» Membaca Perilaku Geopolitik (1) » Manuver AS-Uni Eropa Singkirkan Rusia dari G-20 Berakibat Buruk Bagi Perekonomian Eropa dan Negara-Negara Berkembang » Bagaimana Kabarmu, Kim Jong-un? » Dukung Koalisi Merah Putih Tinjau Ulang UU Pro Asing » ISIS, “Bidak Catur” Pengganti Resolusi PBB! (3/Habis)


Sosial Budaya
24-01-2011
Tingkat Kelahiran
Tingkat Kelahiran yang Rendah Ancam Negara Maju di Asia
Penulis : Rachmat Adhani/GFI

Pertumbuhan ekonomi Asia Timur selama bertahun-tahun telah membuat iri dunia, tetapi kekurangan di satu area penting - bayi – menjadi ancaman yang menguatirkan.


Beberapa negara dengan tingkat kelahiran terendah mulai bersiap untuk memangkas tenaga kerja seperti terlihat di Singapura, Korea Selatan dan Taiwan, di mana para pekerja yang lebih sedikit akan menjadi tumpuan lebih banyak pensiunan di masa mendatang untuk membiayai perawatan kesehatan dan pension mereka.

Negara yang paling terancam dengan kondisi ini adalah Jepang, yang populasinya mulai menyusut perlahan-lahan tiga tahun lalu, dimana hampir seperempat penduduknya berusia lebih dari 65 sedangkan tingkat kelahiran anak hanya 13 persen. Dengan tren saat ini, populasi Jepang yang mencapai 127 juta orang akan menyusut pada tahun 2055 menjadi hanya 90 juta orang.

Selama 50 tahun terakhir, modernisasi ekonomi dan sosial di Asia telah disertai dengan penurunan tingkat kelahiran yang luar biasa. Peningkatan dalam standar pendidikan, pekerjaan dan hidup, dikombinasikan dengan terobosan dramatis dalam teknologi kesehatan dan keluarga berencana, telah menyebabkan kesuburan yang lebih rendah di setiap negara kawasan Asia.

Tingkat kesuburan masyarakat yang menurun menjadi kecenderungan umum dalam sebuah masyarakat ketika mereka tumbuh menjadi lebih kaya, dan banyak negara Eropa juga memiliki tingkat kesuburan di bawah yang dibutuhkan untuk menjaga populasi tetap stabil - sekitar 2,1 anak per perempuan selama hidupnya.

Singapura saat ini memiliki 1,2 kelahiran per perempuan, Korea Selatan memiliki sedikit lebih kecil dari 1,1, dan Taiwan baru mencapai 1,03 kelahiran per perempuan. Salah satu cara untuk melawan penurunan populasi adalah meningkatkan terjadinya imigrasi - tetapi pemerintah mulai dari Singapura sampai Jepang enggan untuk melakukannya.

Pada saat yang sama Singapura, yang telah mengubah negara kota mereka menjadi pusat industri perdagangan dan jasa Asia, telah lama terkenal segan untuk memiliki keturunan. Berbagai model rekayasa sosial telah gagal menciptakan lonjakan bayi.

Kim Hye-young, seorang peneliti di Institut Pengembangan Wanita Korea mengatakan masalah terbesar yang dihadapi wanita Korea Selatan dibandingkan kaum laki-lakinya adalah bahwa mereka kehilangan terlalu banyak hal saat menikah. "Kenyataan ini menjadikan perkawinan, apalagi memiliki anak, terlihat seperti pilihan yang sangat tidak menarik di Korea Selatan, mungkin jauh lebih parah daripada di negara-negara lain."

Di Jepang, di mana perempuan masih sangat kurang terwakili dalam ruang rapat perusahaan, mengandung anak seringkali menjadi lonceng kematian bagi karier mereka. "Wanita menahan diri dari memiliki anak-anak karena biayanya tinggi dan kebijakan dunia kerja yang kaku membuat banyak dari mereka memilih antara membesarkan keluarga atau mengejar karir," kata Jeff Kingston, Direktur Studi Asia pada Temple University di Tokyo.

Faktor-faktor lain juga memainkan peran, banyak anak muda sekarang gampang berganti-ganti dan tidak memiliki persiapan keuangan yang cukup untuk memulai sebuah keluarga. Padahal Jepang memiliki tingkat harapan hidup tertinggi di dunia - rekor 86,44 tahun untuk wanita dan 79,59 tahun untuk laki-laki.

Dalam jangka panjang, Jepang perlu mengambil langkah-langkah mendasar untuk menangani meningkatnya jumlah penduduk lansia pada masa mendatang, lembaga pemeringkat Standard and Poor's memperingatkan.

Hal ini, pada gilirannya, mengancam menurunkan peringkat perekonomian di Jepang dalam jangka panjang. Dan tampaknya tingkat kesuburan masyarakat Asia Timur akan tetap rendah setidaknya untuk masa yang akan datang karena para wanita masih sulit membuat pilihan bijak antara meniti karir dan menjadi ibu. (dni/afp/jgb)




Artikel Terkait
» Mengapa Makin Bertambah Usia Makin Bijak
» Pemuda Hebat Dibalik Kerja Internet
» AS Juga Pekerjakan Anak-anak
» Jumlah Penduduk Tokyo Dekati 13 Juta Jiwa



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Drone, Pelanggaran Hukum Kemanusiaan Internasional?
Selain membahas secara umum terkait perlunya memberi makna baru tentang konsepsi Ketahanan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Global Future Institute (GFI) secara khusus menyorot pesawat ...

Meluruskan Konsepsi Ketahanan Nasional NKRI

Pembelian 3 Unit Pesawat Drone Tidak Sesuai Dengan Anatomi dan Kebutuhan Nyata Pertahanan Nasional RI

Presiden Terpilih Jokowi Harus Jelaskan Apa Pentingnya Penggunaan Drone Bagi Pertahanan Nasional RI

Media Mainstream Nasional Pendukung Capres pada Pilpres 2014

Reputasi Buruk Drone UAV Sebagai Mesin Pembunuh

Lihat lainya »
   Arsip
Titik Terang Rencana Pembangunan Indonesia Islamic Center di Afghanistan

Kebangkitan Jurnalis

Mosi Senator Australia Terkait Penangkapan Wartawan Asing di Papua

ISIS Sudah Ada di Indonesia, Bagaimana Langkah Kita?

ATHG Komisi Penyiaran dan Komisi Informasi Tahun 2015

Beri Waktu Untuk Para Negarawan

Saat Pemuda Bersumpah

Zero Tolerance, Posisi Indonesia di Kekerasan terhadap Wanita

Korut dan Rusia Sepakat Gunakan Mata Uang Rubel pada Transaksi Perdagangan

Bangkai Kapal AS "Hantu Pesisir Jawa" Ditemukan di Selat Sunda

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »