» Gerakan Anti Korupsi: Modus Baru Kolonialisme (Kisah dari Rumania, Thailand, Venezuela dan Indonesia) » Menebar Gelora Antipenjajahan! » Membaca Bung Karno Lewat Prinsip Dasa Sila Bandung » KAA Bandung 1955 di Bawah Bayang-Bayang Politik Global AS » SERUAN GLOBAL FUTURE INSTITUTE KEPADA PARA PESERTA KAA BANDUNG KE-60 19 April-24 April 2015


Internasional
31-07-2009
Rusia-Ukraina
Rusia-Ukraina Semakin Memanas
Penulis : Tim Global Future Institute (GFI)

Sebagai negara yang dulunya masuk dalam kedaulatan Uni Soviet, Ukraina sekarang terhitung negara yang sudah merdeka dan berdaulat. Sayangnya hubungan dengan negara bekas induknya, Rusia, tidak semesra hubungan Rusia dengan Kazakhstan atau Rusia dengan Kirgistan dan Usbekistan.  Atau bahkan dengan Azerbaijan sekalipun, yang notabene berpenduduk mayoritas beragama Islam.


Entah kenapa, dengan Ukraina ini hubungan Rusia malah bisa dibilang cukup buruk. Selama ini Rusia bercuriga Ukraina telah menjadi negara pemasok persenjataan bagi Georgia dan negara-negara eks Soviet lainnya. Selain dari itu, Ukraina yang notabene banyak penduduknya yang Yahudi, disinyalir sejak era Perang Dingin pun, banyak dijadikan sebagai agen ganda atau mata-mata oleh CIA maupun intelijen Inggris MI6.

Menurut Hari Samputra Agus, salah seorang peneliti Global Future Institute, Ukraina secara etnik dan psiko-grafis pada umumnya, lebih merasa dekat dengan Polandia daripada Rusia. Dan kesadaran kolektif ini sudah berlangsung secara turun-temurun.

Masuk akal juga analisis ini. Dan cukup membantu untuk menjelaskan berbagai konflik yang melibatkan kedua negara akhir-akhir ini. Baru-baru ini, 29 Juli lalu, Rusia mengusir seorang diplomat Ukraina untuk secepatnya keluar dari Rusia. Alasannya, sebagaimahna diutarakan Kementerian Luar Negeri Rusia, diplomat Ukraina tersebut kerap memprakarsai gerakan-gerakan anti-Rusia di Moskow.

Namun itu hanyalah puncak dari gunung es. Krisis diplomatik Rusia-Ukraina juga dipicu oleh penyewaan pangkalan Armada Laut Hitam oleh Rusia di Sevastopol di Semenanjung Crimea yang dihuni mayoritas etnik Rusia. Dan  isu pangkalan ini terus menjadi duri dalam daging dari hubungan antara Moskow dan Kiev sejak kemerdekaan Ukraina pada 1991.

Hubugan kian memburuk ketika Ukraina berniat menjadi anggota negara-negara Pakta Pertahanan NATO yang didominasi Amerika dan Eropa Barat. Belum lagi soal perselisihan mengenai ongkos pengiriman gas Rusia ke Eropa yang harus melalui pipa saluran gas Ukraina.   

 



Artikel Terkait
» Konflik di Ossetia Selatan dan Abkhazia, Tipu Daya Amerika dan Georgia Provokasi Rusia
» Why Brzezinski eager to divide Russia and China?
» Membaca Tren Baru Hubungan Jepang-Rusia
» US still considers Russia as an Enemy
» Kemenangan Strategis Rusia di Georgia



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Dalam Bayang-Bayang Politik Global AS
Situasi internasional pada 1954-1955, kala Indonesia mulai menggagas sebuah pertemuan akbar bangsa-bangsa Asia-Afrika yang kelak kita kenal sebagai Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 18-24 April 1955, ...

SERUAN GLOBAL FUTURE INSTITUTE KEPADA PARA PESERTA KAA BANDUNG KE-60 19 April-24 April 2015

Peran Strategis Indonesia di Balik Terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika

Pernyataan Profesor Alan Robock Perkuat Dugaan Adanya Teknologi Rekayasa Cuaca Rancangan AS

AS dan Skema TPP Bendung Pengaruh Cina dan Rusia di Asia Pasifik

Bung Karno dan “Garis Hidup Asia-Afrika”

Lihat lainya »
   Arsip
Sekolah Ala Tan Malaka

Komandan Sektor Barat Tinjau Pasukan Indonesia di Darfur

Laksamana AS: Korsel Harus Putuskan Terkait Sistem Rudal THAAD

Tak Ada Pengurangan Pasukan AS di Afghanistan selama 2015

PM Nepal Akan Hadiri Peringatan KAA ke-60

Keluarkan Inpres Baru, Jokowi Perbolehkan Impor Beras

AS Dorong Ukraina Berperang

Membaca Bung Karno Lewat Prinsip Dasa Sila Bandung

Menebar Gelora Antipenjajahan!

Dari Guru menjadi Politisi

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »