» Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. II) » Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi » Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I) » Melacak Jejak Para Taipan Indonesia Investasi di Daratan Cina » Permainan Intelijen Asing di Tolikara, Papua


Industri Strategis
21-08-2010
Kamboja: Energi Nuklir
Kamboja Bidik Nuklir Sebagai Energi Masa Depan

Kamboja sedang membidik tenaga nuklir sebagai sumber energi masa depan guna memenuhi kebutuhan domestik yang meningkat, walau konstruksi instalasi tersebut masih lama, kata pejabat tinggi pemerintah pada Jumat.


Ilmuwan Kamboja sudah memulai untuk meneliti teknologi nuklir dalam upaya untuk mengimbangi negara tetangga di kawasan Asia Tenggara yang berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dalam beberapa tahun ke depan, kata Menteri Luar Negeri, Ith Praing, di Kementerian Energi, Sumber Daya dan Mineral Kamboja.

"Energi nuklir merupakan kemungkinan karena negara tetangga kami melakukan juga, jadi kami sudah meneliti dan melihat seberapa berbahaya teknologi tersebut," kata Ith Praing kepada Reuters.

"Masih jauh supaya mencapai tujuan, bahkan pada 2030, kami belum dapat menggunakan seluruh sumber daya kami," tambahnya.

Ith Praing mengatakan hasil peninjauan dari besarnya biaya program energi nuklir belum ditentukan dan pemerintahnya masih terfokus pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Kamboja pada tahun lalu menyatakan keinginan untuk menarik investasi asing sebesar sekitar tiga milyar dolar untuk membiayai pembangunan enam PLTA pada 2018.

Viet Nam, yang saat ini menjabat sebagai ketua ASEAN, bulan lalu menyerukan pada anggota negaranya untuk mempertimbangkan penggunaan energi nuklir untuk kepentingan damai saat Asia menghadapi peningkatan kebutuhan energi untuk menjalankan pertumbuhan ekonomi.

Korporasi Energi Atom Negara Rusia telah menawarkan untuk membantu negara anggota ASEAN membangun PLTN dan mengembangkan penggunaan yang aman di kawasan yang sebelumnya sudah diestimasi kebutuhan dasar energi akan meningkat 2,5 persen pertahun hingga 2030.

Tetangga Kamboja, Viet Nam, berencana untuk membangun PLTN pada 2014 dengan menggunakan teknologi Rusia, menurut laporan surat kabar negara pada Juni.

Thailand sedang mencari cara untuk mengembangkan tenaga nuklir untuk mengurangi ketergantungan pada gas alam dan berencana akan membangun empat PLTN masing-masing 1.000 MW dengan total biaya sekitar delapan milyar dolar AS.

Dua dari instalasi tersebut diharapkan untuk memproduksi energi pada 2020 dan sisa dua lainnya pada 2021. (ANTARA/Reuters)


Sumber :Antaranews.com
Artikel Terkait
» Dubes Iran di Rusia: Informasi Baru Nuklir Tehran Bingungkan Barat
» Salehi: Iran Siap Bangun 10 Pusat Pengayaan Uranium Baru
» Iran Konfirmasikan Peluncuran Pusat Pembangkit Tenaga Nuklir Pertama
» Menghapus Mitos Mengenai Minyak Kelapa Sawit Indonesia
» BAPETEN: Tak Ada Uranium di Freeport
» Iklim Investasi Minyak Segera Diperbaiki
» IAEA: Indonesia Sudah Siap Miliki Nuklir
» Awas, Perusahaan Israel Susupi Telkomsel
» PM Suriah Kagumi Produk Indonesia



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi
Soal penguasaan lahan tanah dan properti, jangan dianggap enteng. Karena dalam skema ekonomi para Taipan dan pelaku bisnis asing, hal itu merupakan tahapan awal untuk menanam ...

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

Permainan Intelijen Asing di Tolikara, Papua

Anthrax, Proyek Militer AS Berkedok Proyek Riset Kesehatan (Bag I)

Nilai Strategis Kerjasama Indonesia-Rusia bidang Energi Dari Perspektif Kepentingan Nasional

Menyambut Baik Babak Baru Kerjasama Energi Nuklir Indonesia-Rusia

Lihat lainya »
   Arsip
Obama Minta Ethiopia Lebih Terbuka

BIN dan Tolikara

Korban Tewas 4000 Lebih, HRW Nyatakan Saudi Berpotensi Lakukan Kejahatan Perang

Dewan Keamanan Perpanjang Mandat Misi PBB di Somalia

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

Aceh dan Papua, Satu Skema Penguasaan Asing?

Aceh-Papua: Pintu Masuk Balkanisasi Nusantara

Inggris akan Gelar Referendum Keanggotaan UE pada 2016

Jokowi dan David Cameron Bakal Tanda Tangani Sejumlah MoU

Cina Minta AS tidak Menjadi Wasit di Laut Cina Selatan

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »