English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
No data yet
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Analisis
27-10-2009
Afghanistan
Pertanda Buruk Bagi Tentara Amerika di Afghanistan

Senin 26 Oktober lalu merupakan hari naas bagi Amerika Serikat. 14 warganya tewas secara tragis di Aghanistan. Bukan karena serangan tiba-tiba dari gerilyawan Taliban atau Al Qaeda yang dipimpin oleh Osama bin Laden. Tapi tewas akibat kecelakaan tiga helikopter di sebelah barat Afghanistan. Tujuh di antaranya merupakan tentara dan tiga di lainnya adalah warga sipil.


Ini lagi-lagi merupakan harga sosial yang harus dibayar oleh warga negara Amerika Serikat, yang penderitaannya juga dirasakan oleh para anggota keluarga dan kerabat para korban. Tak terkecuali bagi para orang tua maupun istri dari ketujuh anggota personil militer Amerika yang tewas Senin lalu.

Belum lagi termasuk 26 korban lainnya yang dikabarkan mengalami luka-luka yang cukup parah. Dan 14 di antaranya, merupakan anggota pasukan militer Amerika. 

Hal serupa juga dialami oleh personil militer dari North Atlantic Treaty Organization (NATO), sekutu militer Amerika di Afghanistan. Kali ini terjadi di sebelah selatan Afghanistan. Dua anggota militer NATO mengalami luka-luka cukup serius akibat tabrakan dua helikopter.

Sekadar kebetulan? Bagi orang yang percaya kekuatan Tuhan sebagai Raja Alam Semesta, tidak ada yang namanya kebetulan. Semuanyan mengandung makna dan pesan. Pihak NATO setelah melakukan investigasi, menyatakan secara resmi bahwa kecelakaan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan serangan bersenjata pihak Taliban maupun kelompok-kelompok terorirs lainnya. Karenanya, tragedi tersebut merupakan pesan tersirat bahwa kehadiran militer Amerika di Afghanistan merupakan tindakan yang bisa membawa bencana di kelak kemudian hari.

Di Amerika sendiri,saat ini tekanan untuk menarik mundur pasukan Amerika dari Afghanistan dan Irak semakin menguat. Senator Partai Demokrat John Kerry hari ini mengecam usulan Panglima Operasi Militer AS di Afhanistan McChrystal untuk menambah 40 ribu pasukan Amerika. Menilai Panglima McChrystal melangkah terlalu jauh dan kebablasan. 






Artikel Terkait
» Neokolonialisme ala Land Grabbing
» Misteri Pemberantasan Perdagangan Narkotika Amerika di Afghanistan
» Pemerintah dan Globalisasi: Take It or Die - bagian 2
» Pemerintah dan Globalisasi: Take It or Die - Bagian 1
» Obama's sorcery gives no more influence in Russia
» Antara Chavez dan Ahmadinejad (by Bill Van Auken)
» Perang Ekonomi AS: Ladang Pembantaian tanpa Hingar Bingar (Bagian II)
» Perang Ekonomi AS: Ladang Pembantaian tanpa Hingar Bingar (Bagian 1)
» Barrack Obama dan Watak Dasar Politik Luar Negeri Amerika
» Di Balik Kemitraan Ekonomi Jepang-Filipina
» Buku Tim Weiner Pisau Bermata Dua Bagi Indonesia
» Mengawasi Asia Tenggara Lewat Indonesia



Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Invasi Berakhir, Stimulus Bergulir

Risiko Bayangi Pelonggaran Kredit di AS

Obama Hadapi Tantangan Terberat Mereformasi Perbankan

Alunan Angklung di Kampus Lebanon

60 Tewas Akibat Demam Berdarah di Honduras

Mahmoud Abbas : Israel Harus Bekukan Pemukiman Yahudi

Korut Berusaha Tingkatkan Hubungan Militer dengan China

Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

Perang Gaza, Perang Gas

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved