» Perlu Kontra Skema Hadapi National Security Agency (NSA) di Bidang Cyber Media » The US Federal Reserve Bank dan The London Connection » Tol Laut Ditunda? (3/Habis) » AGENDA SETTING TERSEMBUNYI AMERIKA SERIKAT: Perspektif Perang Non Militer Milenium Ketiga (Bagian Terakhir) » Pentingnya Menegakkan Kedaulatan Laut Dalam Kerangka Supremasi Maritim


Hankam
01-06-2009
Pertahanan Negara
Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa dan Tumpah Darah Indonesia - Bagian 5

TNI-AD merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari TNI sebagai Komponen Utama dalam pelaksanaan Sishankamrata dengan berpedoman kepada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit harus selalu melakukan evaluasi secara terus-menerus terhadap Tugas Pokok (Tupok)-nya


Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa Dan Seluruh Tumpah Darah Indonesia

1.Pengantar

TNI-AD merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari TNI sebagai Komponen Utama dalam pelaksanaan Sishankamrata dengan berpedoman kepada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit harus selalu melakukan evaluasi secara terus-menerus terhadap Tugas Pokok (Tupok)-nya yang diamanatkan oleh Undang-Undang maupun Tugas Terkandung dari Tupok tersebut agar dapat berperan aktif dalam persiapan dan operasional Sishankamrata dalam rangka melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Dalam konteks ini, TNI (AD) tidak hanya dituntut untuk mengembangkan diri sebagai Kekuatan Pertahanan, tetapi juga membentuk dan memerankan diri sebagai Kekuatan Moral serta Kekuatan Kultural.

Peningkatan kualitas dan profesionalisme TNI (AD) merupakan keniscayaan dan harus diupayakan terus sebagai suatu proses akbar yang sinambung dari generasi ke generasi Pimpinan TNI (AD), karena sebagaimana dikemukakan pada bagian terdahulu secara faktual bangsa-negara sedang dan akan terus dihadapkan dengan aneka tantangan multidimensional serta ancaman potensial yang jauh lebih sulit, rumit dan kompleks karena dipengaruhi multifaktor perkembangan Lingkungan Strategis yang sangat dinamis dan cepat berubah. Oleh karena itu, dituntut daya adaptasi yang tinggi serta proses belajar dan pembentukan yang terus-menerus (on going formation) agar TNI tetap mampu melaksanakan Tupok-nya secara optimal di tengah segala keterbatasan kondisional pada lingkup TNI sendiri maupun pada level negara.


2.Tugas Pokok dan Tugas Terkandung TNI-AD

Berdasarkan UU RI No. 34 Tahun 2004 pasal 8 dinyatakan bahwa TNI-AD bertugas:
a.Melaksanakan tugas TNI matra darat di bidang pertahanan.
b.Melaksanakan tugas TNI dalam menjaga keamanan wilayah perbatasan darat dengan negara lain.
c.Melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan matra darat, serta
d.Melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat.

Menyimak Tupok TNI-AD  yang diamanatkan oleh UU No. 34 tahun 2004 di atas, maka masing-masing tugas tersebut dapat dianalisis untuk mendapatkan tugas terkandung sebagai berikut:

a.Dalam melaksanakan tugas TNI matra darat bidang pertahanan, berarti TNI-AD memiliki tugas terkandung sebagai berikut:
1)Menegakkan kedaulatan negara Republik Indonesia di wilayah daratan.
2)Mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berd\asarkan Pancasila dan UUD 1945.
3)Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia di darat, dari segala bentuk ancaman dan gangguan terhadap bangsa dan negara.

b.Dalam melaksanakan tugas menjaga keamanan wilayah perbatasan darat dengan negara lain TNI-AD memiliki tugas terkandung sebagai berikut:
1)Menegakkan kedaulatan negara RI di wilayah perbatasan
2)Mempertahankan daerah perbatasan dari aneksasi oleh pihak lain.

c.Dalam melaksanakan tugas pembangunan kekuatan matra darat, TNI-AD memiliki tugas terkandung sebagai berikut:
1)Membangun kekuatan satuan TNI-AD
2)Membangun kemampuan satuan TNI-AD untuk dapat melaksanakan tugasnya.
3)Menggelar satuan TNI-AD agar dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendeteksi awal dan penangkal awal dari ancaman yang masuk.

d.Dalam melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat, TNI-AD memiliki tugas terkandung sebagai berikut:
1)Bersama Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah melakukan revitalisasi nilai-nilai luhur bangsa yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 45, untuk memperkuat nasionalisme dan kesadaran Bela Negara
2)Bersama pemerintah/pemerintah daerah membangun wilayah untuk dapat menunjang upaya pertahanan di wilayah daratan
3)Membantu melatih rakyat untuk memiliki kemampuan bela negara guna melakukan pertahanan di bidang kehidupannya masing-masing
4)Membantu mengkoordinir rakyat terlatih di wilayah daratan Indonesia dalam melakukan upaya pertahanan di bidang kehidupannya masing-masing

Memperhatikan uraian tugas-tugas terkandung di atas maka dapat ditegaskan kembali Tugas Pokok TNI-AD sebagai berikut:
”TNI-AD bertugas untuk mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayah daratan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) termasuk wilayah perbatasan agar tidak dianeksasi oleh pihak lain dan dengan cara:

a.Membangun Postur TNI-AD (kekuatan dan kemampuan TNI-AD serta menggelar satuan TNI-AD sedemikian rupa) agar mampu mendeteksi awal dan menangkal awal terhadap setiap ancaman (baik militer maupun non militer) di wilayah daratan.
b.Bersama pemerintah/pemerintah daerah melakukan revitalisasi nilai nilai luhur Pancasila dan UUD 45 dan membangun kekuatan kewilayahan yang dapat menunjang pertahanan wilayah daratan.
c.Membantu melatih rakyat dalam bela negara dan membantu mengkoordinir komponen rakyat terlatih dalam melakuan pertahanan terhadap ancaman dibidang kehidupan masing masing guna menegakan kedaulatan NKRI serta memelihara keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD1945, dalam rangka melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia.”


3.Pemeranan TNI (AD) sebagai Kekuatan Pertahanan, Moral dan Kultural

Dalam perjalanan reformasi nasional – yang de facto sebenarnya telah didahului ”kesadaran” dan benih reformasi internal di kalangan TNI-AD sendiri sejak lama (bdk. Seskoad Paper, Widodo Paper dan sebagainya) – TNI terutama Angkatan Darat telah menjadi sasaran hujatan dan kritik publik yang secara substantif sebagian dapat dimengerti dan dibenarkan, namun di sisi lain terdapat pula tendensi politisasi isu ’reformasi TNI’ sebagai ”target antara” untuk melemahkan bangsa-negara (dengan cara ”war by proxy” seperti diutarakan sebelumnya).

Dwifungsi ABRI/TNI pada masa lampau memang telah menggerus profesionalisme militer TNI, sehingga dapat dibenarkan agar konsep tersebut diluruskan sebagai salah satu langkah penting reformasi internal TNI. Namun sebagai kekuatan dan potensi bangsa yang sangat besar, alangkah baiknya TNI tidak ”ditidurkan” atau dibiarkan ’berjarak’ dari kehidupan umum yang menyangkut kepentingan nasional. Oleh karena itu, perlu dipromosikan konsep, citra dan pemeranan TNI (termasuk AD) sebagai Kekuatan Moral dan Kekuatan Kultural selain tetap terutama sebagai Kekuatan Pertahanan.

a.TNI (AD) sebagai Kekuatan Pertahanan
Dari optik menghadapi Ancaman Eksternal (dari negara asing/pihak luar), mutlak diperlukan peningkatan atau pengembangan Postur TNI (AD) yang meliputi:

Kekuatan:
Sebagaimana dikupas pada bab sebelumnya, idealnya kekuatan pertahanan kita melampaui kekuatan yang mengancam atau ancaman potensial. Namun karena terkendala masalah anggaran yang sangat terbatas dari negara, hal itu sulit terpenuhi. Oleh karena yang harus dikejar adalah terwujudnya ”kekuatan minimal”.

Kekuatan minimal telah dan perlu terus dibangun di tengah keterbatasan dana dan kendala-kendala lainnya itu agar TNI-AD tetap mampu melaksanakan tugasnya untuk mempertahankan wilayah daratan dari berbagai bentuk ancaman baik ancaman militer (serangan invasi militer, pendudukan wilayah Inodonesia, pemberontakan bersenjata dan lain-lain), maupun ancaman non-militer (aspek kehidupan Ipolesosbudag).

Kekuatan TNI-AD harus ditingkatkan dari kondisi sekarang dan harus dilakukan modernisasi persenjataan dan peralatannya terutama alat komunikasi dan alat transportasi (darat, air dan udara). Adapun kekuatan minimal yang diharapkan tersebut setidaknya dengan komposisi sebagai berikut:
1)Pembanguan Kekuatan Terpusat
Untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik maka Kekuatan Terpusat TNI-AD diharapkan terdiri dari:
a)Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di bawah komando Danjen Kopassus dengan organisasi, perlengkapan, persenjataan dan peralatan khusus yang modern sesuai kebutuhan tugas yang dibebankan oleh Angkatan Darat.
b)Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di bawah komando Pangkostrad sebaiknya terdiri dari 4 (empat) Divisi Infanteri dan dengan penempatan sebagai berikut:
(1)1 (satu) divisi di Jawa (mencakup wilayah Jawa, dan wilayah Nusa Tenggara) terdiri dari 1 Brigif Linud, 2 (dua) Brigif, dan Satuan Banpur dan Banmin yang diperlukan.
(2)1 (satu) divisi di Sumatra (mencakup wilayah Sumatra dan Kalimantan Barat) yang terdiri dari 1 Brigif Linud , 2 (dua) Brigif dan Satuan Banpur dan Banmin yang diperlukan.
(3)1 (satu) divisi di Sulawesi (mencakup wliayah Sulawesi, Kalimantan Tengan, Selatan dan Timur) yang terdiri dari 1 Brigif Linud, 2 Brigif dan Satuan Banpur dan banmin yang diperlukan.
(4)1 (satu) Divisi di Papua (mencakup wilayah Papua, Maluku dan Maluku Utara) yang terdiri dari 1 Brigif Linud, 2 Brigif , Satuan Banmin dan Satuan Banpur.

2)Pembangunan Kekuatan Kewilayahan
Jumlah Kodam yang ada sekarang perlu dimekarkan dengan pertimbangan sebagai berikut:
a)Luas wilayah tanggung jawab agar Kodal lebih efektif.
b)Kondisi geografis beberapa pulau di Indonesia yang dipisahkan oleh rangkaian gunung, hutan, laut dan sungai.
c)Potensi ancaman yang dihadapi oleh daerah yang memerlukan intensitas penanganan secara cepat.
d)Terjadi pengembangan wilayah pemerintahan.

Dengan pertimbangan tersebut maka Kekuatan Kewilayahan perlu dilakukan  pemekaran atau penambahan Kodam sebagai berikut:
a)Di Kalimantan perlu ada dua Kodam yang ditempatkan di Kaltim (meng-cover wilayah Kal-Tim, Kal-Sel dan Kal-Teng) dan di Kal-Bar (untuk meng-cover wilayah Kal-Bar).
b)Di Sulawesi perlu ada dua Kodam yang bermarkas di Sul-Sel (meng-cover wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat) dan di Sulawesi Utara (untuk meng-cover wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo).
c)Di Papua perlu ada 2 (dua) Kodam yang bermarkas di Papua dan Papua Barat.
d)Kodam yang ada sekarang tetap eksis.
e)Di tiap Kodam minimal harus ada 1 (Brigif) sebagai satuan pemukul Kodam, 1 (satu) Batalyon/Detasemen Intel dan Satuan Banpur dan Satuan Banmin yang diperlukan.
f)Di tiap Korem minimal harus ada 1 (satu) atau 2 (dua) Batalyon Infantri sebagai Satuan Pemukul Korem, 1 (satu) Peleton s/d Kompi Intel dan Satuan Banpur dan Satuan Banmin yang diperlukan.
g)Di tiap Kodim minimal ada 1 (satu) Kompi Infantri sebagai Satuan Pemukul Kodim, 1 (satu) Regu s/d Peleton Intel dan Satuan Banpur dan Banmin yang diperlukan.

2)Pembanguan Kekuatan Komponen Cadangan
Untuk memperkuat TNI-AD sebagai Komponen Utama dalam pelaksanaan Sishankamrata perlu segera dibangun Komponen Cadangan siap sebanyak 2 atau 3 kali kekuatan TNI-AD yang nyata.

3)Pembangunan Kekuatan Komponen pendukung
Untuk meningkatkan peran Komponen Cadangan dan Komponen Utama dalam pelaksanaan Sishankamrata perlu dibangun Komponen Pendukung di seluruh wilayah Indonesia agar setiap saat apabila diperlukan dapat dipergunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan Komponen Utama maupun Komponen Cadangan dalam rangka pelaksanaan Sishankamrata.

Kemampuan:
Peningkatan aspek kemampuan seyogianya merupakan fokus pembangunan TNI-AD, setidaknya dalam situasi keterbatasan anggaran untuk pengembangan kekuatan. Membangun kekuatan secara kuantitatif tanpa diimbangi peningkatan kualitas profesional dan karakter keprajuritan justru berpotensi membahayakan masyarakat dan menjatuhkan citra TNI sendiri.
Peningkatan aspek Kemampuan meliputi:
1)Kemampuan Intelijen:
a)Deteksi dini terutama di wilayah perbatasan (dengan Malaysia, Papua Nugini, Timor Leste, Filipina dan Australia).
b)Kemampuan intelijen dalam menghadapi, meng-counter atau menjalankan perang elektronika, perang informasi dan sebagainya.
2)Kemampuan Tempur:
a)Kemampuan melaksanakan Preemptive Strike:
(1)Ops Lintas Udara
(2)Ops Amfibi
(3)Ops Patroli Gabungan
(4)Ops Mobil Udara
b)Kemampuan Pertahanan Linier:
(1)Ops Pertahanan Pantai
(2)Ops Pemindahan ke Belakang/Aksi Hambat
c)Kemampuan Han Mobil:
(1)Ops Gerilya
(2)Pertempuran Jarak Dekat (PJD)
(3)Demolisi/eksplosif

d)Kemampuan Ofensif Balas:
(idem dg Kemampuan ”Preemptive”)

e)Kemampuan Teritorial:
(1)Kemampuan Binter
(2)Kemampuan Opster
(3)Kemampuan Pengerahan Wan Ter

Gelar:
Aspek kekuatan dan kemampuan secara benderang termanifestasi dalam Gelar, yang antara lain:
1)Perlu redislokasi kekuatan untnuk mendekat ke hot spots.
2)Perlu penambahan Kekuatan Tempur secara bertahap (Divisi/Brigade) dan Kekuatan Koter (Kodam/Korem)

Dari perspektif menghadapi Ancaman Internal seperti separatisme dan pemberontakan bersenjata, secara prinsipiil TNI-AD perlu memiliki Kekuatan dan Kemampuan maupun Gelar sebagaimana menghadapi ancaman eksternal. Namun karena perbedaan karakteristik tertentu, konteks dan gradasi ancamannya, maka perlu penambahan aspek Kemampuan, yakni:
1)Kemampuan Lawan Gerilya (insurjensi).
2)Kemampuan Penguasaan Hukum Humaniter, yang antara lain mengatur tentang ”etika bertempur” termasuk keharusan untuk mampu membedakan perlakuan terhadap musuh yang kombatan dan non-kombatan.
 
b.TNI-AD sebagai Kekuatan Moral

Sebagai kekuatan moral (moral force), secara internal TNI-AD dituntut untuk mampu meningkatkan pemahaman dan implementasi nilai-nilai kejuangan TNI ke dalam institusi TNI-AD sendiri.

Sedangkan secara eksternal TNI-AD dapat dan perlu:
1)Membantu pemerintah dalam upaya memperkuat Nasionalisme, Wawasan Kebangsaan, Patriotisme dan Kesadaran Bela Negara.
2)Membantu dan mendukung upaya mempertahankan nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai luhur lainnya terutama yang terkandung dalam Preambul UUD 45.
3)Membantu memberikan pemahaman dan pencerahan kepada masyarakat untuk menyadari bahaya ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Pancasila seperti neoliberalisme, kapitalisme, komunisme, khilafahisme, radikalisme, terorisme dan sebagainya.
4)Membantu upaya re-konsientisasi (penyadaran kembali dan terus-menerus) bahwa saat ini bangsa Indonesia sedang terlibat dalam ”peperangan non-militer” (perang informasi, perang ekonomi, perang ideologi dan sebagainya) sehingga perlu dibangun kembali kesadaran dan kewaspadaan masyarakat.

c.TNI-AD sebagai Kekuatan Kultural

Sebagai komponen bangsa yang memiliki potensi dan kekuatan besar, TNI-AD tentu saja terpanggil untuk ikut memberikan andil bagi peningkatan kemaslahatan, kebaikan dan keberadaban masyarakat Indonesia melalui ”jalan kultural” – artinya, ikut dalam pembangunan kultur keindonesiaan melalui disiplin dan keteladanan serta nilai-nilai positif konstruktif yang dapat dipancarkan oleh segenap warga TNI-AD.

Secara internal, kekuatan kultural tersebut dapat diaktualisasikan dalam wujud upaya meningkatkan pemahaman dan implementasi nilai-nilai unggul budaya bangsa Indonesia seperti gotong-royong, kekeluargaan, toleransi, sikap ramah,  kerelaan berkorban tanpa pamrih dan sebagainya.
Secara eksternal, hal itu dapat diwujud-nyatakan dengan:
1)memperkokoh kemanunggalan TNI (AD) dengan Rakyat.
2)Ikut serta memperkuat nilai unggul budaya bangsa seperti disebut di atas, sekaligus mengikis ”kelemahan kultural” bangsa yang termanifestasi dalam fenomena negatif destruktif seperti feodalisme, sikap malas, hipokrit dan kecenderungan mencari kambing hitam atau melemparkan tanggung jawab kepada orang lain (pendapat antropolog Prof. Dr. Koentjaraningrat).

   
4.Peran TNI-AD dalam Implementasi Sishankamrata

Dalam melaksanakan Tugas Pokoknya TNI-AD harus melakukan beberapa peran untuk dapat menunjang konsep Sishankamrata baik dalam rangka persiapan Sishankamrata maupun dalam operasional Sishankamrata sebagai berikut:

a.Peran TNI-AD pada Tahap Persiapan Sishankamrata
Dalam tahap persiapan TNI-AD dapat mengambil peran:
1)Dalam rangka mempersiapkan penjabaran materi Sishankamrata, TNI-AD dapat memberikan masukan kepada Dephan (Instansi yang berwenang menyusun penjabaran materi Sishanrata) tentang materi Sishankamrata yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan kepentingan dan keinginan setiap komponen bangsa yang tinggal di daratan Indonesia.

2)Dalam rangka sosialisasi materi Sishankamrata, TNI-AD dapat mengambil peran:
a)Secara aktif mensosialisasikan materi Sishankamrata kepada seluruh anggota TNI-AD terutama kepada yang bertugas di Satuan Kewilayahan.
b)Membantu Dephan mensosialisasikan materi Sishankamrata kepada masyarakat (setiap komponen bangsa) sehingga masyarakat mengerti, memahami dan terampil untuk melaksanakannya bila diperlukan.
c)Membantu mensosialisasikan kepada Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung, sehingga mereka mengerti sistem tersebut dan dapat mengambil bagian aktif dalam pelaksanaan Sihankamrata pada waktu diperlukan.

3)Mempersiapkan Komponen Cadangan
Dalam mempersiapkan Komponen Cadangan, TNI-AD dapat mengambil peran:
a)Membantu Dephan untuk mensosialisasikan peraturan perundangan tentang pembentukan komponen cadangan kepada masyarakat melalui Komando kewilayahan.
b)Membantu Dephan dalam kegiatan pelatihan masyarakat untuk menjadi Komponen Cadangan.
c)Membantu Dephan dalam pembinaaan Komponen Cadangan yang ada di dalam masyarakat agar mereka tetap siap untuk sewaktu-waktu digunakan.

4)Mempersiapkan Komponen Pendukung
a)Membantu Dephan untuk mensosialisasikan peraturan perundangan tentang pembangunan Komponen Pendukung dalam  Sishankamrata.
b)Membantu Dephan mengoordinir pembinaan Komponen Pendukung di daerah agar selalu siap digunakan sewaktu waktu dalam pelaksanaan Sishankamrata.
c)Membantu Dephan untuk mengkoordinasikan dengan Pemerintah Daerah dalam mempersiapkan komponen pendukung (SDM, SDA, dan sarana prasarana pertahanan).

5)Dalam mempersiapkan kekuatan pertahanan rakyat semesta, TNI-AD dapat berperan membantu Dephan dan Departemen lainnya untuk melatih dan mengkoordinir kekuatan rakyat dalam melakukan pertahanan di wilayah daratan (baik militer maupun non-militer).

6)Dalam mempersiapan kekuatan kewilayahan dan logistik wilayah TNI-AD dapat mengambil peran membantu Dephan melalui Komando Kewilayahan untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dan Instansi lain yang terkait agar pembangunan yang dilakukan oleh Pemda dan Departemen lain dapat mempertimbangkan kepentingan pembangunan pertahanan yang meliputi pembangunan sarana prasarana dan logistik wilayah yang dapat dipergunakan sewaktu waktu dalam rangka Sishankamrata.
b.Peran TNI-AD pada Tahap Operasionalisasi Sishankamrata

1)Tahap Ofensif Strategis
Peran TNI-AD dalam tahap pelaksanaan offensif strategis adalah sebagai berikut:
a)Mendukung Pemerintah (Deplu) dalam membina hubungan diplomasi dengan negara lain di dunia.
Pembinaan hubungan diplomasi harus dibaca dan diartikan sebagai upaya preventif untuk mencegah terjadinya gangguan terhadap bangsa dan negara Indonesia oleh negara lain.

Untuk memperkuat hubungan diplomatik antara Indonesia dengan negara tertentu terutama dengan negara yang berpotensi akan mengganggu bangsa dan negara Indonesia maka Menteri Pertahanan, Panglima TNI atau Kepala Staf TNI-AD dapat melakukan kegiatan diplomasi pertahanan antara lain dengan melakukan kunjungan persahabatan ke negara tersebut, sehingga diharapkan Pemerintah negara tersebut akan membatalkan niat untuk mengganggu negara dan bangsa Indonesia.

a)TNI-AD juga dapat berperan dalam kegiatan intelijen strategis dengan menyiapkan personil personil intelijen yang handal dan berorientasi Internasioanal  untuk membantu kegiatan intelijen strategis oleh instansi berwenang.

b)Mendukung Kerjasama Militer
Cara lain untuk menghilangkan niat suatu negara mengganggu bangsa dan negara Indonesia bisa dilakukan dengan membangun kerjasama militer (selama tidak bertentangan dengan konstitusi dan Undang-undang yang berlaku) dengan negara yang diduga berpotensi mengganggu Indonesia, TNI-AD akan terlibat mengambil peran dalam kerjasama militer tersebut.

c)Melakukan Latihan Militer Bersama
Dengan melakukan latihan militer bersama diharapkan antara negara negara yang melakukan latihan militer tersebut akan muncul tekad dan kesepakatan untuk tidak saling mengganggu dan sebaliknya akan timbul tekad untuk saling membantu, TNI-AD dapat mengambil peran dalam latihan militer tersebut untuk melakukan latihan bersama dengan Angkatan Darat negara sahabat.

d)Mendukung Perjanjian Pertahanan Bersama
TNI-AD dapat berperan mendukung perjanjian pertahanan antara Indonesia dengan negara tertentu untuk tidak saling mengganggu akan dapat mengurangi resiko gangguan dari negara tersebut.

2)Dalam Tahap Defensif Strategis
a)Pada tahap pertahanan di laut dan di udara
Pada Tahap ini pertahanan akan dilakukan sepenuhnya oleh TNI AL dan TNI-AU dengan Sistem senjata yang dimiliki dan dipergunakan oleh TNI-AL dan TNI-AU.
TNI-AD dapat mengambil peran dengan mensuplai bahan intelijen bagi kepentingan TNI-AL dan TNI-AU dalam melaksanakan tugas mempertahankan wilayah laut dan udara nasional Indonesia.
Pada tahap ini TNI-AD dapat mengambil peran untuk mempersiapkan kekuatan pertahanan di darat guna menghadapi masuknya musuh ke wilayah daratan Indonesia baik sebagai kekuatan militer maupun non-militer apabila pertahanan laut dan udara tidak dapat menahan/mengusir musuh.

b)Pada pelaksanaan pertahanan linier
(1)Pertahanan linier dilakukan apabila lawan (baik militer maupun non-militer) tidak bisa dicegah di laut baik diwilayah laut imajiner ZEE maupun di laut teritorial Indonesia untuk masuk ke wilayah daratan Indonesia dan musuh akan memasuksi wilayah daratan Indonesia.
(2)Pada tahap pertahanan linier ini titik berat kekuatan ada pada kekuatan TNI-AD antara lain sebagai berikut:
(a)Sebagai kekuatan pertahanan darat, TNI-AD akan berperan sebagai deteksi awal dan penangkal awal terhadap serangan militer (serangan fisik) dengan melakukan operasi pertahanan di sepanjang garis pantai dimana diperkirakan musuh akan mendarat, dengan mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuan agar musuh tidak dapat mendarat dan menduduki wilayah tanah air Indonesia.
(b)Sebagai Kekuatan Moral
Dalam tahap pertahanan linier, TNI-AD sebagai kekuatan moral harus lebih terpanggil untuk dapat berperan sebagai pendeteksi ancaman non-militer (manakala komponen sipil kurang waspada terhadap ancaman tersebut).
Selanjutnya harus mengkoordinasikan penanganan ancaman tersebut dengan Lembaga Pemerintah atau Departemen yang berwenang sebagai Unsur Utama (sesuai UU No. 3 tahun 2002 tentang Hanneg) agar ancaman tersebut dapat ditangkal untuk tidak masuk ke wilayah Indonesia.
Langkah lebih lanjut TNI-AD dapat membantu Departemen yang berwenang untuk menjadi koordinator kekuatan pertahanan rakyat yang sudah terbina untuk melakukan penangkalan awal terhadap ancaman non-militer (Ipoleksosbudag) yang akan masuk kedalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Pada tahap pertahanan linier ini peran TNI-AD sebagai kekuatan moral dapat diaktualisasikan sebagai berikut:
i.Melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan masuknya ancaman di bidang ideologi (Liberal, Khilafah Islamiah, Komunis Gaya Baru/new left), politik (politik demokrasi liberal dan demokrasi lain yang tidak sesuai dengan demokrasi Pancasila), ekonomi (sistem Kapitalis Liberal), sosbud (disorientasi tujuan, paham materialisme, konsumerisme, hedonisme, permisivisme, individualisme dan lain-lain) dan agama (adu domba antar/intern umat beragama, munculnya aliran sesat dan lain-lain).
ii.Memberikan informasi keberadaan ancaman non-militer tersebut kepada Departemen/Lembaga Pemerintah yang berwenang (Pemerintah/Pemda atau Departemen yang bersangkutan) sebagai unsur utama dalam Sishankamrata yang bertanggung jawab untuk menangani ancaman non militer tersebut.
iii.Membantu Lembaga Pemerintah/Departemen yang berwenang untuk mengkoordinir kekuatan perlawanan dan pertahanan rakyat yang telah ada atau sudah terbangun pada tahap persiapan, untuk menangkal ancaman di bidang Ipoleksosbudag agar tidak memasuki atau merasuki ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang dapat mengancam kedaulatan dan keutuhan NKRI yang berdasar Pancasila dan UUD 45.

(c)Sebagai Kekuatan Kultural
Pada tahap pertahanan linier TNI-AD sebagai kekuatan kultural memiliki kewajiban untuk memelihara semangat untuk mempertahankan kultur dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia baik didalam tubuh TNI-AD sendiri maupun di dalam kehidupan masyarakat agar masyarakat memiliki kesadaran untuk membela negaranya dengan tidak kenal menyerah dalam rangka menyelamatkan dan memelihara keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Untuk memelihara kultur dan nilai-nilai bangsa Indonesia tersebut, TNI-AD  dapat mengambil peran sebagai berikut:
iMenjadi teladan kepada masyarakat dalam memelihara dan melestarikan jatidiri bangsa dan nilai-nilai luhur bangsa antara lain berupa ketaqwaan kepada Tuhan YME, memperlakukan dan menghormati orang lain secara kemanusiaan yang adil dan secara beradab, memelihara persatuan dan kesatuan nasional/Bhineka Tunggal Ika, mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan masalah bangsa, melaksanakan kegiatan kehidupan yang didasarken kepada kepentingan rakyat.
iiMemelihara dan meningkatkan wawasan kebangsaan di dalam kehidupan masyarakat (memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah, politik, ekonomi dan pertahanan/keamanan) sehingga semua komponen bangsa akan berupaya untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI, Politik bangsa ekonomi bangsa dan bersama-sama menjaga keamanan bangsa.
iiiMeningkatkan rasa kebangsaan/nasionalisme (setia kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, cinta tanah air, rela berkoban untuk bangsa dan negara, tidak kenal menyerah dalam membela negara dan bangsa, cinta kepada produk Indonesia) sehingga akan terbina semangat ”bela negara ” terhadap segala bentuk ancaman  

Upaya memberikan tauladan dalam rangka menularkan, memelihara nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa serta meningkatkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme dilakukan dengan melaksanakan ”Kepemimpinan dan Komunikasi Sosial TNI” (KKS TNI).

c)Pada tahap Pertahanan Mobil
Pada tahap ini Pertahanan Negara Republik Indonesia dalam rangka membela dan menjaga kedaulatan NKRI dilakukan perang berlarut dengan strategi perang gerilya sebagai tindak lanjut dari pertahanan linier yang tidak berhasil membendung lawan (militer dan non-militer) masuk ke wilayah Indonesia.
Tujuan dari perang gerilya adalah untuk merongrong kekuatan dan kemampuan lawan (militer dan non-militer/aspek sosial), sambil mempersiapkan/konsolidasi kekuatan dan kemampuan seluruh komponen bangsa guna melakukan serangan balas dalam rangka mengusir lawan (militer maupun non-militer) dari bumi NKRI.
Pada tahap pertahanan mobil ini, TNI-AD dapat mengambil peran sebagai berikut:
(1)Sebagai kekuatan pertahanan
Dalam menghadapi kekuatan militer musuh yang sudah berhasil menduduki wilayah teritorial Indonesia, TNI-AD berperan sebagai inti kekuatan pertahanan darat dengan melakukan operasi gerilya di seluruh wilayah Indonesiayang telah diduduki musuh bersama seluruh kekuatan komponen bangsa lainnya dengan tugas pokok merongrong kekuatan dan kemampuan lawan dalam rangka memperlemah kekuatan dan kemampuan lawan.
    Selanjutnya apabila kekuatan dan kemampuan musuh sudah semakin lemah dan dukungan rakyat semakin tipis terhadap musuh, maka tugas TNI-AD bersama seluruh kekuatan komponen bangsa melakukan serangan balas untuk menghancurkan musuh dan mengusirnya dari wilayah teritorial Indonesia.

(2)Sebagai kekuatan moral
Peran TNI-AD sebagai kekuatan moral pada tahap pertahanan mobil ini sama seperti pada tahap pertahanan linier, yaitu akan lebih banyak berperan untuk menghadapi ancaman non-militer (Ipolesosbudag) yang tidak dapat ditangkal atau dicegah masuk kedalam wilayah kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia pada tahap pertahanan sebelumnya.
Peran TNI-AD sebagai kekuatan moral dalam tahap perang berlarut adalah membantu Lembaga Pemerintah/Departemen yang berwenang menangani ancaman non-militer tersebut, untuk merongrong kekuatan lawan yang melakukan kegiatan menyebarkan paham/ajaran yang tidak sesuai dengan faham/ajaran bangsa Indonesia  dengan cara  mengkoordinir kekuatan rakyat yang setia kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Kegiatan perongrongan kekuatan lawan dilakukan untuk memperlemah dukungan rakyat terhadap upaya lawan dalam memasukan paham/ajaran yang dibawa atau disebarkan kepada rakyat Indonesia, sehingga paham/ajaran tersebut tidak bisa berkembang hidup di wilayah Indonesia.

(3)Sebagai kekuatan kultural
Dalam hal mengahadapi ancaman non-militer yang sudah terlanjur masuk dalam kehidupan bangsa Indonesia maka TNI-AD sebagai kekuatan kultural harus dapat berperan sebagai berikut:
i.Memberi teladan kepada masyarakat sebagai Tentara Nasional yang selalu berpikir dan bertindak bagi kepentingan nasional dan untuk membela kepentingan seluruh rakyat Indonesia dengan cara memelihara dan mengembangkan rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan Indonesia dalam kehidupan rakyat Indonesia agar rakyat Indonesia bangga menjadi bangsa Indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945, tidak berkolaborasi dengan musuh dan rakyat yang sudah memiliki rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang tinggi akan rela berjuang untuk mengusir musuh dari bumi Indonesia.
ii.Memelihara semangat sebagai Tentara Pejuang yang akan selalu terus mengobarkan semangat perlawanan dengan tidak kenal menyerah terhadap ancaman non-militer yang berupa paham atau ajaran atau sistem kehidupan dari luar yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dengan cara memelihara dan meningkatkan semangat bela negara, rasa cinta tanah air dan semangat rela berkorban untuk kepentingan membela NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

d)Pada tahap Ofensif Balas
Ofensif balas akan dilakukan apabila operasi gerilya (baik gerilya militer maupun perongrongan lawan non-militer) yang dilakukan oleh pihak TNI-AD bersama komponen bangsa lainnya telah berhasil memperlemah kekuatan lawan dan memperlemah dukungan rakyat terhadap lawan.
Di sisi lain kita telah berhasil melakukan konsolidasi dan menyusun kekuatan kembali yang mampu untuk memukul mundur musuh/lawan serta mengusirnya dari bumi Indonesia
Pada tahap ini TNI-AD dapat mengambil peran:
(1)Sebagai kekuatan pertahanan
Untuk menghancurkan dan mengusir musuh sebagai kekuatan militer maka peran TNI-AD harus mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya agar dapat mengusir tentara musuh dari wilayah negara kesatuan RI, dilanjutkan dengan melakukan konsolidasi, memulihkan keamanan dan menyelamatkan masyarakat.
(2)Sebagai kekuatan moral
Setelah sistem lawan dapat diperlemah dan tidak lagi mendapat dukungan dari rakyat Indonesia maka peran TNI-AD sebagai kekuatan Moral dapat membantu Lembaga Pemerintah/Departemen yang berwenang untuk segera mengkoordinir kekuatan rakyat yang setia kepada Pancasila dan UUD 1945 untuk menghancurkan/memberangus paham dan ajaran serta sistem yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia dan melarang digunakan oleh rakyat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
(3)Sebagai kekuatan kultural
Untuk mendukung TNI-AD sebagai kekuatan pertahanan dan kekuatan moral, maka TNI-AD sebagai kekuatan kultural dapat mengambil peran untuk membakar semangat ”cinta tanah air dan rela berkorban” seluruh rakyat Indonesia agar lebih tegar dalam mengusir lawan dan menghancurkan/mengenyahkan paham/ajaran dan sistem yang bertentangan dengan sistem nasional Indonesia.

Untuk melaksanakan perannya sebagai kekuatan moral dan kekuatan kultural TNI-AD dapat menggunakan metode pendekatan Binter dan KKS TNI, guna mempengaruhi rakyat agar mau bersama dengan TNI dan kekuatan bangsa lainnya untuk mengusir musuh dari bumi Indonesia yang berdasar Pancasila dan UUD 1945.



Artikel Terkait
» Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa Dan Tumpah Darah Indonesia- Kesimpulan Bagian 7
» Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa dan Tumpah darah Indonesia - Bagian 6
» Sistem Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia -Bagian 4
» Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa Dan Tumpah Darah Indonesia -Bagian 3
» Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa Dan Tumpah Darah Indonesia-Bagian 2
» Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa Dan Tumpah Darah Indonesia- Bagian 1



 

Advance Search

   Isu Hangat »
AGENDA SETTING TERSEMBUNYI AMERIKA SERIKAT: Perspektif Perang Non Militer Milenium Ketiga (Bagian Terakhir)
Melihat perkembangan cara berperang abad 21 yang lebih mengutamakan Perang Non Militer mau tidak mau kita harus mengubah paradigma doktrin pertahanan keamanan yang sudah ada. Tapi ...

AGENDA SETTING TERSEMBUNYI AMERIKA SERIKAT: Perspektif Perang Non Militer Milenium Ketiga (Bagian Kedua)

AGENDA SETTING TERSEMBUNYI AMERIKA SERIKAT: Perspektif Perang Non Militer Milenium Ketiga (Bagian Pertama)

Perlunya Perubahan Tata Kelola Daerah Perbatasan

Kerjasama RI-Rusia Punya Nilai Strategis Bagi Kedua Negara (Ulasan Singkat Pertemuan Jokowi-Putin di Beijing 10 Oktober 2014)

Indonesia Negara Maritim, Bukan Sekadar Negara Kelautan (Menanggapi Visi Maritim Presiden Jokowi)

Lihat lainya »
   Arsip
PBB Ajukan Korut ke Mahkamah Kriminal Internasional

Malapetaka Ekonomi 1929

Indonesia Perlu Miliki Blue Print Pengembangan Maritim Seperti India dan Cina

Gagasan Von Hayek Selaras dengan Club of Rome

AS Pulihkan Hubungan dengan Kuba

TNI Terus Mencari Korban Tanah Longsor Banjarnegara

Misi Perdamaian PBB, 175 Prajurit TNI Siap Berangkat ke Kongo

Perlu Terpenuhinya Cita-Cita Trisakti Terlebih Dahulu

Kedutaan Inggris di Kairo Kembali Dibuka untuk Umum

AS Ingin Mesir Jadi Penguasa di Wilayah

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »