» Bilderberg Group, Rekomendasi Rand Corporation dan Skenario Balkanisasi Nusantara » Saatnya Peran Aktif Indonesia dalam Konflik Iran-Arab Saudi » Waspadai Mafia Global Bermain di “Green Global Economy” dan “Global Climate Change” » Peran Strategis Indonesia di ASEAN Dibahas Soedjatmoko Melalui Surat-Surat Pribadinya Kepada Presiden Suharto » Jurus Mabuk di Tengah Kota


Ekonomi dan Bisnis
29-04-2011
Hubungan Kerjasama RI - China
Investasi China di Indonesia
Penulis : Lepi T Tarmidi - Guru Besar Emeritus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Tidak banyak yang tahu investasi modal China di Indonesia sejauh ini. Bagaimana prospek dan kaitannya dengan perdagangan bebas ACFTA?

Pada masa lalu China adalah negara yang sangat tertutup, seperti negara-negara sosialis lain dengan sistem pemerintahan terpusat. Seluruh kegiatan ekonomi dikuasai negara dan tidak ada kepemilikan pribadi sehingga tidak ada usaha swasta. Keadaan ini berubah drastis ketika PM Deng Xiaoping berkuasa dan penanaman modal asing diperbolehkan masuk ke China.


Sejak 1978 China membuka diri dan bermunculanlah perusahaan swasta. Pemerintah China mulai mengizinkan perusahaan China berinvestasi di luar negeri pada awal 1980-an sehingga China bisa disebut pendatang baru. Namun, perkembangannya sangat pesat karena beberapa perusahaan besar berhasil membuka cabang di banyak negara di dunia. Bahkan ada yang sampai mengakuisisi perusahaan ternama di beberapa negara maju.

Penanaman modal asing (PMA) China relatif lambat masuk ke Indonesia, menurut cacatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) baru mulai tahun 1995, ini pun hanya satu proyek. Padahal, di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara lain, seperti Korea, Hongkong, Taiwan, dan Singapura, sudah berlangsung lebih lama dan banyak.

Investasi China

Akhir-akhir ini jumlah dan nilai investasi China di Indonesia meningkat tajam. Realisasi investasi China tahun 2007 adalah 20 proyek dengan nilai 29 juta dollar AS dan tahun 2010 menjadi 113 proyek dengan nilai 174 juta dollar AS.

Dilihat dari keseluruhan PMA yang masuk ke Indonesia tahun 2010, jumlah investasi China masih sangat kecil. Total PMA mencapai 3.081 proyek dengan nilai 16.215 juta dollar AS. Antara tahun 1995 dan 2007 total proyek mencapai 80 proyek dengan nilai 229 juta dollar AS.

Menurut penelitian Gammeltoft dan Tarmidi 2009/2010, ada 76 perusahaan PMA China di Indonesia. Beberapa merupakan perusahaan patungan. Namun, ada banyak perusahaan yang alamatnya tidak bisa ditemukan dan tidak diketahui apakah mereka masih beroperasi atau tidak.

Bidang-bidang investasi mereka cukup luas, yakni pertambangan, energi, konstruksi, pertambangan, kantor perwakilan bank, pelayaran dan perdagangan, serta telekomunikasi. Yang menarik adalah tidak ditemukan investasi China langsung di bidang industri manufaktur. Ini sesuai dengan rencana investasi China ke depan, yakni energi, kontraktor, perbankan, perkebunan, dan telekomunikasi (Kompas, 21 April 2011). Temuan Gammeltoft dan Tarmidi berbeda dengan daftar BKPM.

Tak semua barang China berhasil bersaing di pasar Indonesia. Tahun 1998-2000 banyak perusahaan yang merakit sepeda motor merek China sehingga jumlahnya lebih dari 200 merek. Beberapa di antaranya investasi langsung dari perusahaan China, beberapa lagi patungan, tetapi sebagian terbesar perakit adalah perusahaan Indonesia.

Mereka satu per satu hilang. Yang bertahan adalah perusahaan perakit Indonesia karena mereka memproduksi kendaraan roda tiga pengangkut barang dengan motor China untuk mengangkut air kemasan, tabung gas, dan sebagainya.

Kalah bersaing

Di perakitan mobil ada empat merek. Tiga merek dirakit oleh Indomobil dan satu merek oleh Gaya Motor. Akan tetapi, produksi mereka masih sangat kecil. Baik sepeda motor maupun mobil tidak mampu bersaing dengan merek-merek ternama dari Jepang dan Eropa. Di sini China tidak berinvestasi. Yang ada hanya persetujuan kerja sama teknik antara pemegang merek China dan perusahaan Indonesia.

Di bidang televisi dan alat pendingin, perusahaan China juga tidak terlalu berhasil. Awalnya ada beberapa perusahaan China dan joint venture yang merakit televisi China, tetapi yang tampak bertahan hanya merek Changhong dan ini pun kurang laku.

Yang jelas, perusahaan multinasional dari negara maju atau semiindustri akan berinvestasi di bidang industri manufaktur suatu negara kalau menghadapi hambatan ekspor, biaya produksi terutama upah buruh sangat rendah, tersedia bahan baku melimpah di negara tujuan, prasarana fisik baik, ekonomi dan politiknya stabil, tersedia cukup tenaga kerja terampil dan iklim usaha baik, serta bertujuan ekspor ke negara lain.

Apakah perusahaan-perusahaan China akan berinvestasi di bidang industri manufaktur di Indonesia? Tampaknya tidak. Harga barang-barang buatan China lebih rendah. Dengan adanya perdagangan bebas ACFTA, tidak ada alasan bagi perusahaan China untuk berinvestasi di bidang industri manufaktur di Indonesia karena lebih baik memproduksi di China dan mengekspornya ke Indonesia.


Sumber :www.cetak.kompas.com
Artikel Terkait
» RI-RRT Mempererat Persahabatan, Mendorong Investasi
» Pemerintah Berencana Mengevaluasi Perdagangan Bebas dengan China
» Saat China Jenuh, RI Harus Siap



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Harus Bisa Mencegah Terseretnya Negara-Negara OKI Dalam Proxy War Arab Saudi versus Iran
Pada 2016 ini, Organisasi Konferensi Islam (OKI) akan menggelar dua agenda penting. Pertama, Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara Islam di Istambul, Turki, Januari ini. Dan KTT untuk ...

MEA: Peluang atau Ancaman?

Rencana Mundurnya James “Bob” Moffet, Indikasi Adanya Strategi Freeport Ganti Aktor Baru Untuk Pertahankan Kesepakatan Lama

Mempertimbangkan Indonesia Sebagai “Sang Juru Damai” Konflik Suriah

Pada Hakekatnya Turki Merupakan Sekutu ISIS

Presiden Jokowi Harus Fokuskan Sektor Maritim, Perdagangan dan Investasi di G-20

Lihat lainya »
   Arsip
Strategi Global China: Bagaimana China Berhasil Merebut Banyak Proyek

Swasembada Pangan Dalam 3 Tahun? Impor Pangan Masih Besar di 2016

'SISIK MELIK' INTELIJEN INDONESIA

Presiden Jokowi, Kembalilah Kepada Cita-cita Poros Maritim

Gerakan Kembali ke UUD 1945 Seraya Menghidupkan Kembali Filsafat Pancasila (Mengapresiasi Terbitnya buku Karya Prof Dr Kaelan, Liberalisasi Ideologi Negara Pancasila)

Kita Sudah Kebablasan, Saatnya Kembali ke Dasar Filosofis UUD 1945

Membangun Mental Lewat Sekolah

Menakar Peta Kekuatan Ekonomi ASEAN

BKPM Izinkan Asing Bisnis Distribusi dan Pergudangan Migas

Afrika Ancam Keluar Jika Tak Jadi Anggota Tetap DK PBB

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Lihat Lainnya »