» Pemerintahan Jokowi-JK Harus Secerdas Perdana Menteri Alexis Tsipras » Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. II) » Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi » Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I) » Melacak Jejak Para Taipan Indonesia Investasi di Daratan Cina


Internasional
16-02-2011
Kondisi Di Timur Tengah
Timur Tengah Baru, Hancurnya Liberalisme

Jatuhnya rezim-rezim sekutu dan boneka Barat di kawasan Timur Tengah dipandang oleh para pakar politik dan strategi AS dan Zionis sebagai kekalahan besar bagi kubu Liberal Demokrasi. Setidaknya kondisi yang sudah dan sedang terjadi di kawasan Timteng dan Dunia Arab menyentak kaum Zionis dan para pembuat keputusan di Gedung Putih. Reaksi pun beragam dan terkadang saling bertentangan. Menyatukan seluruh pandangan dan pernyataan itu bukan perkara yang mudah. Inilah yang lantas oleh para pemerhati dipandang sebagai pemicu krisis di kabinet Zionis dalam membuat keputusan.


Koran Israel Haaretz dalam sebuah artikel menulis tentang periode baru di Timur tengah yang sedang menemukan bentuknya. Artikel itu menjelaskan tentang kerusuhan dan kekacauan politik saat rakyat yang tidak bersenjata berhasil menurunkan penguasa yang mereka benci. Fenomena ini belum pernah terjadi sebelumnya di Dunia Arab. Revolusi Tunisia dan Mesir tak ubahnya bagai bunyi lonceng yang menunjukkan dimulainya periode baru Timur Tengah. Di periode ini rakyat bangkit karena ingin suaranya didengar dan diberi kesempatan untuk menentukan nasib sendiri. Mereka menolak rezim-rezim despotik dan diktator yang hanya memperkuat kekuasaan dengan menerapkan undang-undang darurat militer atau meningkatkan pengamanan umum. Apa yang terjadi di Mesir benar-benar mengguncang para pakar, pemerhati bahkan para pemimpin dunia.

Koran cetakan Tel Aviv lebih lanjut menyebut masa depan politik Mesir suram dan tidak menentu. "Masih terlalu dini untuk berbicara tentang rezim yang bakal berkuasa di Mesir, dan tentang siapakah yang bakal memimpin atau tentang bagaimana rezim baru akan terbentuk. Yang jelas, tentara dan gerakan Ikhwanul Muslimin menjadi alternatif dengan kans terbesar untuk memimpin Mesir. Sampai saat ini juga belum jelas apakah revolusi Mesir bakal merambah negara-negara lain dan mengancam kelanjutan kekuasaan para pemimpin di kawasan Timur Tengah?"

Haaretz tak lupa membahas tentang kebijakan dependen Hosni Mubarak kepada Rezim Zionis Israel. Artikel tadi menambahkan, "Sampai detik-detik akhir kekuasaannya Mubarak masih menjadikan keamanan dan stabilitas Israel sebagai motto kebijakannya. Israel sendiri memandang rezim Mubarak sebagai pilar strategis bagi eksistensinya."

Loyalitas Mubarak kepada janji perdamaian dengan Israel dan kebijakannya yang membantu Israel dalam menciptakan batas teritorial bagi Israel yang secara perlahan semakin jelas, serta langkahnya yang menyuplai kebutuhan energi Tel Aviv telah membantu stabilitas Israel. Namun kini, dengan lengsernya kekuasaan Mubarak, Israel terlihat khawatir. Tel Aviv harus membiasakan diri dengan kondisi yang baru. Dengan perubahan kondisi, salah besar jika Israel bermain api dengan mencampuri urusan internal Mesir. (IRIB/AHF/MZ)


Sumber :Irib-Radio Iran
Artikel Terkait
» Tunisia Perpanjang Status Darurat Dan Akhiri Jam Malam
» Kemenkes Palestina Di Gaza Beri Ucapan Selamat
» Ikhwanul Muslimin: Militer Mesir Memiliki Hubungan Dengan AS dan Israel
» Ribuan Anak Di Afghanistan Jadi Korban Perang
» Penguasa Militer Mesir Tunjuk Kepala Badan Konstitusi
» Israel Akan Bangun 120 Rumah Baru di Jerusalem Timur
» Perdana Menteri: Mubarak Tetap Di Mesir
» AS Minta Aljazair Kekang Diri Terhadap Demonstran Anti-Pemerintah
» Menlu Tunisia Mundur Terkait Pujiannya Pada Menlu Perancis



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. II)
Pemerintah Harus Punya Ocean Policy Di abad 21 ini, negara-negara di dunia yang saling berlomba dalam meningkatkan kekuatan maritimnya masing-masing harus punya Ocean Policy atau Kebijakan strategis ...

Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

Permainan Intelijen Asing di Tolikara, Papua

Anthrax, Proyek Militer AS Berkedok Proyek Riset Kesehatan (Bag I)

Nilai Strategis Kerjasama Indonesia-Rusia bidang Energi Dari Perspektif Kepentingan Nasional

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia dan Palau Bahas Persiapan Perundingan Batas ZEE di Laut Filipina dan Samudra Pasifik

Dansatgas Indobatt: Prajurit Garuda Dekat Dengan Warga Lokal di Darfur

Urgensi Pertegas Independensi NU

Kemlu RI Perkuat Kapasitas Peacekeepers Indonesia

Sambut Hari Jadi ASEAN ke-48, Kemlu Gelar Seminar

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. II)

Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi

Ini Alasan MUI keluarkan Fatwa Haram terhadap program BPJS

Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »