» Menelisik Sejarah Kebijakan Maritim Rusia (Menyongsong ASEAN-Russia Summit, di Sochi, Rusia, 18-20 Mei 2016) » Asia Tenggara Sebagai Kawasan Bebas Nuklir Sesuai dengan Semangat KAA Bandung 1955 dan ZOPFAN ASEAN » Suriah, Pusaran Pertarungan Global AS-Inggris-Perancis dan Rusia » Ada Usaha Untuk Meruntuhkan Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia dan Netralitas ASEAN » Indonesia Harus Mendorong Terciptanya Keseimbangan Kekuatan Baru di Asia Tenggara Melalui KTT ASEAN-Rusia Mei 2016


Internasional
27-07-2009
Georgia dan Rusia
Konflik di Ossetia Selatan dan Abkhazia, Tipu Daya Amerika dan Georgia Provokasi Rusia
Penulis : Tim Global Future Institute (GFI)

Ketika Rusia melakukan aksi militer menggempur Georgia gara-gara menyerang Ossetia Selatan dan Abkhazia yang diklaim masuk wilayah kedaulatan Tblisi, maka bagi yang tahu sejarah, pasti teringat ketika Bengal yang berbatasan dengan India  menjadi daerah yang dipersengketakan antara India dan Pakistan.


Ketika Rusia melakukan aksi militer menggempur Georgia gara-gara menyerang Ossetia Selatan dan Abkhazia yang diklaim masuk wilayah kedaulatan Tblisi, maka bagi yang tahu sejarah, pasti teringat ketika Bengal yang berbatasan dengan India  menjadi daerah yang dipersengketakan antara India dan Pakistan. Bengal yang ketika itu masuk daerah Pakistan Timur, pada 1972 menuntut menjadi negara merdeka terpisah dari Pakistan. Itulah yang sekarang kita kenal sebagai Bangladesh.

Meski tidak persis sama, namun gelagat Ossetia Selatan dan Abkhazia yang tidak mengakui kedaulatan Georgia, negara yang dulunya masuk dalam kedaulatan Uni Soviet, nampaknya memberi angin kepada Rusia untuk memberi dukungan militer dan politik kepada kedua wilayah yang cukup strategis tersebut.

Yang menarik dari konflik wilayah perbatasan antara India dan Pakistan ketika menyikapi keinginan Bengal untuk menjadi negara Bangladesh Merdeka pada 1972, ternyata pada perkembangannnya memicu terbentuknya persekutuan baru dalam perang dingin antara Amerika dan Cina di satu pihak dan Uni Soviet di pihak lain.

Maklum ketika itu, India didukung penuh Uni Soviet, sedangkan Pakistan mendapat dukungan dari Amerika dan Cina. Sehingga kejadian di Bengal yang kemudian berhasil menjadi negara Bangladeh merdeka tersebut, telah memicu percepatan persekutuan baru Amerika-Cina untuk membendung pengaruh Soviet di berbagai kawasan. Tentu saja yang paling aktual ketika itu, adalah semakin untuk mengimbangi eratnya kerjasama India-Soviet.

Dalam kasus Abkahzia dan Ossetia Selatan, tentu saja Amerika salah besar jika bisa memi pecahnya persekutuan Rusia-Cina di Shanghai Cooperation Organization (SCO). Selain sudah solid untuk menghadang Amerika di Asia Tengah, konflik yang berpotensi menajam jmenyusul konflik Ossetia Selatan dan Abkahzia adalah antara Rusia dan persekutuan pertahanan Eropa Barat NATO.

Indikasi semakin merapatnya hubungan Amerika dengan Georgia, menyusul kunjungan Wakil Presiden Joe Bidenn ke Tblisi, dan adanya suplai dan penjualan persenjataan besar-besaran Ukraina ke Georgia, dibaca Rusia sebagai provokasi Amerika dan Eropa Barat untuk merangkul negara-negara bekas Uni Soviet yang pernah menjadi ”halaman belakang” Rusia.

Alhasil, Rusia justru semakin menyiagakan postur pertahanannya, termasuk meningkatkan persenjataannya ke tingkat maksimum. Misalnya Presiden Dmitry Medvedev saat ini terus mengembangkan kekuatan militernya, termasuk memproduksi rudal dan kapal selamnya yang berkapasitas generasi baru.

Bukan itu saja. Dari segi anggaran militernya pun, Rusia semakin meningkatkan jumlahnya pada skala yang cukup tinggi sebesar US$ 140 miliar higga 2011. Angka yang cukup fantastis dan tercatat paling tinggi sejak runtuhnya Uni Soviet.

Peningkatan ini tidak lepas dari keputusan mantan Presiden Vladimir Putin pada 2007 untuk keluar dari CFE atau traktat untuk membatas kekuatan militer konvensional di Eropa. Vladimir, yang memiliki analisis intelijen yang cukup tajam, tentu saja membaca skema traktat CFE ini sebagai akal-akalan negara-negara barat untuk melucuti secara halus kekuatan militer Rusia.

Sejak itu, Rusia semakin meningkatkan postur militernya dengan menguji coba rudal generasi baru mode RS-24, yang memiliki kemampuan untuk merontokkan tameng rudal Amerika. Lebih dari itu, Rusia bahkan berencana mengerahkan rudal jarak pendek untuk menandingi tameng rudal Amerika di Polandia. Satu negara di Eropa Timur yang merupakan basis militer andalan Amerika dan NATO di Eropa Timur.

Suatu bukti betapa Rusia menanggapi serius manuver Presiden Georgia Saakashvili bersekutu dengan Amerika. Sudah seharusnya Rusia mencermati manuver politik pria kelahiran 21 Desember 1967 tersebut. Selain dikenal sebagai lulusan Fakultas Hukum Internasional Universitas Negara Kiev (Ukraina), Saakasvili juga merupakan lulusan Unversitas Colombia, New York dan Universitas George Washington pada 1995, di bidang hukum.

Jelaslah sudah bahwa Saakashvili tidak sekadar antek Amerika, namun sudah pada taraf sebagai mitra sejajar. Selain menguasai  lima bahasa asing termasuk Inggris dan Perancis, Saakashvili  memang mengusai jaringan strategis di Washington. Hal ini dia rajut ketika sempat berkarir sebagai pengacara di kantor hukum Peterson, Belkap, Webb & Tyler awal 1995 di New York.

Sebagaimana pengalaman tokoh-tokoh lainnya, pengalaman Saakashvili berkecimpung di bidang hukum di Amerika, bisa dipastikan telah berhasil membangun jaringan dan koneksi yang cukup luas di Washington dan Ne York.

Kunjungan Wapres Joe Biden ke Tblisi yang diterima dengan hangat oleh Saakashvili, merupakan indikasi kuat bahwa hubungan Washington-Tblisi sudah pada taraf tidak sekadar hubungan antar pemerintahan kedua negara. Mengingat koneksi dan aktivitas masa lalu Saakashvili dengan jaringan pelaku hukum di New York, maka hubungan kedua negara praktis sudah melibatkan jaringan strategis berbagai elemen masyarakat kedua negara.

Dan tampilnya Obama ke tampuk kepresidenan, semakin mendukung skema operasi non-militer Amerika menata ulang pengaruhnya di berbagai kawasan, termasuk di Eropa Timur.

Manuver Saakhashvili untuk mendekat kepada Amerika dan Eropa Barat, sebenarnya bisa dibaca dengan mudah motivasinya. Dengan semakin rapatnya kesan hubungan barat dengan Georgia, sudah barang tentu akan meningkatkan kesiagaan militer Rusia.

Saakhasvili tahu persis, bahwa Amerika dan NATO tidak akan berani secara frontal menghadapi manuver militer Rusia seperti terbukti ketika Rusia menyerbu Georgia ketika bermaksud menghalangi Ossetia Selatan dan Abkhazia untuk lepas dari Georgia.

Namun setidaknya Saakhasvili yang sejatinya merupakan politisi ulung, berharap bahwa dengan agresi terbatas yang dilakukan tentara Rusia, Amerika dan Eropa Barat akan meningkatkan bantuan ekonomi dan berbagai sarana bantuan lainnya kepada Georgia.

Begitulah. Memanfaatkan terjepitnya posisi Georgia akibat kepungan militer Rusia untuk mendesak adanya bantuan ekonomi dan bisnis dari Amerika dan Eropa Barat.

Tidak terlalu jelas hingga kini apakah Rusia sudah mengetahui manuver terselubung Saakhasvili semacam ini. Jika tidak, jangan-jangan memang inilah yang ditunggu-tunggu Amerika. Seperti kejadian ketika Soviet menyerbu Afghanistan gara-gara terprovokasi akan adanya rejim anti Soviet yang akan berkuasa, maka masuknya militer Soviet ke Afghanistan, ternyata telah menyedot habis-habisan sumberdaya ekonomi dan militer Soviet melebihi apa yang telah menimpa tentara Amerika di Vietnam pada 1970-an.

Provokasi Georgia dengan merapat ke Amerika, bisa-bisa memang dimotivasi oleh hal yang sama. Untuk memancing Rusia semakin mengintesifkan kekuatan militernya, sehingga seluruh anggaran dan sumebrdaya ekonomi Rusia tersedot untuk menghadapi ancaman Barat melalui Georgia.   

 






Artikel Terkait
» Kemenangan Strategis Rusia di Georgia
» Kebijakan Pro Islam Vladimir Putin dan Aliansi Strategis Rusia-Dunia Islam



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Ada Usaha Untuk Meruntuhkan Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia dan Netralitas ASEAN
Kita harus bedakan Cina Republik Kita dan Rakyat Cina. Pertumbuhan kekuatan ekonomi dan keuangan dari para taipan seberang laut (Overseas China) yang berkiblat pada Kapitalisme berbasis ...

Dalam Soal Ianfu (Comfort Women), Korea Selatan Bukan Satu-satunya Korban Kejahatan Perang Jepang

Blunder AS dalam Perang Suriah

Indonesia Harus Bisa Mencegah Terseretnya Negara-Negara OKI Dalam Proxy War Arab Saudi versus Iran

MEA: Peluang atau Ancaman?

Rencana Mundurnya James “Bob” Moffet, Indikasi Adanya Strategi Freeport Ganti Aktor Baru Untuk Pertahankan Kesepakatan Lama

Lihat lainya »
   Arsip
ULMWP Tidak Layak menjadi Anggota MSG

Menelisik Sejarah Kebijakan Maritim Rusia (Menyongsong ASEAN-Russia Summit, di Sochi, Rusia, 18-20 Mei 2016)

TNI Terima 2 Granat dari Masyarakat Papua

Masih Layakkah Partai Aceh Memimpin Aceh 2017 sampai 2022?

Menghina Presiden RI sama dengan Menghina NKRI

Pemerintah Tidak Berhadil Membalikkan Tren Penurunan Ekspor Sepanjang 18 Bulan

Pertama, Pesawat Militer Cina Mendarat di Pulau Sengketa

Wapres JK Sampaikan Kritik Pedas Kepada Negara-negara OKI

PPRC TNI Fokus Latihan Pembebasan Sandera

Panglima TNI: Kopassus Itu Ibarat Angin

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Lihat Lainnya »