» Tujuan-Tujuan Utama Kebijakan Luar Negeri AS (Bag I) » Dunia Tiga Sisi » Pemerintah Jokowi-JK Harus Segera Cabut UU No 7/2004 Tentang Sumber Daya Air » Amerika Serikat Dukung Bangkitnya Kembali Kekuatan Militer Jepang » Menyorot Politik HAM Belanda di Indonesia


Internasional
31-07-2009
Rusia-Ukraina
Rusia-Ukraina Semakin Memanas
Penulis : Tim Global Future Institute (GFI)

Sebagai negara yang dulunya masuk dalam kedaulatan Uni Soviet, Ukraina sekarang terhitung negara yang sudah merdeka dan berdaulat. Sayangnya hubungan dengan negara bekas induknya, Rusia, tidak semesra hubungan Rusia dengan Kazakhstan atau Rusia dengan Kirgistan dan Usbekistan.  Atau bahkan dengan Azerbaijan sekalipun, yang notabene berpenduduk mayoritas beragama Islam.


Entah kenapa, dengan Ukraina ini hubungan Rusia malah bisa dibilang cukup buruk. Selama ini Rusia bercuriga Ukraina telah menjadi negara pemasok persenjataan bagi Georgia dan negara-negara eks Soviet lainnya. Selain dari itu, Ukraina yang notabene banyak penduduknya yang Yahudi, disinyalir sejak era Perang Dingin pun, banyak dijadikan sebagai agen ganda atau mata-mata oleh CIA maupun intelijen Inggris MI6.

Menurut Hari Samputra Agus, salah seorang peneliti Global Future Institute, Ukraina secara etnik dan psiko-grafis pada umumnya, lebih merasa dekat dengan Polandia daripada Rusia. Dan kesadaran kolektif ini sudah berlangsung secara turun-temurun.

Masuk akal juga analisis ini. Dan cukup membantu untuk menjelaskan berbagai konflik yang melibatkan kedua negara akhir-akhir ini. Baru-baru ini, 29 Juli lalu, Rusia mengusir seorang diplomat Ukraina untuk secepatnya keluar dari Rusia. Alasannya, sebagaimahna diutarakan Kementerian Luar Negeri Rusia, diplomat Ukraina tersebut kerap memprakarsai gerakan-gerakan anti-Rusia di Moskow.

Namun itu hanyalah puncak dari gunung es. Krisis diplomatik Rusia-Ukraina juga dipicu oleh penyewaan pangkalan Armada Laut Hitam oleh Rusia di Sevastopol di Semenanjung Crimea yang dihuni mayoritas etnik Rusia. Dan  isu pangkalan ini terus menjadi duri dalam daging dari hubungan antara Moskow dan Kiev sejak kemerdekaan Ukraina pada 1991.

Hubugan kian memburuk ketika Ukraina berniat menjadi anggota negara-negara Pakta Pertahanan NATO yang didominasi Amerika dan Eropa Barat. Belum lagi soal perselisihan mengenai ongkos pengiriman gas Rusia ke Eropa yang harus melalui pipa saluran gas Ukraina.   

 



Artikel Terkait
» Konflik di Ossetia Selatan dan Abkhazia, Tipu Daya Amerika dan Georgia Provokasi Rusia
» Why Brzezinski eager to divide Russia and China?
» Membaca Tren Baru Hubungan Jepang-Rusia
» US still considers Russia as an Enemy
» Kemenangan Strategis Rusia di Georgia



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Mengingatkan Kembali Tiga Kejahatan Perang Jepang di Indonesia
Kejahatan perang tentara Jepang di Indonesia antara 1942-1945 merupakan sejarah hitam  yang tidak boleh kita lupakan. Adanya kebijakan pemerintahan fasisme Jepang di Indonesia yang secara sistematis ...

SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN JOKOWI DAN IBU MEGAWATI SUKARNOPUTRI

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Lihat lainya »
   Arsip
Wakil PM China: Hubungan dengan Indonesia Masuki Fase Terbaik

Freeport Indonesia Setuju Pakai Rupiah

Diskriminasi Terhadap Muslim Rohingya

Jepang Ikut Latihan Militer Bikin Cemas Banyak Pihak

Tujuan-Tujuan Utama Kebijakan Luar Negeri AS (Bag I)

Cina Peringatkan Perang dengan AS di Laut Cina Selatan

Jepang Hapus Nama Israel dari Buku Panduan Pariwisata

Amerika Serikat Tidak Berbuat Apa Pun Untuk Selamatkan Ramadi

Diancam Cina, Pesawat Filipina Tetap Terbang di Wilayah Sengketa

Melintas di atas Laut Cina Selatan, Cina Protes AS

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »