» Perpecahan di G8 Jangan Sampai Merusak Kekompakan Negara-Negara Forum G20 » Gagasan Mengisolasi Rusia dari G20, Lumpuhkan Skema Kerjasama Ekonomi ala BRICS bagi Negara-Negara Berkembang » Ironi Geopolitik (3) » Geopolitik Antara Dua Karang (2) » Membaca Perilaku Geopolitik (1)


Isu Hangat
15-05-2012
Diolah Kembali Oleh Hendrajit, Peneliti Senior Global Future Institute
Ternyata Pangkalan Udara Halim Tempat Pelatihan Pasukan Khusus AS Terhadap TNI-AU

Misteri hilangnya kontak sejak adanya permintaan pilot Sukhoi Super Jet 100 kepada Air Traffic Control (ATC) untuk menurunkan ketinggian dari 10 ribu ke 6 ribu kaki, sedikit banyak sekarang mulai ada gambaran yang lebih jelas. Nampaknya, semuanya harus dimulai menelisik kondisi yang ada di lokasi pangkalan Angkatan Udara Halim Perdana Kusuma.


Merujuk pada Laporan seorang wartawan investigatif Wayne Madsen, lokasi pangkalan Angkatan Udara RI Halim Perdana Kusuma ternyata telah dijadikan tempat pelatihan Pasukan Khusus Amerika Serikat terhadap personil-personil Angkatan Udara RI dalam berbagai hal terkait taktik-taktik tempur angkatan udara seperti Jamming(menghambat), menganggu dan mengacaukan sistem elektronika dalam perang udara, Semua pelatihan jenis-jenis taktik udara tersebut bisa didayagunakan untuk mengganggu sistim navigasi udara. 

Pelatihan yang dilakukan pasukan khusus AS tersebut dilakukan setiap tahun sebagai bagian dari program bernama The EXERCISE COPE WEST. Program tersebut atas sponsor dari Panglima Komando Pasifik yang bermarkas di Hawaii ( The US PACIFIC COMMAND). 

Menariknya lagi, dalam pelatihan The Exercise Cope West tahun lalu, telah diadakan Simulasi Operasi-Operasi Militer untuk menghadapi Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Cina (Chinese’s People Liberation Army Air Force). Yang menggunakan pesawat-pesawat jet yang dirancang oleh Sukhoi seperti Sukhoi jenis 27 dan 30. 

Nampaknya Amerika Serikat punya alasan buat khawatir dengan perkembangan pesat pesawat-pesawat militer Sukhoi sebagai alternatif peralatan militer bagi TNI. Betapa tidak. Karena harganya jauh lebih murah daripada Boeing. Hanya 35 juta dolar Amerika per unitnya. Inilah tawaran pertama produk unggulan Rusia sejak runtuhnya Uni Soviet pasca Perang Dingin. 

Tidak heran jika tiga perusahaan penerbangan Indonesia Kartika Airlines, Sky Aviation dan Queen Air, sudah memesan 48 unit pesawat Sukhoi jenis super jet. Belum termasuk lagi 170 unit pesawat yang telah dipesan negara-negara lain. Karena itu, dengan kejadian tragedi Sukhoi minggu lalu, daya tarik terhadap Sukhoi ini bisa bisa akan menurun. 

Pada tataran ini, Boeing memang merupakan pesaing nyata bagi Sukhoi maupun produk-produk saingan mereka. Pada kunjungan Obama yang terakhir, telah ditandatangani kesepakatan dengan Lion Air untuk menjual 230 pesawat Boeing seharga 22 miliar dolar AS melalui Bank EXIM Amerika Serikat. 

Karena itu masuk akal jika Pemerintah Amerika di Gedung Putih, telah melancarkan perang intelijen untuk melumpuhkan saingan-saingan bisnisnya. Tak terkecuali terhadap Jepang yang notabene merupakan sekutu tradisional Amerika. 

Pada 1995, Presiden Bill Clinton telah memerintahkan National Security Agency (NSA) untuk memata-matai perusahaan-perusahaan industry strategis Jepang seperti Toyota dan Nissan ketika sedang gencar-gencarnya perang dagang AS-Jepang.

Pada era sebelum Clinton, Presiden Herbert Walker Bush juga pernah memerintahkan NSA untuk memata-matai Indonesia ketika Presiden Suharto mengadakan perjanjian kontrak dengan perusahan-perusahaan telekomunikasi Jepang. 

Sehingga waktu itu Presiden Bush berbagi informasi intelijen dengan perusahaan-perusahaan multi-nasional Amerika seperti AT & T, pesaing utama Jepang, terkait kesepakatan kontrak Jepang dengan pemerintahan Suharto. 

Akhirnya, akibat tekanan diplomatik dari Washington, kerjasama dengan Jepang terpaksa disesuaikan kembali.



Artikel Terkait
» Indonesia-Cina Siapkan Rencana Kerjasama Industri Pertahanan. Kapan Rusia Menyusul? (Inspirasi Bagi Pemberdayaan Politik Luar Negeri RI)
» CYBERSPACE (Dunia Maya), Medan Tempur Amerika Serikat, Cina dan Rusia (SCO) di Ranah Informasi
» Cermati Tiga Kekuatan Militer Baru di Asia Pasifik: Cina, Jepang dan India
» Vladimir Putin, Russian "hidden warrior (satrio piningit)", the inspiration for Indonesia
» The Scarborough Shoal, Pemicu Ketegangan Baru Filipina-Cina di Laut Cina Selatan



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Drone, Pelanggaran Hukum Kemanusiaan Internasional?
Selain membahas secara umum terkait perlunya memberi makna baru tentang konsepsi Ketahanan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Global Future Institute (GFI) secara khusus menyorot pesawat ...

Meluruskan Konsepsi Ketahanan Nasional NKRI

Pembelian 3 Unit Pesawat Drone Tidak Sesuai Dengan Anatomi dan Kebutuhan Nyata Pertahanan Nasional RI

Presiden Terpilih Jokowi Harus Jelaskan Apa Pentingnya Penggunaan Drone Bagi Pertahanan Nasional RI

Media Mainstream Nasional Pendukung Capres pada Pilpres 2014

Reputasi Buruk Drone UAV Sebagai Mesin Pembunuh

Lihat lainya »
   Arsip
Gagasan Mengisolasi Rusia dari G20, Lumpuhkan Skema Kerjasama Ekonomi ala BRICS bagi Negara-Negara Berkembang

Satelit Maritim Tiongkok di atas NKRI

Jokowi dan Facebook

Roket Amerika Serikat Meledak Saat Diluncurkan

Dilma Rousseff Sang Petarung

Ketua BPK: Saya Ini Doktor Amerika!

Ironi Geopolitik (3)

Usai Jajak Pendapat Presiden Ukraina Bentuk Koalisi

Ini Profil Singkat 34 Orang Menteri "Kabinet Kerja"

“Move on” dan Pembungkaman Hak Berekspresi

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »