» Bilderberg Group, Rekomendasi Rand Corporation dan Skenario Balkanisasi Nusantara » Saatnya Peran Aktif Indonesia dalam Konflik Iran-Arab Saudi » Waspadai Mafia Global Bermain di “Green Global Economy” dan “Global Climate Change” » Peran Strategis Indonesia di ASEAN Dibahas Soedjatmoko Melalui Surat-Surat Pribadinya Kepada Presiden Suharto » Jurus Mabuk di Tengah Kota


Internasional
16-02-2011
Kondisi Di Timur Tengah
Timur Tengah Baru, Hancurnya Liberalisme

Jatuhnya rezim-rezim sekutu dan boneka Barat di kawasan Timur Tengah dipandang oleh para pakar politik dan strategi AS dan Zionis sebagai kekalahan besar bagi kubu Liberal Demokrasi. Setidaknya kondisi yang sudah dan sedang terjadi di kawasan Timteng dan Dunia Arab menyentak kaum Zionis dan para pembuat keputusan di Gedung Putih. Reaksi pun beragam dan terkadang saling bertentangan. Menyatukan seluruh pandangan dan pernyataan itu bukan perkara yang mudah. Inilah yang lantas oleh para pemerhati dipandang sebagai pemicu krisis di kabinet Zionis dalam membuat keputusan.


Koran Israel Haaretz dalam sebuah artikel menulis tentang periode baru di Timur tengah yang sedang menemukan bentuknya. Artikel itu menjelaskan tentang kerusuhan dan kekacauan politik saat rakyat yang tidak bersenjata berhasil menurunkan penguasa yang mereka benci. Fenomena ini belum pernah terjadi sebelumnya di Dunia Arab. Revolusi Tunisia dan Mesir tak ubahnya bagai bunyi lonceng yang menunjukkan dimulainya periode baru Timur Tengah. Di periode ini rakyat bangkit karena ingin suaranya didengar dan diberi kesempatan untuk menentukan nasib sendiri. Mereka menolak rezim-rezim despotik dan diktator yang hanya memperkuat kekuasaan dengan menerapkan undang-undang darurat militer atau meningkatkan pengamanan umum. Apa yang terjadi di Mesir benar-benar mengguncang para pakar, pemerhati bahkan para pemimpin dunia.

Koran cetakan Tel Aviv lebih lanjut menyebut masa depan politik Mesir suram dan tidak menentu. "Masih terlalu dini untuk berbicara tentang rezim yang bakal berkuasa di Mesir, dan tentang siapakah yang bakal memimpin atau tentang bagaimana rezim baru akan terbentuk. Yang jelas, tentara dan gerakan Ikhwanul Muslimin menjadi alternatif dengan kans terbesar untuk memimpin Mesir. Sampai saat ini juga belum jelas apakah revolusi Mesir bakal merambah negara-negara lain dan mengancam kelanjutan kekuasaan para pemimpin di kawasan Timur Tengah?"

Haaretz tak lupa membahas tentang kebijakan dependen Hosni Mubarak kepada Rezim Zionis Israel. Artikel tadi menambahkan, "Sampai detik-detik akhir kekuasaannya Mubarak masih menjadikan keamanan dan stabilitas Israel sebagai motto kebijakannya. Israel sendiri memandang rezim Mubarak sebagai pilar strategis bagi eksistensinya."

Loyalitas Mubarak kepada janji perdamaian dengan Israel dan kebijakannya yang membantu Israel dalam menciptakan batas teritorial bagi Israel yang secara perlahan semakin jelas, serta langkahnya yang menyuplai kebutuhan energi Tel Aviv telah membantu stabilitas Israel. Namun kini, dengan lengsernya kekuasaan Mubarak, Israel terlihat khawatir. Tel Aviv harus membiasakan diri dengan kondisi yang baru. Dengan perubahan kondisi, salah besar jika Israel bermain api dengan mencampuri urusan internal Mesir. (IRIB/AHF/MZ)


Sumber :Irib-Radio Iran
Artikel Terkait
» Tunisia Perpanjang Status Darurat Dan Akhiri Jam Malam
» Kemenkes Palestina Di Gaza Beri Ucapan Selamat
» Ikhwanul Muslimin: Militer Mesir Memiliki Hubungan Dengan AS dan Israel
» Ribuan Anak Di Afghanistan Jadi Korban Perang
» Penguasa Militer Mesir Tunjuk Kepala Badan Konstitusi
» Israel Akan Bangun 120 Rumah Baru di Jerusalem Timur
» Perdana Menteri: Mubarak Tetap Di Mesir
» AS Minta Aljazair Kekang Diri Terhadap Demonstran Anti-Pemerintah
» Menlu Tunisia Mundur Terkait Pujiannya Pada Menlu Perancis



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Harus Bisa Mencegah Terseretnya Negara-Negara OKI Dalam Proxy War Arab Saudi versus Iran
Pada 2016 ini, Organisasi Konferensi Islam (OKI) akan menggelar dua agenda penting. Pertama, Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara Islam di Istambul, Turki, Januari ini. Dan KTT untuk ...

MEA: Peluang atau Ancaman?

Rencana Mundurnya James “Bob” Moffet, Indikasi Adanya Strategi Freeport Ganti Aktor Baru Untuk Pertahankan Kesepakatan Lama

Mempertimbangkan Indonesia Sebagai “Sang Juru Damai” Konflik Suriah

Pada Hakekatnya Turki Merupakan Sekutu ISIS

Presiden Jokowi Harus Fokuskan Sektor Maritim, Perdagangan dan Investasi di G-20

Lihat lainya »
   Arsip
Menimbang Aksi Nekat Saudi Untuk Petualangan di Suriah

Penghargaan Rakyat Rusia atas Sejarah

Selain Pikirkan Kesejahteraan Papua, Pemerintah Juga Rangkul OPM

Dibalik Kembalinya TPN-OPM ke NKRI

Investor Pergi, Ada Apa dengan Indonesia?

Selain Pikirkan Kesejahteraan Papua, Pemerintah Juga Rangkul OPM

Sebaiknya BIN Diberikan Wewenang Menangkap Untuk Mencegah Aksi Terorisme

Hasil Program Penanggulangan Kemiskinan Pemerintah 2015 Jauh Dibawah Target

Hengkang dari Indonesia, Tetapi Berekspansi secara Global: Awas Efek Domino!

Strategi Global China: Bagaimana China Berhasil Merebut Banyak Proyek

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Lihat Lainnya »