» ISIS: Alat Yahudi Menggapai Israel Raya! » Konflik Ukraina: Perang Dolar Versus Euro? (3/Habis) » Perang Mata Uang (2) » Memotret Motif Lain Konflik Ukraina (Bagian Pertama) » Prabowo-Hatta Jungkir-Balikkan Logika Skenario Revolusi Oranye Ukraina


Hankam
09-01-2012
Kesaksian Kolonel Sudjai, Pilot Angkatan Darat Di Era G-30S (1965-1970)
Misi Penerbangan Spritual Orde Baru - Bagian 4

Konsolidasi Kodam-Kodam Luar Jawa

Walaupun cerita di atas lebih banyak mengulas tentang peranan Siliwangi, Diponegoro dan Brawijaya dalam awal peristiwa G 30 S,  tidak berarti bahwa Kodam-Kodam lain tidak diajak bicara.  Faktanya 2 pesawat GC Penerbad selain tugas di Jawa,  seringkali menerbangi route-route penerbangan ke seluruh pelosok Indonesia yang ada markas Kodamnya.


Bila satu ke Barat; Aceh, Medan, Padang, dan Palembang  yang satunya lagi ke Timur; Denpasar, Makasar, Menado, Ambon, Jayapura.  Kalimantan juga kami terbangi termasuk ke Pontianak, Banjarmasin dan Balikpapan.   Tugas penerbangan sama, yaitu  menyalurkan komando dan penyampaian informasi yang kebanyakan bersifat rahasia,  dari pimpinan AD di Jakarta untuk Panglima-Panglima Kodam di daerah.  Kurir udara barangkali sebutan yang lebih tepat untuk kami.
 
Pada suatu hari saya diperintah Kostrad untuk terbang ke Makassar menyampaikan amplop berisi pesan yang sifatnya sangat rahasia dari Pak Harto kepada Pangdam Hasanudin.  Kami take-off  dari Jakarta jam 05.00 pagi dan sampai di Hasanudin jam 09.00 WIB.  Kedatangan kami sudah ditunggu Jenderal Solihin (Pangdam Hasanudin) di lapangan terbang Mandai.  Beliau adalah seorang Jenderal asal Jawa Barat  yang senang berkelakar.  Saya sudah kenal beliau sebelumnya, saya pernah di BKO-kan pada beliau (Ops Kilat) menumpas  gerombolan DI/TII Kahar Muzakar.  Begitu saya keluar dari pesawat, langsung saja beliau ngedumel.  Katanya:” Wah, baru sekali ini seorang jenderal harus menunggu kedatangan seorang kapten.” Katanya lagi:   “ Bawa apa kamu kemari.  Surat Perintah pencopotan jabatan atau surat penangkapan.”  Kemudian ia membuka amplop yang saya sampaikan, membacanya, kemudian raut mukanya berubah menjadi agak tegang.   Lantas ia berucap, “Aku jadi bingung,   tadi malam Pak Harto pidato radio dan mengatakan berdiri di belakang Bung Karno tanpa reserve.   Tapi baca pesannya yang kamu bawa agak lain.   Jadi harus bagaimana yah.”  Saya jawab:  “yah begitulah Pak, katanya yang benar yang harus diikuti adalah arahan sesuai pesan rahasia ini.  Dan pesan ini sudah diterimakan kepada semua Pangdam di Jawa, dan kelihatannya sudah dilaksanakan di lapangan.”   “ Bener nih”, katanya lagi, “tidak salah,   urang mah sieun salah euy ( Bener nih, tidak salah,  saya takut salah)”.  “Pasti benar Pak.  Sebaiknya bapak ke Jakarta saja,  besok kami jemput.”   Kemudian saya pamit, karena harus segera take-off menuju Surabaya, menjemput Pangdam Brawijaya.

Di Surabaya Jenderal Basuki Rahmat (Pangdam Brawijaya) sudah menunggu  di Juanda. Dalam perjalanan beliau bertanya apa Pak Adji mau membekukan PKI di Jawa Barat.  Saya jawab,  sepengetahuan saya iya.  Kapan, Tanya beliau.  Katanya satu dua hari ini, jawab saya. .  Kemudian beliau tanya tugas saya ke Makasar.  Saya jawab menyampaikan dokumen penting seperti yang pernah diberikan kepada bapak beberapa hari yang lalu.  Bagaimana sikap Pak Solihin, tanyanya lagi.  Saya jawab; pasti mendukung.   Dan beliau manggut-manggut.

Dua hari kemudian kami kembali ke Makassar untuk keesokan harinya menerbangi route Makassar-Ambon-Biak.  Bermalam satu malam di Biak, penerbangan diteruskan ke Manado dan Balikpapan. Dan kembali ke Jakarta keesokan harinya.

Tugasnya sama seperti sebelumnya,  yaitu menyampaikan dokumen  berisikan perintah dan pengarahan Pimpinan AD kepada semua Pangdam yang ada di belahan timur Indonesia.  Isinya sama seperti yang sudah disampaikan kepada Pangdam-Pangdam lainnya.  Reaksi para Pangdam setelah membuka dan membaca dokumen tersebut sama seperti reaksi yang diberikan Pak Solihin sebelumnya;  bingung pada permulannya namun taat setelah merenunginya. Bahkan sebelum dan sesudah membaca dokumen, mereka memberondong kami dengan pertanyaan-pertanyaan politik, karena mungkin beliau-beliau ini menganggap saya tahu banyak tentang apa yang terjadi di Jakarta. Pada umumnya pertanyaan-pertanyaan para Pangdam berputar sekitar status Bung Karno, hubungan Bung Karno dengan  PKI, dan hubungan Bung Karno dengan Pak Harto.  Pertanyaan lainnya adalah sekitar hubungan antar Angkatan; bagaimana sikap AU, AL dan Kepolisian terhadap AD.  Saya tadinya ragu-ragu untuk menjawab.  Namun lama-lama secara tidak sadar saya menjawab semua pertanyaan sejauh saya mengetahui permasalahannya.  Tentu saja karena sempitnya waktu transit,   keterangan yang kami berikan sangat sedikit, kecuali di Biak karena penerbangan hari pertama berakhir di sana,  Pak Bintoro Pangdam Cenderawasih yang datang di Biak dari Jayapura memanfaatkan waktu kami selama menginap di Biak.   Beliau banyak bertanya  tentang berbagai isu politik sama seperti yang diajukan oleh para Pangdam lainnya,   Banyak di antara para Pangdam lebih tertarik pada sikap kontroversil AD, di satu fihak berdiri di belakang Bung Karno tanpa reserve, di fihak lain bertolak belakang dengan Bung Karno dalam masalah PKI.   Namun demikian, demi kekompakan AD sepertinya seluruh Panglima Kodam bersedia mengikuti langkah-langkah yang digariskan pimpinan AD di Jakarta.  Semua diskusi dengan para Pangdam tersebut saya laporkan ke SUAD II  sesampainya di Jakarta.      

Yang juga mengesankan, adalah penerbangan kami ke Tabing Padang, dengan tugas menjemput Pangdam Sumatera Barat Pak Poniman.   Seperti biasanya kami take-off pagi-pagi dari Kemayoran dan sampai di Tabing, Padang kurang lebih jam 10.00 WIB.  Saya temui protokol Kodam dan menanyakan rencana Panglima ke Jakarta.  Protokol mengatakan Panglima rencananya akan take-off jam 11.00 dan kembali ke Padang pada esok siang.   Karena masih ada waktu satu jam, saya memilih menunggu di kantin daripada di ruang tunggu terminal.   Jam 10.45 Panglima tiba di terminal Tabing dan mengobrol di ruang VIP dengan Muspida Sumatera Barat.  Saya tenang-tenang saja minum kopi di kantin menunggu pemberitahuan dari Panglima untuk take-off.  Menjelang pukul 11.30, saya fikir sudah terlambat setengah jam dari rencana take-off, saya memberanikan diri bertanya kepada Panglima jadinya take-off jam berapa.  Beliau bilang,  saya dari tadi sudah siap tapi mana pilotnya.  Saya jawab, saya Pak.  Panglima agak sedikit ragu dan bertanya,  kamu pilotnya. Kamu kan baju hijau (TNI-AD). Betul pak, saya pilotnya.  Dengan sedikit ragu,  Panglima mengikuti saya ke pesawat. Di perjalanan,  saya ditanya atau lebih tepatnya diwawancarai Pak Poniman, soal pendidikan penerbang, soal Penerbad, dan akhirnya situasi politik di Jakarta.

Beliau bertanya masalah Bung Karno,  masalah pembubaran PKI dan reaksi masyarakat, dan reorganisasi ABRI. Saya layaknya seorang Humas AD, menjawab bahwa  Bung Karno bersikukuh pada prinsip Nasakom, jadi mempertahankan PKI sedangkan TNI-AD dan masyarakat beragama tidak menghendaki PKI.  Jalan tengahnya adalah kita menghormati Bung Karno sebagai pemimpin besar bangsa Indonesia,  dan menumpas PKI sebagai penghianat bangsa. Dan banyak obrolan politik lainnya, sehingga saya menjadi heran kepada diri saya sendiri mengapa saya jadi faham politik.  Mungkin karena tiap hari mendengar obrolan politik para jenderal di pesawat atau di SUAD.   Pak Poniman sendiri menyatakan kagum terhadap saya, bagaimana seorang instruktur infanteri bisa menjadi pilot pesawat terbang.  Sekarang malah bisa berkomunikasi dengan bahasa politik.  Saya cuma manggut-manggut, akhirnya beliau sendiri yang mengatakan,  Memang TNI alles kan (TNI apapun bisa).  Penerbangan sedikit kena gangguan cuaca di atas Palembang,  dan setelah keluar dari guncangan beliau kelihatannya semakin yakin bahwa saya seorang pilot.  Kami mendarat di Kemayoran menjelang Magrib,  Keesokan harinya saya antar beliau kembali ke  Padang, dan beliau bilang aku bangga pada kamu dan pada Penerbad.  Dan ucapan rasa bangga itu selalu diulangi setiap kami berjumpa beliau di berbagai pertemuan bahkan setelah beliau sudah menjadi Menhankam.

Imbas G 30 S terhadap Pelabuhan Udara Kemayoran

Bila saya “flashback”  ke keadaan satu hari setelah terjadinya G 30 S/ PKI,  keadaan di bandara internasional Kemayoran cenderung khaos.  Tgl 1 Oktober pagi aktivitas penerbangan sipil masih normal.  Menjelang sore rumor tentang kudeta sudah menjadi pembicaraan umum, dan kepanikan mulai memancar baik dari calon penumpang maupun karyawan.   Tanggal 2 Oktober pagi surat kabar sudah mengkonformasi akan adanya operasi militer besar-besar-an terhadap pasukan-pasukan pendukung G30 S  Juga secara eksplisit PKI dituduh sebagai otak gerakan. AU-pun dikatakan berada di fihak G 30 S.

Sejalan dengan pembentukan Peperpu (Penguasa Perang Pusat) akibat kudeta oleh G 30 S/PKI, di Pelabuhan Udara Internasional Kemayoran dibentuk pula Peperpu Kemayoran, yang dikepalai seorang perwira menengah AD sarjana hokum.  Namun karena ia awam dalam masalah-masalah penerbangan, ia meminta saya untuk menjadi nara sumber dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul di lapangan terutama yang berkaitan dengan manajemen pelabuhan udara,  izin terbang, perlakuan terhadap  pesawat militer asing,  custom  dan banyak lagi. 

Yang paling aktual, adalah bagaimana menghadapi AU yang per  instruksi Kostrad perlu diawasi,terutama yang ada di pelabuhan internasional Kemayoran.  Latar belakang dari keluarnya instruksi ini adalah ancaman yang dilontarkan tokoh G 30 S di Halim pada tanggal 2 Oktober 1965, yang akan membom Markas Kostrad di Merdeka Timur.  Menyusul kemudian instruksi baru dari Kostrad kepada Peperpu untuk menggrounded semua pesawat MIG AU di Kemayoran.  Itupun dikeluarkan setelah pada pagi harinya telah terjadi pelarian beberapa MIG dari Kemayoran ke Madiun,  Saya sendiri ikut mengawasi pelaksanaan instruksi tersebut dan  melihat sendiri situasi di hanggar MIG yang berada di ujung landasan sebelah utara.  Dari pengamatan saya,  beberapa MIG masih berada di Hanggar, dan dua MIG berada di taxi-way yang tadinya akan diterbangkan atau dilarikan dari Kemayoran.  Hanya saja landasan pacunya sudah di-barikade oleh pasukan Arteliri Sasaran Udara (ARSU)  dengan mobil dan truk Arsu serta mobil lapis baja Batalyon Kavaleri.   Komandan Peleton Arsu melaporkan pembarikadean itu sebagai tindakan terpaksa, karena penerbang-penerbang AU telah mengabaikan larangan mereka (Arsu) untuk menerbangkan pesawat dari Kemayoran.   Komandan Arsu kemudian menyarankan  dan meminta izin saya untuk menggembosi ban-ban pesawat MIG kalau perlu dengan bayonet atau ditembak peluru.  Permintaan itu saya tolak dan mengatakan kepadanya bahwa dalam melaksanakan perintah atasan,  siapapun dilarang merusak asset militer, apakah itu asset AU, AL atau AD,  Karena asset tersebut adalah asset negara yang harus dijaga baik-baik.  Saya katakan bila ada upaya melarikan pesawat, tangkap saja orangnya.  Kemudian saya perintahkan barikade di landasan pacu supaya dipindahkan kedepan pesawat-pesawat MIG yang masih ada di taxi-way.   Saya juga memberitahukan mereka, bahwa landasan pacu masih digunakan baik oleh pesawat-pesawat kita (AD) maupun pesawat fihak lain seizin Peperpu.  Airport secara resmi masih dibuka dan tidak ditutup.  Kegiatan Tower-pun  tetap dipertahankan untuk melayani pendaratan,  dan penerbangan yang melintas Jakarta dan sekitarnya.

MISI TERBANG TEMPUR/MISI RAHASIA
(Combat Flight Mission/Secret Mission)


Sejak hari pertama peristiwa G 30 S,  kami sudah mendengar bahwa Panglima Kostrad Jenderal Suharto akan menggunakan pesawat Grand Commander.  Kapan dan kemana kami tidak tahu.   Walaupun belum pasti,  pesawat sudah disiapkan dan selalu siap melaksanakan misi apapun yang diperintahkan SUAD atau Kostrad.   Beberapa hari setelah peristiwa G 30 S, kalau tidak salah pada   tanggal 3 Oktober 1965 jam 13.00,   saya ditelepon Kostrad untuk menyiapkan pesawat dan crew sebaik-baiknya,  karena Pak Harto akan menggunakannya.  Misi kali ini sangat rahasia dan tidak boleh dibocorkan pada siapapun juga, termasuk kepada crew lainnya dan personil staf di hanggar. Itulah sebabnya Kostrad tidak menjelaskan kapan penerbangan itu dilakukan, kemana tujuannya dan siapa saja rombongannya.   Penjelasan detail akan diberikan oleh perwira intelijen Kostrad beberapa menit sebelum pemberangkatan sesungguhnya.

Tanda-tanda akan adanya kehadiran Panglima Kostrad adalah dengan  datangnya tim security dan intelijen di hanggar tidak lama kemudian.   Tim sekuriti berpakaian preman langsung menyebar ke seluruh penjuru hanggar Kemayoran melakukan pengamanan fisik.   Sedangkan tim intel Kostrad dan SUAD I  memberikan briefing kepada kami (penerbang, teknisi dan staf Penerbad) tentang rencana penerbangan Pak Harto dan tindakan pengamanan sebelum, selama dan sesudah take off.   Jam pemberangkatan dari Kemayoran menurut rencana sementara ditetapkan jam 17.00.   Pesawat yang digunakan Grand Commander A 2004,  yang memang selalu siap dengan tangki penuh untuk terbang 5,5 jam.   Penumpang terdiri dari Pak Harto dan beberapa Asistennya  dengan tujuan Ahmad Yani Semarang Jawa Tengah.   Rencana terbang dibuat bersama, saya dan pejabat intel, sambil mendiskusikan hakekat ancaman terhadap route yang akan diterbangi.  Laporan intel menyebutkan ancaman paling mungkin terhadap flight Pak Harto adalah penyergapan (intersep) oleh pesawat tempur (oknum) AURI atas hasutan PKI.  Intel mengingatkan bahwa pada tanggal 2 Oktober yang lalu, tokoh-tokoh mereka di Halim mengancam akan membom Markas Kostrad sebagai perlawanan mereka terhadap AD.  Ancaman lainnya, berupa ancaman tidak langsung terhadap penerbangan menuju Jawa Tengah datang dari radar AU di Kalijati.  Bisa saja seandainya pesawat GC tertangkap radar mereka, MIG  mereka akan mengintersepnya.  Apalagi bila mereka tahu siapa VIP yang ada didalam GC.   Untuk menghindar dari tangkapan radar,  pesawat harus terbang rendah dengan ketinggian paling tinggi 1000 feet di atas air laut.  Untuk kerahasiaan selama penerbangan tidak ada komunikasi radio dengan siapapun juga, termasuk dengan tower,  Perwira intelijen juga menyarankan kami untuk  melakukan pengelabuan arah terbang.  Di tempat tujuan (Ahmad Yani) sama sekali tidak terdapat fasilitas apapun, tidak ada komunikasi dan tidak ada lampu landasan (runway lights).  Landasan akan diterangi oleh lampu-lampu jeep RPKAD,  dinyalakan setelah pesawat melakukan “overhead”.   Setelah mendarat pesawat berhenti di ujung landasan, tidak perlu taxi ke Apron.  Pak Harto dan rombongan akan dijemput dengan kendaraan, dan pesawat segera mengudara kembali ke Jakarta.   Penjemputan dilakukan oleh GC lainnya  A 2003 pada jam 09.00 di Ahmad Yani.

Sambil menunggu kedatangan rombongan VIP,  kami berdiskusi dengan orang-orang intel tentang keamanan terbang dan kemampuan Penerbad di hari-hari mendatang dalam rangka operasi penumpasan G 30 S/PKI.  Dilihat dari segi kwantitas,  asset Penerbad boleh dikatakan mencukupi.  Kompi Fixed Wing (sayap tetap) terdiri dari 8 pesawat:  1 Beaver (DHC I), 2 Cessna L 19, 1  Beachcraft,  2 Grand Commander,  dan 2 Dakota (DHC 3).   Kompi Rotary Wing (Helikopter) terdiri dari 4 Alluet II buatan Prancis dan 16 MI-4 buatan Russia.   Mungkin dari segi kualitas SDM,  terutama  penerbang agak diragukan mengingat minimnya jam terbang yang mereka miliki. Sedikit sekali yang berpengalaman.  Sebagian besar dari penerbang yang siap waktu itu, adalah penerbang-penerbang yang baru lulus dari pendidikan penerbang di Russia dan AS, jadi jam terbangnya rata-rata sedikit.   Kondisi tersebut sudah diingatkan kepada pimpinan AD termasuk resiko yang harus ditanggung. Namun reaksi para jenderal biasa-biasa saja.  Bahkan dapat dikatakan pada umumnya komentar-komentar beliau telah membesarkan hati para prajurit khususnya crew.   Antara lain dikatakannya bahwa TNI itu sejak kelahirannya hanya bermodalkan keberanian sedangkan dari segi profesi pada umumnya kurang berpengalaman.  Kalau harus menunggu pengalaman,  keburu kalah perang.  Komentar-komentar demikian telah meningkatkan motivasi anak-anak Penerbad untuk tidak ragu menjalankan tugasnya.  Yang pasti, tidak perlu takut salah.   Teknisi-teknisinya lebih lumayan, mereka adalah hasil didikan PALAD (Peralatan AD) yang meneruskan pendidikan spesialisasinya di AS dan Russia,  Mereka merupakan orang-orang praktek dan banyak yang bersertifikat multi pesawat (multi-typerating).
 
Ngobrol begitu lama, waktu berputar terus. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 19.00,  namun rombongan belum juga datang. Tidak lama kemudian datang seorang kurir menyampaikan rencana pemberangkatan terbaru (ETD) adalah pukul 21.00, berarti mundur 2 jam dari ETD pertama jam 19.00.   Ternyata ETD baru itupun dilampaui,  tanpa kabar perubahan.   Kami agak gelisah.  Untuk mengurangi kegelisahan saya menyuruh crew bermain pingpong dan main gapleh.

Pukul 02.00 pagi piket memberitahukan kami, bahwa Pak Harto dan beberapa jenderal sudah berada di pesawat.    Rombongan VIP terdiri dari Pak Harto bersama beberapa jenderal,  ajudan dan pengawal.  Semua  berseragam loreng-loreng dan bersenjata pistol dan  AK 47.  Crew-pun masing-masing dilengkapi senjata AK 47.    Acara seremonial tetap dilakukan.  Saya sebagai Kapten Pesawat melapor kepada Panglima Kostrad tentang kesiapan melakukan misi penerbangan.  Sementara itu perwira operasi Penerbad menelpon ke ATC (Air Traffic Control) Kemayoran akan adanya “special flight” Penerbad dengan tujuan “unknown” (rahasiah).    Waktu pemberangkatan (ETD) sekarang, segera  dan minta lampu-lampu landasan pacu (runway lights)  dinyalakan.  Seperti itulah prosedur darurat penuh kerahasiaan yang disepakati bersama antara ATC dan AD.  Dalam keadaan normal tentu saja komunikasi dilakukan oleh pilot langsung dengan tower.   Setelah ada tanda dari perwira operasi kami, kami gerakkan atau taxi pesawat untuk “line up” di runway 35  dan langsung take-off ke arah utara (laut), tanpa berkomunikasi (radio silence).   Pesawat, kami bawa naik ke ketinggian 1000 feet,  menuju Pulau Adam.   10 menit setelah melewati Pulau Adam, kami belok ke arah Timur (arah 90 derajat) selama kurang lebih 30 menit.   Radar cuaca (weather radar) kami nyalakan, lumayan untuk mapping. Di bawah kami adalah hamparan laut Jawa yang kelam pekat.  Selama itu, ketegangan sangat dirasakan di dalam pesawat.  Tegang karena terbang rendah dalam keadaan malam gelap gulita.  Dan tegang karena khawatir terdeteksi radar Kalijati dan mungkin radar-radar lainnya yang tidak diketahui.  Posisi kami terhadap pantai Jawa Tengah kami pantau melalui radar cuaca.  Radar cuaca pesawat GC benar-benar menjadi alat yang sangat vital untuk misi-misi kemudian.    Walaupun bukan alat navigasi tetapi paling tidak bisa untuk “mapping”.  GPS (Global Positioning System) waktu itu belum dikenal.  Setelah gambar radar menunjukkan posisi pesawat tegak lurus dengan garis pantai Tegal,  kami sedikit demi sedikit menepi ke pantai Pekalongan.  Setelah itu ketinggian kami naikkan ke 2500 feet sebelum mencapai posisi “five minutes out” dari Semarang (sekarang Ahmad Yani).    Kami harus terbang “overhead”, sesuai prosedur yang dibuat orang-orang intel.  Dengan maneuver demikian, kami akan diidentifikasi sebagai pesawat kawan,  dan  lampu-lampu Jeep pengganti “runway lights” akan dinyalakan.  Sebaliknya bila lampu-lampu mobil tidak menyala juga setelah “overhead”, berarti lapangan terbang masih dikuasai oleh pasukan Kolonel Sahirman, Ketua Dewan Revolusi Daerah yang sejak tanggal 1 Oktober 1965 menduduki Semarang termasuk Kodam.  Bila demikian, pesawat harus segera memutar haluan untuk kembali ke Jakarta.  Namun,  ternyata kami melihat lampu-lampu menerangi landasan, maka kami segera membelok ke “downwind”  terus ke “final”  dan mendarat dari arah laut dalam kegelapan subuh.  Kami mendarat dengan mulus jam 03.15 pagi, tanggal 4 Oktober 1965.  Sesuai “instruksi”  kami berhenti di ujung landasan,  Pak Harto dan rombongan turun dari pesawat,  menyalami kami dengan ucapan “bagus”,  lalu naik jip yang sudah menunggu, keluar bandara dengan pengawalan ketat dari RPKAD. 

Kami sempat mengucap syukur ke hadirat illahi karena mendarat dengan selamat.  Setelah itu pesawat kami putar 180 derajat dan mengambil ancang-ancang untuk segera take-off ke arah laut, selanjutnya kembali ke Jakarta.  Di Jakarta saya mendapat informasi dari fihak intelijen bahwa Pak Harto telah menginspeksi pasukan Kodam Diponegoro yang berasal dari Magelang, Yogya dan Solo yang telah berhasil menduduki kembali Semarang dan sekitarnya dari pasukan Suhirman dan Usman.   Pak Harto kembali ke Jakarta dijemput GC lainnya Army-2003.

 Sebagai catatan:  pengalaman terbang malam itu,  bagi saya dan crew GC Army 2004, merupakan VIP flight yang pertama yang dilakukan  pada malam hari,  tanpa komunikasi radio dan tanpa bimbingan navigasi apapun.  Benar-benar seperti misi “blackflight”. 

MISI-MISI LAINNYA


Setelah misi penerbangan pertama  Pak Harto yang dianggap sukses dan efektif dalam melaksanakan fungsi komando dan kendali oleh pimpinan AD,  di hari-hari berikutnya jadwal penerbangan menjadi semakin padat.  Penerbangan Pak Harto yang dilayani 2 GC dan kemudian ditambah 1 Beachcraft juga meningkat sejalan dengan meningkatnya jabatan Pak Harto, dari semula  Pangkostrad, lalu Panglima AD, dan Pangkopkamtib.  Pak Harto semakin sering menggunakan  GC untuk keperluan inspeksi ke daerah-daerah operasi di Jawa Tengah dan Timur.   Antara lain yang saya ingat beliau saya terbangkan kedua kalinya ke Ahmad Yani sekitar tanggal kematian Aidit pada bulan Nopember 1965,  dan  ke Juanda pada waktu gencar-gencarnya operasi Trisula di selatan Blitar.  Beliau juga sering turun langsung mengawasi proyek padat karya di berbagai daerah di Jawa Timur bersama Menteri Pertanian Jenderal Sucipto.   Selain Pak Harto,  banyak pejabat Negara yang memanfaatkan GC untuk berbagai keperluan dinas.  Pak Subhan (Alm) tokoh NU dan MPR(S) termasuk tokoh Negara yang diberikan prioritas oleh AD untuk menggunakan GC.

MISI KELUARGA

    Pada suatu hari, setelah Pak Harto diangkat oleh MPR-S sebagai Pd. Presiden  RI pada bulan Maret 1967,  Pak Harto beserta Ibu dan putra-putri  melakukan penerbangan ke Solo, mungkin berziarah   Ikut serta dalam rombongan ini Jenderal Humardani,  yang di kalangan Penerbad dikenal sebagai Kas Tin atau Kepala Staf Kebatinan sesuai fungsinya sebagai penasihat kebatinan (spiritual)  Presiden.   Saya didampingi oleh Lettu  Dolf Latumahina sebagai ko-pilot dan teknisi I Made Reka Giri.  Secara protokoler Pak Harto yang menjabat Pd Presiden  sudah seharusnya menggunakan pesawat AU dan menerima penghormatan seremonial pada waktu kepergian maupun kedatangan di suatu tempat.   Namun seperti juga pendapat umum, bahwa Pak Harto sangat kurang nyaman dengan segala acara protokoler dan sepertinya masih merasa “belum terbiasa” dengan jabatan barunya.  Oleh karena itu, tidak mengherankan bila banyak kunjungan kedinasan beliau ke daerah dilakukan secara incognito.  Apalagi penerbangan yang sifatnya kekeluargaan seperti penerbangan ke Solo kali ini

    Pagi itu kami seperti biasa kami mengisi “flightplan”  di Base-Ops Kemayoran dengan tujuan Jogya,  sesuai permintaan Pak Harto. Namun yang tidak biasa adalah “situasi” di ruang ATC dan “base-ops” Kemayoran sendiri,  yang mendadak menjadi sibuk setelah mengetahui Pak Harto akan melakukan Penerbangan ke Yogya.   Walaupun sudah saya jelaskan kepada Base-ops bahwa penerbangan ini sifatnya incognito, dan Pak Harto tidak ingin ada upacara apapun.  Tetapi ATC rupanya tidak mau mengambil resiko,  dan landasan Kemayoran ditutup beberapa jam untuk penerbangan umum.  Kejadian ini tidak diketahui Pak Harto.   Tepat pada waktunya kurang lebih jam 08.00 pagi,  rombongan Pak Harto naik ke pesawat GC A-2004 di hanggar Penerbad Kemayoran, bukan di VIP Kemayoran.  Kemudian kami take-off menuju Jogyakarta.   Cuaca sangat baik sehingga pemandangan sepanjang perjalanan sangat dinikmati oleh seluruh keluarga.  Jalur penerbangan sengaja kami ambil jalur selatan, di atas Parahiangan, Purwokerto, pinggiran Gunung Slamet dan langsung ke Jogyakarta.   Di atas Banyumas kami diminta konfirmasinya oleh Tower Adisucipto, bahwa VIP kami adalah Pd. Presiden. Setelah konfirmasi dan mengecek ETA Adisucipto,  kami diberitahu tentang kesiapan acara penyambutan di Adisucipto.   Komunikasi kami ikut didengar Pak Harto yang kursi tempat duduknya berada di paling depan di belakang kokpit.   Reaksi beliau sangat jelas,  beliau tidak menghendaki seremoni.  Kemudian beliau meminta saya meralat tujuan penerbangan menjadi Adisumarmo Surakarta menggantikan Adisucipto Jogyakarta.  Waktu saya sampaikan ke tower Adisucipto, terjadi kepanikan, mengingat Adisucipto sudah siap menerima kedatangan Pd Presiden termasuk undangan yang sudah siap di lapangan.  Melalui radio Adisucipto mengatakan sangat menghawatirkan pengalihan penerbangan tersebut karena Adisumarmo pasti tidak menyiapkan diri untuk menerima kedatangan Pd Presiden.    Pengamanan Pd. Presiden dan sarana angkutan dari Bandara ke Surakarta, akan menjadi masalah.  Namun Pak Harto mengatakan cukup pinjam kendaraan piket saja, bila jemputan dari rumah (di Solo) nanti belum tiba di Bandara.  Sambil tersenyum Pak Harto mengatakan tidak perlu jadi masalah.

Saya hanya bisa membayangkan bagaimana kecewanya Komandan Pangkalan AU Adisucipto atas pembatalan tersebut dan bagaimana paniknya Komandan Pangkalan AU Adisumarmo menghadapi kedatangan Pd Presiden yang tidak direncanakan sebelumnya.   Sewaktu kami “overhead” Adisucipto kami masih melihat pasukan kehormatan yang tetap siap di lapangan.  Betapa kecewanya mereka, mereka pasti sudah menunggu lama, tetapi upacara tidak jadi.  Setelah memindahkan frekwensi radio ke tower Adisumarmo saya minta izin mendarat.  Tidak sampai sepuluh menit, pesawat GC Army 2004 saya daratkan dengan mulus dilandasan pacu Adisumarmo.  Tidak ada penyambutan resmi, kecuali Komandan Pangkalan seorang Mayor AU dan beberapa Pol AU.   Mobil penjemput dari rumah keluarga di Solo-pun tentu saja belum tiba,  namun Komandan Pangkalan sudah menyediakan sebuah VW Kombi untuk rombongan dan satu Jip Gaz untuk barang-barang.  Demi untuk keamanan,  Pak Harto dan keluarga segera meninggalkan Bandara dikawal Jeep Gaz Pol AU.   Saya sendiri segera kembali ke pesawat untuk melanjutkan perjalanan ke Ahmad Yani Semarang.    Dari kejauhan saya melihat Pak Sudjono Humardani sedang sibuk mengeluarkan koper-koper dari bagasi dibantu mekanik pesawat.  Instink saya mengatakan Jenderal ini tidak benar,  untuk itu saya ingin menggantikannya.   Namun dicegah oleh kolega saya Dolf Latumahina.  Katanya ini barang langka, biarkan saja ia membongkar muatan pesawat, agar ia walaupun seorang jenderal bisa tetap menghayati amanat penderitaan rakyat.   Selain itu,  itulah pengabdian Pak Sudjono kepada Pak Harto secara komplit.   Saya tahu ia (Dolf) bercanda dan mempersilahkan saya menggantikan Pak Sudjono menyelesaikan bongkar muat barang dari pesawat ke Jeep Gaz AU.   Sementara itu mobil penjemput dari rumah keluarga plus regu pengawal POM dan Polisi sudah tiba di lapangan.  Tentu saja sudah terlambat.  Komandan POM mengatakan bahwa pesawat akan dijaga selama Pak Harto berada di Solo.  Namun saya menjelaskan kepada Dan POM,  penjagaan tidak diperlukan karena pesawat akan menginap di Ahmad Yani Semarang “home-base”nya Penerbad.  Memang sudah menjadi prosedur tetap Penerbad,  bahwa pesawat yang perlu “RON” (remain overnight) atau bermalam di Jawa Tengah atau sekitar Semarang, diharuskan “RON” di Ahmad Yani.  Ini demi keamanan, yang waktu itu masih rawan sisa-sisa G 30 S/PKI.  

Sesampainya di Ahmad Yani, kami diberitahu bahwa Pak Harto dan keluarga akan kembali ke Jakarta besok sore hari dari Pangkalan Adisucipto, Yogya.   Jadi kami harus terbang ke Adisucipto besok sebelum sore.  Untuk amannya,  keesokan harinya kami take-off pagi-pagi sekali dari Ahmad Yani dan sebelum pukul 8 pagi pesawat GC A-2004 sudah siap di depan ruang VVIP Adisucipto.  Rupanya “general rehearsal”  pelepasan Pak Harto sedang berjalan.  Kami mencoba bicara dengan Dan Lanuma bahwa Pak Harto agak kurang “menerima” segala tetek bengek upacara.   Namun Dan Lanuma mengatakan; diterima atau tidak saya hanya melaksanakan tugas protokoler yang diatur dalam peraturan tentara. 

Akhirnya memang Pak Harto harus melalui prosesi upacara pelepasan dari pasukan kehormatan, walaupun terbilang singkat.  Setelah selesai upacara kami take-off pada jam 15.00 dari Adisucipto, sesuai “petunjuk” dari Pak Sudjono Humardani.  Demi keberkahan, beliau minta saya agar mendarat di Kemayoran ba’da Asar sebelum Magrib.  Seperti biasanya setiap beliau terbang dengan pesawat kami, beliaulah yang menentukan kapan pesawat harus berangkat, karena beliau jugalah yang memberitahukan kami tentang kondisi cuaca yang akan kami hadapi.  Walaupun kami hargai dan taati nasihatnya, namun informasi formal dari ATC dan Meteo,  kami anggap lebih “reliable” dan menjadi pegangan.  Bahkan kawan saya Dolf Latumahina samasekali tidak mau “menggubris” ramalan-ramalan Pak Sudjono, karena dianggap mistik.  Bagi saya tidak ada masalah, yang penting semua masukan baik dari Pak Sudjono maupun ATC adalah untuk keselamatan semua yang terbang dengan pesawat ini. Penerbangan akan “smooth”,  awan akan membuka sendiri bagi jalur pesawat,  dan kita aman sampai di Jakarta, kata Pak Sudjono.  Ramalannya memang benar atau kebetulan benar.  Di bawah lembayung sore hari, saya daratkan pesawat di runway 27  dengan crosswind ringan dari kanan.  Pendaratan agak “bounched”  dan saya minta maaf, dibalas dengan senyuman oleh Pak Harto.  Kami berpisah di hanggar Penerbad dan pulang masing-masing.  Pengemudi saya mengatakan ada oleh-oleh dari ibu Tien untuk ibu Sudjai di rumah.   Oleh-olehnya berupa beberapa pendil Gudeg Bok Brek dan beberapa potong kain batik.   Tentu saja istri saya sangat gembira mendapat oleh-oleh dari ibu Negara.   Dan ternyata oleh-oleh dari ibu Tien bukan hanya sekali dua kali tetapi setiap pulang dari penerbangan luar kota selalu ada oleh-oleh untuk orang rumah.  Kalau tidak diserahkan di lapangan terbang, sopir Cendana yang mengantarnya ke rumah, kadang-kadang ajudan Presiden.   
      
MISI PENERBANGAN SPIRITUAL

Asisten Pribadi (Aspri) Presiden (Spiritual)

Tidak dapat disangkal, hanya dalam beberapa tahun saja pemerintah Orde Baru telah mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat.  Inflasi yang tadinya berkisar sekitar 600 % setahun telah berhasil ditekan di bawah 10 %.  Laju pertumbuhan ekonomi dari stagnan dipacu menjadi sekitar 7 % / tahun dan pendapatan per capita dari dibawah US $ 100.- menjadi US $ 500.-   Kemajuan  itu adalah hasil pembangunan yang terencana dengan baik. Dalam membangun Negara, Pak Harto tidak hanya mengandalkan ahli-ahli ekonomi sebagai penasihatnya, tetapi iapun didampingi oleh penasihat-penasihat spiritual.  Bila nama-nama Sumarlin, Subroto, Emil Salim,  Hasim Djojo-hadikusumo muncul sebagai penasihat-penasihat ekonomi, maka nama-nama Romo Diyat dan Sudjono Humardani adalah penasihat-penasihat spiritual.  Sumarlin cs  menciptakan pembangunan kasat mata,  sedangkan Sudjono cs menciptakan pembangunan moral dan moril.  Analisis para pakar sosial berpendapat kedua-duanya (tokoh-tokoh ekonomi dan spiritual) sangat penting peranannya dalam mendampingi Pak Harto.  Negara menjadi maju, dan sejajar dengan negara-negara Asia lainnya bahkan menjadi kekuatan ekonomi Baru.     Membangun kekuasaan tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik; gedung, jalan tol, pelabuhan dan lain sebagainya, tetapi juga perlu membangun jiwa, semangat dan batin para pemimpin,  Pembangunan komprehensip akan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang cerdik yang didasari kepercayaan diri yang kuat.

Peran Pak Sudjono dalam mengemban misinya, pada awalnya tidak terasakan oleh kami.   Yang kami ketahui permintaan penerbangan oleh Kostrad untuk Pak Sudjono,  semakin hari semakin meningkat.  Kami  berfikir karena pesatnya pembangunan, jumlah misi terbang Penerbad-pun meningkat, baik misi untuk kepentingan militer maupun non-militer.  Hanya saja diantara misi-misi yang banyak itu  terselip misi penerbangan yang semula kami anggap aneh.   Pada umumnya misi penerbangan VIP, dimulai dan diakhiri dengan seremoni atau paling tidak penyambutan resmi oleh pejabat daerah atau mitra kerja di tempat tujuan,  kecuali misi penerbangan yang sifatnya rahasia atau dirahasiahkan.   Namun misi penerbangan yang saya anggap aneh ini,  dilakukan tanpa hingar bingar dan di tempat tujuan tidak ada acara penjemputan resmi, baik dari pejabat setempat maupun dari mitra kerja.   Hal inilah yang aneh,  padahal misi ini dipimpin oleh seorang Jenderal/ Aspri Presiden,  yaitu Jenderal Sudjono Humardani.   Karena tidak hangar-bingar, semula kami kira misi ini misi intelijen,  namun kalangan intelijen sendiri membantah hal ini.  SUAD  II-pun yang kami lapori ikut bertanya-tanya tentang misi yang ini. Lama-kelamaan  ketahuan juga bahwa misi Pak Sudjono adalah misi yang berkaitan dengan masalah spiritual, suatu operasi non-fisik atau meta-fisika dalam rangka memperkuat kepemimpinan Pak Harto, agar  kuat jasmani dan rohani.  Namun yang usil menamakan misi ini sebagai misi kebatinan, bahkan yang sinis menamakannya sebagai misi perdukunan.  Lawan politik Orde Baru mencap kegiatan Pak Sudjono ini sebagai kegiatan kelenik.  Di Penerbad  beliau disebut sebagai Kastin atau Kepala Staf Kebatinan, 

Ada yang mengatakan tokoh paranormal sesungguhnya adalah Romo Diyat, dan Pak Sudjono memanfaatkannya.   Di samping kedua tokoh tersebut ada perwira menengah lainnya yang sangat berperan dalam misi ini,  yaitu Mayor Supar.    Dia merupakan murid Romo Diyat yang paling dipercaya.  Dia ikut menyebarkan ajaran Romo kepada yang berminat.   Beberapa penerbang dan mekanik telah dipengaruhinya dan menjadi pengikut Romo, antara lain Kapten Karno Kusumo dan Lettu Widiatmo.   Sayangnya kedua penerbang tersebut telah gugur:  Karno Kusumo  dalam kecelakaan Cessna di Pontianak, sewaktu terbang malam dari (Singkawang) ke Pontianak, sedangkan Widiatmo dalam kecelakaan Helikopter juga sewaktu terbang malam dari Jogyakarta ke Semarang.  

Siapa sebenarnya Pak Sudjono Humardani yang Jenderal ini.   Menurut beberapa catatan Pak Sudjono muncul pada waktu terjadi kegoncangan pada tanggal 1 Oktober 1965  yang dikenal dengan peristiwa G 30 S/PKI.  Dalam buku “Jenderal Sumitro” KH Ramadhan menulis tentang Pak Sudjono Humardani, sebagai orang yang sangat membantu Pak Harto  dengan kemampuannya di bidang spiritual.   Nasihat-nasihatnya yang sifatnya spiritual, selalu diterima baik oleh Pak Harto, karena mungkin menyejukkan.   Ritual spiritualnya termasuk selamatan,  mengadakan pertunjukan wayang dengan tema tertentu yang disesuaikan dengan situasi saat itu dan semangat kepemimpinan Pak Harto.   Ia juga diberitakan sering mengadakan tumbal di tempat-tempat keramat.

Bagi orang lain cara-cara ritual seperti itu, telah mengundang kritikan dan cemoohan sebagai tindakan tidak rasional, bahkan dianggap berbau klenik, serta bertentangan dengan prinsip-prinsip Orde Baru yang pragmatis. 

Selama kami melayani penerbangan untuk Pak Sudjono,  memang banyak ditemukan keganjilan-keganjilan  terutama dalam pelaksanaan ritualnya, antara lain ritual sewaktu mengambil Topeng Gajah Mada di Pura Besakih, kunjungan ke Petilasan Brawijaya di Jawa Timur,   misi pengambilan Kembang Widjayakusumah  dari Nusa Kambangan,  dan misi  Membuat Pagar Spiritual di sekeliling Indonesia.   Namun baik Pak Sudjono maupun Pak Supar selalu mencoba meyakinkan kami, bahwa semua usaha spiritual dimaksudkan untuk mencari berkah bagi kepemimpinan Pak Harto dan  keselamatan Orde Baru.   Ritual boleh saja berbeda dengan kebiasaan agama Islam, namun tujuannya tetap mencari rahmat dari Alloh Subhana Wa Taala. Saya mendengar sendiri dari orang-orang dekat Pak Harto, memang Pak Sudjono Humardani telah berhasil mengembangkan kepercayaan diri Pak Harto sehingga mampu mengatasi situasi yang penuh dengan ketidak-pastian dan ancaman.  Katanya cara-cara seperti itu (cara spiritual)  bagi orang Timur sangat penting, yaitu di samping percaya kepada Tuhan YME, melengkapi diri dengan macam-macam ilmu lainnya, seperti ilmu untuk memperkuat diri (ilmu kebal) dan ilmu kebathinan melalui semedi, nyepi dan sebagainya. Tapi katanya tujuan akhirnya adalah tetap bersujud ke Khadirat Illahi meminta keselamatan dan keberkahan.   Jadi Pak Sudjono adalah pelengkap bagi mendukung kepemimpinan Pak Harto.  Bahkan banyak yang percaya, bahwa semua upaya Pak Sudjono mencerminkan pengabdian total bagi sang Pemimpin dalam hal ini Pak Harto.  Tiada lain.   Namun issu lain yang menyebar waktu itu,  Pak Sudjono dengan bantuan ilmu yang dipunyai Romo Diyat, dipersiapkan untuk menghadapi “spiritual warfare”  atau bahasa populernya perang klenik  yang dikembangkan oleh musuh-musuh Orde Baru, oleh PKI dan oleh pendukung-pendukung Bung Karno.  Bung Karno sendiri dipercayai memiliki kekuatan supranatural yang canggih.

Perang Kebatinan bukan alasan yang dicari-cari.    Aliran Kebatinan sudah menggejala  menjelang dan sesudah G 30 S,  dan  muncul di berbagai daerah.  Tidak hanya di Jawa tetapi juga di Sumatera dan daerah-daerah lain.  Di Jawa Tengah aliran klenik Mbah Suro sangat terkenal dengan pusat kegiatannya di Randublatung, Blora.  Daerah terpencil itu sejak lama dikenal sebagai basis PKI,  dan masyarakatnya sangat percaya pada hal-hal yang bersifat klenik dan takhayul.  Daerah sekitar Alas Ketonggo gunung Lawu dipercayai masyarakat sebagai tempat angker yang dihuni jin dan lelembut.  Sisa-sisa pengikut PKI/Amir Syarifudin  setelah peristiwa Madiun pernah menggunakan daerah ini untuk melanjutkan perjuangan PKI.  Bukan sesuatu yang mustahil bila G30 S/PKI akan juga menggunakannya.

Boleh saja orang tidak setuju bahkan mencemooh terhadap upaya penguatan kepemimpinan Pak Harto dengan cara pendekatan spiritual.  Namun fakta membuktikan bahwa ancaman terhadap kekuasaan Pak Harto melalui cara-cara spiritual betul-betul ada dan nyata.  Peristiwa Sawito pada pertengahan 70-an adalah bukti nyata adanya ancaman terhadap kekuasaan Orde Baru cq Pak Harto.  Seperti yang ditulis dalam buku “Memori Jendral Yoga”, Sawito bersama kelompoknya yang akrab dengan dunia kebatinan, telah merencanakan perebutan kekuasaan dari Pak Harto dengan “mempersilahkan” Pak Harto menanda-tangani “Surat Pelimpahan Kekuasaan”  model Super-semar (Surat Perintah Sebelas Maret).   Hanya saja upaya itu gagal, karena sebelum surat itu disampaikan ke pak Harto,  Sawito dan kelompoknya keburu diamankan aparat keamanan. Apakah kegagalan Sawito ini, dikaitkan dengan kekeuatan spiritual Pak Harto yang sudah begitu kuat, atau ilmu Sawito masih di bawah ilmu pak Harto.   Wallahualam…….  .

Sawito adalah pegawai negeri Departemen Pertanian yang akrab dengan dunia kebatinan.  Ia bersama MR Sudjono ahli hokum lulusan Leiden sering mengadakan perjalanan spiritual.   Perjalanan pertama dilakukan pada tahun 1972 dan menyepi antara lain di Gunung Tidar, Borobudur dan pantai Parangtritis.  Kemudian pindah ke puncak Sapto Renggo dan Rahwatu di gunung Muria.  Di gunung Muria ini Sawito merasa mendapat wangsit untuk menjadi “Ratu Adil” di masa datang.   Setelah menerima wangsit, mereka melakukan “lelonobroto” di alas Ketonggo di lereng gunung Lawu, kemudian ke Penataran di Blitar, berpindah ke petilasan kraton Majapahit di Triwulan  di Mojokerto,  ke lereng gunung Semeru dan ke makam Gunungjati di Cirebon.   Penobatan Sawito sebagai Ratu Adil dilakukan oleh Van Gennep seorang WN Belanda pada bulan September 1972 di Bogor.   Van Gennep seorang psikolog Belanda dan penganut kebatinan datang di Indonesia setelah memperoleh ilham adanya Ratu Adil di Bogor, yang kemudian melalui MR Sudjono  bertemu dengan Sawito yang dikenalkannya sebagai “Ratu Adil” .   Di persidangan Sawito mengaku bahwa ia tidak puas terhadap kepemimpinan pak Harto, dan  bila jadi Presiden,  ia akan mengadakan perubahan sesuai wangsit yang ia terima.   Perubahan tersebut akan dilakukan hanya dengan orang-orang yang merasa “terpanggil”, juga termasuk dalam wangsit.

Cerita tentang Sawito di atas, dapat dijadikan gambaran bagi kita orang awam,  bagaimana perjalanan spiritual itu dilakukan yang tujuannya jelas-jelas “kekuasaan”;  memperoleh atau melestarikan kekuasaan.  Apakah misi spiritual pak Sudjono Humardani juga ada kesamaannya dengan cerita di atas.

Cerita perdukunan dalam percaturan politik Indonesia sekitar G 30 S/PKI adalah perdukunan Mbah Suro.  Perdukunan ini mempunyai pasukan pengawal yang dikenal dengan Banteng Wulung (pria) dan Banteng Sarinah (wanita).  Menurut pengamatan intelijen pengikut aliran klenik ini ternyata anggota PKI dan PNI/ ASU.  Sejumlah aktivis PKI, seperti Suradi Mulyono, Legi, Suyoto, Kobra dan Suyitno,  tinggal di sana sebagai cantrik,  Secara fisik kegiatan mereka baru bisa dihancurkan pada tahun 1968 oleh pasukan RPKAD, pasukan Kodam Diponegoro dan Pasukan Brawijaya.   Penyerbuan sebagian dilakukan dengan menggunakan Helikopter-helikopter MI 4 AD.   Walaupun secara fisik sudah dihancurkan, namun pengaruh kleniknya  tidak punah begitu saja.   Untuk itu bagi yang percaya kehadiran Pak Sudjono dalam rangka penangkalan pengaruh klenik musuh-musuh Orde Baru, menjadi penting.  Pak Harto sudah mengenal baik Pak Sudjono sejak lama, bukan sebagai paranormal tetapi sebagai Kepala Keuangan Kodam Diponegoro, di mana Panglimanya adalah Pak Harto.   Baru setelah G 30 S / PKI Pak Harto lebih mengenal beliau sebagai akhli supranatural bersama Romo Diyat.

Misi Spiritual dan Reaksi SUAD

Misi penerbangan spiritual telah menimbulkan friksi kecil antara SUAD II dan Kostrad.   Sudah menjadi PROTAP bahwa izin penggunaan pesawat Penerbad diluar jadwal rutin,  adalah wewenang SUAD II.  Kecuali penggunaan oleh Kostrad,  cukup dengan pemberitahuan kepada SUAD II.  Karena itu penggunaan pesawat oleh Pak Sudjono Humardani yang mengatasnamakan Kostrad bisa langsung memintanya ke Penerbad.  Pada awalnya tidak ada keberatan dari fihak manapun,  Namun setelah dirasakan mengganggu jadwal misi penerbangan lainnya,  SUAD II mempertanyakan kepada kami Penerbad.  SUAD II juga mempertanyakan misi Pak Sudjono yang frekwensinya dinilai terlalu banyak.   Tentu saja kami jawab apa adanya, bahwa misi Pak Sudjono  adalah misi spiritual,  seringkali  misterius, yang tidak kami ketahui kegiatannya.   Adalah Pak Sayidiman (SUAD II) yang sangat keras reaksinya.  Pak Sayidiman di samping Pak Hasnan Habib adalah cendikiawan AD yang sangat rasional dan anti kepada hal-hal yang irrasional.  Beliau marah mengapa pesawat hasil teknologi digunakan untuk kegiatan klenik.  Dengan agak emosional beliau langsung memerintahkan Penerbad  secara lisan, untuk tidak melayani permintaan pesawat oleh instansi manapun, kecuali sudah mengantongi izin SUAD II.   Prosedur ini berlaku bagi semua instansi,  juga bagi KOSTRAD.   Serta merta pelayanan penerbangan kepada pak Sudjono Humardani terhenti.  Fihak KOSTRAD merasa haknya dipotong, dan mereka lalu mempermasalahkannya kepada pimpinan AD.  Di Penerbad sendiri timbul spekulasi bahwa Pak Sayidiman tidak mungkin dapat melawan Pak Sudjono yang waktu itu peranannya semakin menonjol sejalan semakin meningkatnya pamor kepemimpinan Pak Harto.   Pak Yuono Komandan Pusat Penerbad meramal,  larangan Pak Sayidiman untuk memberi fasilitas pesawat kepada Pak Sudjono tidak akan berumur lama.   Benar saja tidak sampai 10 hari saya dipanggil Pak Sayidiman yang menyatakan mencabut larangan bagi misi Pak Sudjono. Bernada sedikit frustasi, beliau mengatakan;  sudah layani saja, saya tidak tahu mau dibawa ke mana Negara ini.  Dengan pencabutan larangan tersebut jadwal penerbangan spiritual kembali padat, bahkan kepadatannya melebihi yang sudah-sudah.  Hampir setiap hari kami menyertai Pak Sudjono ke berbagai tujuan.



Artikel Terkait
» Misi Penerbangan Spritual Orde Baru - Bagian 5 (Selesai)
» Misi Penerbangan Spritual Orde Baru - Bagian 3
» Misi Penerbangan Spritual Orde Baru - Bagian 2
» Misi Penerbangan Spritual Orde Baru - Bagian 1



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Reputasi Buruk Drone UAV Sebagai Mesin Pembunuh
Di tangan Amerika Serikat dan Israel, Drone UAV sebagai pesawat tak berawak, telah berobah fungsi. Yang semula sekadar berfungsi intelijen sebagai pesawat pengintai dan pengawasan, tiba-tiba ...

Membaca Ulang Perang Asimetris di Indonesia Melalui Isu: Indosat, WTO dan Laut China Selatan

Presiden Baru untuk Daulat Pertanian, Perkebunan dan Pangan

PP No 01/2014 Pintu Masuk SBY Beri Monopoli dan Hak Istimewa Kepada Freeport dan Newmont

Skenario di Atas Skenario

Terungkapnya 39 Dokumen Kejahatan Perang Jepang di Cina, Inspirasi bagi Perjuangan Para Advokator Ianfu Indonesia

Lihat lainya »
   Arsip
Pengembangan Biodisel

Tak Lagi Krisis, RI Bisa Alami Kiamat Energi

Lavrov Tekankan Urgensitas Persatuan Nasional Ukraina

India Luncurkan Kapal Destroyer Modern

Gunung Padang Kian Betot Perhatian Peneliti Dunia

Drone UAV: Industri Strategis Pertahanan Andalan Amerika Serikat

Dua Sisi Dampak Sosial Media

Terima Kasih Bapak SBY

Petunjuk Baru, Perancis Terlibat dalam Konflik Papua

69 Tahun Kemerdekaan, Tantangan Baru Terwujudnya Kedaulatan Rakyat

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »