan pelopori oleh Prabowo sebagai menantu Suharto.

Prabowo yang berasal dari keluarga sekuler, bapak kejawen, ibu katolik, lebih memilih mendukung kelompok Islam utk mengimbangi kekuatan dan pengaruh LB Murdani yang menjadi rivalnya di tubuh TNI. Melalui seorang tokoh spritual islam, Prabowo berhasil mendekati ibu Tien suharto dan Suharto sendiri. Berkat bantuan Prabowo dan tokoh spiritual Islam itu Suharto dan Tien Suharto menjadi Islam. Hubungan yang mesra antara Suharto dan kelompok Islam menjadi pintu masuk untuk kekuasaan yang lebih besar bagi Habibie melalui ICMI nya. Sedangkan Prabowo sukses mendudukan jendral-jendral kelompok Islam dalam berbagai posisi strategis di tubuh TNI. Kekuasaan Prabowo berhenti membesar ketika Tien Suharto meninggal. Akses Prabowo ke suharto dihalang-halangi Tutut Suharto yang terpengaruh agenda Hartono cs. Singkatnya, Prabowo pada saat itu mendapatkan labeling pro Islam oleh AS dan CIA. Posisi Prabowo dinilai sama dengan posisi Suharto.

Sebab itu, ketika terjadi isu dan propaganda bahwa Prabowo berada dibalik kerusuhan Mei dan akan kudeta regim Habibie, Habibie yang naif secara politik langsung percaya dan tidak memberikan Prabowo akses atau kesempatan untuk mengklarifikasi. AH Nasution yang mencoba beri bantuan penjelasan kepada Habibie dan memberi dukungan penuh kepada Prabowo pun tidak dapat mempengaruhi sikap Habibie yang memang sudah "diracuni" oleh Wiranto cs & tokoh-tokoh politik yang cenderung "oposan" dengan Prabowo. Juga adanya alergi politik terhadap segala sesuatu yang berbau cendana.

Amin Rais sebagai pemimpin gerakan reformasi sebenarnya paham betul terhadap posisi Prabowo. Tapi Amin gamang tentukan sikap. Dia tak mau konfrontasi langsung denganWwiranto untuk menghindarkan front pertempuran yang terlalu lebar yang sulit dia kontrol nantinya. Amin main dua kaki.

Singkatnya, melalui asymetric warfare strategy, CIA atau AS berhasil menjatuhkan Suharto, menghancurkan Prabowo dan mendelegetimasi Amien. AS melalui CIA dan AWS nya berhasil juga mendudukan SBY sebagai presiden RI. Tokoh-tokoh yang kurang sejalan dengan AS tak akan direstui berkuasa.

AWS itu sendiri adalah bentuk intervensi AS ke negara-negara tertentu seperti RI dengan cara memanfaatkan, menunggangi dan memanipulasi kekuatan-kekuatan formal dan informal di Indonesia agar menjalankan agenda dan misi politiknya secara sadar dan sengaja ataupun secara tidak sadar. Infrastruktur politik seperti partai, ormas, kelompok profesi, ulama, kelompok penekan, kelompok kepentingan, pers/media, LSM, mahasiswa dst secara halus dan tidak disadari, CIA membuat opini, isu, penggalangan massa dan operasi gerakan tanpa disadari oleh para tokoh atau pelaku.

CIA melalui AWS ini membanjiri publik dengan hujan informasi-informasi yang campur aduk. Info benar, info salah dan info titipan sesuai dengan agenda AS secara tidak langsung CIA juga mendekati para tokoh-tokoh utama melalui tangan-tangan mereka disini. Tangan-tangan mereka bisa merupakan orang per orang. Lembaga-lembaga seperti, media, LSM, kedubes-kedubes dan diplomat-diplomat yang sengaja menjalankan agenda CIA tersebut. Dengan kepungan informasi dan penciptaan opini tersebut.

Para tokoh utama gerakan secara tidak sadar atau secara terpaksa ikut menjalankan agenda CIA. Rakyat pun terkecoh. Kunci dari AWS ini adalah penguasaan informasi dan pembentukan opini. Opini itu sendiri pengertiannya adalah pendapat atau persepsi publik thdp suatu isu. Tidak ada kekuatan lain yang dapat menglahkan opini kecuali kekuatan militer. Sedangkan kekuatan militer pada sistem demokrasi tidak diperkenankan atau diharamkan. Tindakan militer/ aksi polisionil yang represif malah akan menimbulkan masalah baru /kontraproduktif. Sebab itu, masyarakat/ publik harus diperkuat dalam skema pemberdayaan masayarakay sipil atau madani sehingga mampu skeptis terhadap opini.

Nah, kembali ke intervensi AS. Saat ini AS tidak melihat adanya urgensi dan kebutuhan untuk ikut campur/intervensi dalam politik domestik RI, regim SBY adalah regim sekutu AS. SBY sendiri sangat patuh dan selalu jaga kepentingan AS di Indonesia. Bahkan SBY akui AS sebagai negara keduanya. Oleh sebab itu, jangan bermimpi AS akan ikut mendorong kejatuhan SBY meskipun misalnya rakyat sudah sangat tidak puas atau kecewa pada SBY.

Gerakan-gerakan yang berkembang dimasyarakat sekarang ini murni dari kekuatan lokal dan akan sulit untuk menjatuhkan SBY meskipun ada isu BBM sebagai pintu Trigger atau pemicu eskalasi gerakan demo juga seperti jatuhnya korban dari pihak demonstran juga akan sulit, krn SBY sudah perintahkan kepada aparat agar menghadang gerakan demonstrasi tanpa senjata dan peluru.

Sekian, terima kasih.


sumber: @TrioMacan2000

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Drone, Pelanggaran Hukum Kemanusiaan Internasional?
Selain membahas secara umum terkait perlunya memberi makna baru tentang konsepsi Ketahanan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Global Future Institute (GFI) secara khusus menyorot pesawat ...

Meluruskan Konsepsi Ketahanan Nasional NKRI

Pembelian 3 Unit Pesawat Drone Tidak Sesuai Dengan Anatomi dan Kebutuhan Nyata Pertahanan Nasional RI

Presiden Terpilih Jokowi Harus Jelaskan Apa Pentingnya Penggunaan Drone Bagi Pertahanan Nasional RI

Media Mainstream Nasional Pendukung Capres pada Pilpres 2014

Reputasi Buruk Drone UAV Sebagai Mesin Pembunuh

Lihat lainya »
   Arsip
Empat Pekerja Blackwater Dinyatakan Bersalah Membunuh 14 Warga Irak

Sangat Jelas Indonesia adalah Target Sasaran Strategi Global

Pasca Penembakan di Gedung Parlemen, Kanada Lakukan Operasi Keamanan Skala Besar

Hakekat Geopolitik sebagai Alat Ukur Menentukan Kebijakan Politik

Membaca Perilaku Geopolitik (1)

Sinergi untuk Kemajuan Bangsa

Ancaman Refrendum Kebablasan

Jokowi-Prabowo, Ciri Negarawan Sejati

Dominasi Asing di Negeri Kaya

Pertemuan Kerry-Jokowi Bahas ISIS?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »