» Perlu Kontra Skema Hadapi National Security Agency (NSA) di Bidang Cyber Media » The US Federal Reserve Bank dan The London Connection » Tol Laut Ditunda? (3/Habis) » AGENDA SETTING TERSEMBUNYI AMERIKA SERIKAT: Perspektif Perang Non Militer Milenium Ketiga (Bagian Terakhir) » Pentingnya Menegakkan Kedaulatan Laut Dalam Kerangka Supremasi Maritim


Internasional
27-07-2009
Georgia dan Rusia
Konflik di Ossetia Selatan dan Abkhazia, Tipu Daya Amerika dan Georgia Provokasi Rusia
Penulis : Tim Global Future Institute (GFI)

Ketika Rusia melakukan aksi militer menggempur Georgia gara-gara menyerang Ossetia Selatan dan Abkhazia yang diklaim masuk wilayah kedaulatan Tblisi, maka bagi yang tahu sejarah, pasti teringat ketika Bengal yang berbatasan dengan India  menjadi daerah yang dipersengketakan antara India dan Pakistan.


Ketika Rusia melakukan aksi militer menggempur Georgia gara-gara menyerang Ossetia Selatan dan Abkhazia yang diklaim masuk wilayah kedaulatan Tblisi, maka bagi yang tahu sejarah, pasti teringat ketika Bengal yang berbatasan dengan India  menjadi daerah yang dipersengketakan antara India dan Pakistan. Bengal yang ketika itu masuk daerah Pakistan Timur, pada 1972 menuntut menjadi negara merdeka terpisah dari Pakistan. Itulah yang sekarang kita kenal sebagai Bangladesh.

Meski tidak persis sama, namun gelagat Ossetia Selatan dan Abkhazia yang tidak mengakui kedaulatan Georgia, negara yang dulunya masuk dalam kedaulatan Uni Soviet, nampaknya memberi angin kepada Rusia untuk memberi dukungan militer dan politik kepada kedua wilayah yang cukup strategis tersebut.

Yang menarik dari konflik wilayah perbatasan antara India dan Pakistan ketika menyikapi keinginan Bengal untuk menjadi negara Bangladesh Merdeka pada 1972, ternyata pada perkembangannnya memicu terbentuknya persekutuan baru dalam perang dingin antara Amerika dan Cina di satu pihak dan Uni Soviet di pihak lain.

Maklum ketika itu, India didukung penuh Uni Soviet, sedangkan Pakistan mendapat dukungan dari Amerika dan Cina. Sehingga kejadian di Bengal yang kemudian berhasil menjadi negara Bangladeh merdeka tersebut, telah memicu percepatan persekutuan baru Amerika-Cina untuk membendung pengaruh Soviet di berbagai kawasan. Tentu saja yang paling aktual ketika itu, adalah semakin untuk mengimbangi eratnya kerjasama India-Soviet.

Dalam kasus Abkahzia dan Ossetia Selatan, tentu saja Amerika salah besar jika bisa memi pecahnya persekutuan Rusia-Cina di Shanghai Cooperation Organization (SCO). Selain sudah solid untuk menghadang Amerika di Asia Tengah, konflik yang berpotensi menajam jmenyusul konflik Ossetia Selatan dan Abkahzia adalah antara Rusia dan persekutuan pertahanan Eropa Barat NATO.

Indikasi semakin merapatnya hubungan Amerika dengan Georgia, menyusul kunjungan Wakil Presiden Joe Bidenn ke Tblisi, dan adanya suplai dan penjualan persenjataan besar-besaran Ukraina ke Georgia, dibaca Rusia sebagai provokasi Amerika dan Eropa Barat untuk merangkul negara-negara bekas Uni Soviet yang pernah menjadi ”halaman belakang” Rusia.

Alhasil, Rusia justru semakin menyiagakan postur pertahanannya, termasuk meningkatkan persenjataannya ke tingkat maksimum. Misalnya Presiden Dmitry Medvedev saat ini terus mengembangkan kekuatan militernya, termasuk memproduksi rudal dan kapal selamnya yang berkapasitas generasi baru.

Bukan itu saja. Dari segi anggaran militernya pun, Rusia semakin meningkatkan jumlahnya pada skala yang cukup tinggi sebesar US$ 140 miliar higga 2011. Angka yang cukup fantastis dan tercatat paling tinggi sejak runtuhnya Uni Soviet.

Peningkatan ini tidak lepas dari keputusan mantan Presiden Vladimir Putin pada 2007 untuk keluar dari CFE atau traktat untuk membatas kekuatan militer konvensional di Eropa. Vladimir, yang memiliki analisis intelijen yang cukup tajam, tentu saja membaca skema traktat CFE ini sebagai akal-akalan negara-negara barat untuk melucuti secara halus kekuatan militer Rusia.

Sejak itu, Rusia semakin meningkatkan postur militernya dengan menguji coba rudal generasi baru mode RS-24, yang memiliki kemampuan untuk merontokkan tameng rudal Amerika. Lebih dari itu, Rusia bahkan berencana mengerahkan rudal jarak pendek untuk menandingi tameng rudal Amerika di Polandia. Satu negara di Eropa Timur yang merupakan basis militer andalan Amerika dan NATO di Eropa Timur.

Suatu bukti betapa Rusia menanggapi serius manuver Presiden Georgia Saakashvili bersekutu dengan Amerika. Sudah seharusnya Rusia mencermati manuver politik pria kelahiran 21 Desember 1967 tersebut. Selain dikenal sebagai lulusan Fakultas Hukum Internasional Universitas Negara Kiev (Ukraina), Saakasvili juga merupakan lulusan Unversitas Colombia, New York dan Universitas George Washington pada 1995, di bidang hukum.

Jelaslah sudah bahwa Saakashvili tidak sekadar antek Amerika, namun sudah pada taraf sebagai mitra sejajar. Selain menguasai  lima bahasa asing termasuk Inggris dan Perancis, Saakashvili  memang mengusai jaringan strategis di Washington. Hal ini dia rajut ketika sempat berkarir sebagai pengacara di kantor hukum Peterson, Belkap, Webb & Tyler awal 1995 di New York.

Sebagaimana pengalaman tokoh-tokoh lainnya, pengalaman Saakashvili berkecimpung di bidang hukum di Amerika, bisa dipastikan telah berhasil membangun jaringan dan koneksi yang cukup luas di Washington dan Ne York.

Kunjungan Wapres Joe Biden ke Tblisi yang diterima dengan hangat oleh Saakashvili, merupakan indikasi kuat bahwa hubungan Washington-Tblisi sudah pada taraf tidak sekadar hubungan antar pemerintahan kedua negara. Mengingat koneksi dan aktivitas masa lalu Saakashvili dengan jaringan pelaku hukum di New York, maka hubungan kedua negara praktis sudah melibatkan jaringan strategis berbagai elemen masyarakat kedua negara.

Dan tampilnya Obama ke tampuk kepresidenan, semakin mendukung skema operasi non-militer Amerika menata ulang pengaruhnya di berbagai kawasan, termasuk di Eropa Timur.

Manuver Saakhashvili untuk mendekat kepada Amerika dan Eropa Barat, sebenarnya bisa dibaca dengan mudah motivasinya. Dengan semakin rapatnya kesan hubungan barat dengan Georgia, sudah barang tentu akan meningkatkan kesiagaan militer Rusia.

Saakhasvili tahu persis, bahwa Amerika dan NATO tidak akan berani secara frontal menghadapi manuver militer Rusia seperti terbukti ketika Rusia menyerbu Georgia ketika bermaksud menghalangi Ossetia Selatan dan Abkhazia untuk lepas dari Georgia.

Namun setidaknya Saakhasvili yang sejatinya merupakan politisi ulung, berharap bahwa dengan agresi terbatas yang dilakukan tentara Rusia, Amerika dan Eropa Barat akan meningkatkan bantuan ekonomi dan berbagai sarana bantuan lainnya kepada Georgia.

Begitulah. Memanfaatkan terjepitnya posisi Georgia akibat kepungan militer Rusia untuk mendesak adanya bantuan ekonomi dan bisnis dari Amerika dan Eropa Barat.

Tidak terlalu jelas hingga kini apakah Rusia sudah mengetahui manuver terselubung Saakhasvili semacam ini. Jika tidak, jangan-jangan memang inilah yang ditunggu-tunggu Amerika. Seperti kejadian ketika Soviet menyerbu Afghanistan gara-gara terprovokasi akan adanya rejim anti Soviet yang akan berkuasa, maka masuknya militer Soviet ke Afghanistan, ternyata telah menyedot habis-habisan sumberdaya ekonomi dan militer Soviet melebihi apa yang telah menimpa tentara Amerika di Vietnam pada 1970-an.

Provokasi Georgia dengan merapat ke Amerika, bisa-bisa memang dimotivasi oleh hal yang sama. Untuk memancing Rusia semakin mengintesifkan kekuatan militernya, sehingga seluruh anggaran dan sumebrdaya ekonomi Rusia tersedot untuk menghadapi ancaman Barat melalui Georgia.   

 






Artikel Terkait
» Kemenangan Strategis Rusia di Georgia
» Kebijakan Pro Islam Vladimir Putin dan Aliansi Strategis Rusia-Dunia Islam



 

Advance Search

   Isu Hangat »
AGENDA SETTING TERSEMBUNYI AMERIKA SERIKAT: Perspektif Perang Non Militer Milenium Ketiga (Bagian Terakhir)
Melihat perkembangan cara berperang abad 21 yang lebih mengutamakan Perang Non Militer mau tidak mau kita harus mengubah paradigma doktrin pertahanan keamanan yang sudah ada. Tapi ...

AGENDA SETTING TERSEMBUNYI AMERIKA SERIKAT: Perspektif Perang Non Militer Milenium Ketiga (Bagian Kedua)

AGENDA SETTING TERSEMBUNYI AMERIKA SERIKAT: Perspektif Perang Non Militer Milenium Ketiga (Bagian Pertama)

Perlunya Perubahan Tata Kelola Daerah Perbatasan

Kerjasama RI-Rusia Punya Nilai Strategis Bagi Kedua Negara (Ulasan Singkat Pertemuan Jokowi-Putin di Beijing 10 Oktober 2014)

Indonesia Negara Maritim, Bukan Sekadar Negara Kelautan (Menanggapi Visi Maritim Presiden Jokowi)

Lihat lainya »
   Arsip
AS Pulihkan Hubungan dengan Kuba

TNI Terus Mencari Korban Tanah Longsor Banjarnegara

Misi Perdamaian PBB, 175 Prajurit TNI Siap Berangkat ke Kongo

Perlu Terpenuhinya Cita-Cita Trisakti Terlebih Dahulu

Kedutaan Inggris di Kairo Kembali Dibuka untuk Umum

AS Ingin Mesir Jadi Penguasa di Wilayah

Palestina Segera Ajukan Draf Resolusi, Akankah Berakhir Veto?

Tol Laut Ditunda? (3/Habis)

The US Federal Reserve Bank dan The London Connection

Pertemuan Lima Sepakati Rencana Penanganan Perubahan Iklim

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »