» Menelisik Sejarah Kebijakan Maritim Rusia (Menyongsong ASEAN-Russia Summit, di Sochi, Rusia, 18-20 Mei 2016) » Asia Tenggara Sebagai Kawasan Bebas Nuklir Sesuai dengan Semangat KAA Bandung 1955 dan ZOPFAN ASEAN » Suriah, Pusaran Pertarungan Global AS-Inggris-Perancis dan Rusia » Ada Usaha Untuk Meruntuhkan Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia dan Netralitas ASEAN » Indonesia Harus Mendorong Terciptanya Keseimbangan Kekuatan Baru di Asia Tenggara Melalui KTT ASEAN-Rusia Mei 2016


Isu Hangat
15-05-2012
Diolah Kembali Oleh Hendrajit, Peneliti Senior Global Future Institute
Ternyata Pangkalan Udara Halim Tempat Pelatihan Pasukan Khusus AS Terhadap TNI-AU

Misteri hilangnya kontak sejak adanya permintaan pilot Sukhoi Super Jet 100 kepada Air Traffic Control (ATC) untuk menurunkan ketinggian dari 10 ribu ke 6 ribu kaki, sedikit banyak sekarang mulai ada gambaran yang lebih jelas. Nampaknya, semuanya harus dimulai menelisik kondisi yang ada di lokasi pangkalan Angkatan Udara Halim Perdana Kusuma.


Merujuk pada Laporan seorang wartawan investigatif Wayne Madsen, lokasi pangkalan Angkatan Udara RI Halim Perdana Kusuma ternyata telah dijadikan tempat pelatihan Pasukan Khusus Amerika Serikat terhadap personil-personil Angkatan Udara RI dalam berbagai hal terkait taktik-taktik tempur angkatan udara seperti Jamming(menghambat), menganggu dan mengacaukan sistem elektronika dalam perang udara, Semua pelatihan jenis-jenis taktik udara tersebut bisa didayagunakan untuk mengganggu sistim navigasi udara. 

Pelatihan yang dilakukan pasukan khusus AS tersebut dilakukan setiap tahun sebagai bagian dari program bernama The EXERCISE COPE WEST. Program tersebut atas sponsor dari Panglima Komando Pasifik yang bermarkas di Hawaii ( The US PACIFIC COMMAND). 

Menariknya lagi, dalam pelatihan The Exercise Cope West tahun lalu, telah diadakan Simulasi Operasi-Operasi Militer untuk menghadapi Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Cina (Chinese’s People Liberation Army Air Force). Yang menggunakan pesawat-pesawat jet yang dirancang oleh Sukhoi seperti Sukhoi jenis 27 dan 30. 

Nampaknya Amerika Serikat punya alasan buat khawatir dengan perkembangan pesat pesawat-pesawat militer Sukhoi sebagai alternatif peralatan militer bagi TNI. Betapa tidak. Karena harganya jauh lebih murah daripada Boeing. Hanya 35 juta dolar Amerika per unitnya. Inilah tawaran pertama produk unggulan Rusia sejak runtuhnya Uni Soviet pasca Perang Dingin. 

Tidak heran jika tiga perusahaan penerbangan Indonesia Kartika Airlines, Sky Aviation dan Queen Air, sudah memesan 48 unit pesawat Sukhoi jenis super jet. Belum termasuk lagi 170 unit pesawat yang telah dipesan negara-negara lain. Karena itu, dengan kejadian tragedi Sukhoi minggu lalu, daya tarik terhadap Sukhoi ini bisa bisa akan menurun. 

Pada tataran ini, Boeing memang merupakan pesaing nyata bagi Sukhoi maupun produk-produk saingan mereka. Pada kunjungan Obama yang terakhir, telah ditandatangani kesepakatan dengan Lion Air untuk menjual 230 pesawat Boeing seharga 22 miliar dolar AS melalui Bank EXIM Amerika Serikat. 

Karena itu masuk akal jika Pemerintah Amerika di Gedung Putih, telah melancarkan perang intelijen untuk melumpuhkan saingan-saingan bisnisnya. Tak terkecuali terhadap Jepang yang notabene merupakan sekutu tradisional Amerika. 

Pada 1995, Presiden Bill Clinton telah memerintahkan National Security Agency (NSA) untuk memata-matai perusahaan-perusahaan industry strategis Jepang seperti Toyota dan Nissan ketika sedang gencar-gencarnya perang dagang AS-Jepang.

Pada era sebelum Clinton, Presiden Herbert Walker Bush juga pernah memerintahkan NSA untuk memata-matai Indonesia ketika Presiden Suharto mengadakan perjanjian kontrak dengan perusahan-perusahaan telekomunikasi Jepang. 

Sehingga waktu itu Presiden Bush berbagi informasi intelijen dengan perusahaan-perusahaan multi-nasional Amerika seperti AT & T, pesaing utama Jepang, terkait kesepakatan kontrak Jepang dengan pemerintahan Suharto. 

Akhirnya, akibat tekanan diplomatik dari Washington, kerjasama dengan Jepang terpaksa disesuaikan kembali.



Artikel Terkait
» Indonesia-Cina Siapkan Rencana Kerjasama Industri Pertahanan. Kapan Rusia Menyusul? (Inspirasi Bagi Pemberdayaan Politik Luar Negeri RI)
» CYBERSPACE (Dunia Maya), Medan Tempur Amerika Serikat, Cina dan Rusia (SCO) di Ranah Informasi
» Cermati Tiga Kekuatan Militer Baru di Asia Pasifik: Cina, Jepang dan India
» Vladimir Putin, Russian "hidden warrior (satrio piningit)", the inspiration for Indonesia
» The Scarborough Shoal, Pemicu Ketegangan Baru Filipina-Cina di Laut Cina Selatan



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Ada Usaha Untuk Meruntuhkan Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia dan Netralitas ASEAN
Kita harus bedakan Cina Republik Kita dan Rakyat Cina. Pertumbuhan kekuatan ekonomi dan keuangan dari para taipan seberang laut (Overseas China) yang berkiblat pada Kapitalisme berbasis ...

Dalam Soal Ianfu (Comfort Women), Korea Selatan Bukan Satu-satunya Korban Kejahatan Perang Jepang

Blunder AS dalam Perang Suriah

Indonesia Harus Bisa Mencegah Terseretnya Negara-Negara OKI Dalam Proxy War Arab Saudi versus Iran

MEA: Peluang atau Ancaman?

Rencana Mundurnya James “Bob” Moffet, Indikasi Adanya Strategi Freeport Ganti Aktor Baru Untuk Pertahankan Kesepakatan Lama

Lihat lainya »
   Arsip
ULMWP Tidak Layak menjadi Anggota MSG

Menelisik Sejarah Kebijakan Maritim Rusia (Menyongsong ASEAN-Russia Summit, di Sochi, Rusia, 18-20 Mei 2016)

TNI Terima 2 Granat dari Masyarakat Papua

Masih Layakkah Partai Aceh Memimpin Aceh 2017 sampai 2022?

Menghina Presiden RI sama dengan Menghina NKRI

Pemerintah Tidak Berhadil Membalikkan Tren Penurunan Ekspor Sepanjang 18 Bulan

Pertama, Pesawat Militer Cina Mendarat di Pulau Sengketa

Wapres JK Sampaikan Kritik Pedas Kepada Negara-negara OKI

PPRC TNI Fokus Latihan Pembebasan Sandera

Panglima TNI: Kopassus Itu Ibarat Angin

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Lihat Lainnya »