Tidak lama di Jong Java saya jelaskan dan saya lebarkan lagi menjadi Jong Indonesia. Indonesia Muda. Bukan sendiri, bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin, dedengkot-dedengkot yang lain. Indonesia Muda tahun 1923, Saudara-saudara, 1923 lo, lima tahun sebelum Sumpah Pemuda. Lima tahun sebelum ada sumpah yang berbunyi: satu tanah air, satu bahasa, satu bangsa. Dedengkot itu bernama Soekarno, dedengkot tua yang bernama Soediono, dedengkot tua yang bernama Mohammad Hatta, dedengkot tua yang bernama Soebardjo, dedengkot tua yang bernama Adam Malik, dan lain-lain sebagainya. Dedengkot tua-dedengkot tua ini telah mengumandangkan ide persatuan Indonesia.
Dan aku mengumandangkan itu. Aku, Saudara-saudara, karena itu tadi aku dapat bahan dari macam-macam aliran. Bahanku bukan hanya nasionalisme, bukan hanya agama yang aku dapat dari Pak Tjokro, dari Pak Dahlan. Bahanku juga dari marxisme, yang aku dapat dari Semaoen, yang aku dapat daripada pemimpin-pemimpin Belanda sebagai Hartoh,Sneevliet. Pak Leimena kenal sama Sneevliet itu? Sneevliet itu elek-elek dia menulis satu buku tebal tentang Indonesia lo, Saudara-saudara. Kalau engkau masih suka, betul-betul suka membaca, mbok cari buku Sneevliet itu bibliotek museum. Sneevliet menulis buku perjuangan rakyat Indonesia, dan bagaimana seharusnya kita menghancur-leburkan imperialisme di Indonesia ini. Sneevliet itu orang Belanda. Barangkali Pak Leimena punya itu buku?
Lo, pinjamkan.
Aku punya buku sudah diserobot orang lain. Sneevliet. Aku dapat juga daripada guru sekolahku yang bernama Hertog. Belanda, tapi dia adalah sosialis, memberi tahu kepadaku sosialisme itu apa. Karena aku dapat banyak, banyak, banyak bahan, karena aku mendapat simfoni itu tadi lantas aku juga sebagai mahasiswa, wah, aku lantas gemar sekali belajar, gemar membaca. Sampai, boleh dikatakan, aku kadang-kadang meninggalkan pelajaran-pelajaran di sekolah untuk, waktunya aku pakai untuk, membaca buku-buku politik, yang tidak diajarkan di sekolah kepada saya.
Aku membaca sejarah dunia, aku membaca sejarah bangsa-bangsa, aku membaca kitab-kitab tentang gerakan kaum buruh, aku membaca tentang gerakan Islam. Sampai-sampai aku tahun yang lalu, tahun yang lalu, jadi 1965 ini, aku perintahkan untuk menyalin misalnya kitabnya Lothrop Stoddard, Lothrop Stoddrad, The New World of Islam. Sekarang sedang diterjemahkan. Tempo hari sudah sampai tercetak.
Jadi, aku ini gemar membaca, oleh karena aku anggap perlu untuk mengisi otakku, mengisi pikiranku, mengisi semangatku selebar-lebar mungkin. Jendela terbuka, ide-ide itu masuk di dalam ingatanku, pikiranku itu.
Ini aku ajarkan kepadamu. Jangan kamu itu ya mahasiswa, mahasiswa, mahasiswa, mahasiswa, tetapi cuma diam, tidak. Apalagi, nah ini, engkau ini berjuang di atas front dua macam, destructie, constructie, menjebol, membina. Dalam hal pembina ini, tidak bisa kita membina tanpa orang yang tahu, tidak bisa kita membina tanpa apa yang kukatakan, kader. Dengan gampangnya saja, sosialisme, Saudara-saudara, yang harus kita bina itu. Sosialisme itu, aku katakan berulang-ulang, tidak seperti air embun jatuh pada waktu malam, tes. Tidak. Sosialisme harus dibina, didirikan, diperjuangkan, dengan segala keuletan. Dan di dalam pembangunan pembinaan sosialisme itu, saya tidak cukup hanya dengan semangat. Bahkan sumber semangat sebetulnya haruslah pikiran. Sumber semangat adalah pengetahuan. Orang yang kurang pengetahuan, semangatnya ya semangat yang sekedar he put. mati lagi. Oo kobar-kobar. put. mati lagi. Tetapi semangat yang timbul daripada pengetahuan yang betul-betul lantas paku di otak. Semangat yang demikian itu tidak bisa mati, Saudara-saudara.
Semangat yang demikian itu adalah semangat sebagai yang dikatakan oleh Thomas Carlyle; orang bisa dikerangkeng, orangnya bisa dikerangkeng, dimasukkan kerangkeng, tetapi semangatnya keluar dari kerangkeng. Semangat yang demikian itu adalah apa yang dimaksud oleh Mahatma Gandhi, yang dia berkata, semangat yang bisa brake prisson wall, memecahkan tembok-temboknya penjara. Ia tidak bisa semangatnya dikurung. Semangat yang betul-betul sudah timbul daripada alam pikiran yang yakin, semangat yang demikian itu brake prisson wall, memecahkan tembok-temboknya penjara. Sebagaimana aku boleh memakai contohku, apa hasil Belanda memasukkan aku di dalam sel. Umpamanya aku mati di dalam sel, toh semangatku diambil oper oleh orang lain, diteruskan oleh orang lain.
Maka, Saudara-saudara, benar pula ucapan seorang pemimpin yang berkata idea have lage. Idea have lage, ide mempunyai kaki. Ide mempunyai kaki. Orangnya dimasukkan bui di dalam penjara, diikat, dikerangkeng, dirantai, tetapi dia punya ide berjalan terus. Idea have lage. Idea brake prisson wall.
Nah, Saudara-saudara, karena itu maka aku anjurkan engkau membaca banyak, supaya semangat. Tapi semangat saja didalam pembinaan sosialisme juga tidaklah cukup. Pengetahuan, bolak-baliknya itu. Pengetahuan membangunkan semangat. Semangat harus didasarkan atas pengetahuan. Pembinaan sosialisme harus dijalankan dengan semangat dan dengan pengetahuan. Karena itu di dalam pembinaan sosialisme diperlukan lebih daripada pembinaan lain-lain, kader, kader, kader. Dan engkau pemuda-pemuda, mahasiswa-mahasiswa, kita harapkan menjadi kader di dalam dua front ini; kader di dalam desctructie, menghantam, hancur leburkan kepada imperialisme, kapitalisme, feodalisme, dan lain-lain, kader di dalam constructie, membangun masyarakat baru. Karena cita-cita kita tentang masyarakat baru itu cita-cita tinggi, bukan sebagai cita-cita yang dikemukakan, katakanlah Mahatma Gandhi.
Gandhi itu sebetulnya, Saudara-saudara, orang pemimpin besar sekali, tetapi dia punya cita-cita lain daripada kita. Gandhi tidak mempunyai cita-cita politik. Sebab, aku tanya sama Gandhi, Gandhi atau Mahatma, Mahatmadji, dji itu yaitu ucapan tambahan menggambarkan kecintaan: Mahatmadji, apakah cita-cita politik kita. Mustinya Gandhi menjawab, India lepas sama sekali daripada Inggris. India disusun sebagai republik. En toh barangkali dia senang kepada monarki. Atau kalau republik, apakah republik federal, ataukah republik unitaristis. Gandhi tidak pernah menjawab pertanyaan ini. Tidak pernah. Saya belum pernah menjumpai satu kalimat yang Gandhi ini nyata republiken, atau Gandhi ini nyata India merdeka penuh lepas daripada Inggris, India federalistis atau India unitaristis. Tidak. Gandhi paling-paling berkata home rule, home rule. Home rule itu artinya pemerintah sendiri, self government. Yang self government itu apa? Apakah bebas dari 100% daripada dominition imperialisme. Ataukah ya masih terkungkung di dalam ikatan daripada imperialisme itu. Gandhi tidak pernah. Dia selalu self government, seft government, home rule, home rule. Dus Gandhi sebenarnya tidak mempunyai cita-cita politik.
Kita sebenarnya telah mempunyai cita-cita politik: Indonesia bebas merdeka, 100% merdeka daripada imperialisme. Indonesia republik. Tidak raja-rajaan. Indonesia sama dengan unitaristis, republik kesatuan. Bukan republik federal. Jelas kita punya cita-cita. Di kalangan pemimpin-pemimpin kita sekarang ini sebetulnya ya, Saudara-saudara, ada yang federalis. Ya asal tahu saja. Kita tidak, unitaris, tidak federal-federalan.
Gandhi mempunyai cita-cita sosial. Tetapi cita-cita sosialnya lain lagi daripada cita-cita sosial kita. Sosial itu dari perkataan societas. Societas artinya masyarakat. Cita-cita sosial adalah cita-cita mengenai susunan masyarakat. Bagaimana masyarakat ini susunannya? Ada exploitation de l'homme par l'homme apa tidak? Ada sistem penghisapan oleh gerombolan manusia pada manusia lain apa tidak? Apakah cita-citanya itu adalah yaitu sama rasa sama rata tiap-tiap manusia. Itu adalah cita-cita sosial.
Aku berkata, Gandhi mempunyai cita-cita sosial, tapi lain lagi dari kita. Coba kau baca tulisan Gandhi, are you not tired sending there? Please take a chair. Hh, take a chair, please. Ada kursi? Ha. Where are you come? Ha! Australia. Kadang-kadang kalau bicara sama Australia itu susah. Artinya begini, kita bilang Austrélier. Kalau orang Australia tulen bilang Austrélier. I come, I come here today. What you say, todeé or today.
Nah, Gandhi mempunyai cita-cita sosial. Tetapi cita-cita sosial yang kolot sekali. Cita-cita sosial yang retrogesif. Baca dia punya kitab. Kitab yang termasyur. Misalnya dia punya kitab My Autobiography. Itu Gandhi, dia menerangkan, dia punya cita-cita sosial, yaitu masyarakat supaya sederhana, sederhana. Tiap-tiap orang mempunyai rumah sendiri. Tiap-tiap orang menenun sendiri ia punya bahan pakaian. Tiap-tiap orang mempunyai, ia punya sapi sendiri untuk ambil susu. Gandhi paling benci sama mesin-mesin. Bahkan benci sama pabrik-pabrik. Gandhi berkata, kalau dia dengar kapal udara itu, dia punya jiwa seperti waduh, tidak bisa tidur dia, tidak senang. Malahan dia berkata, pabrik-pabrik, mesin-mesin, di dalam dia punya buku lo, ditulisnya this all devil work. All devil work, semua bikinan setan: pabrik-pabrik, mesin-mesin. Dia bilang tentrem, adem, tentrem. Kalau Pak Mardanus di dalam pedalangan bilangnya, adem tentrem kadio siniram banju waju sewindu lawase. Dingin adem tentrem seperti disiram air waju, air yang sudah lama dalam gentong, air disimpan di dalam gentong satu windu lamanya, delapan tahun. Nah, itu air itu sejuk sekali. Nah, kalau disiramkan di atas dirimu, sejuk sekali, adem tentrem kadio siniram banju waju sewindu lawase.
Kita punya cita-cita sosial lain daripada itu. Kita malahan menghendaki supaya Indonesia ini mempunyai kapal udara yang banyak, kapal udara untuk rakyat. Mempunyai jalan aspal yang banyak, jalan aspal untuk rakyat. Mempunyai kereta api yang banyak, kereta api untuk rakyat. Pabrik-pabrik yang hebat yang membuat segala apa yang kita perlukan, untuk rakyat. Itu kita punya cita-cita sosial, modern. Bukan cita-cita kolot seperti Gandhi.
Nah, untuk mengadakan masyarakat yang banyak pabriknya, again, lagi, pabrik untuk rakyat lo, bukan pabrik untuk kapitalisme. Mesin adalah memang jahat kalau digunakan untuk bikin gendutnya kantong kapitalis saja. Tapi mesin adalah satu rahmat, nikmat dari Tuhan, kalau dipergunakan untuk kepentingan rakyat. Membuat tekstil misalnya, Saudara-saudara, untuk rakyat. Nah, itu mesin lantas menjadi satu. Wah, nikmat, rahmat. Jangan kita sebagai Gandhi. Kita memerlukan tekstil, nah sudahlah, tiap orang harus ada mesin pintal di rumah. Tanam kapas sendiri, petik kapasnya, giling kapasnya dengan mesin pintal itu menjadi tali dan benang. Kemudian tenun, jeglek, jeglek, jeglek, jeglek. Wah, itu bukan cita-cita kita.
Kita punya cita-cita ialah bahwa kita itu mempunyai pabrik-pabrik tekstil yang besar, yang hasilnya tekstil jutaan meter untuk rakyat, untuk kepentingan rakyat seluruhnya. Bukan untuk membikin gendutnya sang kapitalis tekstil saja.
Kita menghendaki, kita pergi ke Bogor, kemana-mana naik auto. Kalau Gandhi tidak. Naik gerobak, teklik, teklik, teklik, naik gerobak. Kita menghendaki kapal udara untuk rakyat. Dus cita-cita sosial kita tinggi. Dan ingin yang aku mau peringatkan kepadamu, penyelenggaraan daripada cita-cita sosial yang tinggi itu tidak bisa, tidak mungkin tanpa kader. Kader perlu sekali. Kita menghendaki air sungai kita semuanya menjadi air irigasi, untuk memberi kesuburan kepada tanah kita yang sudah subur. Tapi untuk mengadakan irigasi, Saudara-saudara, perlu insinyur-insinyur irigasi, perlu arsitek-arsitek irigasi.
Kader untuk membikin tekstil, seperti tadi itu, kader. Untuk membikin jalan-jalan aspal yang beribu-ribu kilometer, kader.
Masak, Saudara-saudara, saya datang di lain negeri, misalnya Afghanistan, negeri kecil Afghanistan itu, adih saya melongo. Afghanistan itu satu negeri ya, tapi negeri seperti terbelah dua. Sini satu bagian, sini pegunungan, sini bagian nomor dua. Jadi, dua bagian yang terpisah satu sama lain oleh gunung. Hh, coba, hampir-hampir seperti kita terpisah, mana ada gunung yang memisah. Afghanistan, Saudara-saudara, berkata, tidak jadi apa. Kita bikin tunnel menembus gunung itu. Tunnel berkilo-kilo meter. Biar ada gunung, .
Kader untuk membuat hal yang demikian itu. Kan aku sering berkata, jadilah kader, karena kader mutlak perlu. Jangan seperti dulu. Mula-mula, di dalam revolusi Soviet. Mula-mula, pemimpin-pemimpin Soviet, mula-mula mengira, oo untuk membangun sosialisme kita perlu banyak mesin, banyak lokomotif, banyak pabrik, dan perkara uang untuk membeli itu bukan soal. Kita beli saja lokomotif sebanyak-banyaknya di Jerman. Sebab, kata pemimpin Soviet itu, yang saya baca dalam salinan bahasa Inggris, machines devide everything. Machines devide everything, mesin lah yang menentukan segala hal. Tapi apa jadinya, Saudara-saudara, sekadar hanya ada mesin saja, sosialisme tidak bisa terbina, bahkan mesin-mesin itu banyak menjadi rusak dan bobrok.
Sama saja dengan kita, Saudara-saudara, kita beli traktor banyak-banyak. Darimana Pak Leimena? Ha? Cekoslovakia. Ha, traktornya itu banyak yang terlantar, banyak yang rusak. Karena apa? Kekurangan kader dan kekurangan kemauan untuk menggerakkan traktor-traktor.
Karena itu Soviet Uni, sesudah pengalaman yang pahit dengan mesin-mesin ini saja, lantas sadar, nomor satu penting, kader. Kemudian diadakan slogan baru untuk, terutama sekali, gerakan pemuda. Gerakan pemuda yang di Soviet dinamakan Komsomol. Pernah dengar itu? Komsomol. Wanitanya, Komsomolka. Slogan yang dulu berbunyi, machines devide everything diganti dengan kader devide everything. Kader lah yang menentukan segala hal. Kalau ada kader, lo mbok mesinnya itu sudah bobrok, sekrupnya sudah dol semua, bisa sang kader membuat sekrup baru, jalan.
Nah, kader devide everything.
Karena itu aku mengharap kepadamu untuk menjadi kader. Belajar, membaca sebanyaknya. Belajar dengan tekun menjadi mahasiswa untuk menjadi kader, kader daripada revolusi kita.
Saya tahu kamu orang banyak yang tidak bisa masuk kuliah karena, ada hal-hal, tidak boleh, tidak boleh, GMNI tidak boleh kuliah.
Nah, ketawa itu. Ya, apa tidak?
Asal tahu aja.
Ini memang yang menghalangi kamu masuk universitas ini, menghalang-halangi kamu berkuliah ini, mereka itu semuanya, semuanya ngladrah. Ia, itu yang ngladrah itu, artinya sudah tidak benar mereka punya pikiran. Bagaimana mau membentuk satu negara, bagaimana mau membentuk satu masyarakat sosialis tanpa kader, tanpa pemuda-pemudi masuk kuliah. Hh, mereka itu ngladrah. Apa bahasa Indonesia ngladrah? Ha, tidak benar itu lo.
Ha, Bu Hardi, apa ngladra itu?
Tidak beres. Ngawur.
Tapi toh aku minta kepadamu, tekun engkau cari pengetahuan. Sebagaimana bapak-bapak Saudara telah berbuat, dengan diriku sendiri, dulu itu cari pengetahuan. Bisa di sekolahku, ya disekolahku, tidak bisa, aku cari sendiri, agar supaya kita bisa menjadi kader daripada revolusi ini.
Memang revolusi itu ya tentu, sebagai Saudara-saudara kemarin kuterangkan panjang lebar, kalau revolusi benar-benar revolusi, dan bukan sekadar insurectie. Ada beda antara revolusi dengan insurectie. Revolution and insurection. Insurection itu apa? Ya, sekadar ada semacam pemberontakan bersenjata daripada suatu golongan. Angkat senjata mengadakan pemberontakan dengan senjata, itu adalah insurectie. Kalau golongan yang kecil-kecilan itu namanya coup. Coup de ta. Coup de ta itu bukan revolusi. Insurectie bukan revolusi. Itu gendeng-gendengan.
Revolusi sejati ialah sebagai kukatakan tadi, suatu proses, satu proses masyarakat yang berisikan, berintikan penjebolan dan penanaman, satu proses masyarakat untuk membongkar sistem masyarakat itu sampai ke akar-akarnya. Sistem masyarakat, sistemnya, Saudara-saudara.
Karena itu aku selalu berkata, orde, dalam pengertianku, orde itu adalah satu social political system. Itu orde. Ada orde kapitalis. Ada orde feodalis. Itu orde. Nah, ini revolusi adalah satu proses masyarakat untuk mengubah sama sekali social political system yang berjalan di masyarakat itu. Bukan sekadar mengubah mental thinking, neen, neen, neen. Social political system, susunan masyarakat, susunan politik masyarakat. Masyarakat. Susunan ini harus kita ubah. Sebagai kukatakan tadi, ada orde kapitalis, ada orde sosialis. Nah, kita berjuang untuk orde sosialis ini. Dan jikalau kita membongkar orde kapitalis untuk menjadi orde sosialis, itulah revolusi.
Revolusi menurut ucapan yang aku citeer dalam pidatoku Indonesia Mengugat. He pemuda-pemudi baca-o, baca-o, baca, baca Indonesia Mengugat. Baca Sarinah. Hh, mahasiswa-mahasiswi baca Di Bawah Bendera Revolusi dan lain-lain. di situ aku citeer ucapan seorang profesor, Blunschli. Kamu di dalam kuliah barangkali pernah mendengar nama Prof Dr Blunschli, yang dia berkata, revolution ist apa? Eine Ungestaltung von Grund aus, revolusi adalah satu perubahan. Ungestaltung, bukan supervisel, bukan di kulit, tetapi von Grund aus. Eine Ungestaltung von Grund aus.
Nah, jikalau engkau tidak mengadakan Ungestaltung von Grund aus, engkau bukan revolusioner. Revolution ist eine, Revolution ist eine Ungestaltung von Grund aus[1]. Dan kita ini revolusioner, oleh karena kita mau mengadakan social political system yang imperialistis, yang feodalistis, yang kapitalistis. Yang tidak sosialistis menjadi satu social political system yang sosialistis. Itu sebabnya kita ini bernama revolusioner dan menamakan diri kita revolusioner, dan hanya jikalau mengejar political system yang sosialistis itu, baru kita mempunyai hak untuk berkata, kita ini progresif revolusioner.
Yang tidak menghendaki satu social political system sosialistis, yang tidak menghendaki hancurnya kapitalisme dari luar maupun kapitalisme di dalam negeri sendiri, yang tidak menghendaki hancur-leburnya kapitalisme luar dan dalam itu, yang tidak menuju kepada sosialisme itu, dia tidak mempunyai hak untuk berkata bahwa dia adalah progresif. Perkataan progresif itu kan sekarang dikecapkan.
Semua orang berkata progresif revolusioner, progresif revolusioner, progresif revolusioner. Tanpa sebetulnya mengetahui apa arti perkataan progresif revolusioner. Kita menamakan diri progresif revolusioner oleh karena kita anti kapitalisme, anti imperialisme, anti feodalisme, pro sosialisme, mati-matian berjuang untuk sosialisme. Itulah sebabnya kita namakan diri kita progresif. Siapa yang menentang datangnya sosialisme, menghalang-halangi datangnya sosialisme, oo lo mbok dia itu lari-lari tiap hari dengan bom dan dinamit, dia tidak progresif. Malahan aku berkata, dia itu sebetulnya retrogresif.
Progresif adalah yang menurut progresnya masyarakat. Retrogresif yaitu yang menentang, bahkan beraliran anti daripada aliran masyarakat ini.
Jadi kalau kau betul-betul progresif revolusioner, engkau harus diehartenieren engkau punya pikiran, engkau punya hati, engkau punya rambut, engkau punya urat syaraf, semuanya sosialistis. Kalau engkau tidak sosialistis sampai engkau punya pucuk rambut, sampai engkau punya pucuk urat syaraf, engkau tidak progresif. Apakah ada di kalanganmu yang tidak demikian, artinya revolusioner, revolusioner, tetapi tidak berjuang untuk datangnya sosialisme. Memberi pengetahuan saya, GMNI berdiri di atas dasar ini; menjalankan revolusi, membantu kepada revolusi, riilnya revolusi yang benar, yaitu di atas riil Ampera.
Aku tadi berkata bahwa perkataan Ampera itu, ciptaan perkataannya lo, the word itself, the word Ampera itself, ciptaanku bersama-sama dengan Pak Karni. Aku menyaksikan lahirnya, bukan the word sekarang ini, lahirnya penderitaan rakyat untuk, untuk, untuk ini. Sebab aku ini dari umur 16 tahun, kataku tadi, telah berkecimpung di kalangan pergerakan. Mula gerakan pemuda, Trikoro Dharmo, Jong Java, kemudian dijadikan Jong Indonesia bersama-sama dengan pemuda-pemuda lain. dan aku menyaksikan dan ikut-ikut pertumbuhan daripada gerakan itu.
Dulu tatkala aku umur 16 tahun, aku hanya mendengar dan mempelajari gerakan tahun 1908, yaitu Pak Soedirohoesodo. Soedirohoesodo, tahun 1908, mengadakan pergerakan, gerakan, rintis, rintisan, perintis daripada gerakan nasional kita. Soedirohoesodo punya pergerakan belum nasional. Kalau nasional itu sudah meliputi seluruh natie, itu asal perkataan nasional. Soedirohoesodo tidak. Gerakannya boleh dikatakan gerakan kejawaan. Aku menyaksikan.
Kemudian waktu itu aku belum menyaksikan oleh karena aku ya, baru umur 7 tahun. Tidak tahu bagaimana. Kau umur berapa? Setidak-tidaknya bukan 7 tahun. Saya umur 7 tahun, belum mengerti apa-apa? Tapi pada waktu aku masuk rumah Tjokroaminoto, aku sudah berumur 16 tahun, aku sudah tahu gerakan kaum 1908 dari Pak Soedirohoesodo. Dan aku menyaksikan satu pertumbuhan baru daripada gerakan ini. Dulu gerakan Pak Soedirohoesodo, kecuali kejawaan, hanya dijalankan kaum terpelajar. Satu gerakan daripada kaum inteligensia, kaum terpelajar, yang dulu itu dinamakan ndoro, ndoro, dokter. Dokternya pun dokter Jawa, yaitu belum dokter seperti keluaran sekarang, tidak. Dokter Jawa. Pak Soedirohoesodo sendiri ialah dokter Jawa. Gerakan kanjeng bupati, anggota daripada Budi Utomo. Ada bupati yang anggota Budi Utomo. Bupati mana Pak Mardanus? Hayo, hh? Bupati Karanganyar, anggota Budi Utomo. Gerakan daripada ndoro-ndoro.
Tapi waktu aku masuk rumahnya Tjokroaminoto, aku menyaksikan satu fase baru. Bahwa bukan lagi itu ndoro-ndoro, kaum terpelajar, tapi gerakan rakyat, rakyat jelata, yaitu Sarikat Islam. Sarikat Islam adalah gerakan pertama yang bersifat gerakan rakyat. Ya dasarnya lain daripada kita. Dasarnya dulu itu yaitu mula-mula Sarikat Dagang Islam, hanya terdiri daripada pedagang-pedagang Islam saja. Kemudian bertumbuh menjadi gerakan rakyat dengan tujuan Islam. Itu aku saksikan. Malah aku baca, Tjokroaminoto itu saking pengikutnya bukan puluhan, bukan ratusan, bukan ribuan, tapi jutaan, Tjokroaminoto dinamakan di surat kabar Belanda de ongekroonde Koning van Java. De ongekroonde Koning van Java, raja daripada tanah Jawa yang tidak bermahkota, saking banyak pengikut. Hanya, ha hanya bedanya dengan kita ialah bahwa gerakan rakyat Tjokroaminoto itu berdiri di atas asas yang salah, untuk tanggapan saja. Yaitu dengan gerakan rakyat ini Sarikat Islam Pak Tjokro selalu mencari kerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda, kerjasama. Yang belakangan menjadi perkataan kooperasi.
Sedang kita waktu itu pemuda, belakangan, pemuda ini sadar, tidak bisa, tidak bisa kita mengadakan perbaikan hanya degan kooperasi. Benar kita harus mengadakan massa aksi ini bukan lagi harus meminta, bukan lagi harus kerjasama degan pihak Belanda, tapi harus menentang, bertempur di dalam arti yang luas terhadap kepada kolonial Belanda. Perbedaan.
Nah, itu Saudara-saudara, saya formuleer di dalam tahun 1925-an. Sesudah aku bersama-sama dengan pemuda lain mengadakan Indonesia Muda, aku formuleer dengan perkataan pertentangan kebutuhan membuat kita harus bertentangan di dalam kita punya perjuangan.
Tidak bisa kok kita dengan pertentangan kebutuhan ini berdiri di satu platform kerjasama dengan pihak Belanda. Pertentangan kebutuhan. Kita mau merdeka, situ mau meneruskan kolonialisme. Kita mau hidup cukup, situ mau menghisap kita. Kita mau anak-anak kita semuanya masuk sekolah, situ mau memberi sekolah hanya kepada anak-anak orang dari golongan atas. Kita mau mengadakan satu sistem perwakilan, situ mau mengadakan sistem yang hanya terdiri daripada orang-orang terkemuka saja.
Pendek, selalu pertentangan kebutuhan. Dan di dalam seluruh sejarah dunia, Saudara-saudara, seluruh sejarah dunia adalah satu cerita daripada pertentangan kebutuhan. Seluruh sejarah dunia. Di dalam tiap golongan, tiap-tiap bangsa, umat manusia itu selalu ada dua golongan yang bertentangan kebutuhan.
Nah, maka oleh karena itu, Saudara-saudara, kita harus sadar bahwa kita ini bertentangan kebutuhan dengan, apalagi sekarang lo, dengan sistem yang kita menjebol luar-dalam, maupun di dalam hal lain-lain banyak pertentangan kebutuhan. Nah, kita harus sadar pertentangan kebutuhan. Berjuang terus. Kita harus berjuang menghancur-leburkan golongan yang mau mempertahankan dirinya terhadap kepada kita punya penjebolan itu. itu.itu. [*]
|