» Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya (2) » Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya (1) » Gerakan Anti Korupsi: Modus Baru Kolonialisme (Kisah dari Rumania, Thailand, Venezuela dan Indonesia) » Menebar Gelora Antipenjajahan! » Membaca Bung Karno Lewat Prinsip Dasa Sila Bandung


Industri Strategis
08-12-2010
Indonesia - China Tandatangani Perjanjian di Sektor Energi dan Pertambangan
Penulis : Rachmat Adhani/GFI

Sejumlah perusahaan Indonesia dan Cina di Shanghai, China, menandatangani enam nota kesepahaman di bidang energi dan pertambangan sebagai bagian dari 27 nota kesepahaman yang ditandatangani oleh kedua negara di berbagai bidang.


Perjanjian kerjasama itu ditandatangani di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan juga dihadiri oleh lebih dari 500 peserta dari kalangan pemerintah, asosiasi industri dan pengusaha di berbagai sektor dari Indonesia dan China.

Keenam perjanjian kerjasama di antaranya perjanjian antara Shanghai Know-How Marine Equipment dan PT Pertamina untuk mendistribusikan minyak pelumas laut Pertamina. Area pemasaran yaitu di China dengan nilai penjualan sebesar USD 600 ribu per tahun. Kedua belah pihak juga menetapkan target penjualan sebesar USD 1,5 juta per tahun pada tahun kedua.

Kerjasama lain yaitu pengelolaan proyek pengeboran minyak Madura Strait PSC di Selat Madura, Jawa Timur. Kerjasama tersebut melibatkan tiga perusahaan yaitu Samudera Energy, CNOOC Ltd, dan Husky Oil. Sedangkan perusahaan pertambangan PT Aneka Tambang akan bekerjasama dengan Hangzhou Jinjiang Group Co Ltd untuk melakukan proyek eksplorasi, eksploitasi dan pengembangan bauksit.

Sementara itu, Jinchuan Group Ltd ingin membangun pabrik nikel di Sulawesi Tenggara dengan nilai investasi sebesar USD 2 miliar bekerja sama dengan PT Barong Baragas Energy. Kerjasama lainnya adalah pembangkit listrik dan eksploitasi nikel senilai USD 700 juta antara PT Bumi Makmur Selaras dan Hanking Industrial Group.

Kerjasama eksploitasi nikel juga akan dilakukan oleh PT Indonesia Mitra Jaya dan Super Power International Holding Ltd di Pulau Seram. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang juga ikut menyaksikan penanda-tanganan perjanjian mengatakan kerjasama ini akan membuka peluang bagi Indonesia untuk menerima transfer teknologi dan meningkatkan nilai jual produk dalam negeri.

Bangun Pabrik Baja di Kalimantan Selatan

Di saat yang sama Wuhan Iron and Steel Corporation (Wisco Group), pembuat baja ketiga terbesar China, berencana untuk membangun pabrik baja di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, bekerjasama dengan PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO).

Perusahaan China tersebut akan segera mengirimkan asisten presiden direktur perusahaan untuk membahas rencana dengan Bupati Kotabaru Irhami Ridjani. Wuhan Iron and Steel Corporation memproduksi 30 juta metrik ton baja per tahun.

Sementara itu Grup SILO telah berpengalaman menjalankan sejumlah industri bijih besi di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan bahan baku poduksi baja. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku SILO Group memiliki industri bijih besi di Manila dan Indonesia.

Ketika rencana pembangunan pabrik baja di Kotabaru selesai semua produksi bijih besi SILO Group akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan untuk bahan baku untuk memproduksi baja Wisco Group. (dni/blg/xin/jgb)



Artikel Terkait
» Indonesia Desak Negara Konsumen Hentikan Pembelian Kayu Ilegal
» Iran Sanjung Hubungan Dengan China Jelang Pembicaraan Nuklir
» Waspadai Investor Asing Kuasai Industri Strategis
» Kecepatan Rata-rata Koneksi Internet Indonesia Terburuk di ASEAN?
» Penandatangan Proyek Hydrogen Hi-Speed Rail Super Highway senilai US$ 3 Milyar Untuk Jawa Barat
» Iran Seriusi Misi Ruang Angkasa
» Prancis dan China Akan Bentuk Kemitraan Tenaga Nuklir
» Konperensi Energi: Membuka Peluang Peningkatan Kerjasama Energi Indonesia - Jerman



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Dalam Bayang-Bayang Politik Global AS
Situasi internasional pada 1954-1955, kala Indonesia mulai menggagas sebuah pertemuan akbar bangsa-bangsa Asia-Afrika yang kelak kita kenal sebagai Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 18-24 April 1955, ...

SERUAN GLOBAL FUTURE INSTITUTE KEPADA PARA PESERTA KAA BANDUNG KE-60 19 April-24 April 2015

Peran Strategis Indonesia di Balik Terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika

Pernyataan Profesor Alan Robock Perkuat Dugaan Adanya Teknologi Rekayasa Cuaca Rancangan AS

AS dan Skema TPP Bendung Pengaruh Cina dan Rusia di Asia Pasifik

Bung Karno dan “Garis Hidup Asia-Afrika”

Lihat lainya »
   Arsip
PUPUTAN MARGARANA: AGRESI MILITER BELANDA TERHADAP REPUBLIK INDONESIA YANG MERDEKA DAN BERDAULAT

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya (1)

Korsel Berhasil Orbitkan Satelit Multifungsi

Kerja Sama Polisi Indonesia – Timor Leste Meningkat

Indonesia Pantau Situasi di Yaman

Nigeria Gelar Pemilu Presiden

Alasan Kemanusiaan, Israel Akan Cairkan Dana Pajak Palestina

Hegemony XXIX: Pahlawan HAM adalah Pelanggar HAM terbesar

Revolusi Indonesia Menudju Kepada Dunia Baru

Gerakan Anti Korupsi: Modus Baru Kolonialisme (Kisah dari Rumania, Thailand, Venezuela dan Indonesia)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »