» Gagasan Pembentukan ASEAN Maritime Community dan Perkuatan ASEAN dalam Manuber Politik Luar Negeri Indonesia » Timbul Kesan Indonesia Belum Berani Keluar dari “Western Hemisphere" di Bidang Militer » Kebijakan Luar Negeri RI Bebas dan Aktif Masih Tetap Relevan dan Akan Terus Berlanjut » Gerhard von Mende, Konseptor dan Pendorong Gerakan Separatisme Asia Tengah dan Kaukasus » Manuver Turki Politisasi Isu Tatar di Forum OKI Berpotensi Pecah-Belah Kekompakan Negara-Negara Islam


Internasional
31-07-2009
Rusia-Ukraina
Rusia-Ukraina Semakin Memanas
Penulis : Tim Global Future Institute (GFI)

Sebagai negara yang dulunya masuk dalam kedaulatan Uni Soviet, Ukraina sekarang terhitung negara yang sudah merdeka dan berdaulat. Sayangnya hubungan dengan negara bekas induknya, Rusia, tidak semesra hubungan Rusia dengan Kazakhstan atau Rusia dengan Kirgistan dan Usbekistan.  Atau bahkan dengan Azerbaijan sekalipun, yang notabene berpenduduk mayoritas beragama Islam.


Entah kenapa, dengan Ukraina ini hubungan Rusia malah bisa dibilang cukup buruk. Selama ini Rusia bercuriga Ukraina telah menjadi negara pemasok persenjataan bagi Georgia dan negara-negara eks Soviet lainnya. Selain dari itu, Ukraina yang notabene banyak penduduknya yang Yahudi, disinyalir sejak era Perang Dingin pun, banyak dijadikan sebagai agen ganda atau mata-mata oleh CIA maupun intelijen Inggris MI6.

Menurut Hari Samputra Agus, salah seorang peneliti Global Future Institute, Ukraina secara etnik dan psiko-grafis pada umumnya, lebih merasa dekat dengan Polandia daripada Rusia. Dan kesadaran kolektif ini sudah berlangsung secara turun-temurun.

Masuk akal juga analisis ini. Dan cukup membantu untuk menjelaskan berbagai konflik yang melibatkan kedua negara akhir-akhir ini. Baru-baru ini, 29 Juli lalu, Rusia mengusir seorang diplomat Ukraina untuk secepatnya keluar dari Rusia. Alasannya, sebagaimahna diutarakan Kementerian Luar Negeri Rusia, diplomat Ukraina tersebut kerap memprakarsai gerakan-gerakan anti-Rusia di Moskow.

Namun itu hanyalah puncak dari gunung es. Krisis diplomatik Rusia-Ukraina juga dipicu oleh penyewaan pangkalan Armada Laut Hitam oleh Rusia di Sevastopol di Semenanjung Crimea yang dihuni mayoritas etnik Rusia. Dan  isu pangkalan ini terus menjadi duri dalam daging dari hubungan antara Moskow dan Kiev sejak kemerdekaan Ukraina pada 1991.

Hubugan kian memburuk ketika Ukraina berniat menjadi anggota negara-negara Pakta Pertahanan NATO yang didominasi Amerika dan Eropa Barat. Belum lagi soal perselisihan mengenai ongkos pengiriman gas Rusia ke Eropa yang harus melalui pipa saluran gas Ukraina.   

 



Artikel Terkait
» Konflik di Ossetia Selatan dan Abkhazia, Tipu Daya Amerika dan Georgia Provokasi Rusia
» Why Brzezinski eager to divide Russia and China?
» Membaca Tren Baru Hubungan Jepang-Rusia
» US still considers Russia as an Enemy
» Kemenangan Strategis Rusia di Georgia



 

Advance Search

   Isu Hangat »
MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN KEMBALI POLITIK LUAR NEGERI RI YANG BEBAS DAN AKTIF
Term of Reference SEMINAR TERBATAS Seminar Terbatas Global Future Institute (GFI) dan Vox Muda (Komunitas Mahasiswa Universitas Nasional),  Senin 5 Desember 2016   Sebenarnya sejak 1972 Dr Daoed ...

MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN KEMBALI POLITIK LUAR NEGERI RI YANG BEBAS DAN AKTIF

Manuver Militer Amerika Serikat di Semenanjung Korea Harus Ditangkal Sedini Mungkin Oleh Kementerian Luar Negeri dan “Pemangku Kepentingan” Politik-Keamanan RI

Rencana AS Kembangkan ICBM di Korea Selatan Berpotensi Merusak Rencana Global Maritime Fulcrum (Poros Maritim Dunia) Presiden Jokowi

Mempertanyakan Kelayakan Kerjasama Pertahanan RI-Ukraina

Pemerintah Tiongkok Mainkan Isu Lingkungan Hidup Untuk Hancurkan Pesaing Bisnisnya di Sektor Teknologi Nuklir di Indonesia

Lihat lainya »
   Arsip
Saudi Hukum Mati 15 Orang yang Dituduh Jadi Mata-mata Iran

Panglima TNI: Bangsa Indonesia Tidak Akan Membiarkan ISIS Berkembang

Gempa Pidie, Korban Tewas 52 Orang

ABRI Penegak Demokrasi UU 45

Iran Kecam Perpanjangan Sanksi AS

GLOBAL FUTURE INSTITUTE (GFI) DAN VOX MUDA SELENGGARAKAN DISKUSI TERBATAS TENTANG AKTUALISASI POLITIK LUAR NEGERI RI BEBAS-AKTIF

GLOBAL FUTURE INSTITUTE (GFI) DAN VOX MUDA SELENGGARAKAN DISKUSI TERBATAS TENTANG AKTUALISASI POLITIK LUAR NEGERI RI BEBAS-AKTIF

Gerhard von Mende, Konseptor dan Pendorong Gerakan Separatisme Asia Tengah dan Kaukasus

Amerika Harus Hentikan Penjualan Senjata ke Saudi

ASEAN RCEP Dinilai Rugikan Indonesia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
ISLAM SANGAT MENGHARGAI PLURALISME

------------------------------------------------------------

Judul Buku : Pluralitas Dalam Masyarakat Islam

Judul Asli : At Ta’addudiyah Fi Mujtama’ Islamiy

Penulis : Gamal Al Banna

Pengantar : Prof. DR. Azyumardi Azra, MA

Tebal Buku : 93 halaman termasuk biodata tentang penulis

Peresensi : Otjih Sewandarijatun

------------------------------------------------------------

Lihat Lainnya »