» Mengupayakan Sebuah Ikatan Bersama Menuju Satu ASEAN, Satu Asia Tenggara » Meneropong Politik Luar Negeri Uni Eropa di Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Eropa » Selain AS dan Rusia, Cina dan Jepang Faktor Penting Penyelesaian Multilateral Konflik Korea Selatan versus Korea Utara » Membaca Di Balik Kudeta Militer Turki Jumat Lalu » Standar Ganda Kebijakan HAM AS di Pelbagai Belahan Dunia, Selayang Pandang


Analisis
13-03-2012
Kehadiran Militer AS di Mindanao dan Kepulauan (Filipina) Sulu dan Putra Jaya (Malaysia), Pertajam Rivalitas AS-Cina di Laut Cina Selatan
Penulis : Hendrajit dan M Arief Pranoto, Peneliti Senior Global Future Institute

Informasi terkini dari jaringan saya di beberapa negara ASEAN, mengabarkan bahwa Pasukan Amerika sudah mulai menduduki Mindanao dan Kepulauan Sulu. Bahkan mulai mengambil posisi di Putra Jaya,  Malaysia.  Perkembangan ini semakin memperkuat prediksi saya dalam beberapa artikel sebelumnya bahwa kehadiran militer AS di Darwin, Australia, bertujuan untuk menyiagakan segala kemungkinan bila terjadi Perang Terbuka antara Amerika Serikat versus Cina di kawasan Asia Tenggara.


Dalam beberapa artikel saya sebelumnya, jelas ada indikasi kuat semakin menajamnya konflik daerah perbatasan antara Filipina dan Cina terkait dengan daerah di sekitar Laut Cina Selatan yang diyakini kaya akan sumberdaya alam seperti minyak, gas dan tambang.

Lalu  apa sisi strategis terkait informasi kehadiran militer AS di Kepulauan Sulu? Mari kita kilas balik sejenak.

Meski selama 400 tahun tidak pernah jadi bagian wilayah jajahan bangsa mana pun, Perjanjian Paris (10 Desember 1898), secara sepihak menyatakan bahwa Sulu dijual oleh Spanyol kepada AS sebagai pemenang. Perjanjian ini membuka pintu invasi militer AS ke Kesultanan Sulu, 19 Mei 1899, tapi tak mengalahkannya. Kekuasaan AS secara sepihak menyatukan Kesultanan Sulu dan Mindanao, sebagai satu wilayah. Sementara Sabah dijadikan bagian dari wilayah Malaysia.

Dari fakta sekilas ini saja, jelas lah sudah bahwa Amerika secara  merasa memiliki hak sejarah untuk menguasai Kepulauan Sulu. Tapi, benarkah Amerika semata-mata bermaksud mengincar Kepulauan Sulu?

Sumber kami dari Kepulauan Sulu, membenarkan bahwa kehadiran militer Amerika di Jolo, Sulu Darul Islam, karena adanya dorongan kuat untuk menguasai Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan. Bila perlu mengambil resiko terjadinya Perang terbuka antara Amerika Serikat dan Cina.

Karena menurut prediksi dan pengamatan dari beberapa network associate di Kepulauan Sulu kepada The Global Review, Amerika sepertinya sangat berkepentingan untuk mengobarkan perang agar bisa lari dari kejatuhan mata uang dolar(krisis ekonomi) di dalam negeri. Dalam kerangka skema strategis ini, menguasai Kepulauan Sulu menjadi salah satu sasaran yang cukup penting.

Namun menariknya, berdasarkan studi pustaka yang dilakukan oleh Tim Riset Global Future Institute, Kepulauan Sulu sejatinya lebih dekat dengan Indonesia daripada dengan Filipina.

Kesultanan Sulu berada di sebuah Pulau Kecil, tak jauh dari Kalimantan Utara, yang merupakan bagian dari Nusantara. Wilayah Nusantara sendiri aslinya meliputi Kesultanan Pattani (Thailand Selatan), sejumlah Kesultanan di Semanjung Malaysia (saat ini tersisa Sembilan Kesultanan), Kesultanan Tumasik, sejumlah Kesultanan di Kepulauan Indonesia, Kesultanan Brunei, dan Kesultanan Sulu sendiri, yang kini menjadi bagian dari Filipina Selatan.

Berdirinya Kesultanan Sulu berlangsung hampir bersaman dengan berdirinya Kesultanan lain di wilayah ini, yaitu di abad ke 13 M.

Sialnya, ada fase dalam sejarah ketika Kesultanan Sulu sendiri sempat memberi ruang pada Amerika untuk menguasai secara geografis daerah tersebut.

Misal, dalam masa transisi kekuasaan AS kepada pemerintahan nasional Filipina, Sultan Jamalul Kiram II, 9 Juni 1921, mengajukan petisi agar Kepulauan Sulu dijadikan Wilayah Permanen AS. Sebuah petisi lain menyusul, Deklarasi Hak dan Tujuan, 1924, menyatakan keinginan rakyat Sulu untuk secara permanen menjadi bagian dari teritori AS atau sebagai 'kesultanan independen dengan sebutan Bangsa Moro. Maret 1935, para pemimpin Sulu mengeluarkan Deklarasi Dansalan dengan tegas menolak aneksasi Tanah Moro oleh Republik Filipina, yang disiapkan kemerdekaannya dan dinyatakan merdeka oleh AS  pada 1946.

Sebutan 'Bangsa Moro' sesungguhnya mengacu kepada beberapa etnis Muslim yang berbeda. Bangsa Moro setidaknya terbagi dua etnis besar, Bangsa Tau Sug, yang mukim di Kepulauan Sulu, dan Bangsa Mindanao, yang mukim di sebagian besar P Mindanao, di sebelah utaranya. Keduanya merupakan Kesultanan Islam yang terpisah (Sulu dan Magindanao). Di luar dua etnis utama ini masih ada berbagai etnis lain, Yakan, Kagayan, Iranum, Kalibungan, serta Suku Bajo, yang sebagian juga hidup di wilayah Malaysia dan Indonesia.

Sultan Muizzudin II didaulat sebagai Sultan pada 19 Maret 2009, sebelumnya namanya adalah Datu Ladjamura bin Datu Wasik Aranan. Pada 17 November 2010 rakyat Sulu telah kembali menegaskan dan menyatakan diri sebagai kesultanan merdeka, Kesultanan Sulu Darul Islam, dengan kota Jolo sebagai ibu kotanya.

Namun saya belum bisa memprediksi seberapa krusial isu kemerdekaan Kesultanan Sulu ini akan memicu semakin rumitnya krisis di kawasan Asia Tenggara. Karena jika informasi sumber the Global Review ini benar, kehadiran militer AS di Kesultanan Sulu tersebut, tetap harus dibaca dalam kerangka persekutuan tradisional AS-Filipina sejak negara Paman Sam ini mengambil-alih Filipina dari tangan Spanyol.

Dalam situasi ketika persekutuan Filipina dan Amerika terbilang cukup solid, maka adanya isu kemerdekaan Kesultanan Sulu justru akan kontra produktif dibandingkan pecahnya Indonesia menjadi 7 bagian sebagaimana rekomendasi yang pernah diajukan oleh Rand Corporation kepada Presiden Bill Clinton pada 1998.

Lantas, seberapa valid informasi kehadiran militer AS di Kepulauan Sulu dan Mindanao serta Putra Jaya, Malaysia?

Selain masih terdapat sedikit masalah ekonomi akibat krisis, persoalan militer Cina ternyata lumayan juga. Bahwa pertahanannya tergantung pada laut lepas, sementara konfigurasi Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur sangat mudah diblokade dari luar.

Misalnya Laut Timur terbentang di antara pulau-pulau Korea, Jepang dan Taiwan, kemudian Laut Cina Selatan lebih tertutup lagi yakni pada bentangan antara Taiwan, Filipina, Indonesia dan Singapura. Keprihatinan besar Beijing saat ini adalah rencana blokade oleh AS yang bakalan berdampak signifikan terhadap perekonomian Cina secara menyeluruh. Maka informasi di atas benar adanya, kemungkinan dalam percepatan blokade Laut Cina Selatan yang akan menggoyahkan perekonomian Cina nantinya. Istilahnya ditebar shock and awe dulu, setelah kepayahan baru digempur. Lagu  lama ala AS memang.

Namun demikian, di tengah semakin memanasnya pertarungan perebutan pengaruh antara AS dan Cina di Luat Cina Selatan dan Selat Malaka, soal Kesultanan Sulu yang ingin lepas dari kedaulatan Filipina kiranya perlu menjadi  perhatian intensif kita bersama.



Artikel Terkait
» AS Semakin Intensif Pecah Belah Persekutuan Strategis Cina-Rusia
» Sengketa Laut China Selatan: Perlombaan di Lautan
» Waspadai Hadirnya Kembali Pasukan AS di Filipina Dengan Dalih Hadang Cina di Laut Cina Selatan
» Potensi Menajamnya Konflik Perbatasan Filipina-Cina Bisa Geser Proxy War dari Timur Tengah Ke Asia Tenggara
» Persekutuan Cina-ASEAN Bendung Amerika di Kawasan Laut Cina Selatan



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Mencari Solusi Damai Korea Selatan-Korea Utara Diilhami oleh Dasa Sila Bandung 1955
Faktor pemantik ketegangan antara Korea Utara versus Korea Selatan yang menyeret campur-tangan Amerika Serikat adalah tenggelamnya kapal perang Cheonan milik Korea Selatan. Begitupun, insiden tersebut hanya ...

Presiden Jokowi Perlu Menyadari Betapa Berbahayanya Indonesia Bergabung Dalam Perjanjian Trans-Pacific Partnership (TPP)

Simpul-Simpul Pemikiran dan Gagasan Penting dari Seminar Bertema “Dialog Kemitraan ASEAN, Momentum Bangun Strategi Keseimbangan di Asia Tenggara.

Datanglah Ke Rusia Sebagai Pemimpin ASEAN dan Kawan Lama Rusia

Geopolitik dan Peta Kekuatan di Kawasan

Meskipun Tidak Sebanyak Cina dan Jepang, Investasi Rusia di Indonesia dan ASEAN Sudah Cukup Besar

Lihat lainya »
   Arsip
Papua, Riwayatmu Kini

“PANCASILA” Bukan Komunisme

Kenapa Luhut Berbohong Soal Penandatanganan Ijin Freeport Oleh Archandra?

RI Tidak Akan Bayar Tebusan kepada Abu Sayyaf

Menanggapi Pembacaan Nota RAPBN 2017 : Mewujudkan Anggaran Negara yang Merdeka dan Berdaulat

Fusi Informasi Intelijen untuk Memberantas Terorisme

Indonesia Bangga Terhadap OPM Yang Menyerah

Menteri Susi: Indonesia Dirampas dengan Penjajahan Gaya Baru

HUT Kemerdekaan RI, 82 Ribu Narapidana Dapat Remisi

Pembunuh Ulama di New York Tertangkap, Berawal dari Kasus Tabrak Lari

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
ISLAM SANGAT MENGHARGAI PLURALISME

------------------------------------------------------------

Judul Buku : Pluralitas Dalam Masyarakat Islam

Judul Asli : At Ta’addudiyah Fi Mujtama’ Islamiy

Penulis : Gamal Al Banna

Pengantar : Prof. DR. Azyumardi Azra, MA

Tebal Buku : 93 halaman termasuk biodata tentang penulis

Peresensi : Otjih Sewandarijatun

------------------------------------------------------------

Lihat Lainnya »