English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
No data yet
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Politik
30-07-2010
Cina
Pidato Politik Liem Koen Hian: Darah Tionghoa

Pidato Politik Liem Koen Hian, tiga tahun sebelum mendirikan Partai Tionghoa Indonesia P.T.I, dikutip dari tulisannya di Sin Tit Po pada tanggal 2 Desember 1929, sebagai Hoofdrectuer dengan judul "DARAH TIONGHOA"


Perhatian: Pidato ini ditulis dalam bahasa aslinya saat majalah tersebut diterbitkan tahun 1929.

Tatkala tiga taon doeloe kita oetaraken haloean Indonesier boeat Tionghoa peranakan, kita telah dapet matjem² bantahan, djoega dan kebanjakan dari orang² jang sebetoelnja tida berhak boeat toeroet batjaraken itoe hal, dari sebab mereka terlaloe tida poenja pengetahoean boeat boleh toeroet bitjaraken soal² itoe. Terlaloe banjak alesan² bodoh dan menoendjoeken tida adanja pengetahoean, telah dimadjoeken oleh mereka, jang maoenja dianggep sebage pendekar dan pembela dari bangsa Tionghoa di Indonesia jang lagi maoe di bikin tjilaka.
 
Oepamanja antara laen² ada orang jang bilang, kaloe peranakan djadi Indonesier, mareka aken moesti anoet djoega igama Islam. Terpisah dari pertanjaan apa tida lebih baek peranakan peloek igama Islam sebaliknja dari pada seperti sekarang tida poenja igama sama sekali atawa tida karoean igamanja.
 
Terpisah dari itoe pertanjaan, haroeslah dibilang, sekarang boekan lagi waktoenja boeat satoe negri paksa rahajatnja, sekalipoen ambtenaar² tida lagi dipaksa peloek igama jang disoeka oleh negri atawa pemerentah. Sekarang di mana-mana negri pemerentah tinggal neutral dalem oeroesan igama, mengertinja tida toeroet menjataken lebih soeka sama igama jang ini dari pada jang laen.
 
Tapi lebih penting dari pada sekalian pertimbangan laen, adalah halnja di Tiongkok sendiri, antara bangsa Tionghoa sendiri ada millioenan orang jang peloek igama Islam. Orang² itoe telah mendjabat pangkat tinggi di Tiongkok.
 
Melaenken orang² jang tida taoe mata soerat dan tida taoe batja hikajat Tiongkok, baroelah bisa madjoeken kebratan seperti jang ditjeritaken diatas dan merasa sajang kaloe peranakan disini peloek igama Islam.
 
Apalagi jang dalem gelapnja menoendjoeken pada „darah Tionghoa” dalem toeboehnja peranakan dan tida maoe itoe darah ketjampoeran sama laen darah, kaja itoe darah jang dinamaken „darah Tionghoa” tida soedah riboean taon ketjampoeran setaoe beberapa banjak matjem darah laen.
 
Tiap² bangsa jang dari riboean taon bergaoelan dalem tempo dami dan dalem tempo perang, sama laen² bangsa, nistjaja tida mempoenjai darah toelen lagi, nistjaja mempoenjai darah tjampoeran.
 
Boleh dibilang sekarang ampir tida ada lagi bangsa jang mempoenjai darah toelen. Kaloe ada bangsa jang darahnja toelen, belon terjampoer sama darah laen bangsa, barangkali jalah bangsa² jang sekarang dinamaken biadab, seperti bangsa Papoea di tengah-tengahnja Nieuw Guinea, bangsa liar di Australia dan laen sebagenja.

Aken tetapi ini bangsa² jang berdarah toelen makin lama makin habis mati, hingga dalem ini doenia tida ada ketinggalan laen dari pada bangsa² darah tjampoeran setaoe dari berapa matjem bangsa.

Ada baek jang sekarang satoe soerat-kabar nationalistisch seperti „Sin Po” toeroet bikin melek mata pembatjanja boeat liat itoe kebeneran jang apa di namaken „darah Tionghoa” sebenernja ada darah tjampoeran dari setaoe berapa matjem bangsa.
 
„Sin Po” menoendjoek pada boekoe karangan Dr. Chi Li jang diterbitken di Harvard, Amerika, jaitoe boekoe pertama jang ditoelis oleh seorang Tionghoa tentang keadaan bangsa Tionghoa dalem pemandengan anthropological.
 
Dr. Chi Li oendjoeken, pertjampoeran darah bangsa Tionghoa soedah terdjadi ampir sama dengen pertjampoeran darah bangsa² di Europa.
 
Lantaran tjampoer adoek, tida poen heran orang Tionghoa ada dari segala matjem model, potongan dan warna.
 
Ada jang poetih seperti orang Europa, ada jang koening koelit langsep, tapi ada djoega jang item seperti keling.
 
Nationaliten peranakan jang soeka bersilat sama darah Tionghoa toelen, toeroenan Han dan laen² nonsense lagi, berboeat baek boeat dirinja sendiri dan boeat orang banjak dengen loeasken doeloe pengetahoean dan pemandengannja sebelon terbirit-birit, teroetama merabah pena dan pentang moeloet tentang hal² prihal mana mereka tida poenja pengertian barang sedikit.
 
 


Sumber :wikisource.org
Artikel Terkait
» Pidato Bung Karno di depan GMNI, pada tanggal 3 DESEMBER 1966 - Bagian 2
» Pidato Bung Karno di depan GMNI, pada tanggal 3 DESEMBER 1966 - Bagian 1
» Penasehat Tinggi Presiden Rusia Mundur
» PM Korsel Resmi Mengundurkan Diri
» Pertemuan Sarwo Edhie-Ilham Aidit
» Bung Karno muncul pada cover Time 23 Desember 1946
» Membangun Dunia Kembali (To Build The World A New)- Bagian 2
» Membangun Dunia Kembali (To Build The World A New)- Bagian 1



Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Invasi Berakhir, Stimulus Bergulir

Risiko Bayangi Pelonggaran Kredit di AS

Obama Hadapi Tantangan Terberat Mereformasi Perbankan

Alunan Angklung di Kampus Lebanon

60 Tewas Akibat Demam Berdarah di Honduras

Mahmoud Abbas : Israel Harus Bekukan Pemukiman Yahudi

Korut Berusaha Tingkatkan Hubungan Militer dengan China

Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

Perang Gaza, Perang Gas

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved